
“Saat kisah ini berakhir, saya akan mulai berkelana ke dunia yang tidak kalah menakjubkan dari Middle-Earth. Saat kisah ini berakhir…kisah baru akan dimulai.” (Anjani Rizky)
______________________________________________________________________
“Waktu akan berlalu dan musim akan berganti. Suatu saat kesedihan juga akan berlalu dan takdir baru akan muncul.”
***
“Hret…gán… Hretgán…” Seorang pria dengan luka yang sangat parah mengigau memanggil-manggil Raja Vanyar. Ia sendirian, tergeletak tak berdaya di tepi pantai. Wajahnya yang tampan tertutup oleh luka-luka yang serius dan dalam, matanya penuh lebam, darah segar mengucur deras dari sudut bibirnya. Badannya tidak lebih baik, tampak bekas-bekas luka akibat pertempuran keras yang bertebaran di tangan dan kakinya, bahkan pakaiannya terlihat sobek di sana-sini, jala bajanya sendiri rusak akibat senjata-senjata tajam yang menghujaninya.
Seorang anak lelaki yang sebelah telinganya menjuntai aneh tampak membawa persediaan makanan menuju geladak kapal yang berlabuh di dermaga. “Ini pertama kalinya ayah mengajakku mengarungi Belegaer. Ayah bilang kami akan berlayar jauh ke Belfalas. Aku harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin, tidak akan membuat ayah kecewa.” Ia berbicara sendiri, mengangguk yakin dengan penuh semangat.
“Hret… gán…”
Anak itu menghentikan langkahnya, telinganya yang menjuntai bergetar aneh. Ia memutar kepalanya 180˚ mencari sumber suara lemah itu. “Siapa? Siapa di sana?” tanyanya waspada. Matanya terbelalak saat melihat seseorang terkapar dengan tubuh penuh luka. Ia berlari mendekatinya.
“Sir, Anda baik-baik saja…?” Anak itu mengangkat kepala pria yang terluka. “Bertahanlah, aku akan memanggil bantuan.” Suaranya terdengar panik.
.
.
Pria yang terluka itu kini telah sembuh, ia berdiri sendiri di tepi pantai, memandang jauh ke cakrawala. Ketampanannya terlihat begitu nyata setelah luka-luka tak lagi menutupinya.
“Bagaimana keadaan Anda, Sir?” Anak laki-laki yang menyelamatkannya datang mendekatinya.
“Aku selamat, berkat kau.” katanya tanpa berpaling pada si anak.
“Anda pasti dari sebuah tempat di seberang lautan.” Mata anak itu ikut memandang ke cakrawala.
“Siapa namamu?” Pria itu akhirnya berpaling dan untuk pertama kalinya memandangi bocah yang telah menyelamatkannya.
“Aku Serandor, Sir… Putra Ombak.” Anak itu membusungkan dadanya dan tersenyum miring penuh tekad.
“Apa kau mau mempelajari sihir?” tanya pria itu, wajahnya tampak serius.
.
.
Serandor berlari masuk ke dalam Valinor, menuju kediaman para Noldor.
“Apa katamu? Kau mau belajar sihir?” tanya anak lelaki tampan yang menghentikan latihan memanahnya. Ia menatap Serandor tak percaya.
“Em…yeah, seorang master akan mengajariku. Ia Moriquendi, datang dari tempat bernama Middle-Earth.”
“Middle-Earth?”
“Kalau aku menguasai sihir, akan kubuat anak-anak perempuan tidak lagi melihatmu Ced, aku akan membuat mereka berdecak kagum saat memandangku.” Serandor nyengir lebar pada sahabatnya yang ikut tertawa mendengar sesumbarnya.
***

Jane melipat perkamennya dan menyeka air mata di pipinya. Ia meletakkan surat yang ditulisnya di atas sebuah meja kayu kecil. Untuk beberapa saat ia mengamati tenda yang di dalamnya terdapat tiga tempat tidur yang dijejalkan begitu rupa. Matanya jatuh pada sebuah pigura kecil yang ada di atas salah satu ranjang, Jane mengambilnya, gambar seorang elf pria tampan sedang tersenyum padanya. Lama Jane memandangi gambar tersebut, keningnya berkerut seakan mengingat sesuatu, ia merasa pernah melihat atau bertemu dengan pria di dalam gambar itu.
“Matanya seperti…Orion.” bisik Jane. Ia menjatuhkan gambar itu dan menutup mulutnya, terkesiap. “Mungkinkah dia…” Jane mundur dan berbalik, berjalan cepat meninggalkan tenda.
Jane berjalan cepat menuju kastil yang nyaris kosong, semua orang sedang bersiap di benteng Rhovanion. Hari ini adalah hari pertempuran. Semua prajurit berada di pos masing-masing, seluruh batalion bersiaga di garis depan termasuk Orion dan kelompok varden. Kecuali Ratu Nāeri, semua wanita dan anak-anak tinggal di dalam kastil, berlindung. Jane menyelinap menaiki undakan anak tangga menuju ruangan di balik permadani besar bergambar Draug – lambang Avari. Ia tampak mencari sesuatu. Senjata untuk menghancurkan sang Tuan Kegelapan. Jantungnya berdebar saat ia mendapati senjata itu – sebongkah batu biru, cahayanya berpendar dari dalam kotak hitam menembus melalui tutupnya yang sedikit terbuka.
***
Ia membuka matanya perlahan, mengerjap pelan. Dirinya berbaring dalam kabut cemerlang, kabut yang tidak pernah dilihatnya di Middle Earth. Ia duduk, tubuhnya kelihatan utuh, tanpa cedera, tanpa luka. Ia menyentuh wajahnya dan mengamati pakaiannya, bahkan pakaiannya pun tampak bersih, tidak ada noda darah atau bekas-bekas rusak akibat pertempuran.
Mungkinkah, aku…sudah mati?
Ia berdiri, memandang berkeliling. Semakin lama ia memandang, semakin jelas apa yang dilihatnya. Sebuah atap kaca berbentuk kubah berkilauan di atasnya tertimpa cahaya.
Barangkali ini surga.
Ia pun berjalan, tampak bingung dan aneh di tengah kesendirian yang mencekam. Menyingkap kabut, tak ada pintu atau ujung yang bisa dilihatnya dari ruangan besar itu. Hanya ada – jika matanya tidak menipunya – sebuah pohon. Pohon itu tua dan sangat besar, tumbuh di tengah ruangan.
Pohon yang sama… Ingatannya melayang saat pertama kali melihat sebuah pohon di tepi Aelin Rhún.
Ia mendekati pohon itu dan menyentuhnya, mencoba ingin tahu apa yang dipikirkan pohon itu.
Kesedihan… Dan…Jane Svitkona! Ia tersentak begitu bayangan Jane terlintas dalam benaknya yang masih menyentuh pohon tua itu.
Ia mundur dan tersungkur, tangannya mencengkeram kuat dadanya. Kesadaran mengembalikannya pada pertempuran dan wanita yang ia lindungi.
“Jane? Apa kau selamat? Apa kau berhasil mengalahkannya? Jane…maaf!” Suaranya bergetar dengan airmata yang tak bisa dibendung.
“Ia baik-baik saja dan masih hidup berkat kau. Kau pria yang luar biasa, kau sangat pemberani.” Seorang elf pria yang rupawan dan berkharisma berjalan mendatanginya. Sigap, tenang dan berwibawa, memakai jubah panjang berwarna putih. Rambut panjangnya keperakan membingkai wajahnya yang tersenyum ramah.
“Orion Frâel, terima kasih karena kau telah melindungi putriku.”
“Y-Yang Mulia Raja Hretgán…?” Tercengang, Orion baru menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya. Ia menunduk dan memberi salam penghormatan.
“Bangunlah, ayo kita jalan.” Hretgán melambai menyuruh Orion mengikutinya.
Mereka berjalan dalam diam. Hretgán membawanya ke tempat duduk yang sebelumnya tak Orion perhatikan, agak jauh dari pohon tua tadi. Orion merasa terusik oleh pikirannya. “Yang Mulia…” Ia mencoba membuka percakapan.
“Ya, anak muda.”
“Bukankah…Anda sudah meninggal.” kata Orion sesopan mungkin.
“Oh, ya.” kata Hretgán tanpa berbelit-belit.
“Kalau begitu…saya juga sudah mati?”
“Ah,” Hretgán tersenyum menatap wajah ingin tahu Orion. “Itu yang ingin kau ketahui? Sayangnya, sepengetahuanku kau memang sudah mati.”
“Jadi, beginikah kematian? Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi…Yang Mulia, bagaimana Anda bisa tahu jika Jane selamat?”
“Sederhana bukan? Karena ia tidak ada di sini. Putriku, ia beruntung memilikimu di sisinya.” Suara Hretgán terdengar sangat merindukan putrinya.
“Sebenarnya, aku yang beruntung.” gumam Orion.
“Kau, memiliki perasaan yang tulus pada putriku?”
“Ya,” Orion mengangguk mantap.
“Aku bersyukur ada yang mencintai putriku seperti aku mencintainya, meski aku bukanlah ayahnya.” Hretgán menghentikan kata-katanya. Matanya terpejam mencoba mengabaikan fakta itu.
Orion yang terkejut mendengar hal itu, menatap tak percaya pada Hretgán, “Mak..sud…Anda Yang Mulia?”
.
.
.
Waktu seperti berputar cepat, Orion tidak lagi berada di istana terang benderang yang tanpa ujung dengan Raja Hretgán. Sekarang Ia berada di tepi sebuah danau yang sangat luas dengan sebuah pohon yang berdiri kokoh tak jauh dari tempatnya. Tempat ini… batin Orion. Orion memperhatikan keadaan sekitarnya, sepi, bahkan riak air danau pun sepakat untuk tidak menimbulkan suara. Ia teringat percakapannya dengan Raja Hretgán, sebuah kebenaran tentang Jane dan itu semakin membuat hatinya sedih. Meninggalkan wanita itu jauh lebih mengerikan daripada ia harus meninggal atau terbunuh berkali-kali.
“Jane…” gumamnya, airmatanya jatuh bersamaan bunyi langkah kaki seseorang di belakangnya. Orion menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ia menegang, mata Orion bahkan tidak berkedip melihat si pendatang baru yang berjalan mendekatinya dengan tenang.
“Kau…” bisik Orion.
Orang itu berhenti saat jaraknya hanya lima kaki dari Orion. Ia Calaquendi, sangat tampan dan bercahaya. Menatap ramah pada Orion dan memberinya salam penghormatan, menyentuhkan telunjuk dan jari tengah ke bibirnya yang tersenyum menawan.
“Cedric Caladriel eneth nîn – namaku Cedric Caladriel. Senang bertemu denganmu Orion Frâel.” Ia masih tersenyum dan menatap hangat Orion.
“Aku tahu kau…” Orion memandang melewati bahu Cedric, ia tak ingin memandangnya. Orion merasa kecil di hadapan pria yang dicintai Jane. Cedric terlalu sempurna untuk dibandingkan dengannya.
“Le hannon, untuk menjaga dan melindungi Jane dan untuk mengembalikan hidupnya.” Senyuman di wajah Cedric perlahan pudar seiring kenangannya bersama Jane yang kembali terekam.
“Aku hanya menjalankan tugas.” jawab Orion singkat, ada sesuatu yang menggeliat di dalam perutnya yang membuatnya merasa tidak nyaman berada di dekat Cedric.
“Aku sangat berterimakasih untukmu, untuk menjaga kekasihku…” Cedric berjalan ke arah pohon dan menatapnya rindu.
Tangan Orion terkepal saat mendengar kata kekasih, ia merasa darahnya berdesir, apa aku cemburu? Kakinya melangkah mendekati Cedric, berdiri di sampingnya, ikut memandangi pohon tua itu.
“Di tempat ini kami pertama kali bertemu, di malam Silme Ereg… Malam saat sinar bintang menyentuh hatiku, malam ketika aku mulai bermimpi untuk menambatkan cintaku padanya. Jane, dia satu-satunya alasan mengapa aku memutuskan untuk melawan Morgoth. Karena aku ingin memberikan masa depan yang lebih baik baginya, bagi bangsa kita. Sebuah masa depan yang aman dan damai. Sebuah masa depan dimana aku bisa melihatnya bahagia, melihatnya membesarkan anak-anak kami…” Cedric tersenyum hampa mengenang semua mimpi-mimpinya. “Tapi aku mengingkari janjiku, aku pergi dan meninggalkan luka yang mendalam pada dirinya.” Cedric mengusap ujung matanya, menghapus air mata yang menetes. Hal itu tidak luput dari perhatian Orion.
“Jane bertahan, sekuat yang ia mampu. Meski ia menjadi wanita rapuh yang tertutup. Itu karena, ia tidak pernah bisa melupakan bayanganmu dari hidupnya. Cintanya teramat besar untukmu…” Orion berkata getir saat kalimat terakhir diucapkannya. Ia mengalihkan perhatiannya, hanya untuk menentramkan hatinya yang terbakar cemburu.
Aku benar-benar cemburu dan iri padanya…
“Apa kau mencintainya?” tanya Cedric tenang.
Orion tertegun, matanya tertumbuk pada bonggol besar yang muncul dari akar pohon di dekat kakinya.
“Ya, dengan segenap hatiku.” jawab Orion pelan. Ia tidak menyangka akan membicarakan masalah seperti ini pada pria yang paling dicintai wanita yang dicintainya. “Tapi sekalipun aku mengungkapkan hatiku padanya. Di hatinya hanya ada dirimu…” Orion berusaha tidak terdengar seperti orang yang menyedihkan.
“Ya…mungkin aku akan selalu ada di hatinya sebagai cinta pertamanya. Tapi kau yang akan ada di sisinya, selamanya. Menemaninya, melindunginya dan memberikan masa depan untuknya.”
“Haah… Itu tidak mungkin, aku sudah mati. Kau lupa?” Orion tertawa kering, menganggap semua perkataan Cedric hanya lelucon untuk menghinanya.
Cedric tersenyum kecil, matanya memandang Orion dengan ekspresi menilai. “ Kematian, hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar menganggap dirinya sudah mati. Dan kurasa untuk kasusmu sedikit berbeda…”
Tepat saat itu setetes air jatuh membasahi pipi Orion. Air itu sebening kristal, jernih dan murni. Orion mengira akan turun hujan, tapi cuaca di sekitarnya secerah pantulan cahaya matahari pada air danau.
“Air apa ini?” tanya Orion, lebih kepada dirinya sendiri.
“Kurasa itu…air mata kehidupan.” gumam Cedric yang menyembunyikan ketertarikannya untuk menyentuh air itu.
“Orion Frâel…sekali lagi terima kasih untuk melindungi wanita yang kita cintai. Kupikir hati Jane mulai terbuka untukmu. Kumohon jaga dia untukku, dan tolong sampaikan padanya, jika aku akan selalu mencintainya bahkan dalam kematianku.” Cedric berpesan seolah-olah Orion masih bisa bertemu Jane, dan itu membuatnya bingung.
Cedric berjalan pergi meninggalkan Orion. Menjauh menuju kabut di ujung danau dan melangkah – melayang – di atas danau.
“Cedric…! Senang bertemu denganmu!” seru Orion jujur. Cedric sempat menoleh dan tersenyum sambil mengangguk padanya. Lalu bayangannya menghilang seutuhnya ditelan kabut.
Dia terlalu sempurna, itu mengapa Jane hanya akan terus melihat ke arahnya. Aku tidak ada apa-apanya…
.
.
.
Orion masih berada di tepi danau, tapi dengan aura yang berbeda. Pohon besar itu pun masih berdiri di sana, tampak tua seperti yang ia tahu. Tapi pohon itu lebih hidup dengan energi kebahagiaan yang terpancar, dibanding energi-energi sebelumnya atau energi pohon yang sama yang dirasakannya di Valinor saat masih hidup. Orion bisa merasakannya meski tanpa menyentuhnya. Energi itu memberi kehangatan tersendiri padanya.
Orion mengedarkan pandangannya, berharap bertemu seseorang yang tak terduga lagi. Pandangannya berhenti saat melihat anak perempuan kecil dengan gaun merah muda berlari riang menggenggam sekuntum evening primrose, rambut hitamnya yang panjang tergerai dan berkibar lembut tertiup angin. Saat anak itu memandang ke arahnya, Orion tertegun, matanya terpaku pada mata biru cemerlang anak perempuan itu. Matanya…itu mata Jane… Anak perempuan itu tersenyum dan melambai ke arahnya.
“Paman Oberon…!!” serunya girang. Tidak, anak itu tidak tersenyum pada Orion, melainkan pada…ayahnya?!
“Halo Jane…” Jantung Orion mencelos, ia menoleh dan melihat seorang elf pria berjalan sambil melambaikan tangannya, ia tersenyum hangat pada Jane kecil. Tubuhnya tegap, gagah dan sangat tampan. Ia tampak seperti prajurit yang terlatih. Di belakangnya berjalan seorang anak laki-laki kecil yang tampan namun dengan ekspresi angkuh, itu Orion.
Orion melihat bayangan masa kecilnya. Ia sama sekali tidak ingat pernah ke Valinor dan bertemu Jane sewaktu ia kecil. Ini bahkan pertama kalinya ia melihat wajah ayahnya secara langsung, jauh lebih tampan dibanding gambar dirinya yang selama ini Orion simpan. Orion memegang kepalanya, dunia seperti jungkir balik, menampilkan kilasan-kilasan masa lalunya yang berkelebat di kepalanya. Orion berusaha mengembalikan fokusnya saat melihat ayahnya memeluk Jane dan menggendongnya dengan sayang, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
“Mára aurë - hello,” sapa Jane kecil ramah pada Orion kecil. Ia berlari riang ke arah Orion.
“Kau seperti Paman Oberon…tidak bersinar.” celoteh Jane, ia tersenyum polos.
Orion kecil memandangnya dengan tidak suka dan menjawab ketus, “Kau yang aneh, kenapa tubuhmu bercahaya seperti kunang-kunang?”
Orion memperhatikan keduanya berdebat tentang perbedaan mereka. Lalu matanya menangkap sosok Oberon yang tersenyum hangat memperhatikan percakapan yang disertai perdebatan khas anak-anak. Ia merindukan senyum itu dalam mimpi-mimpi panjangnya tentang ayah yang selama ini dikaguminya, sampai kenyataan berkata lain dan membuatnya harus membenci ayahnya yang ternyata seorang pengkhianat. Orion menatap getir bayangan ayahnya.
.
.
.
Orion tidak lagi melihat bayangan masa kecilnya yang berdebat dengan Jane, tapi ia masih di tempat yang sama. Tiba-tiba Orion dikagetkan oleh suara-suara yang mendatanginya.
“Keputusanmu salah Oberon,” kata elf pria berparas halus yang berjalan tergesa-gesa menyusul temannya. Pria itu tampak gusar. Orion mengenalinya sebagai Maurel, rambut perunggunya masih sebahu dan menutupi sebelah wajahnya. “Tidak akan kubiarkan kau menyeberang. Tidak akan kubiarkan Morgoth mengendalikanmu.”
Oberon yang berdiri membelakangi Maurel berhenti. Suasana sunyi sesaat. Orion maju, mendekati Oberon yang diam tak bergeming. Mereka berdiri berhadapan, Orion seperti memandang bayangannya sendiri. Ia dan ayahnya begitu mirip, tinggi yang sama, ketampanannya yang serupa. Ia memandang tajam mata ayahnya, mata yang persis sama dengan matanya. Mereka tampak saling berpandangan, meski Oberon tidak bisa melihat Orion.
“Inikah awal dari semuanya? Kau mengkhianati bangsa kita, memilih menjadi kaum terkutuk dan menjadikanku sebuah kebohongan. Apa kau pantas disebut pejuang Avari? Apa kau pantas disebut ayah? Hah!” Emosi Orion tak tertahankan. Kebenciannya meluap.
“Ini hidupku dan aku bertindak sesuai yang kuinginkan. Jangan halangi aku atau kau harus merasakan pedangku.” Oberon menatap tajam ke depan seolah menantang Orion. Tangannya menggenggam kuat gagang pedangnya – Sûlglor. Di belakangnya, Maurel tampak shock.
“Aku tidak ingin menyakitimu, percayalah.” kata Oberon pelan, matanya menembus mata putranya. Hati Orion bergetar mendengar kata-katanya.
“Aku akan menghentikanmu apa pun caranya.” kata Maurel mantap.
Oberon memejamkan matanya sebentar lalu berpaling menghadap Maurel. “Mulai sekarang aku bukan sahabatmu lagi Maurel.” Tangan Oberon sudah menarik keluar Sûlglor dari sarungnya. Secepat kilat ia mengayunkan pedangnya ke arah Maurel. Maurel menghindar, melompat beberapa kaki ke udara dan mendarat agak jauh. Oberon maju dan menyerang lagi. Pedangnya memburu Maurel, menyambarnya, mencoba melumpuhkannya. Di tengah pergelutan itu, tiba-tiba seorang anak berlari di antara mereka, ia memandang Oberon dengan takut, “Ayah! Hentikan…!” Namun malang, anak itu – Orion, malah terkena sambaran pedang ayahnya. Darah merembes dari dadanya, Orion kecil terjatuh, menahan darah dengan tangannya, matanya memandang hampa pada Oberon. Oberon membeku, menjatuhkan pedangnya. Ekspresinya sangat terpukul.
Orion tercengang, tanpa sadar tangannya meraba bekas luka berbentuk bulan separo di dada kirinya. Kegetiran merayapi tubuhnya. “Ia yang memberikan luka ini. Ayahku sendiri yang melukaiku.” lirih Orion, air mata menggenangi pelupuk matanya. Dunianya berputar dan Orion seperti merasakan kematian sekali lagi.
***
“Orion…kau tak bisa meninggalkanku seperti ini…” Jane masih memeluk tubuh dingin Orion, sayapnya masih menyelubungi mereka. Seluruh tubuh Jane bergetar akibat kesedihan yang mendalam. Tangisan membasahi wajahnya dan sebutir air mata sebening kristal jatuh ke wajah Orion.
“Sekali lagi, kematian sia-sia bagi mereka yang menentangku. Apa ini yang kalian harapkan?” cemooh Morgoth. Ia berjalan mondar-mandir menatap kerumunan yang mengelilingi mayat Orion. “Dan lihatlah,” bisiknya, “Jane kita ternyata seorang Valar…”
Kelima Valar menegang. Bahkan Volans yang biasanya tenang tak bisa menutupi ketakutannya, sementara Avus tampak begitu shock.
“Apa kalian merahasiakan sesuatu dariku?” Mata Morgoth memandang Pavo dengan licik.
“Cukup Morgoth!” geram Avus. “Kau tidak bisa menyakiti putriku lagi!” Sayapnya terangkat tinggi dan ekspresinya terlihat sangat marah.
Putri? Jane tercengang mendengarnya. Lynx mendekati Avus untuk menahan amarahnya. “Hentikan Avus, jangan katakan apa-apa lagi.” Lynx melirik Jane. “Ia hanya akan semakin dalam bahaya jika kau mengungkapkannya.”
“Putri?” ulang Morgoth, seakan ingin memastikan pendengarannya tidak mengelabuinya.
“Pada akhirnya kebenaran harus diungkapkan.” desah Pavo pelan. Lynx memandang, meminta pengertiannya, tapi akhirnya ia menyerah dan berjalan menjauhi mereka.
“Jane Svitkona adalah anak Avus dan Nāeri, ia berdarah Valar.” lanjut Pavo yang menjaga ketenangannya.
Semua yang ada di puncak Xelomor menahan napas, bahkan orc-orc yang tersisa – yang otaknya tidak dimaksudkan untuk memahami hal-hal selain perang dan daging segar, ikut menahan geramannya. Eleanord terpaku, kebenaran yang ia dengar dan kematian Orion seolah menghabiskan seluruh energinya untuk berpikir. Sementara Jane, ia seakan terhempas jatuh ke dalam kegelapan akibat sayapnya sendiri. Ia tak percaya, tak ingin percaya. Tangan Jane gemetar memegang Orion, matanya berkaca-kaca. Jantungnya berdegup sangat cepat, kenyataan itu membuatnya takut sekaligus marah.
“Jadi maksudmu, Jane bukanlah putri Hretgán melainkan putrimu, Avus? Omong kosong! Apa kau ingin mengatakan kalau kau jatuh dalam pesona wanita itu, lalu melakukan kesalahan?” Tawa menghina Morgoth menggema di puncak tertinggi di Middle-Earth itu.
“Bahkan kesalahan bisa hinggap di hati makhluk seperti kita.” bela Volans, ia sudah bisa menguasai dirinya. “Lihat saja dirimu Morgoth? Sikap dengki dan keinginanmu untuk menghancurkan kebaikan telah mengaburkan nuranimu.”
“Tak perlu membelanya Volans,” ejek Morgoth. “Kalau begitu mengapa kau mengirim putrimu sendiri untuk mati di tanganku, Avus…” bisiknya.
Avus mengepalkan tangannya begitu kuat, kemarahannya melebihi ketakutannya. Ia tidak ingin Jane disakiti atau yang lebih buruk – mati. Kesalahannyalah, membiarkan Jane melakukan misi dan menginjakkan kaki ke Middle-Earth.
“Jika kau, menyentuh Jane seujung jari saja, tanganku sendiri yang akan menghancurkanmu.” Avus berkata dengan penuh kemarahan, sayapnya berpendar sangat terang.
“Tidak!! Akulah yang akan menghentikannya!” teriak Jane. Ia bangkit dan menatap wajah musuhnya. Berusaha menekan keinginan untuk memandang Avus yang terkejut mendengar perkataannya. Jane menegakkan bahunya, sayapnya terbentang dan melangkah maju menyongsong nasib, takdirnya berjalan mantap mengiringinya.
Cygnus dan Lynx terbang mendekat, menggenggam pedang masing-masing, berusaha mengantisipasi keadaan. Avus terpaku di tempatnya. Pavo dan Volans memandang dalam diam.
“Harus kuakui, walau kau bukan putri Hretgán tapi kau memiliki keberaniannya.” cibir Morgoth.
“Aku putrinya.” gumam Jane, “Selamanya aku adalah putri Hretgán!” teriak Jane. Avus memejamkan matanya, menutupi kepedihan hatinya.
Jane dan Morgoth berjalan berlawanan, saling melingkari. Cahaya beradu kegelapan.
“Apa yang membuatmu yakin bisa menghentikanku, gadis kecil?” ejek Morgoth.
“Karena aku memiliki kelemahanmu.” bisik Jane. Morgoth tidak bicara, melainkan mengendap-endap dalam lingkaran, dan Jane tahu untuk sementara ia berhasil membuatnya terpesona dan belum menyerang, ditahan oleh keingingan untuk menyerang lebih dulu, Jane malah memprovokasi Morgoth. “Kau tidak berniat membunuhku sekarang, Morgoth?” seru Jane. Morgoth tidak menjawab. Mereka melanjutkan saling mengitari, seperti serigala yang siap saling mencabik-cabik. “Bukankah bagimu tidak ada yang lebih baik daripada kematian? Jangan sampai menyesal. Ayo! Bunuh aku! Jika tidak, kau dan aku…kita akan mati bersama.”
“Kau yang memintaku sayang…” kata Morgoth berbahaya, seketika ia telah berdiri tepat di depan Jane dan mengangkat paksa dagu wanita itu, meraba wajah pucat Jane dengan jari-jarinya yang dingin. Wajahnya mendekati wajah Jane, hanya beberapa inchi hingga Jane bisa merasakan napas Morgoth yang berderak. Bibir Morgoth menelusuri pipi, bibir, dagu dan tengkuk Jane. Jane bergidik merasakan sensasinya, ia memejamkan mata untuk menguatkan tekadnya.
“Kematianmu akan kuwujudkan…Jane…” Morgoth menarik pedangnya dan siap menghunus. Para Valar juga mengangkat pedang. Avus bergerak maju, ekspresinya demikian tersiksa. Tapi tiba-tiba sebatang anak panah melesat menembus sayap kiri Morgoth dan menancap di mata seorang Fuin-gûl tepat di belakang Morgoth.
“Apa…?” seru Morgoth, ia melepaskan Jane dan memegangi sayap hitamnya yang terluka sambil memandang berkeliling. Dan kemudian dia mendesah, “Kau!”
Jane terhuyung mundur dan menoleh ke belakang, jantungnya berdegup kencang. Orion Frâel berdiri di antara Avanguard, menarik busur hitam pemberian Ratu Nāeri, siap melepaskan anak panah berikutnya.
“Frâel…” desah Eleanord yang langsung terkejut, “Kau masih hidup…”Air mata merebak di wajahnya.
“Sulit dipercaya.” gumam Cygnus.
“Kenapa…bisa…” Untuk pertama kalinya terdengar ketakutan dalam suara Morgoth.
“Orion…” rintih Jane. Orion dan Jane saling memandang. Air mata menggenangi pelupuk mata Jane. Aku mencintaimu Orion… Aku mencintaimu Jane…
Morgoth bergerak dalam diam mendekati Jane ketika Orion mengayunkan Sûlglor dan kilatan merah meluncur ke arah Morgoth berhasil mengoyak jubah hitamnya, Morgoth berbalik dan langsung lenyap bersama kelebatan jubah dan sayapnya. Detik berikutnya, Morgoth telah muncul di belakang Jane dan pedangnya siap menggores leher Jane.
“Cih! Tak kusangka kau belum mati Orion, baguslah…dengan begitu kau bisa menyaksikan kematian gadis ini.” serapah Morgoth, tawanya melengking menakutkan.
Kelima Valar seketika maju mengelilingi Morgoth dan Jane.
“Tidak, jangan…kumohon lepaskan dia.” Avus gemetar, seluruh tubuhnya bergetar dan sayapnya menutup perlahan. Matanya tak lepas dari Jane.
“Kau memohon Avus?” Mata merah Morgoth berkilat.
Jane mencoba berontak tapi kekuatan Morgoth tak bisa dilawannya. “Seandainya kalian tidak menentangku,” katanya di telinga Jane. Morgoth menarik ke belakang pedangnya untuk membuat gerakan menebas.
“JANGAAANN!!!” teriak Orion dan Avus serempak.
Sesaat ketika Morgoth lengah, Jane menarik sesuatu dari balik jubahnya, secepat kilat ia berbalik menghadap Morgoth. Mata biru Jane menatap tajam pada mata merah berselaput milik Morgoth. “Sekarang, akhir dari takdir kita.” kata Jane yang tersenyum tenang. Detik berikutnya ia telah menghujamkan Sapphire Blue tepat di jantung Morgoth. Semua terkesiap melihat hal itu.
Pancaran sinar biru berpendar dari tubuh Morgoth, sangat terang dan menyilaukan, perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya hingga lenyap tanpa bekas. Akhir dari kisah sang Valar pemberontak. Ia mati terbunuh oleh kelemahannya sendiri. Pancaran cahaya Sapphire Blue juga melenyapkan monster-monster berlendir – Orc-orc lenyap seperti debu, begitu pula seorang Fuin-gûl yang tersisa. Kegelapan berakhir.
Di saat yang sama, selama sepersekian detik tampaknya Jane Svitkona menggantung tinggi tak berdaya di atas kilatan cahaya biru tersebut. Sorot di mata biru cemerlangnya seakan padam, ekspresinya hampa. Kemudian ia jatuh ke belakang, seperti boneka malaikat yang dihempaskan, Jane menghantam tanah di bawahnya, diam tak bergerak. Jeritan ngeri Orion tidak pernah meninggalkan mulutnya, tak bisa bersuara dan tak bisa bergerak. Orion merasa seolah ia juga dihantam dengan keras ke tanah. Ini tidak terjadi… ini tidak mungkin terjadi…
Avus berjalan gontai mendekati putrinya. “TIDAAAAAKK!!!” Teriakannya membahana, air mata berjatuhan dari wajah rupawan Valar itu. Ia memeluk Jane, cahaya cemerlang melingkupi keduanya. Keempat Valar maju dengan ekspresi sedih, merentangkan sayap mereka dan merapalkan mantra yang terdengar seperti nyanyian duka.
“Jane Svitkona, akan kami bawa ke Véongrad.” kata Pavo lirih.
“Kalian…tak bisa…membawanya…” rintih Orion lemah.
***
Semua musuh hancur bersamaan dengan matinya sang Tuan Kegelapan. Sedetik kesenyapan yang terasa, shock atas kejadian yang menggantung, dan kemudian kegemparan pecah di sekeliling Serandor ketika teriakan dan sorakan dan raungan para elf membelah udara. Setelah pertempuran keras tiga hari lamanya, matahari naik dengan mantap di atas Middle-Earth, dan Rhovanion menyala dengan kehidupan dan cahaya. Seluruh elf menunjukkan curahan campuran antara kegembiraan dan perkabungan, kesedihan dan perayaan.
“Ia mati!! Morgoth telah mati! Kegelapan musnah!” pekik Raja Abadel yang disambut raungan kegembiraan oleh para prajurit. “Bawa jasad-jasad pejuang kita ke dalam kastil! Selamatkan mereka yang masih hidup!”
Serandor mengangkat jasad Thróv menuju kastil. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Meski mereka telah menang dan Morgoth telah mati, Serandor tak bisa menghilangkan bayangan Thróv yang mati di depan matanya. Ia terus berjalan melewati halaman depan kastil yang dipenuhi prajurit-prajurit yang terluka – Calaquendi dan Moriquendi. Serandor membawa jasad Thróv masuk ke dalam aula dan membaringkannya di sudut ruangan.
Dengan perasaan terluka, seorang wanita berlari ke arah Serandor, menatapnya sesaat dan melihat gemetar pada tubuh yang terbaring kaku tak bernyawa. Lynnëa berlutut di sebelah Thróv, memegangi tangannya yang dingin. “Tidak – tidak – tidak!” Lynnëa berteriak. “Tidak! Thróv! Tidak!” Lynnëa mengguncang-guncang Thróv, dan Serandor memandang sesak di sebelah mereka, dan mata Thróv memandang tanpa melihat, bayangan keterkejutan terakhirnya masih terpeta di wajah rupawannya. Maurel berjalan mendekat. Garis-garis halus seperti kawat tipis tergambar di wajah tampannya. Tanpa air mata, tanpa suara, ia hanya memandang jauh ke dalam mata kosong putranya. “Istirahatlah putraku. Api Putih Uzár akan menerangi jalanmu.” kata-katanya bergetar, Maurel memejamkan mata dan disana terlihat jelas kesedihan seorang ayah yang kehilangan putranya.
Serandor berjalan pergi meninggalkan mereka. Ia menoleh sekali ke tempat dimana jasad-jasad diam tak bergerak dikumpulkan. Para elf bergerak ke sana kemari, berusaha saling menghibur, minum, berlutut di sebelah yang mati dan terisak pilu. Serandor mengepalkan tangannya, ia bergerak menuruni undakan dan keluar menuju tanah lapang. Menangis sendirian.
“Sir…kita berhasil. Kegelapan telah dihancurkan…” Serandor mengepalkan tangan kanannya yang telah diperban lagi, membiarkan air mata membasahi wajahnya. Sekali saja ia ingin terlihat lemah karena ia sungguh lelah, tapi juga lega.
“Kau lihat Ced…masa depan yang kau impikan sekarang ada di depan mata. Pengorbananmu tidak sia-sia…” Serandor terisak. “Cedric! Semua ini untukmu saudaraku…! Untuk janjimu kepada Jane!” Serandor berlutut, air matanya jatuh membasahi tanah.
Seseorang berjalan mendekati Serandor, ia berhenti di depan Serandor dan berdiri diam. Serandor mendongak menatap orang itu, yang masih terbungkus baju besinya. Orang itu membuka helm penutup kepalanya, mengibaskan rambut pirangnya dan tersenyum simpati pada Serandor.
“Kita menang, tapi kenapa kau malah menangis seperti anak kecil?” Orang itu, yang adalah Arwen mengulurkan tangannya. “Bangunlah, dan rayakan kebebasan ini. Mulai sekarang kita akan hidup dalam damai.” Sekali lagi Arwen tersenyum.
.
.
.
Dari sudut matanya Ratu Nāeri yang tampak lelah, melihat dua elf berlarian menuju kastil, rambut mereka berkibar di belakang seperti bendera sutra. Sehening penampakan hantu, kedua elf itu berhenti di depan pintu aula dan berjalan pelan ke hadapan ratu.
“Yang Mulia, kami mendapat kabar jika Tuan Putri…” kata seorang di antara mereka.
“Katakan! Apa yang terjadi pada putriku?” Suara Nāeri terdengar cemas.
“Putri Jane, ia yang telah mengalahkan Morgoth…” Semua yang mendengar terhenyak tak terkecuali Abadel, beberapa bahkan bergumam takjub dan tak percaya. “Dan sekarang ia sekarat, Yang Mulia.” kata elf satunya dengan suara parau.
“Tidak…tidak mungkin…” Nāeri memegang dadanya, wajahnya langsung pucat. Ia terhuyung dan hampir jatuh jika Maurel tak memeganginya. “Dimana putriku sekarang?” Air mata ratu jatuh.
“Tuan Putri dibawa ke Véongrad oleh kelima Valar.”
***
“ARRGGHHHH…!!!” teriak Serandor di sela-sela latihan sihir bersama gurunya. Tangan kanannya gemetar hebat, jari-jarinya kaku dan sesaat seperti kebas tak bisa merasakan apapun.
“Apa, yang Anda lakukan padaku, Sir?” Serandor menggigit bibirnya menahan sakit yang tak terkira. Telapak tangan kanannya berlubang dan itu membuat Serandor ngeri sekaligus mual.
“Aku telah menanamkan Celeb-cam padamu.”
“Celeb-cam…?” rintih Serandor, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
“Tangan-perak,” jelas gurunya. “Salah satu jenis sihir kuno yang paling kuat sekaligus mematikan.”
Serandor terkesiap mendengar itu, “Kenapa saya, Sir…” katanya bergetar.
“Karena kau akan menjadi tanganku.” ucap gurunya singkat.
.
.
“Hretgán tak lagi memercayaimu. Tidak setelah kau menempuh jalan yang keliru di matanya.”
“Tapi ini menyangkut putrinya dan kelemahan Tuan Kegelapan. Aku harus memberitahunya sendiri.”
“Mungkin….kau akan mati sebelum kata-kata keluar dari mulutmu.”
“Bagaimana dengan Maurel? Aku bisa bicara dengannya dan menjelaskan semuanya.”
“Tidak ada yang bisa kau lakukan, baginya…kau sudah mati. Tidak ada Vanyar yang ingin mendengar tentang dirimu. Begitu pun dengan Noldor, meski aku pribadi masih menganggapmu kawan lama, tapi jika Cirdan tahu kau ada di Valinor, aku tidak bisa melindungimu lagi.”
“Apa yang harus kulakukan?”
‘Keputusanmu telah menyulitkan semuanya. Pergilah dan lakukan sesuai caramu.”
Serandor menjatuhkan kerang-kerang yang ia kumpulkan dari pantai. Tangan kanannya terasa seperti digelitik. Tanpa sengaja Serandor mendengar pembicaraan antara ayah dan gurunya. Otak Serandor langsung bekerja cepat mengolah informasi yang dicuri dengarnya.
“Sir!” panggil Serandor ketika melihat gurunya keluar dari ruangan ayahnya. Gurunya menghentikan langkah dan berpaling pada Serandor.
“Ada apa Serandor?” tanya gurunya dengan senyum yang dipaksakan.
“Apa benar, Anda akan pergi Sir?”
“Ya…tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini, lebih tepatnya, aku tidak dibutuhkan di sini.” jawab gurunya murung.
“Kemana Anda akan pergi?”
“Kembali ke tanahku, ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Juga…seseorang telah menungguku.”
“Siapa dia?”
“Putraku, putra kebanggaanku. Aku ingin menyelesaikan tugasku dan segera pergi menemuinya.” gurunya tersenyum samar.
“Sir, izinkan aku ikut dengan Anda. Aku berjanji akan membantu Anda menyelesaikan tugas Anda…” Serandor berkata yakin dan penuh keinginan.
***
Kegelapan musnah, kesengsaraan berakhir dan awal baru pun dimulai.
Orion kembali ke Arnor setelah pertempuran di puncak Xelomor. Ia hidup setelah kematian, namun hidupnya terasa hampa. Orion tak merasa kehidupannya pantas disyukuri, ia dicederai oleh takdir. Jane Svitkona, wanita yang dicintainya, harus mempertaruhkan nyawa demi kebebasan Middle-Earth.
Orion menatap tanpa melihat dan memikirkan Jane, kemudian Morgoth, lalu Valar, serta semua yang ia alami di puncak Xelomor, kemudian ia memejamkan mata, denyut samar terasa di belakang pelipisnya. Ia mendengar derap langkah kaki dan, membuka mata sekali lagi, melihat Abadel berjalan mendekatinya.
“Yang Mulia.” Orion membungkuk hormat.
“Ada hal yang ingin kusampaikan padamu, nak.” kata Abadel. “Aku akan memberitahu semua tentang Oberon.”
Rahang Orion berkedut, darahnya mengalir deras mendengar nama itu, “Sudahlah, Aku tak peduli lagi soal itu.”
“Kau akan dengar. Bukan akan, tapi harus dengar. Itu kewajibanmu.” kata Abadel bersikeras. Ia berjalan menuju kursi terdekat dan menyuruh Orion duduk di dekatnya. “Kurasa aku telah menepati janji pada ayahmu dan sekarang waktunya untuk menceritakan sebuah kebenaran.”
Orion duduk dengan ekspresi dingin.
“Kisah ini dimulai enam puluh tahun lalu, jauh sebelum Pertempuran Petróvya dimulai. Ayahmu adalah Avari pertama yang mengunjungi Valinor. Tidak, bukan, ayahmu adalah Noldor yang kembali ke Valinor.”
“Nol…dor? Apa maksud Anda?” Orion terkejut.
“Ayahmu adalah keturunan Fingolfin – putra Finwe. Begitu pula denganmu Orion, di dalam darahmu mengalir darah para Noldor. Beribu-ribu tahun lalu, saat peristiwa pengasingan para Noldor, Finarfin – putra pertama Finwe, berangkat ke Middle-Earth bersama kedua saudaranya, Fingolfin dan Feanor. Namun ia memutuskan kembali dan menjadi Raja Noldor di Valinor. Feanor yang diasingkan ke Middle-Earth dan diikuti oleh Fingolfin saudaranya akhirnya menetap di Middle-Earth. Mereka disebut sebagai Kaum yang Diasingkan kemudian Fingolfin menjadi Raja Noldor di Middle-Earth. Perlahan, cahaya dalam tubuh kedua saudara itu menjadi redup dan hilang seutuhnya, karena seringnya interaksi mereka dengan Moriquendi. Beberapa berpendapat bahwa kekecewaan yang mereka rasakan akibat pengasingan, telah membuat spirit mereka hilang, dan cahaya mereka lambat laun memudar. Sebagian lagi meyakini jika kematian Finwe yang dibunuh Morgoth meninggalkan kesedihan yang mendalam hingga cahaya mereka seolah ikut mati bersama dengan kematian ayah mereka. Sejak saat itu tak terbilang banyaknya elf terutama kaum Noldor yang mati di Middle-Earth karena peperangan yang tidak berkesudahan antara bangsa kita dan kekuatan jahat Morgoth.”
“Itu tidak benar, aku adalah Avari. Anda pasti bohong.” bantah Orion, tangannya gemetar memegang pedangnya.
“Awalnya ayahmu juga tidak tahu siapa ia sebenarnya. Kakekmu, Rhunön, adalah keturunan terakhir Fingolfin yang hidup. Ia, Noldor terakhir di Middle-Earth. Seluruh kaum dan saudaranya mati dibantai pasukan Morgoth tanpa belas kasihan. Sebagai satu-satunya yang bertahan hidup, kakekmu menghilang dan bersembunyi bersama para Mithrim – Kaum Abu-Abu, di daerah barat laut Beleriand. Ia lalu menikah dengan wanita Avari, saat itu Rhunön memutuskan untuk mengubur dalam-dalam identitas Noldornya, dan mencoba untuk memulai hidup baru dengan bahagia. Bahkan ketika ayahmu Oberon lahir, Rhunön tetap merahasiakannya. Hingga suatu hari menjelang detik-detik terakhir dalam hidupnya, kakekmu memberitahukan rahasia dirinya pada Oberon dan mewariskan pedang itu,” Mata Abadel jatuh pada Sûlglor yang digenggam Orion.
“Bisa kau tunjukkan Sûlglor padaku, nak?” pinta Abadel.
Dengan ragu Orion maju dan memberikan pedang warisan kakeknya tersebut. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan Abadel dengan pedang itu. Abadel meraihnya dan meraba, ia merobek paksa kulit penutup gagangnya, tangannya mengelus lambang yang tersembunyi di balik penutup itu.
“Kau lihat lambang Horntail ini?” Abadel menunjukkannya pada Orion. Orion terpaku, ia tidak pernah tahu simbol itu terukir di gagang pedangnya.

“Ini lambang leluhurmu, lambang Finwe.” kata Abadel.
“Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah ada lambang Raw pada mata pedangnya?” Orion masih tidak percaya.
“Simbol Raw ini ditempa Rhunön saat ia menikah. Ia ingin menyamarkan keberadaan warisan Finwe dari dunia, terutama dari sang Tuan Kegelapan, Morgoth. Ia tidak ingin keturunannya kelak dalam bahaya.”
Sesaat perasaan Orion antara takjub dan terluka. Sûlglor adalah senjata berharga keluarga Finwe, tapi ia juga menjadi pedang yang pernah dimiliki ayahnya, si Kaum Terkutuk.
“Bagaimana kakekku mati?” tanya Orion mengalihkan perasaannya.
“Ia meninggal karena dihinggapi kesedihan yang luar biasa. Memendam rasa sakit karena menyaksikan kematian kaumnya, Rhunön bertahan lebih lama dari yang bisa diperkirakan. Kakekmu elf yang kuat.”
“Lalu Oberon, apa yang pria itu lakukan setelah tahu dirinya seorang Noldor?” geram Orion.
“Ayahmu tidak percaya, terlebih lagi ia sangat terpukul karena kematian Rhunön dan masa lalu kaumnya. Saat itu usia ayahmu baru menginjak dua puluh tahun, ia masih sangat muda. Berbekal fakta bahwa ia seorang Noldor, ayahmu memutuskan mencari tahu sendiri kebenarannya. Ia pergi meninggalkan Beleriand dan nenekmu, menuju Arnor. Mendaftarkan diri menjadi pasukan kerajaan, pasukan termuda dan paling tangkas yang pernah kulihat. Dari sanalah persahabatan kami dimulai.” Abadel menghentikan ceritanya, ia menutup mata seperti mencoba mengingat kenangan bersama Oberon.
“Mengapa ia memilih jadi prajurit? Apa ia ingin balas dendam?”
“Balas dendam? Pada siapa?” tanya Abadel tertarik mendengar pemikiran Orion.
“Pada rasnya, pada elf yang membiarkan seluruh kaumnya mati, pada ketidakadilan menurut versinya.”
“Begitukah? Apa itu yang kau pikirkan jika berada di posisi Oberon?” Abadel tersenyum sedih.
“Aku hanya…mencoba menebak jalan pikirannya. Bukankah pada akhirnya ia berkhianat?” kata Orion sinis.
“Sayangnya, pikiran ayahmu masih jernih dan balas dendam bukanlah yang ia inginkan.” Abadel menarik napas sebentar, “Ia hanya ingin mengetahui asal-usulnya. Maka Oberon berlatih tanding lebih keras dari siapa pun, ia juga belajar lebih giat dari murid mana pun di Arnor, bahkan dari diriku yang saat itu dipersiapkan untuk menjadi raja. Aku sering melihatnya membaca buku-buku tentang Noldor dan Valinor.” Abadel menghentikan sejenak ceritanya, tangannya terjulur dan seekor burung kecil hinggap di jarinya. Abadel membisikkan sesuatu pada burung itu yang langsung terbang setelah mendengarnya.
“Aku bahkan tidak tahu,” lanjut Abadel, “kalau Oberon diam-diam sering mengunjungi Sindar – Elf Abu-Abu. Disana ia mempelajari Eragon – bahasa tertua yang digunakan para elf. Bahasa ini sudah tidak jamak digunakan oleh elf, kecuali para Sindar. Eragon sering digunakan oleh para ahli penunggang roch dan para ahli sihir untuk merapal mantra. Karena Eragon dianggap berbahaya apabila ada di tangan yang tidak baik, maka para Sindar mewariskan bahasa ini hanya pada keturunan atau orang kepercayaannya saja, dan Oberon beruntung memperoleh kepercayaan itu. Oberon pun mulai mempelajari sihir dari para Sindar. Itu mengapa ia dikenal sebagai sedikit elf yang menguasai sihir kuno. Oberon adalah elf paling berbakat dan hebat yang pernah ada.”
Merinding, Orion tidak menyangka ayahnya sehebat itu.
“Lalu, entah bagaimana ia bisa mendapatkan izin untuk membaca Kitab Silmarillion.” lanjut Abadel.
“Silmarillion? Kitab apa itu?” tanya Orion penasaran.
“Itu adalah kitab tua yang sangat dirahasiakan keberadaannya. Sejak Noldor hilang dari Middle-Earth, kitab itu diselamatkan oleh seorang elf tua bijaksana bernama Aberdeén. Silmarillion berisi proses kejadian elf. Termasuk kisah tentang Feanor dan Fingolfin, serta sejarah dan silsilah keluarganya.”
“Ia menyelidiki sejauh itu?” bisik Orion terkesan.
“Ayahmu berusaha sebaik mungkin. Dan saat ia tahu bahwa masih ada Noldor di tempat selain Middle-Earth, ayahmu sangat gembira.”
“Jadi, ia pergi ke Valinor?”
“Tidak secepat itu, Oberon mempertimbangkan banyak hal termasuk jati dirinya. Sampai saat itu ia masih menutupi identitasnya, aku sendiri belum tahu jika ia Noldor. Selain itu ia masih harus menyelidiki sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya dan Tuan Kegelapan.”
Jantung Orion berdebar. Terdengar langkah kaki seseorang mendekati mereka. Serandor berjalan sedikit cepat dan wajahnya tampak serius.
“Aku datang setelah mendengar pesanmu Yang Mulia.” kata Serandor membungkuk hormat.
“Duduklah di samping Orion, kau akan membantuku menjelaskan sesuatu.” pinta Abadel.
Orion menduga, Serandor dipanggil Abadel setelah mendapat pesan dari burung kecil tadi. Mereka bertatapan sesaat dalam diam. Abadel melanjutkan ceritanya.
“Sebelum ketiga putranya diasingkan ke Middle-Earth, Finwe mewariskan kepada mereka tiga benda berharga miliknya. Kepada Finarfin, ia berikan sebuah busur hitam yang kuat dan elastis. Benda itu, jika aku tidak salah adalah milik Cedric Caladriel sebelum ia meninggal. Dan sekarang menjadi milikmu karena Ratu Nāeri menghadiahkannya padamu atas permintaan Raja Celeborn. Lalu kepada Fingolfin, ayahnya memberikan sebilah pedang yang sangat kuat – Sûlglor. Kaum Noldor di Middle-Earth menjulukinya sebagai Pedang Takdir, mereka percaya pedang itu mampu merubah takdir dan menghapus kesengsaraan di Middle-Earth. Yang terakhir ia berikan kepada Feanor sebongkah batu biru bercahaya, yang diketahui sebagai Sapphire Blue.”
Orion terkejut, “Bukankah…Sapphire Blue milik kaum Falmari…?” ia menoleh pada Serandor, memastikan kebenarannya.
Abadel mendesah, “Batu itu hilang, terjatuh di dasar laut Belegaer sewaktu Maedhros – putra pertama Feanor berangkat dari Middle-Earth menuju Valinor. Tentu saja Maedhros sangat sedih karena tak mampu menjaga pemberian ayahnya. Lalu beratus tahun kemudian, seorang Falmari bernama Aearon menemukannya. Ia terpesona dengan keindahan batu itu dan bermaksud membawanya pulang ke Valinor. Tapi di tengah jalan, ia dihadang sekelompok perompak, salah satu diantaranya adalah seorang dwarf. Mereka mencuri semua benda berharga yang ada di kapalnya, termasuk Sapphire Blue. Tentu saja Serandor tahu kisah ini, karena yang menemukan batu itu adalah kakek buyutnya.” Abadel memandang Serandor yang mengangguk membenarkan.
“Darimana kalian tahu, kalau batu yang ditemukan Aearon dan dicuri dwarf itu adalah batu yang sama yang dimiliki Maedhros?” sanggah Orion.
“Karena Aearon mengenali lambang Finwe pada batu itu.” jawab Serandor pelan. “Kakek buyutku bercerita pada ayahku dan Cirdan tentang batu cahaya sebelum kematiannya.”
Orion bergerak gelisah, otaknya menyatukan keping-keping cerita dengan fakta yang diterimanya. “Lalu, bagaimana Anda tahu…Sapphire Blue tersimpan di bawah Vraëstone?”
Abadel dan Serandor bertatapan sejenak, lalu Serandor berkata, “Ayahmu.”
Orion tertegun, tangannya meremas celananya. “Kau…kenal…orang itu?” tanya Orion terbata-bata.
“Beliau adalah guruku.” jawab Serandor. Orion kaget mendengarnya, ia baru akan membuka mulut untuk bertanya namun Abadel mendahuluinya bicara.
“Akan ada waktu bagi Serandor untuk menceritakan hubungannya dengan ayahmu.” potong Abadel, “Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, bahwa Oberon harus menyelidiki sesuatu. Oberon mencari semua informasi tentang Noldor dan tentu saja warisan Finwe yang berharga. Dan ketika itu awal kepemimpinanku pun dimulai. Aku menjadikan ayahmu verden pribadiku, sekaligus orang kepercayaanku.”
“D-dia…verden…”
“Verden terbaik yang hanya bisa ditandingi oleh putranya.” Abadel tersenyum penuh arti pada Orion.
“Oberon kuberi tugas pertama untuk memeriksa kondisi Cardolan yang hancur akibat serangan orc – Morgoth berencana memperluas kekuasaannya dengan menginvasi koloni-koloni Arnor. Tugasnya berjalan baik, elf-elf yang selamat dan bertahan dibawa ke Arnor, termasuk di antaranya adalah ibumu. Oberon jatuh cinta pada ibumu yang cantik. Mereka pun menikah dan memutuskan untuk menetap di utara kerajaan, di Arthedain. Meski telah menikah, ayahmu tetap menjalankan tugasnya. Berkali-kali ia harus melawan sekutu Morgoth bersama pasukan kerajaan. Menjadi penghubung antara Avari dan Sindar yang tertutup. Bahkan ia pergi ke Vraëstone untuk mencoba membangun kembali hubungan diplomatik dengan para dwarf. Aku merasa bersyukur memiliki Oberon di sisiku.” Orion melihat Abadel mengusap air mata di sudut matanya.
“Apa ibuku tahu ia seorang Noldor?” tanya Orion ingin tahu.
Abadel menggeleng lalu melanjutkan seolah tak ada interupsi. “Di saat Morgoth semakin kuat, Oberon mengusulkan padaku untuk meminta bantuan Valinor, hal yang tidak pernah kami pikirkan dan tentu saja diragukan oleh semua tetua kerajaan, tapi aku menyetujuinya. Maka enam puluh tahun lalu, saat usiamu sepuluh tahun. Untuk pertama kalinya Oberon menginjakkan kaki di Valinor. Pulang ke tanah leluhurnya. Bertemu dengan kaumnya yang tak tersentuh oleh Morgoth.”
“Apa ia pernah mengajakku ke Valinor?” tanya Orion pelan.
“Ya,” Abadel mengangguk, “beberapa kali saat kau masih kecil.”
“Itu mengapa aku bertemu dengan Jane.” gumam Orion seakan menemukan jawaban untuk rasa penasarannya.
“Busur itu…” kata Orion teringat, “Tujuannya datang ke Valinor pasti untuk memastikan keberadaannya, iya kan?”
“Benar, Oberon tahu busur itu dimiliki oleh keturunan Finarfin, putra Celeborn.”
“Dan ia menginginkannya?” Terdengar nada jijik dari suara Orion.
Serandor melirik Abadel untuk meminta izin bicara. “Suatu kali, sahabatku Cedric pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin menyelamatkan hidup banyak orang dengan busur pemberian ayahnya. Kau tahu Frâel? Tuan Oberonlah yang membuat Cedric berpikir seperti itu. Ya…mereka pernah bertemu.” kata Serandor sebelum Orion menyela pembicaraannya. “Tuan Oberon tidak pernah menginginkan busur Finarfin untuk dirinya sendiri. Bahkan ia berpesan pada Cedric untuk mengakhiri ketidakadilan dengan senjatanya.”
“Yang ayahmu maksud dan rencanakan ialah…agar Cedric, keturunan Finwe, sekali lagi harus menghadapi musuhnya – Morgoth.” Mata Abadel menerawang jauh ke pepohonan yang tumbuh tinggi di luar istana.
“Licik! Kejam!” geram Orion. “Itukah yang ia rencanakan? Mengirim Cedric untuk mati? Orang itu…benar-benar menjijikkan!”
“Haruskah, kau terus melihat ayahmu dari sudut pandang kebencian Frâel?” tanya Serandor prihatin.
“Tak ada yang ingin punya ayah seorang kaum terkutuk.” sergah Orion.
“Dia tidak…” Serandor menghentikan kata-katanya karena Abadel mengisyaratkannya untuk diam. Serandor menghela napas dalam.
“Biarkan aku melanjutkan ceritaku anak-anak,” Abadel memandang Orion dan Serandor bergantian. Orion hanya diam tak bergeming sedang Serandor mengangguk setuju.
“Oberon menjadi penghubung antara Valinor dan Middle-Earth. Sepuluh tahun sejak kedatangannya ke Valinor, Calaquendi dan Moriquendi akhirnya memutuskan untuk bersekutu. Semua berkat usaha ayahmu. Namun karena ayahmu juga, Calaquendi hampir membatalkan persekutuan tersebut…karena dua tahun sebelumnya, ayahmu menyeberang ke pihak Tuan Kegelapan.”
Tangan Orion gemetar, dadanya bergemuruh dan kebenciannya pada Oberon semakin dalam. “Kenapa? Kenapa Oberon mengkhianati rasnya?!” teriak Orion marah.
“Itu…adalah jalan yang dipilih sendiri oleh ayahmu.” kata Abadel sedih. “Keputusannya bergabung dengan Morgoth tidak serta merta diterima begitu saja, mengingat ayahmu adalah orang yang selalu ada di garis depan untuk melawan Morgoth. Satu-satunya cara adalah Oberon harus menunjukkan loyalitasnya, artinya…ia harus membunuh dan membantai setiap penentang Morgoth. Dan ayahmu melakukan semua itu. Bersama kedua belas Fuin-gûl lainnya, ayahmu membunuh ras kita. Bahkan tak sedikit Sindar, kaum yang telah mengajari ayahmu kekuatan sihir, mati di tangannya sendiri. Tidak perlu waktu lama bagi Morgoth untuk memercayai loyalitas ayahmu. Ia pun menjadi tangan kanan Morgoth yang paling dekat.”
Mata Orion memerah, tenggorokannya seperti tercekat, otot-otot rahangnya mengeras dan darah mengalir deras menuju kepalanya, seolah ingin membuat otaknya pecah.
“Raja Hretgán yang mengetahui tindakan ayahmu begitu murka. Ia tak pernah menyangka Oberon berani mengkhianati rasnya. Namun berkat kebijaksanaannya, Hretgán memutuskan untuk tetap bersekutu bahkan membantu Middle-Earth dengan ikut dalam Pertempuran Petróvya.”
“Dimana lelaki itu saat Pertempuran Petróvya?” tanya Orion getir.
“Oberon di sana, memimpin para orc dan…” kata-kata Abadel terhenti, ia memegang dadanya sesaat. “Melawan kami sebagai seorang Fuin-gûl. Ia juga yang menyebabkan kematian Hretgán.”
“A-Apa!!” kata Orion marah. Ia tertegun.
“Kematian Hretgán dan Cedric Caladriel dalam Pertempuran Petróvya membuat Calaquendi sedih sekaligus marah. Mereka memutuskan persekutuan dan kembali menutup mata terhadap Middle-Earth.” Abadel mendesah.
“Hentikan! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi.” Orion bangkit dan hendak pergi ketika Abadel berkata keras. “Kau, akan mendengar semuanya sampai akhir. Duduk!” perintahnya tegas. Orion sempat ragu, tapi ia duduk kembali dengan perasaan terluka.
“Alasan…mengapa aku merahasiakan tentang ayahmu darimu adalah, karena Oberon sendiri yang memintaku. Ia tidak pernah benar-benar menyeberang, Oberon hanya melakukan misi yang kuperintahkan kepadanya. Aku memintanya untuk menjadi mata-mata Morgoth. Itulah kebenaran Oberon.” Terdengar nada penyesalan dan kelegaan yang mendalam dari suara Abadel.
“Anda bohong!” teriak Orion. Tangisnya pecah, Orion mengatupkan rahangnya keras-keras saat tubuhnya gemetar. “Setelah semua kejahatan yang ia lakukan, Anda tidak perlu melindunginya seperti ini!”
Seolah tidak mendengarkan Orion, Abadel melanjutkan, “Semua orang hidup terikat dan bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri, itu disebut kenyataan. Tapi pengetahuan atau persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi. Semua orang hidup dalam asumsi. Apa itu tidak terpikirkan olehmu?”
Orion tersentak, menyeka air matanya, “Maksudmu, ia sengaja…membuat persepsi agar orang menganggapnya sebagai pengkhianat? Agar aku…membencinya?” tanya Orion lirih. “Tapi mengapa?! Mengapa ia harus melakukan semua itu?!” jerit Orion.
“Laki-laki yang membunuh perasaannya dan menghabisi sesama rasnya sambil menangis darah. Menerima misiku sebagai kaum terkutuk. Kau tahu apa artinya? Oberon tidak ingin kau dalam bahaya, baginya…nyawamu lebih berharga daripada…seluruh Noldor.”
Bahu Orion berguncang keras, “Tidak! Tidak! Tidak!”
“Ia bisa kehilangan kaumnya. Ia bisa menerima takdir sebagai keturunan Finwe. Tapi ia tidak bisa melihatmu hidup dalam bahaya. Tidak jika Morgoth mengincar seluruh keturunan Finwe. Tidak, untuk putra yang sangat dicintainya.” Air mata Abadel mengalir dan ia tidak bermaksud menyekanya.
“Maka sejak Oberon menjalankan misinya sebagai kaum terkutuk, ia memutuskan untuk menghapus semua memorimu tentang dirinya. Dan selanjutnya, tanggungjawab atas dirimu dilakukan sepenuhnya olehku. Di bawah pengawasanku, kau tumbuh dan besar jauh dari pemberitaan tentang ayahmu. Bahkan aku sengaja berbohong tentang kematian Oberon padamu. Kau hidup dalam pengamanan yang kuberikan. Baru setelah ayahmu meninggal, kau kupanggil untuk menjadi pasukan khusus kerajaan hingga akhirnya masuk ke dalam kelompok Varden.” Bibir Abadel bergetar dan matanya terpejam. “Satu-satunya orang yang harus kau persalahkan adalah aku, Orion.”
“Kenapa…ia harus melakukan semua ini…” Orion menangis, dadanya sesak. Di sampingnya, Serandor memandang kasihan pada Orion. Ia tahu kenyataan ini akan mengguncang emosi Orion.
“Demi kebebasan Middle-Earth…terlebih lagi demi dirimu…ia ingin mati sebagai penjahat dan pengkhianat, menerima aib sebagai ganti kehormatan, menerima kebencian sebagai ganti cinta. Walau begitu Tuan Oberon mati dengan wajah tersenyum.” kata Serandor.
“Lebih dari semua itu, Oberon mewariskan nama Noldor untukmu, untuk putra satu-satunya yang ia lindungi agar tetap hidup, untuk melanjutkan kepemimpinan Noldor di Middle-Earth.” sambung Abadel.
Orion menangis terisak mendengar semua kebenaran tentang ayahnya. Hatinya lega dan pedih sekaligus. Orion menyesali kebenciannya pada Oberon tanpa tahu kebenaran dibalik keputusan dan tindakan ayahnya, yang ternyata ingin melindungi dirinya dan Middle-Earth. Ayah…maafkan aku…
“Bagaimana, ayahku meninggal?” tanya Orion berusaha tegar.
***
Jane mengerjapkan matanya. Cahaya terang menyilaukan pandangannya. Apa aku mati? Jane bangun dan memandang berkeliling. Jika ia mati, mungkinkah ia berbaring di tempat yang begitu indah dan berkilau?
“Kau bangun, Jane?” Kelegaan terdengar dari suara Pavo yang berdiri di depan tempat tidurnya. Mereka berada di dalam kamar yang sangat indah. Jendela-jendela lengkung yang besar dengan ukiran rumit nan cantik berderet di salah satu dinding pada ruangan bundar itu, memberi jalan untuk masuknya sinar matahari yang menerangi sosok Pavo, membuatnya semakin berkilau bahkan tanpa sayapnya yang terbentang. Mata hangatnya menatap Jane dan ia tersenyum.
“Dimana aku?” Jane berusaha duduk dan bersandar pada kepala ranjangnya.
“Kau di Véongrad.” Pavo berjalan menuju jendela dan duduk anggun di salah satu jendela yang daunnya terbuka. Seperti sebuah mahakarya dari seorang seniman paling handal di seluruh Valinor saat memandang Pavo dengan posisi seperti itu. Ia benar-benar malaikat terindah yang pernah ada.
Jane mengabaikan pikirannya dan memegang kepalanya yang sedikit pusing. “Kenapa aku masih hidup? Bukankah seharusnya aku mati bersama Morgoth?” Jane memandang Pavo.
“Perlindungan kami, membuatmu tetap hidup.” kata Pavo.
Jane tidak ingin tahu apa yang dilakukan para Valar hingga membuatnya masih bisa bernapas, dan Pavo tampaknya tidak peduli jika Jane tidak mau menanyakan Cara-Ia-Dihidupkan-Kembali, Pavo juga tidak memaksa Jane untuk mendengarkan Kemampuan-Valar-Menyelamatkan-Seseorang-Dari-Kematian. Mereka diam untuk sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Pavo…” kata Jane pelan.
“Iya Jane,” Pavo sedikit kaget karena tersadar dari lamunannya.
“Bagaimana Orion bisa hidup kembali? Padahal ia…” Jane memilih tidak melanjutkan kata-katanya.
“Sesuatu dalam dirimu yang membuatnya hidup. Kelemahanmu adalah kekuatanmu.” Pavo seperti sedang berteka-teki.
“Apa maksud Anda?”
“Bagaimana menurutmu kau hidup selama ini? Hmm…”
“Aku…aku hidup dalam kesedihanku sendiri. Aku hidup dalam keegoisanku.” kata Jane malu.
“Benar sekali, sejak kepergian Hretgán dan kekasihmu, Cedric, kau hidup dalam perasaan sedih yang mendalam, memandang segala sesuatu di dunia menjadi tidak berarti lagi.”
“Apa hubungan itu semua dengan Orion?” tanya Jane bingung.
“Kau tahu Jane? Kau adalah makhluk yang istimewa. Dilahirkan sebagai setengah Valar, membuatmu memiliki sebagian bakat kami. Salah satunya, menjadi lebih kuat dan lebih peka dari makhluk manapun di duniamu. Dan yang paling kuat dalam dirimu adalah kesedihanmu.”
“Mengapa kesedihan bisa menjadi bakat dan menjadi yang paling kuat?”
“Bukankah sudah terbukti? Perasaan terlemah dalam dirimu – kesedihanmu, membuat Orion dapat hidup kembali. Kau pernah dengar tentang Air Mata Kehidupan, Jane?”
Jane menggeleng pelan.
“Itu adalah air mata Valar yang mampu menghidupkan makhluk yang telah mati. Tidak ada yang memiliknya sejak Aquarii – Valar dengan perasaan mencintai dan menghargai yang sangat besar, pergi meninggalkan Véongrad.”
Jane mengerutkan keningnya, mencerna apa yang dikatakan Pavo. “Aku masih tidak mengerti, maksudmu Aquarii yang memberi air mata itu untuk Orion?”
“Bukan Aquarii, tapi dirimu Jane…”
“Aku?” kata Jane terhenyak.
“Ya, air matamu adalah Air Mata Kehidupan, itulah kekuatanmu Jane. Air mata yang datang dari perasaan cinta yang sangat dalam. Kau pernah kehilangan ayah dan kekasih yang sangat kau cintai. Dan kau tidak ingin hal itu terulang. Rasa cintamu yang besar pada Orion, memberikanmu kekuatan untuk menghalanginya pergi.”
“Maksudmu, kesedihan menjadi satu-satunya kekuatanku untuk melindungi orang-orang yang kucintai, hanya karena aku takut kehilangan mereka?”
Pavo tersenyum, “Sederhananya, bisa dibilang seperti itu.”
Jane kembali terdiam memikirkan hal tersebut dan Pavo kembali melamun dengan pikirannya sendiri.
“Pavo…” Jane membuka percakapan, banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada Valar itu.
“Hmm…” kata Pavo lembut.
“Apakah, aku satu-satunya makhluk setengah Valar?” Jane merubah posisi duduknya lebih tegap untuk bisa melihat Pavo yang sekarang berdiri memunggunginya.
“Kau yang kedua,” jawab Pavo singkat. Suaranya terdengar enggan.
“Jadi, ada orang lain selain aku?” tanya Jane takjub.
Pavo tidak segera menjawab, ia tampak gelisah, “Kami bukanlah makhluk sesempurna seperti yang kalian bayangkan selama ini. Ada kalanya kami tergoda dan larut dalam nafsu keduniawian.” Terdengar helaan napas yang berat dari Pavo. “Ratusan ribu tahun lalu, saat kami belum mengundang Quendi untuk hidup bersama kami di Valinor. Ada seorang Valar yang datang ke Middle-Earth dan terpesona oleh kecantikan seorang wanita Quendi, akhirnya mereka menghasilkan seorang keturunan, makhluk pertama yang lahir sebagai setengah Valar dan setengah Quendi.”
“Di-dimana ia sekarang?”
“Ia di sini bersama kita, dan kau mengenalnya.”
“Siapa?” tanya Jane penasaran.
Pavo tampak ragu sebelum menjawab. “Ia…Cygnus.”
Jane terkejut dan tanpa sadar menutup mulutnya yang ternganga, “Bagaimana bisa Cygnus…?”
“Cygnus adalah Valar termuda. Tidakkah kau lihat? Emosinya yang paling tidak stabil di antara bangsa kami, ia mudah sekali marah dan sedikit gegabah dalam bertindak. Itulah sifat dasarnya sebelum menjadi Valar, sifat yang ia bawa saat masih menjadi Quendi.”
“Mengapa Cygnus yang memiliki darah Quendi bisa benar-benar menjadi Valar?” Jane masih tak mengerti.
“Itu pilihannya. Kau bisa hidup sebagai Valar, jika kau melupakan kehidupanmu saat menjadi Quendi, itu artinya semua kenanganmu sebagai Quendi akan dihapus. Dan kau, bisa memilih menjadi Quendi dengan syarat, sayapmu akan hilang selamanya begitu pula dengan kekuatan Valar yang kau miliki.” Pavo menatap mata biru Jane lekat-lekat.
“Maksudmu, aku tidak bisa hidup sebagai diriku yang sekarang? Jadi, aku harus memilih apakah ingin menjadi Valar atau menjadi Quendi seutuhnya?”
“Benar Jane…Inilah hukum yang kami tetapkan demi kestabilan alam semesta. Jika kau memilih untuk bertahan menjadi setengah Valar, maka kau akan mati.”
Jane membeku mendengarnya. Jika ia memilih bertahan, ia akan mati. Jika memilih menjadi Valar seperti Cygnus, ia akan kehilangan ingatannya sebagai Jane Svitkona, sebagai Putri Vanyar, dan yang lebih buruk ia tidak akan ingat tentang Orion dan kenangannya bersama Cedric. Lalu, jika ia menjadi Quendi seutuhnya, maka sayapnya akan hilang, padahal untuk sesaat ia senang memiliki sayap dan merasa jika sayapnya adalah bagian tubuhnya yang berharga, dan jika itu hilang, ia akan seperti orang cacat yang tidak berdaya.
Saat Jane masih memikirkan perkataan Pavo, pintu kamarnya terbuka dan seorang Valar rupawan berwajah sendu masuk.
“Kurasa, aku akan meninggalkanmu bersama ayahmu Jane,” Pavo melirik Avus lalu tersenyum pada Jane, menatap Jane tajam, seolah memintanya untuk memikirkan masak-masak keputusannnya. Kemudian Pavo menyibakkan jubah panjangnya dan berjalan pergi menuju pintu dengan tenang.
.
.
.
Suasana hening, hanya desir angin yang memecah kesunyian serta kicau burung-burung aneka warna yang terbang dan hinggap di dahan pohon cemara yang menjulang tinggi.
“Aku…” kata Avus dan Jane serempak.
“Anda dulu, kalau begitu.” kata Jane mengalah.
“Baiklah,” Avus menghela napas, mengumpulkan semua keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya. “Maafkan aku, putriku…”
Suasana kembali hening, Jane tidak merespon pernyataan Avus. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana atas situasi ini.
Merasa tidak mendapat tanggapan, Avus melanjutkan dengan suara bergertar, “Kesalahanku adalah jatuh cinta pada ibumu. Tapi kelahiranmu ke dunia bukan sebuah kesalahan Jane.”
“Ayahku tahu?” tanya Jane spontan. Entah mengapa ia memikirkan Hretgán, pria yang selama ini dianggapnya sebagai ayah. Jane mencoba membayangkan bagaimana perasaan Hretgán jika tahu ia bukan putri kandungnya.
“Aku tak yakin, mungkin saja ia mengetahuinya. Tapi selama hidup, ia selalu memperlakukanmu sebagai putrinya, tak pernah ada kasih sayang yang tidak ia berikan padamu. Aku…merasa bersyukur dan iri padanya.”
“Aku sangat mencintainya, ia ayah terbaik.” gumam Jane setuju, matanya mulai basah. Jane bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati Avus, “Mengapa tidak ada yang memberitahuku sejak awal? Mengapa kalian merahasiakannya dariku?”
Tangan Avus gemetar, dipandanginya Jane yang sedang menatapnya, “Ibumu yang memintanya. Ia tidak ingin menyakiti Hretgán lebih jauh dan berniat menanggungnya seorang diri.”
“Kenapa harus ibuku?” Air mata Jane jatuh, tapi ia buru-buru menyekanya.
“Aku sendiri tidak tahu, perasaan itu muncul begitu saja. Semua ini salahku…salahku…” Avus membuang mukanya, dari punggungnya sayapnya terbentang dan bergetar pelan.
“Avus…”
“I-Iya putriku…” Ada sedikit perasaan kecewa dalam nada bicara Avus. Ia ingin sekali mendengar Jane memanggilnya ayah, bukan namanya.
“Anda disana, hari dimana aku dipanggil oleh ibuku untuk menerima misi. Mengapa…harus aku yang melakukan misi itu jika aku bukan putri ayahku? Dengan kata lain bukankah aku sama sekali tidak terikat dengan takdir Middle-Earth? Tapi mengapa harus aku?” Jane sedikit meninggikan suaranya, dan itu membuat Avus mengerutkan keningnya.
“Justru karena kau…adalah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Morgoth. Quendi dengan kekuatan setara Valar. Hal yang tidak disadari oleh Morgoth sendiri.”
Avus merentangkan sayapnya dan dengan hati-hati melingkupi belakang tubuh Jane dengan sebelah sayapnya. Hal itu membuat Jane membeku, tapi ia tidak menolaknya sama sekali, Jane malah merasakan kehangatan dalam dekapan sayap Valar – sayap ayahnya.
“Abadel memberitahu ibumu tentang kemungkinan ini.” lanjut Avus. “Ia memperoleh informasi dari mata-matanya, jika kelemahan Morgoth adalah dirimu.” Suara Avus terdengar letih. “Aku menentangnya, tapi ibumu bersikeras agar kau melakukan misi tersebut.” Jane menoleh tak percaya. “Bukan…bukan karena ia tidak memedulikan nyawamu, tapi karena ia yakin dengan takdirmu, dan ia yakin Hretgán menyertai langkahmu.”
Jane mencerna alasan tersebut namun ia juga berpikir tentang hal lain yang lebih masuk akal, “Kenapa bukan kalian saja yang menghentikan Morgoth. Bukankah Valar punya kekuatan yang lebih besar?”
Avus mendesah, “Jika seorang Valar membunuh Valar lainnya, ia akan dibuang ke Dunia Bawah dan selamanya hidup dalam penyiksaan.” Mata Avus memandang Jane sedih.
Jane tercengang, Avus pernah mengancam akan menghancurkan Morgoth demi dirinya. Jane tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar dilakukan Avus. Artinya…ia akan disiksa selamanya…
Untuk beberapa lama mereka hanya berdiri diam sambil memandang debu-debu yang terimpa cahaya matahari beterbangan menerobos masuk lewat jendela. Tidak ada yang berniat melanjutkan perbincangan. Sampai saat Jane hendak berjalan kembali ke tempat tidurnya, Avus membuka suaranya.
“Jane, aku meminta ibumu untuk tinggal di Véongrad. Ia lega sekali mendengar kabarmu. Nāeri, dalam perjalanan menuju kemari. Kuharap kau juga bisa tinggal bersamaku di sini.”
Jane menghentikan langkahnya, ia tidak pernah berpikir jika ibunya akan meninggalkan Edheline dan hidup bersama Avus. Bagaimana dengan Vanyar dan…?
Sambil mengepalkan tangannya Jane berbalik dan menatap Avus dengan tajam, “Tidakkah… Anda tampak terlalu serakah? Menginginkan aku dan ibuku di sisi Anda sekaligus.”
Avus tertegun, ia mengalihkan pandangan keluar jendela, “Aku hanya ingin…kita hidup sebagai sebuah keluarga.”
***
“Waktuku…tidak lama lagi nak…temui Raja Abadel…dan beritahukan tentang putri Hretgán…juga tentang Sapphire…Blue…yang…disimpan Hugin…” Oberon terbaring sangat lemah di pelukan Serandor.
Ia terluka parah akibat terkena senjata yang sudah dirasuki sihir yang amat sadis dan kuat. Seorang pembunuh bayaran menyerang Oberon di dekat Hutan Doriath. Pembunuh itu mendapat perintah dari seorang raja manusia untuk membunuh Fuin-gûl. Dan ia mengenali Oberon sebagai salah satu di antaranya. Saat kejadian itu, Serandor sedang dalam perjalanan menemui Oberon, dan ketika ia sampai, ia telah mendapati Oberon tergeletak sekarat.
“Sir…bertahanlah, Sir! Aku tidak akan pergi tanpamu. Aku berjanji akan menuruti semua perkataanmu…Jadi kumohon bertahanlah! Kita akan menemukan penyembuh…” isak Serandor.
“Aku…ingin beristirahat…di Belegaer…A-Aku…ingin…memandangi…Vali..nor…dan…Middle…Earth..” Oberon pun menghembuskan napas terakhirnya, sebulir air mata keluar dari sudut-sudut matanya yang telah terpejam untuk selamanya. Serandor terdiam, tubuhnya kaku memandang wajah tampan gurunya yang seakan tersenyum bahagia bahkan di saat ajal memanggilnya.
***
“Itu adalah hari terakhirku bersama Tuan Oberon. Sesuai permintaannya, aku membawa jasadnya ke Laut Belegaer. Dan di sana telah menanti Orome – Avanguard dari Valar penguasa samudera, yang kemudian membawa jasad ayahmu ke dasar lautan, menempatkannya di antara Valinor dan Middle-Earth, agar ia bisa terus mengawasi kita.” Serandor menyeka air matanya yang bercucuran, menyedot pelan ingus yang keluar dari hidungnya.
Orion tertegun mendengar kisah ayahnya, matanya basah karena sedih.
“Bagaimana bisa…kau berhubungan dengan ayahku sementara ia masih berperan sebagai seorang Fuin-gûl?”
“Aku menjadi kurir yang membawa pesan dari Raja Abadel untuk ayahmu dan sebaliknya. Tempat pertemuan kami selalu berpindah-pindah dan yang terakhir adalah di Hutan Doriath.”
“Bagaimana kau melakukan tugas seberbahaya itu?”
“Aku tidak secakap yang kau kira, aku ketahuan oleh mata-mata Morgoth. Morgoth menyadari bahwa ada kurir yang mengantarkan pesan dari seseorang untuk Abadel, untungnya ia tidak pernah tahu kalau seseorang itu adalah Tuan Oberon. Tapi aku meyakinkan ayahmu kalau aku akan lebih berhati-hati, aku bisa mengatasi antek-antek Morgoth, asal bisa terus bertemu dengan ayahmu.” Serandor menghela napas dan menggerak-gerakkan jari-jari tangan kanannya.
“Lalu, mengapa kau sangat ingin membantu ayahku?”
“Karena… Kau ingat? Aku pernah bilang ingin ikut memperbaiki kerusakan Middle-Earth? Bagiku, pengorbanan dan jalan yang ditempuh Tuan Oberon untuk mengakhiri kelaliman Morgoth, sungguh sangat luar biasa. Hal itu membuatku kagum padanya dan menyadarkanku untuk bisa membantu bangsaku yang tertindas. Semua itu kulakukan, karena aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang belum bisa diselesaikan Tuan Oberon.” Serandor mengakhiri kisahnya, ia berbalik dan berjalan mendekati Orion. “Ayahmu pernah mengatakan, bahwa takdir akan mempertemukan orang-orang, suka atau tidak suka. Dan aku sangat bersyukur bertemu denganmu Frâel.” kata Serandor tulus.
Orion memandang Serandor lekat-lekat, “Terima kasih, untuk selalu berada di sisi ayahku saat dunia menjauhinya.” Serandor tersenyum miring dan mengangguk pelan.
“Aku selalu menyimpan ini,” Serandor kemudian mengeluarkan selembar perkamen usang dari dalam kemejanya.
Waktu akan berlalu dan musim akan berganti. Suatu saat kesedihan juga akan berlalu dan takdir baru akan muncul. Orion membaca isi perkamen yang diberikan Serandor.
“Itu adalah pesan terakhir yang ditulis ayahmu,” kata Serandor.
Air mata Orion jatuh membasahi perkamen yang berisi pesan terakhir Oberon, ayah yang tak pernah diingatnya, yang sampai beberapa saat lalu sangat dibencinya, yang namanya bahkan tak mau ia sebut. Orion menyesali perbuatannya. Ia menangis terisak dan berlutut tak berdaya. “Bagaimana, dia…sebenarnya…?”
“Seperti semua yang dikatakan Raja Abadel, Tuan Oberon adalah pejuang paling tangguh.” Serandor mendekati Orion, berjongkok dan menepuk pundaknya. “Dan ayah yang sangat mencintai putranya.”
Hari itu menjadi hari terpanjang dalam hidup Orion. Hari dimana sebuah kebenaran tentang ayahnya terungkap. Dan ia bisa bernapas lega karena ayahnya bukan pengkhianat atau kaum terkutuk seperti yang selama ini ia dengar dan yakini. Orion memandang bintang-gemintang yang bertebaran di langit Middle-Earth. Ia bisa melihat wajah ayahnya tersenyum bangga padanya. Ayah…aku putramu, putra bintang…
***
Jane memandang pantulan dirinya di cermin. Ia memakai gaun putih panjang yang tampak seperti memancarkan pendar kuat keperakan. Lynnëa yang memakai gaun keemasan tampak lebih cantik dari biasanya, ia tersenyum memandang melewati bahu Jane, menatap mata Jane di cermin.
“Sangat indah Jane, kau cantik sekali. Aku yakin ia akan terpana begitu melihatmu. Ini akan jadi pernikahan yang memesona. Akhirnya kalian bersatu.” Lynnëa tak henti-hentinya mengagumi hal itu.
Jane tersenyum kecil mendengar ucapan Lynnëa, ia menghadap sahabatnya, “Aku sangat mencintainya, aku berjanji akan hidup bahagia.”
Lynnëa meraih tangan Jane, menggenggamnya dan berbisik, “Kita semua akan hidup bahagia.” Ia mengangguk pelan pada Jane.
Ratu Nāeri masuk ke kamar putrinya, memberi isyarat pada Lynnëa untuk meninggalkan mereka berdua. Jane berjalan mendekati ibunya dan memberi hormat.
“Ibu selalu menantikan hari dimana kau akan menemukan belahan jiwamu, putriku.” Nāeri menatap Jane lekat-lekat.
“Ibu…” Mata Jane berkaca-kaca.
Ratu mengeluarkan diadem permata yang sangat indah dari dalam kotak yang ia bawa. “Dulunya ini milik ibuku, ia memberikannya padaku saat aku akan menikah dengan ayahmu. Sekarang tiba waktunya bagiku untuk mewariskannya padamu.” Nāeri memakaikan diadem itu ke kepala Jane, ia tersenyum memandang putrinya. Nāeri memeluk Jane dan meneteskan air mata, “Berjanjilah kau akan bahagia anakku…”
“Ibu…” Jane pun menangis.
Di depan pintu aula Edheline, Jane yang sudah ditunggu Raja Hretgán, membungkuk memberi hormat lalu memeluk ayahnya sesaat. Hretgán mencium kening putrinya, “Kau siap putriku?” Jane mengangguk sekali. Hretgán mengulurkan lengannya dan Jane meraihnya.
Helaan napas terdengar bersamaan dari para bangsawan elf ketika Raja Hretgán dan Jane muncul berjalan di lorong di antara deretan kursi, Hretgán melangkah ringan dan penuh wibawa, Jane seperti melayang. Cahaya kecantikan Jane membuat cantik siapa saja yang tertimpa olehnya, termasuk dua gadis kecil yang berjalan di depannya, masing-masing mereka menggenggam sebuket morning glory. Mereka berjalan menuju paviliun putih tempat singgasana raja yang telah diubah menjadi altar. Langit-langit yang biasanya tampak seperti sarang lebah sekarang ditumbuhi ratusan lili cala putih yang menggantung bak lonceng-lonceng kecil. Lantai yang berlumut diganti oleh hamparan rumput halus, Jane melangkah di atas kelopak bunga warna-warni yang bertebaran.
Di depan altar telah berdiri seorang pria yang sangat rupawan dengan jubah putih panjang dan tunik keperakan, lambang Horntail menempel di dadanya. Cedric Caladriel tersenyum bahagia menanti kekasihnya, matanya tak sedetik pun berpaling dari Jane. Di sebelahnya, dengan pesona seorang Vanyar, Thróv tersenyum lebar, mengedip sekilas pada Lynnëa yang berdiri di seberangnya.
Dan begitu Jane telah mencapainya, Cedric kelihatan seolah tidak pernah bisa melupakan dansa pertamanya di malam Silme Ereg. Ia menyambut tangan Jane yang diserahkan oleh Hretgán.
Mereka berhadapan, saling memandang, kebahagiaan terpancar jelas dari mata keduanya. Cedric menggenggam tangan Jane diantara kedua tangannya. Jane menunduk, menyembunyikan air mata bahagianya dari pangerannya.
“Kau sudah memberikan hatimu padaku. Aku akan memberikan hidupku seluruhnya.” kata pria di hadapan Jane itu sepenuh hati.
Jane terpana mendengar suara itu, ia mendongak menatap wajah kekasihnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika Cedric Caladriel berubah menjadi Orion Frâel.
***
[Epilog]
Seorang gadis – remaja, mengendap-endap keluar dari paramar, senyum puas merekah di wajah mungilnya. Ia mendekap sebuah buku – yang tampaknya sangat diinginkannya. Ia berlari riang menuju tepi Aelin Rhún, ke sebuah pohon tua yang besar – pohon Elvéri, di dekatnya seorang pemuda sangat tampan sedang berlatih memanah.
“Apa yang kau lakukan Cedric?!” bentak si gadis, “Jangan arahkan panah itu kepadaku!” ia mendelik pada sang pemuda yang sedang membidikkan anak panah ke arahnya.
Pemuda bernama Cedric itu tersenyum lebar, “Kukira kau rusa betina gemuk yang bisa kupanggang malam ini.”
“Tidak lucu Ced, kita bukan karnivora.” cibir gadis itu.
Si gadis berjalan melewati Cedric, gaunnya bergesekan kasar dengan rerumputan. Ia duduk di bawah pohon Elvéri. Mengacuhkan pemuda itu dan mulai membuka bukunya. Matanya berbinar saat sampai pada halaman yang dicarinya. Ekspresi takjub, seperti memuja terpancar di wajahnya.
“Kali ini buku apa yang kau curi Gretel? Middle-Earth lagi?” Cedric berjalan mendekati gadis itu, melirik buku yang dipegangnya lalu duduk di sampingnya, bersandar pada batang pohon dengan satu lengan di belakang kepalanya.
“Lebih menarik daripada Middle-Earth.” jawab Gretel tanpa berpaling dari bukunya.
“Véongrad?” tuntut Cedric.
“Aku sudah hapal semua tentang Véongrad dan Valar.” Gretel membalik halaman bukunya dan wajahnya semakin terpesona akan isi buku itu.
Cedric yang kesal karena penasaran akhirnya merebut buku dari gadis itu. Dahinya berkerut saat membaca judul buku itu – Keindahan Vanyar. “Seharusnya kau baca Keberanian Noldor, itu lebih keren.” komentar Cedric.
“Kembalikan!” Tangan Gretel mencoba meraih buku yang dijauhkan oleh Cedric.
Cedric terbelalak begitu sampai pada bab yang ia yakin sedang dibaca Gretel, “Thróv Yang Tampan?” Cedric memandang Gretel yang tersipu malu, ia menggeleng tak percaya, “Dasar perempuan.” dengusnya.
“Tampan kan? Dalam buku itu tertulis kalau ia salah satu dari tujuh Vanyar terindah, ketampanannya bahkan disejajarkan dengan Valar.”
“Sejak kapan kau tertarik pada pria tampan?”
“Sejak aku menyadari kalau teman laki-lakiku cuma kau, tahu!”
“Hei, seharusnya kau merasa terhormat karena aku mau menjadi temanmu.”
“Terserah apa katamu.” kata Gretel pasrah.
“Tapi dia bukan tipemu kan? Karena aku sanksi ada pria seperti Thróv yang mau mendekatimu. Kau kan…” Cedric menghentikan ucapannya saat melihat tangan Gretel sudah terangkat untuk memukulnya.
“Aku apa?!” tantang Gretel ketus.
“Tidak,” Cedric mengangkat bahunya dan mengembalikan buku itu pada Gretel. Ia lalu mengambil busur hitamnya, mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya dan sibuk mengelap lambang Horntail yang ada di busurnya.
“Haahh…” Gretel yang sesaat tadi tampaknya siap beradu mulut dengan Cedric hanya bisa menghela napas saat melihatnya membersihkan busur. “Kau sangat menyayangi itu ya?” Gretel menyimpan bukunya dan bergeser mendekati Cedric.
“Yeah, ini pemberian dari ayahku. Katanya busur ini milik pejuang Noldor yang hebat.”
“Ayahmu?” Gretel menoleh dan menatap ragu-ragu ke arah Cedric. “Kapan, ia akan pulang?”
Cedric tersenyum samar, ibu jarinya berhenti bergerak memutar saat membersihkan lambang kecil berwarna keperakan pada pegangan busurnya. “Entahlah, tapi…ia pasti akan pulang, ia selalu pulang.”
“Kalian pasti sangat merindukannya, kau, dan ibumu.”
“Yeah…ibuku selalu menanti kepulangannya.”
“Kau tahu, jika ibuku tidak melarang mati-matian ayahku, mungkin ia sekarang sedang bersama ayahmu, menjalankan tugas sebagai duta elf untuk Vraëstone. Pasti menyenangkan berhubungan dengan makhluk lain di Middle-Earth.” Gretel menggumamkan pikirannya.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Middle-Earth?” cetus Cedric semangat.
“Kau…? Dan aku…? Hah, jangan bercanda ya!”
“Bukankah kau ingin melihat Middle-Earth secara langsung? Seberapa berbahayanya, seberapa luasnya. Akan lebih baik kalau kita menjelajahinya sendiri. Untuk itu kan kau bersikeras mencuri buku-buku yang berkaitan tentang Middle-Earth dari paramar?”
“Hei! Aku tidak mencuri tahu! Buku-buku itu selalu kukembalikan lagi ke tempatnya kok. Lagi pula, itu…aku… Kita masih di bawah umur Ced. Maksudku, kudengar Middle-Earth sedang dalam konflik.”
“Konfliknya adalah, kalau kau dengan bodohnya meninggalkan pesan tertulis pada orangtuamu yang memberitahukan kalau kita akan jalan-jalan ke Middle-Earth tanpa pengawal seorang pun. Lalu ibuku tahu dan dia akan mengerahkan seluruh Valinor untuk mencari kita. Dasar dungu!”
“Siapa yang dungu?! Aku hanya belum siap dengan ide gilamu.”
“Bilang saja kau takut.”
“Aku tidak takut! Aku…aku…hanya tidak mau melanggar peraturan dan menentang istana.”
“Kau lupa ya? Aku ini pangeran, putra mahkota, calon raja. Kalau kau menentangku kau sama saja menentang istana.” Cedric mengangkat tinggi-tinggi dagunya.
“Hei! Jangan mentang-mentang kau pangeran ya, jadi bisa semena-mena padaku. Tunggu sampai kuadukan rencana bodohmu pada Yang Mulia Ratu.” Pipi Gretel menggembung jengkel.
.
.
.
Cedric dan Gretel berpisah jalan, “Sampai besok malam di Perayaan Silme Ereg. Kuharap kau akan menemukan seseorang seperti Thróv, asal kau bisa merubah penampilan bebekmu itu menjadi angsa.” Lidah Cedric terjulur menggoda sahabatnya. Tangannya melambai ringan.
“Apa katamu?!” Gretel menahan tangannya untuk melempar buku tentang Thróv ke wajah Cedric. “Tunggu saja besok, kau akan ternganga melihat kecantikanku.” Gretel membuang muka, mengangkat dagunya dan berjalan angkuh, pergi meninggalkan Cedric yang tersenyum geli.
Cedric menyusuri jalan setapak dan menaiki undakan anak tangga menuju pintu besi ganda. Alih-alih menuju pintu aula depan, ia menyeberangi halaman menuju istal.
“Bagaimana kabarmu hari ini Narhen?” Cedric tersenyum pada kuda jantan putih yang menawan. Narhen menciumi pipi Cedric, ia kegelian dan balas menggosok-gosok belakang kepala Narhen. “Kau pasti rindu udara bebas, apa kau juga rindu ayahku…?” Narhen menganggukkan kepalanya dan mengangkat kaki-kaki depannya, meringkik keras. “Tentu…kau sangat merindukannya sama seperti aku merindukannya.”
Cedric berjalan diam menuju istana, sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Cedric Oberon.” seru sebuah suara dengan penuh kerinduan.
Cedric menoleh, mencari suara yang memanggilnya. “A-Ayah…!!” kata Cedric tercengang, serta-merta ia berlari ke arah elf pria tampan yang berdiri gagah merentangkan lengannya seakan tak sabar menyambut Cedric.
“Ayah…” Cedric menghambur dalam pelukan ayahnya. “Akhirnya ayah pulang, aku rindu ayah.” Cedric tak kuasa menangis tatkala ayahnya mengusap lembut punggungnya dan mencium kepalanya dengan sayang.
“Kau bertambah tinggi nak,” Pria itu melepaskan pelukannya, kedua tangannya mencengkeram bahu Cedric, mengamatinya untuk beberapa saat. Ia memandang mata Cedric yang persis seperti mata istrinya, “Dan sangat rupawan.” lanjutnya. Setetes air mata jatuh di sudut matanya, “Ayah juga…sangat merindukanmu, putraku.” Ia kembali memeluk Cedric, kali ini lebih erat.
“Bagaimana kabar ibumu?” Mereka berjalan masuk ke aula penuh pohon.
“Sangat…sangat…sangat…baik untuk terus menasihatiku ini dan itu.” Ayah Cedric tersenyum mendengarnya.
Seorang wanita berjalan keluar dari pintu lengkung di belakang paviliun diikuti seorang pria berjubah keperakan. Wanita itu sangat cantik dengan rambut hitam tergerai bebas, mahkota rubi menghiasi kepalanya. Jubah beludrunya menyapu lantai lumut dengan gerakan halus.
“Apakah ada kabar dari Middle-Earth?” tanyanya pada penasihat di belakangnya.
“Belum, Yang Mulia Ratu.” jawab penasihat berwajah polos, tampan, tapi sangat polos.
“Hamba kembali…Yang Mulia…”
Mata Cedric terbelalak melihat ayahnya berlutut di hadapan ibunya. Ratu dan penasihatnya terkejut melihat itu. Suasana hening.
“Kau…kembali…” Suara ratu bergetar, matanya berkaca-kaca melihat pria yang berlutut di hadapannya seolah tak sanggup lagi menyimpan kerinduan yang membuncah.
“Aku kembali…” ulang pria itu, yang juga tidak bisa menyembunyikan kerinduannya. Ia bangkit dan maju mendekati ratu, meraih kedua tangan kurusnya, mengangkatnya dan menciuminya dengan lembut dan penuh cinta.
“Manen nalyë, aranel? – Bagaimana kabarmu, tuan putri?” Pria itu menatap rindu mata istrinya, Jane Svitkona.
“Tidak pernah sebaik ini verden,” gumam Jane, “Im gelir ceni ad lín – Aku sangat bahagia melihatmu lagi.” Mata Jane basah, ia meraba wajah suaminya. Mata birunya mengamati setiap detail wajah Orion.
“Aku merindukanmu…” bisik Orion yang hanya dibalas Jane dengan anggukan dan isak tangis yang akhirnya pecah.
Orion memeluk Jane, lalu mencium lembut bibirnya. Ia menatap mata biru istrinya, mata yang sejak dulu telah mencuri hatinya. Jane membalas tatapan Orion dan mencoba tersenyum dalam tangis bahagianya.
Sang penasihat menyeka air matanya dengan lengan jubahnya. Ia sangat terharu melihat pertemuan itu. Dan Cedric, ia tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya saling melepas rindu.
“Karena cinta tak pernah lelah menanti… Iya kan, paman?” kata Cedric pada penasihat.
“Maaf…pangeran,” Penasihat bingung dengan ucapan Cedric.
“Tuan Penasihat, bagaimana kabarmu?” Orion berpaling ke penasihat yang masih memikirkan perkataan Cedric.
“H-Hamba baik Yang Mulia.” Penasihat itu terkejut ketika Orion mendekatinya dan memeluknya.
“Kau terlihat sedikit gendut El…” Orion menggoda penasihat sekaligus sahabatnya, Eleanord.
“Lihat dirimu Frâel, kau yang begitu berantakan.” Eleanord dan Orion bertatapan sambil tersenyum.
.
.
.
“Ibu…tidakkah ini terlalu berlebihan?” Gretel menggerutu melihat gaun yang dipaksa ibunya harus dipakainya. “Aku tidak suka rendanya, terlalu ramai…leherku sampai tidak kelihatan.” Muka Gretel semakin cemberut saat ibunya hanya melenggang cepat sambil tersenyum puas.
“Jangan permalukan ayahmu Gretel, kau terlihat sangat cantik, percayalah pada ibu. Setidaknya harus ada seorang pangeran yang terpana melihat kecantikanmu.” kata ibunya tak mau tahu.
“Pangeran mana yang mau melihatku seperti ini? Apa pangeran kodok?” Gretel bergidik, “Kalau sampai itu terjadi lebih baik aku menenggelamkan diri di Aelin Rhún.”
“Aku mau lihat,” Cedric mengagetkannya dari belakang. Ia begitu rupawan dengan kemeja putih dan rompi coklat muda dengan bordiran perak bergambar Horntail, celana panjang gelap dan sepatu bot setinggi lutut.
Gretel kaget, sekarang Cedric berdiri di hadapannya, tangannya bersedekap dan ia memandang Gretel dari atas ke bawah ke atas lagi. Ekspresinya menilai. Mulutnya tak kuasa menahan tawa. “Buahahahaaa… putri dari bangsawan mana ini?” Wajahnya mendekati wajah Gretel, Cedric memiringkan kepalanya lalu mundur untuk melihat Gretel secara keseluruhan. “Kau seperti bebek dengan gaun pesta tua. Itu milik nenekmu ya?” ejek Cedric. Ia menyeringai menyebalkan.
Mata Gretel sudah berair karena malu dan marah, ia menggigit bibirnya dan lari memanggil ibunya. “Ibuuu…”
Orion dan Jane sedang bersama Eleanord dan istrinya ketika melihat Gretel berlari sambil menangis ke arah mereka.
“Ibuuu…” rengek Gretel. Eleanord bingung melihat putrinya.
“Apa yang terjadi nak?” tanya Eleanord.
Cedric sudah bergabung dengan mereka dan berlagak tidak terjadi apa-apa. Ia memandang Gretel sambil menahan senyum.
“Dia!” Gretel menunjuk Cedric kesal, “Mengataiku mirip bebek…huaaaa…” Tangis Gretel tambah keras. Cedric pura-pura tidak melihat.
“A-Apa…?” tanya ibu Gretel geram.
“Maafkan putraku, Lynnëa,” kata Jane pelan. Ia menatap Cedric dengan tatapan menegur.
Orion dan Eleanord hanya berpandangan bingung.
“Mára aurë!” seru elf pria berpenampilan eksentrik. Kemejanya tanpa lengan dan sepatu botnya, sebelah hitam sebelah putih.
“Paman Serandor!” teriak Cedric, ia berlari menghampiri pria yang sebelah telinganya menjuntai aneh. Taktik yang bagus untuk menghindari tatapan ibunya yang mengintimidasi.
“Hei Ced, wah…kau tambah tampan saja.” Serandor nyengir lalu memeluk Cedric.
“Paman yang tambah keren. Woaaa…apa ini?” Cedric terpesona melihat gambar kapal dengan dua layar besar terkembang dengan simbol tengkorak dan dua pedang menyilang, di lengan kiri Serandor yang, tidak bisa dikatakan kekar.
“Manusia menyebutnya tatto. Kau mau buat?”
“Tidak!” kata Jane tegas. Ia sudah ada di depan Serandor dan Cedric dengan tatapan galak.
“Yang Mulia, senang melihatmu.” Serandor membungkuk singkat dan melempar senyuman miring khasnya pada Jane.
“Kau tidak berubah Serandor,” Mata Jane menyipit.
“Yeah…begitulah, aku tetap tampan seperti dulu.”
“Serandor,” Orion sudah berdiri di samping Jane dan tersenyum pada Serandor.
“Frâel! Kapan kau pulang?” Tanpa sungkan ia memeluk Orion dan itu membuat Eleanord mencibir.
“O, Tuan Penasihat, senang berjumpa denganmu.” Sikap Serandor mendadak sopan di depan Eleanord, ia bahkan menyentuhkan jarinya ke bibir.
“Aku tidak senang berjumpa denganmu.” kata Eleanord ketus.
“Aaa.. Aku tahu, aku tahu, kau pasti sangat merindukanku.” Serandor pura-pura tidak mendengar Eleanord dan memeluknya erat seakan mereka memiliki hubungan yang sangat akrab. Mata Eleanord melotot, ia membeku sesaat. “Lepaskan aku Falmari,” geram Eleanord sambil menggeliat berusaha lepas dari pelukan Serandor.
Lynnëa dan Gretel melongo melihat kelakuan Eleanord dan Serandor. Jane tersenyum geli begitu pula Orion dan Cedric yang tertawa kecil.
“Kau bersama siapa Serandor?” tanya Orion ketika Serandor melepaskan pelukannya.
Serandor menyengir lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. “Bersama Tuan Putri,” Serandor menoleh ke belakang, ke arah wanita cantik berambut pirang panjang dengan gaun violet. Wanita itu melihat ke sekeliling dengan heran.
“Arwen?” ucap Orion dan Eleanord serempak.
“Ehemm…” Serandor berdeham sok penting, “Aku sekarang adalah verden pribadi Yang Mulia Putri Arwen.” Sekali lagi ia menyengir bangga.
Arwen mendekati mereka dan memberi hormat pada Jane dan Orion. “Avari sangat terhormat untuk diundang ke Valinor.”
“Kapan pun, kalian akan diterima dengan baik di sini.” Jane mendekati Arwen dan memeluknya hangat. Arwen tersenyum.
Serandor berjalan ke bawah pohon dogwood bersama Cedric dan Gretel.
“Maksud paman, paman akan melamar Tuan Putri Arwen?” tanya Orion tak percaya.
“Di atas kapal?” sambung Gretel.
“Yeah,” jawab Serandor malas, tapi jelas sekali terselip kepuasan di dalamnya.
“Kalau ia menolakmu?” tanya Gretel yakin.
Serandor mendelik pada Gretel, “Kau sama saja seperti ayahmu.” Ia mendengus, “Tidak mungkin itu terjadi, tapi…kalau itu sampai terjadi aku tetap akan membawanya berlayar sampai ke Belfalas. Dan aku akan membuatnya mau menikah denganku.” sumbar Serandor.
Cedric dan Gretel hanya bisa bertukar pandang, mengedikkan bahu, lalu menggelengkan kepala.
Di tempat lain, Orion dan Jane sedang berdiri di bawah Pohon Elvéri di tepi Aelin Rhún. Mereka sengaja memisahkan diri dari perayaan agar bisa memiliki waktu berdua bersama. Orion bisa merasakan aura kebahagiaan terpancar dari pohon tua itu. Mata Jane memandang jauh ke puncak Véongrad.
“Kau rindu ibumu?” tanya Orion.
Jane mengangguk sekali, “Ia pasti bahagia di sana, bersama Avus.”
“Bersama ayahmu.” koreksi Orion. Jane mengangguk lagi.
“Jane…”
“Iya…”
“Kau…masih memikirkan Cedric?”
“Putra kita?” tanya Jane bingung. Ia memandang wajah Orion.
Orion menggeleng, “Cedric Caladriel.”
Jane membeku, tangannya tiba-tiba gemetar. “Sesekali.” katanya jujur.
Orion tersenyum samar, “Aku pernah bertemu dengannya di sini, persis di sini.”
“Apa maksudmu? Bagaimana…”
“Saat aku mati, aku bertemu dengannya.” Orion memandang Jane, “Cedric selalu mencintaimu bahkan dalam kematiannya.”
Mata Jane berkaca-kaca.
“Kau adalah alasan mengapa ia melawan Morgoth. Agar kau bisa hidup dengan aman dan bahagia.”
Jane menghela napasnya, “Ia masa laluku.” lirihnya.
“Ia cinta pertamamu.” kata Orion.
Ia memang cinta pertamaku, tapi kau pria pertama yang telah membuat hatiku bergetar…dulu sekali, sejak pertama kali kita bertemu di bawah pohon ini. Jane menatap Orion memintanya menghentikan pembicaraan ini.
“Dan aku berjanji pada Cedric untuk menjagamu, untuk melindungi wanita yang kami cintai. Kita…akan hidup bahagia beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun, melihat Cedric memerintah Vanyar dengan bijaksana, melihatnya menikah, dan melihat cucu-cucu kita tumbuh besar.”
Jane memandang Orion dengan mata yang basah. “Kita akan hidup bahagia.” katanya setuju.
Orion menyeka air mata Jane dengan jarinya lalu menciumi kedua mata istrinya.
“Ayah…Ibu…” panggil Cedric, “Sudah kuduga kalian di sini, pesta dansa akan dimulai. Mari kembali ke Edheline.”
Jane dan Orion tersenyum penuh arti memandang putra mereka, Cedric Oberon, putra Noldor yang akan mewarisi keberanian Pangeran Noldor – Cedric Caladriel, juga kesetiaan dan ketangguhan Pejuang Noldor – Oberon.
Jane Svitkona berjalan diantara suami dan putranya menuju Edheline. Sayap valarnya tidak pernah muncul lagi selama dua puluh tahun. Jane Svitkona meminta ganti sayapnya demi bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Pria yang sejak dulu ditakdirkan menjadi verdennya – Orion Frâel.
-END-
Special Appearance
Oh Sehoon (EXO-K) as Cedric Oberon
Jung Hyeosoo as Gretel

Untuk J.R.R. Tolkien, Christian Paolini, dan J.K. Rowling,
yang membuatku berani berimajinasi
Untuk para ELF di penjuru dunia,
yang memberikan begitu banyak cinta pada Super Junior
Untuk kelima valar yang muncul dari Timur, Dong Bang Shin Ki,
yang pesonanya tak akan pernah terganti
Untuk Oberon (Han Geng),
untuk keputusannya pergi mengikuti jalannya sendiri
Untuk Cedric Caladriel (Lee Donghae),
hari dimana aku merindukanmu berkali-kali, aku semakin jatuh cinta
Untuk Orion Frâel (Cho Kyuhyun),
sejak awal kau adalah verdenku




Ú i vethed…nâ i onnad – This is not the end…it is the beginning
Mára mesta – Good bye
Kalau kalian belum membaca part sebelumnya kalian bisa membaca
On Angels Wings [Part1] disini
On Angels Wings [Part2] disini
On Angels Wings [Part3 (1)] disini
-2.991108
104.756733