Feeds:
Posts
Comments

On Angels Wings adalah FanFiction Fantasy pertama yang membuat saya… GILA! Ketika menulis kalimat terakhir dalam On Angels Wings [Part 3-2] saya berkata dalam hati, “O, selesai ya…” Muka saya bego sesaat, mau nangis…malu, mau ketawa ngakak…nanti disangka gila. Jadi saya cuma melongo menatap layar komputer. Sedih sekali harus berpisah dengan karakter-karakter dalam cerita ini.

Berikut adalah beberapa fakta tentang On Angels Wings yang ingin saya bagi kepada kalian, fakta ini benar-benar hasil rekaan saya semata XD.

1.    Orion Frâel tidak menjadi Raja Noldor di Middle-Earth. Tidak ada Noldor lagi yang memimpin di Middle-Earth.

2.    Orion Frâel dan Cedric Caladriel lahir di bawah naungan bintang yang sama.

3.    Noldor menyebut diri mereka Putra Bintang, Falmari menyebut diri mereka Putra Ombak.

4.    Oberon satu-satunya yang menyadari jika Jane adalah setengah Valar, ia mengetahui hal tersebut dari Kitab Silmarillion yang berisi proses kejadian Elf. Oberon memberitahu hal tersebut pada Abadel.

5.    Alasan Jane tidak mengingat Oberon karena Hretgán meminta Maurel menghapus ingatan Jane tentang Oberon dan Orion.

6.    Serandor tidak pernah menggunakan Celeb-cam lagi.

7.    Orion menjadi duta elf untuk Vraëstone.

8.    Dwarf dan Elf kembali menjalin hubungan diplomatik.

9.    Nama Hugin benar-benar tertulis sebagai pihak yang berperan dalam kejatuhan Morgoth di buku-buku bangsa Elf, Dwarf, dan Manusia.

10. Thróv adalah cinta pertama Lynnëa.

11. Alasan mengapa Sapphire Blue menjadi kelemahan Morgoth hanya diketahui oleh Morgoth dan Finwe.

12. Celeborn, ayah Cedric tidak ikut dalam Pertempuran Petróvya.

13. Bukan Oberon yang membunuh Hretgán, meski karena kesalahan Oberon, Hretgán mati.

14. Jane menjadi Ratu Vanyar menggantikan ibunya.

15. Ibu Orion masih hidup dan tinggal di Beleriand. Ia memilih menjadi penjaga Rumah Rawânda.

16. Lynx adalah satu-satunya Valar yang bisa mengendalikan Cygnus.

17. Nāeri dan Maurel memutuskan untuk tinggal bersama Valar di Véongrad. Beberapa Calaquendi yang tidak menginginkan hal-hal keduniawian biasanya diajak untuk tinggal di Véongrad.

18. Calaquendi yang mati dimakamkan di rumah Mandos – Valar Kematian termasuk Cedric Caladriel dan Hretgán, Moriquendi yang mati dimakamkan di bukit-bukit tertinggi di Middle-Earth.

19. Tempat dimana Oberon dibawa ke dasar laut Belegaer oleh Orome, sekarang terdapat pulau kecil yang indah yang dinamakan Pulau Oberon.

20. Eleanord menjadi pengganti Maurel sebagai Penasihat Ratu Vanyar. Ia Moriquendi pertama yang menerima jabatan itu.

21. Aurielle, adik Eleanord menjadi perapal mantra untuk Kerajaan Arnor. Ia dan Serandor berada di divisi yang sama.

22. Cedric Oberon adalah Elf berdarah Vanyar, Noldor, dan Avari.

23. Usia Cedric Oberon adalah 18 tahun sedangkan Gretel 17 tahun.

24. Cedric Oberon tahu jika Thróv adalah pamannya, tapi dia tidak memberitahu Gretel karena takut gadis itu akan merongrongnya terus.

25. Cedric Oberon mewarisi busur Finarfin dari Orion, sementara Sûlglor tetap dimiliki Orion.

26. Gretel mewarisi sifat ibunya yang suka “mencuri” buku dari paramar, terutama buku-buku yang berisi makkhluk-makhluk rupawan.

27. Gretel tidak suka Narhen.

28. Hubungan Eleanord dan Serandor tetap kaku seperti saat pertama kali mereka bertemu. Serandor tetap suka menggoda Eleanord.

29. Setelah menikah Eleanord takut dengan Lynnëa.

30. Lynnëa menjadi Elf Penyembuh untuk Edheline.

31. Raja Abadel masih menjadi Raja Avari dan Nandor di Middle-Earth.

32. Serandor sengaja masuk ke dalam kelompok Varden agar bisa mendekati Arwen.

33. Di dada Serandor terdapat tatto dengan tulisan “Arwen”.

34. Para Valar menyebut bangsa Elf sebagai Quendi.

35. Serandor menjadi buronan karena kekuatan Celeb-cam yang dimilikinya. Morgoth tertarik untuk merekrutnya.

36. Jane akhirnya bisa menerima Avus sebagai ayahnya.

37. Lynnëa biasa menyuruh Eleanord men-scry Gretel jika dia pulang telat ke rumah, dan itu biasanya membuat Eleanord jengkel.

38. Kamar bundar yang ditempati Jane sewaktu di Véongrad adalah kamar Volans.

39. Jane tidak suka Serandor mempengaruhi putranya, Cedric.

40. Cedric memiliki sifat jahil berkat Serandor.

41. Orion tidak pernah pergi lagi meninggalkan Valinor.

42. Pavo adalah Valar tertua dan dia menyukai sinar matahari.

43. Selama dua puluh tahun, Serandor selalu ditolak oleh Arwen tapi itu tidak membuatnya menyerah.

44. Aelin Rhún menjadi perbatasan antara Vanyar dan Noldor.

45. Usia Pohon Elvéri hampir mencapai satu milyar tahun.

46. Jane memakai diadem pemberian ibunya saat menikah dengan Orion.

47. Jane memiliki taman khusus Morning Glory untuk mengingatkannya pada Cedric Caladriel.

Nauthannen i ned ôl reniannen.

I thougth I had strayed into a dream.

Kyaa…bonus pic nih, Cute Maknae VS Evil Maknae…kkk~ Aigoo senyum-senyum sendiri kalau lihat ayah dan putranya ini (Ehh? ><)

 

 

“Saat kisah ini berakhir, saya akan mulai berkelana ke dunia yang tidak kalah menakjubkan dari Middle-Earth. Saat kisah ini berakhir…kisah baru akan dimulai.” (Anjani Rizky)

______________________________________________________________________

“Waktu akan berlalu dan musim akan berganti. Suatu saat kesedihan juga akan berlalu dan takdir baru akan muncul.”

***

“Hret…gán… Hretgán…” Seorang pria dengan luka yang sangat parah mengigau memanggil-manggil Raja Vanyar. Ia sendirian, tergeletak tak berdaya di tepi pantai. Wajahnya yang tampan tertutup oleh luka-luka yang serius dan dalam, matanya penuh lebam, darah segar mengucur deras dari sudut bibirnya. Badannya tidak lebih baik, tampak bekas-bekas luka akibat pertempuran keras yang bertebaran di tangan dan kakinya, bahkan pakaiannya terlihat sobek di sana-sini, jala bajanya sendiri rusak akibat senjata-senjata tajam yang menghujaninya.

Seorang anak lelaki yang sebelah telinganya menjuntai aneh tampak membawa persediaan makanan menuju geladak kapal yang berlabuh di dermaga. “Ini pertama kalinya ayah mengajakku mengarungi Belegaer. Ayah bilang kami akan berlayar jauh ke Belfalas. Aku harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin, tidak akan membuat ayah kecewa.” Ia berbicara sendiri, mengangguk yakin dengan penuh semangat.

“Hret… gán…”

Anak itu menghentikan langkahnya, telinganya yang menjuntai bergetar aneh. Ia memutar kepalanya 180˚ mencari sumber suara lemah itu. “Siapa? Siapa di sana?” tanyanya waspada. Matanya terbelalak saat melihat seseorang terkapar dengan tubuh penuh luka. Ia berlari mendekatinya.

“Sir, Anda baik-baik saja…?” Anak itu mengangkat kepala pria yang terluka. “Bertahanlah, aku akan memanggil bantuan.” Suaranya terdengar panik.

.

.

Pria yang terluka itu kini telah sembuh, ia berdiri sendiri di tepi pantai, memandang jauh ke cakrawala. Ketampanannya terlihat begitu nyata setelah luka-luka tak lagi menutupinya.

“Bagaimana keadaan Anda, Sir?” Anak laki-laki yang menyelamatkannya datang mendekatinya.

“Aku selamat, berkat kau.” katanya tanpa berpaling pada si anak.

“Anda pasti dari sebuah tempat di seberang lautan.” Mata anak itu ikut memandang ke cakrawala.

“Siapa namamu?” Pria itu akhirnya berpaling dan untuk pertama kalinya memandangi bocah yang telah menyelamatkannya.

“Aku Serandor, Sir… Putra Ombak.” Anak itu membusungkan dadanya dan tersenyum miring penuh tekad.

“Apa kau mau mempelajari sihir?” tanya pria itu, wajahnya tampak serius.

.

.

Serandor berlari masuk ke dalam Valinor, menuju kediaman para Noldor.

“Apa katamu? Kau mau belajar sihir?” tanya anak lelaki tampan yang menghentikan latihan memanahnya. Ia menatap Serandor tak percaya.

“Em…yeah, seorang master akan mengajariku. Ia Moriquendi, datang dari tempat bernama Middle-Earth.”

“Middle-Earth?”

“Kalau aku menguasai sihir, akan kubuat anak-anak perempuan tidak lagi melihatmu Ced, aku akan membuat mereka berdecak kagum saat memandangku.” Serandor nyengir lebar pada sahabatnya yang ikut tertawa mendengar sesumbarnya.

***

Jane melipat perkamennya dan menyeka air mata di pipinya. Ia meletakkan surat yang ditulisnya di atas sebuah meja kayu kecil. Untuk beberapa saat ia mengamati tenda yang di dalamnya terdapat tiga tempat tidur yang dijejalkan begitu rupa. Matanya jatuh pada sebuah pigura kecil yang ada di atas salah satu ranjang, Jane mengambilnya, gambar seorang elf pria tampan sedang tersenyum padanya. Lama Jane memandangi gambar tersebut, keningnya berkerut seakan mengingat sesuatu, ia merasa pernah melihat atau bertemu dengan pria di dalam gambar itu.

“Matanya seperti…Orion.” bisik Jane. Ia menjatuhkan gambar itu dan menutup mulutnya, terkesiap. “Mungkinkah dia…” Jane mundur dan berbalik, berjalan cepat meninggalkan tenda.

Jane berjalan cepat menuju kastil yang nyaris kosong, semua orang sedang bersiap di benteng Rhovanion. Hari ini adalah hari pertempuran. Semua prajurit berada di pos masing-masing, seluruh batalion bersiaga di garis depan termasuk Orion dan kelompok varden. Kecuali Ratu Nāeri, semua wanita dan anak-anak tinggal di dalam kastil, berlindung. Jane menyelinap menaiki undakan anak tangga menuju ruangan di balik permadani besar bergambar Draug – lambang Avari. Ia tampak mencari sesuatu. Senjata untuk menghancurkan sang Tuan Kegelapan. Jantungnya berdebar saat ia mendapati senjata itu – sebongkah batu biru, cahayanya berpendar dari dalam kotak hitam menembus melalui tutupnya yang sedikit terbuka.

***

Ia membuka matanya perlahan, mengerjap pelan. Dirinya berbaring dalam kabut cemerlang, kabut yang tidak pernah dilihatnya di Middle Earth. Ia duduk, tubuhnya kelihatan utuh, tanpa cedera, tanpa luka. Ia menyentuh wajahnya dan mengamati pakaiannya, bahkan pakaiannya pun tampak bersih, tidak ada noda darah atau bekas-bekas rusak akibat pertempuran.

Mungkinkah, aku…sudah mati?

Ia berdiri, memandang berkeliling. Semakin lama ia memandang, semakin jelas apa yang dilihatnya. Sebuah atap kaca berbentuk kubah berkilauan di atasnya tertimpa cahaya.

Barangkali ini surga.

Ia pun berjalan,  tampak bingung dan aneh di tengah kesendirian yang mencekam. Menyingkap kabut, tak ada pintu atau ujung yang bisa dilihatnya dari ruangan besar itu. Hanya ada – jika matanya tidak menipunya – sebuah pohon. Pohon itu tua dan sangat besar, tumbuh di tengah ruangan.

Pohon yang sama… Ingatannya melayang saat pertama kali melihat sebuah pohon di tepi Aelin Rhún.

Ia mendekati pohon itu dan menyentuhnya, mencoba ingin tahu apa yang dipikirkan pohon itu.

KesedihanDan…Jane Svitkona! Ia tersentak begitu bayangan Jane terlintas dalam benaknya yang masih menyentuh pohon tua itu.

Ia mundur dan tersungkur, tangannya mencengkeram kuat dadanya. Kesadaran mengembalikannya pada pertempuran dan wanita yang ia lindungi.

“Jane? Apa kau selamat? Apa kau berhasil mengalahkannya? Jane…maaf!” Suaranya bergetar dengan airmata yang tak bisa dibendung.

“Ia baik-baik saja dan masih hidup berkat kau. Kau pria yang luar biasa, kau sangat pemberani.” Seorang elf pria yang rupawan dan berkharisma berjalan mendatanginya. Sigap, tenang dan berwibawa, memakai jubah panjang berwarna putih. Rambut panjangnya keperakan membingkai wajahnya yang tersenyum ramah.

“Orion Frâel, terima kasih karena kau telah melindungi putriku.”

“Y-Yang Mulia Raja Hretgán…?” Tercengang, Orion baru menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya. Ia menunduk dan memberi salam penghormatan.

“Bangunlah, ayo kita jalan.” Hretgán melambai menyuruh Orion mengikutinya.

Mereka berjalan dalam diam. Hretgán membawanya ke tempat duduk yang sebelumnya tak Orion perhatikan, agak jauh dari pohon tua tadi. Orion merasa terusik oleh pikirannya. “Yang Mulia…” Ia mencoba membuka percakapan.

“Ya, anak muda.”

“Bukankah…Anda sudah meninggal.” kata Orion sesopan mungkin.

“Oh, ya.” kata Hretgán tanpa berbelit-belit.

“Kalau begitu…saya juga sudah mati?”

“Ah,” Hretgán tersenyum menatap wajah ingin tahu Orion. “Itu yang ingin kau ketahui? Sayangnya, sepengetahuanku kau memang sudah mati.”

“Jadi, beginikah kematian? Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi…Yang Mulia, bagaimana Anda bisa tahu jika Jane selamat?”

“Sederhana bukan? Karena ia tidak ada di sini. Putriku, ia beruntung memilikimu di sisinya.” Suara Hretgán terdengar sangat merindukan putrinya.

“Sebenarnya, aku yang beruntung.” gumam Orion.

“Kau, memiliki perasaan yang tulus pada putriku?”

“Ya,” Orion mengangguk mantap.

“Aku bersyukur ada yang mencintai putriku seperti aku mencintainya, meski aku bukanlah ayahnya.” Hretgán menghentikan kata-katanya. Matanya terpejam mencoba mengabaikan fakta itu.

Orion yang terkejut mendengar hal itu, menatap tak percaya pada Hretgán, “Mak..sud…Anda Yang Mulia?”

.

.

.

Waktu seperti berputar cepat, Orion tidak lagi berada di istana terang benderang yang tanpa ujung dengan Raja Hretgán. Sekarang Ia berada di tepi sebuah danau yang sangat luas dengan sebuah pohon yang berdiri kokoh tak jauh dari tempatnya. Tempat ini… batin Orion. Orion memperhatikan keadaan sekitarnya, sepi, bahkan riak air danau pun sepakat untuk tidak menimbulkan suara. Ia teringat percakapannya dengan Raja Hretgán, sebuah kebenaran tentang Jane dan itu semakin membuat hatinya sedih. Meninggalkan wanita itu jauh lebih mengerikan daripada ia harus meninggal atau terbunuh berkali-kali.

“Jane…” gumamnya, airmatanya jatuh bersamaan bunyi langkah kaki seseorang di belakangnya. Orion menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ia menegang, mata Orion bahkan tidak berkedip melihat si pendatang baru yang berjalan mendekatinya dengan tenang.

“Kau…” bisik Orion.

Orang itu berhenti saat jaraknya hanya lima kaki dari Orion. Ia Calaquendi, sangat tampan dan bercahaya. Menatap ramah pada Orion dan memberinya salam penghormatan, menyentuhkan telunjuk dan jari tengah ke bibirnya yang tersenyum menawan.

Cedric Caladriel eneth nîn – namaku Cedric Caladriel. Senang bertemu denganmu Orion Frâel.” Ia masih tersenyum dan menatap hangat Orion.

“Aku tahu kau…” Orion memandang melewati bahu Cedric, ia tak ingin memandangnya. Orion merasa kecil di hadapan pria yang dicintai Jane. Cedric terlalu sempurna untuk dibandingkan dengannya.

Le hannon, untuk menjaga dan melindungi Jane dan untuk mengembalikan hidupnya.” Senyuman di wajah Cedric perlahan pudar seiring kenangannya bersama Jane yang kembali terekam.

“Aku hanya menjalankan tugas.” jawab Orion singkat, ada sesuatu yang menggeliat di dalam perutnya yang membuatnya merasa tidak nyaman berada di dekat Cedric.

“Aku sangat berterimakasih untukmu, untuk menjaga kekasihku…” Cedric berjalan ke arah pohon dan menatapnya rindu.

Tangan Orion terkepal saat mendengar kata kekasih, ia merasa darahnya berdesir, apa aku cemburu? Kakinya melangkah mendekati Cedric, berdiri di sampingnya, ikut memandangi pohon tua itu.

“Di tempat ini kami pertama kali bertemu, di malam Silme Ereg… Malam saat sinar bintang menyentuh hatiku, malam ketika aku mulai bermimpi untuk menambatkan cintaku padanya. Jane, dia satu-satunya alasan mengapa aku memutuskan untuk melawan Morgoth. Karena aku ingin memberikan masa depan yang lebih baik baginya, bagi bangsa kita. Sebuah masa depan yang aman dan damai. Sebuah masa depan dimana aku bisa melihatnya bahagia, melihatnya membesarkan anak-anak kami…” Cedric tersenyum hampa mengenang semua mimpi-mimpinya. “Tapi aku mengingkari janjiku, aku pergi dan meninggalkan luka yang mendalam pada dirinya.” Cedric mengusap ujung matanya, menghapus air mata yang menetes. Hal itu tidak luput dari perhatian Orion.

“Jane bertahan, sekuat yang ia mampu. Meski ia menjadi wanita rapuh yang tertutup. Itu karena, ia tidak pernah bisa melupakan bayanganmu dari hidupnya. Cintanya teramat besar untukmu…” Orion berkata getir saat kalimat terakhir diucapkannya. Ia mengalihkan perhatiannya, hanya untuk menentramkan hatinya yang terbakar cemburu.

Aku benar-benar cemburu dan iri padanya…

“Apa kau mencintainya?” tanya Cedric tenang.

Orion tertegun, matanya tertumbuk pada bonggol besar yang muncul dari akar pohon di dekat kakinya.

“Ya, dengan segenap hatiku.” jawab Orion pelan. Ia tidak menyangka akan membicarakan masalah seperti ini pada pria yang paling dicintai wanita yang dicintainya. “Tapi sekalipun aku mengungkapkan hatiku padanya. Di hatinya hanya ada dirimu…” Orion berusaha tidak terdengar seperti orang yang menyedihkan.

“Ya…mungkin aku akan selalu ada di hatinya sebagai cinta pertamanya. Tapi kau yang akan ada di sisinya, selamanya. Menemaninya, melindunginya dan memberikan masa depan untuknya.”

“Haah… Itu tidak mungkin, aku sudah mati. Kau lupa?” Orion tertawa kering, menganggap semua perkataan Cedric hanya lelucon untuk menghinanya.

Cedric tersenyum kecil, matanya memandang Orion dengan ekspresi menilai. “ Kematian, hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar menganggap dirinya sudah mati. Dan kurasa untuk kasusmu sedikit berbeda…”

Tepat saat itu setetes air jatuh membasahi pipi Orion. Air itu sebening kristal, jernih dan murni. Orion mengira akan turun hujan, tapi cuaca di sekitarnya secerah pantulan cahaya matahari pada air  danau.

“Air apa ini?” tanya Orion, lebih kepada dirinya sendiri.

“Kurasa itu…air mata kehidupan.” gumam Cedric yang menyembunyikan ketertarikannya untuk menyentuh air itu.

“Orion Frâel…sekali lagi terima kasih untuk melindungi wanita yang kita cintai. Kupikir hati Jane mulai terbuka untukmu. Kumohon jaga dia untukku, dan tolong sampaikan padanya, jika aku akan selalu mencintainya bahkan dalam kematianku.” Cedric berpesan seolah-olah Orion masih bisa bertemu Jane, dan itu membuatnya bingung.

Cedric berjalan pergi meninggalkan Orion. Menjauh menuju kabut di ujung danau dan melangkah – melayang – di atas danau.

“Cedric…! Senang bertemu denganmu!” seru Orion jujur. Cedric sempat menoleh dan tersenyum sambil mengangguk padanya. Lalu bayangannya menghilang seutuhnya ditelan kabut.

Dia terlalu sempurna, itu mengapa Jane hanya akan terus melihat ke arahnya. Aku tidak ada apa-apanya…

.

.

.

Orion masih berada di tepi danau, tapi dengan aura yang berbeda. Pohon besar itu pun masih berdiri di sana, tampak tua seperti yang ia tahu. Tapi pohon itu lebih hidup dengan energi kebahagiaan yang terpancar, dibanding energi-energi sebelumnya atau energi pohon yang sama yang dirasakannya di Valinor saat masih hidup. Orion bisa merasakannya meski tanpa menyentuhnya. Energi itu memberi kehangatan tersendiri padanya.

Orion mengedarkan pandangannya, berharap bertemu seseorang yang tak terduga lagi. Pandangannya berhenti saat melihat anak perempuan kecil dengan gaun merah muda berlari riang menggenggam sekuntum evening primrose, rambut hitamnya yang panjang tergerai dan berkibar lembut tertiup angin. Saat anak itu memandang ke arahnya, Orion tertegun, matanya terpaku pada mata biru cemerlang anak perempuan itu. Matanya…itu mata Jane… Anak perempuan itu tersenyum dan melambai ke arahnya.

“Paman Oberon…!!” serunya girang. Tidak, anak itu tidak tersenyum pada Orion, melainkan pada…ayahnya?!

“Halo Jane…” Jantung Orion mencelos, ia menoleh dan melihat seorang elf pria berjalan sambil melambaikan tangannya, ia tersenyum hangat pada Jane kecil. Tubuhnya tegap, gagah dan sangat tampan. Ia tampak seperti prajurit yang terlatih. Di belakangnya berjalan seorang anak laki-laki kecil yang tampan namun dengan ekspresi angkuh, itu Orion.

Orion melihat bayangan masa kecilnya. Ia sama sekali tidak ingat pernah ke Valinor dan bertemu Jane sewaktu ia kecil. Ini bahkan pertama kalinya ia melihat wajah ayahnya secara langsung, jauh lebih tampan dibanding gambar dirinya yang selama ini Orion simpan. Orion memegang kepalanya, dunia seperti jungkir balik, menampilkan kilasan-kilasan masa lalunya yang berkelebat di kepalanya. Orion berusaha mengembalikan fokusnya saat melihat ayahnya memeluk Jane dan menggendongnya dengan sayang, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

Mára aurë - hello,” sapa Jane kecil ramah pada Orion kecil. Ia berlari riang ke arah Orion.

“Kau seperti Paman Oberon…tidak bersinar.” celoteh Jane, ia tersenyum polos.

Orion kecil memandangnya dengan tidak suka dan menjawab ketus, “Kau yang aneh, kenapa tubuhmu bercahaya seperti kunang-kunang?”

Orion memperhatikan keduanya berdebat tentang perbedaan mereka. Lalu matanya menangkap sosok Oberon yang tersenyum hangat memperhatikan percakapan yang disertai perdebatan khas anak-anak. Ia merindukan senyum itu dalam mimpi-mimpi panjangnya tentang ayah yang selama ini dikaguminya, sampai kenyataan berkata lain dan membuatnya harus membenci ayahnya yang ternyata seorang pengkhianat. Orion menatap getir bayangan ayahnya.

.

.

.

Orion tidak lagi melihat bayangan masa kecilnya yang berdebat dengan Jane, tapi ia masih di tempat yang sama. Tiba-tiba Orion dikagetkan oleh suara-suara yang mendatanginya.

“Keputusanmu salah Oberon,” kata elf pria berparas halus yang berjalan tergesa-gesa menyusul temannya. Pria itu tampak gusar. Orion mengenalinya sebagai Maurel, rambut perunggunya masih sebahu dan menutupi sebelah wajahnya. “Tidak akan kubiarkan kau menyeberang. Tidak akan kubiarkan Morgoth mengendalikanmu.”

Oberon yang berdiri membelakangi Maurel berhenti. Suasana sunyi sesaat. Orion maju, mendekati Oberon yang diam tak bergeming. Mereka berdiri berhadapan, Orion seperti memandang bayangannya sendiri. Ia dan ayahnya begitu mirip, tinggi yang sama, ketampanannya yang serupa. Ia memandang tajam mata ayahnya, mata yang persis sama dengan matanya. Mereka tampak saling berpandangan, meski Oberon tidak bisa melihat Orion.

“Inikah awal dari semuanya? Kau mengkhianati bangsa kita, memilih menjadi kaum terkutuk dan menjadikanku sebuah kebohongan. Apa kau pantas disebut pejuang Avari? Apa kau pantas disebut ayah? Hah!” Emosi Orion tak tertahankan. Kebenciannya meluap.

“Ini hidupku dan aku bertindak sesuai yang kuinginkan. Jangan halangi aku atau kau harus merasakan pedangku.” Oberon menatap tajam ke depan seolah menantang Orion. Tangannya menggenggam kuat gagang pedangnya – Sûlglor. Di belakangnya, Maurel tampak shock.

“Aku tidak ingin menyakitimu, percayalah.” kata Oberon pelan, matanya menembus mata putranya. Hati Orion bergetar mendengar kata-katanya.

“Aku akan menghentikanmu apa pun caranya.” kata Maurel mantap.

Oberon memejamkan matanya sebentar lalu berpaling menghadap Maurel. “Mulai sekarang aku bukan sahabatmu lagi Maurel.” Tangan Oberon sudah menarik keluar Sûlglor dari sarungnya. Secepat kilat ia mengayunkan pedangnya ke arah Maurel. Maurel menghindar, melompat beberapa kaki ke udara dan mendarat agak jauh. Oberon maju dan menyerang lagi. Pedangnya memburu Maurel, menyambarnya, mencoba melumpuhkannya. Di tengah pergelutan itu, tiba-tiba seorang anak berlari di antara mereka, ia memandang Oberon dengan takut, “Ayah! Hentikan…!” Namun malang, anak itu – Orion, malah terkena sambaran pedang ayahnya. Darah merembes dari dadanya, Orion kecil terjatuh, menahan darah dengan tangannya, matanya memandang hampa pada Oberon. Oberon membeku, menjatuhkan pedangnya. Ekspresinya sangat terpukul.

Orion tercengang, tanpa sadar tangannya meraba bekas luka berbentuk bulan separo di dada kirinya. Kegetiran merayapi tubuhnya. “Ia yang memberikan luka ini. Ayahku sendiri yang melukaiku.” lirih Orion, air mata menggenangi pelupuk matanya. Dunianya berputar dan Orion seperti merasakan kematian sekali lagi.

***

“Orion…kau tak bisa meninggalkanku seperti ini…” Jane masih memeluk tubuh dingin Orion, sayapnya masih menyelubungi mereka. Seluruh tubuh Jane bergetar akibat kesedihan yang mendalam. Tangisan membasahi wajahnya dan sebutir air mata sebening kristal jatuh ke wajah Orion.

“Sekali lagi, kematian sia-sia bagi mereka yang menentangku. Apa ini yang kalian harapkan?” cemooh Morgoth. Ia berjalan mondar-mandir menatap kerumunan yang mengelilingi mayat Orion. “Dan lihatlah,” bisiknya, “Jane kita ternyata seorang Valar…”

Kelima Valar menegang. Bahkan Volans yang biasanya tenang tak bisa menutupi ketakutannya, sementara Avus tampak begitu shock.

“Apa kalian merahasiakan sesuatu dariku?” Mata Morgoth memandang Pavo dengan licik.

“Cukup Morgoth!” geram Avus. “Kau tidak bisa menyakiti putriku lagi!” Sayapnya terangkat tinggi dan ekspresinya terlihat sangat marah.

Putri? Jane tercengang mendengarnya. Lynx mendekati Avus untuk menahan amarahnya. “Hentikan Avus, jangan katakan apa-apa lagi.” Lynx melirik Jane. “Ia hanya akan semakin dalam bahaya jika kau mengungkapkannya.”

“Putri?” ulang Morgoth, seakan ingin memastikan pendengarannya tidak mengelabuinya.

“Pada akhirnya kebenaran harus diungkapkan.” desah Pavo pelan. Lynx memandang, meminta pengertiannya, tapi akhirnya ia menyerah dan berjalan menjauhi mereka.

“Jane Svitkona adalah anak Avus dan Nāeri, ia berdarah Valar.” lanjut Pavo yang menjaga ketenangannya.

Semua yang ada di puncak Xelomor menahan napas, bahkan orc-orc yang tersisa – yang otaknya tidak dimaksudkan untuk memahami hal-hal selain perang dan daging segar, ikut menahan geramannya. Eleanord terpaku, kebenaran yang ia dengar dan kematian Orion seolah menghabiskan seluruh energinya untuk berpikir. Sementara Jane, ia seakan terhempas jatuh ke dalam kegelapan akibat sayapnya sendiri. Ia tak percaya, tak ingin percaya. Tangan Jane gemetar memegang Orion, matanya berkaca-kaca. Jantungnya berdegup sangat cepat, kenyataan itu membuatnya takut sekaligus marah.

“Jadi maksudmu, Jane bukanlah putri Hretgán melainkan putrimu, Avus? Omong kosong! Apa kau ingin mengatakan kalau kau jatuh dalam pesona wanita itu, lalu melakukan kesalahan?” Tawa menghina Morgoth menggema di puncak tertinggi di Middle-Earth itu.

“Bahkan kesalahan bisa hinggap di hati makhluk seperti kita.” bela Volans, ia sudah bisa menguasai dirinya. “Lihat saja dirimu Morgoth? Sikap dengki dan keinginanmu untuk menghancurkan kebaikan telah mengaburkan nuranimu.”

“Tak perlu membelanya Volans,” ejek Morgoth. “Kalau begitu mengapa kau mengirim putrimu sendiri untuk mati di tanganku, Avus…” bisiknya.

Avus mengepalkan tangannya begitu kuat, kemarahannya melebihi ketakutannya. Ia tidak ingin Jane disakiti atau yang lebih buruk – mati. Kesalahannyalah, membiarkan Jane melakukan misi dan menginjakkan kaki ke Middle-Earth.

“Jika kau, menyentuh Jane seujung jari saja, tanganku sendiri yang akan menghancurkanmu.” Avus berkata dengan penuh kemarahan, sayapnya berpendar sangat terang.

“Tidak!! Akulah yang akan menghentikannya!” teriak Jane. Ia bangkit dan menatap wajah musuhnya. Berusaha menekan keinginan untuk memandang Avus yang terkejut mendengar perkataannya. Jane menegakkan bahunya, sayapnya terbentang dan melangkah maju menyongsong nasib, takdirnya berjalan mantap mengiringinya.

Cygnus dan Lynx terbang mendekat, menggenggam pedang masing-masing, berusaha mengantisipasi keadaan. Avus terpaku di tempatnya. Pavo dan Volans memandang dalam diam.

“Harus kuakui, walau kau bukan putri Hretgán tapi kau memiliki keberaniannya.” cibir Morgoth.

“Aku putrinya.” gumam Jane, “Selamanya aku adalah putri Hretgán!” teriak Jane. Avus memejamkan matanya, menutupi kepedihan hatinya.

Jane dan Morgoth berjalan berlawanan, saling melingkari. Cahaya beradu kegelapan.

“Apa yang membuatmu yakin bisa menghentikanku, gadis kecil?” ejek Morgoth.

“Karena aku memiliki kelemahanmu.” bisik Jane. Morgoth tidak bicara, melainkan mengendap-endap dalam lingkaran, dan Jane tahu untuk sementara ia berhasil membuatnya terpesona dan belum menyerang, ditahan oleh keingingan untuk menyerang lebih dulu, Jane malah memprovokasi Morgoth. “Kau tidak berniat membunuhku sekarang, Morgoth?” seru Jane. Morgoth tidak menjawab. Mereka melanjutkan saling mengitari, seperti serigala yang siap saling mencabik-cabik. “Bukankah bagimu tidak ada yang lebih baik daripada kematian? Jangan sampai menyesal. Ayo! Bunuh aku! Jika tidak, kau dan aku…kita akan mati bersama.”

“Kau yang memintaku sayang…” kata Morgoth berbahaya, seketika ia telah berdiri tepat di depan Jane dan mengangkat paksa dagu wanita itu, meraba wajah pucat Jane dengan jari-jarinya yang dingin. Wajahnya mendekati wajah Jane, hanya beberapa inchi hingga Jane bisa merasakan napas Morgoth yang berderak. Bibir Morgoth menelusuri pipi, bibir, dagu dan tengkuk Jane. Jane bergidik merasakan sensasinya, ia memejamkan mata untuk menguatkan tekadnya.

“Kematianmu akan kuwujudkan…Jane…” Morgoth menarik pedangnya dan siap menghunus. Para Valar juga mengangkat pedang. Avus bergerak maju, ekspresinya demikian tersiksa. Tapi tiba-tiba sebatang anak panah melesat menembus sayap kiri Morgoth dan menancap di mata seorang Fuin-gûl tepat di belakang Morgoth.

“Apa…?” seru Morgoth, ia melepaskan Jane dan memegangi sayap hitamnya yang terluka sambil memandang berkeliling. Dan kemudian dia mendesah, “Kau!”

Jane terhuyung mundur dan menoleh ke belakang, jantungnya berdegup kencang. Orion Frâel berdiri di antara Avanguard, menarik busur hitam pemberian Ratu Nāeri, siap melepaskan anak panah berikutnya.

“Frâel…” desah Eleanord yang langsung terkejut, “Kau masih hidup…”Air mata merebak di wajahnya.

“Sulit dipercaya.” gumam Cygnus.

“Kenapa…bisa…” Untuk pertama kalinya terdengar ketakutan dalam suara Morgoth.

“Orion…” rintih Jane. Orion dan Jane saling memandang. Air mata menggenangi pelupuk mata Jane. Aku mencintaimu Orion… Aku mencintaimu Jane…

Morgoth bergerak dalam diam mendekati Jane ketika Orion mengayunkan Sûlglor dan kilatan merah meluncur ke arah Morgoth berhasil mengoyak jubah hitamnya, Morgoth berbalik dan langsung lenyap bersama kelebatan jubah dan sayapnya. Detik berikutnya, Morgoth telah muncul di belakang Jane dan pedangnya siap menggores leher Jane.

“Cih! Tak kusangka kau belum mati Orion, baguslah…dengan begitu kau bisa menyaksikan kematian gadis ini.” serapah Morgoth, tawanya melengking menakutkan.

Kelima Valar seketika maju mengelilingi Morgoth dan Jane.

“Tidak, jangan…kumohon lepaskan dia.” Avus gemetar, seluruh tubuhnya bergetar dan sayapnya menutup perlahan. Matanya tak lepas dari Jane.

“Kau memohon Avus?” Mata merah Morgoth berkilat.

Jane mencoba berontak tapi kekuatan Morgoth tak bisa dilawannya. “Seandainya kalian tidak menentangku,” katanya di telinga Jane. Morgoth menarik ke belakang pedangnya untuk membuat gerakan menebas.

“JANGAAANN!!!” teriak Orion dan Avus serempak.

Sesaat ketika Morgoth lengah, Jane menarik sesuatu dari balik jubahnya, secepat kilat ia berbalik menghadap Morgoth. Mata biru Jane menatap tajam pada mata merah berselaput milik Morgoth. “Sekarang, akhir dari takdir kita.” kata Jane yang tersenyum tenang. Detik berikutnya ia telah menghujamkan Sapphire Blue tepat di jantung Morgoth. Semua terkesiap melihat hal itu.

Pancaran sinar biru berpendar dari tubuh Morgoth, sangat terang dan menyilaukan, perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya hingga lenyap tanpa bekas. Akhir dari kisah sang Valar pemberontak. Ia mati terbunuh oleh kelemahannya sendiri. Pancaran cahaya Sapphire Blue juga melenyapkan monster-monster berlendir – Orc-orc lenyap seperti debu, begitu pula seorang Fuin-gûl yang tersisa. Kegelapan berakhir.

Di saat yang sama, selama sepersekian detik tampaknya Jane Svitkona menggantung tinggi tak berdaya di atas kilatan cahaya biru tersebut. Sorot di mata biru cemerlangnya seakan padam, ekspresinya hampa. Kemudian ia jatuh ke belakang, seperti boneka malaikat yang dihempaskan, Jane menghantam tanah di bawahnya, diam tak bergerak. Jeritan ngeri Orion tidak pernah meninggalkan mulutnya, tak bisa bersuara dan tak bisa bergerak. Orion merasa seolah ia juga dihantam dengan keras ke tanah. Ini tidak terjadi… ini tidak mungkin terjadi…

Avus berjalan gontai mendekati putrinya. “TIDAAAAAKK!!!” Teriakannya membahana, air mata berjatuhan  dari wajah rupawan Valar itu. Ia memeluk Jane, cahaya cemerlang melingkupi keduanya. Keempat Valar maju dengan ekspresi sedih, merentangkan sayap mereka dan merapalkan mantra yang terdengar seperti nyanyian duka.

“Jane Svitkona, akan kami bawa ke Véongrad.” kata Pavo lirih.

“Kalian…tak bisa…membawanya…” rintih Orion lemah.

***

Semua musuh hancur bersamaan dengan matinya sang Tuan Kegelapan. Sedetik kesenyapan yang terasa, shock atas kejadian yang menggantung, dan kemudian kegemparan pecah di sekeliling Serandor ketika teriakan dan sorakan dan raungan para elf membelah udara. Setelah pertempuran keras tiga hari lamanya, matahari naik dengan mantap di atas Middle-Earth, dan Rhovanion menyala dengan kehidupan dan cahaya. Seluruh elf menunjukkan curahan campuran antara kegembiraan dan perkabungan, kesedihan dan perayaan.

“Ia mati!! Morgoth telah mati! Kegelapan musnah!” pekik Raja Abadel yang disambut raungan kegembiraan oleh para prajurit. “Bawa jasad-jasad pejuang kita ke dalam kastil! Selamatkan mereka yang masih hidup!”

Serandor mengangkat jasad Thróv menuju kastil. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Meski mereka telah menang dan Morgoth telah mati, Serandor tak bisa menghilangkan bayangan Thróv yang mati di depan matanya. Ia terus berjalan melewati halaman depan kastil yang dipenuhi prajurit-prajurit yang terluka – Calaquendi dan Moriquendi. Serandor membawa jasad Thróv masuk ke dalam aula dan membaringkannya di sudut ruangan.

Dengan perasaan terluka, seorang wanita berlari ke arah Serandor, menatapnya sesaat dan melihat gemetar pada tubuh yang terbaring kaku tak bernyawa. Lynnëa berlutut di sebelah Thróv, memegangi tangannya yang dingin. “Tidak – tidak – tidak!” Lynnëa berteriak. “Tidak! Thróv! Tidak!” Lynnëa mengguncang-guncang Thróv, dan Serandor memandang sesak di sebelah mereka, dan mata Thróv memandang tanpa melihat, bayangan keterkejutan terakhirnya masih terpeta di wajah rupawannya. Maurel berjalan mendekat. Garis-garis halus seperti kawat tipis tergambar di wajah tampannya. Tanpa air mata, tanpa suara, ia hanya memandang jauh ke dalam mata kosong putranya. “Istirahatlah putraku. Api Putih Uzár akan menerangi jalanmu.” kata-katanya bergetar, Maurel memejamkan mata dan disana terlihat jelas kesedihan seorang ayah yang kehilangan putranya.

Serandor berjalan pergi meninggalkan mereka. Ia menoleh sekali ke tempat dimana jasad-jasad diam tak bergerak dikumpulkan. Para elf bergerak ke sana kemari, berusaha saling menghibur, minum, berlutut di sebelah yang mati dan terisak pilu. Serandor mengepalkan tangannya, ia bergerak menuruni undakan dan keluar menuju tanah lapang. Menangis sendirian.

“Sir…kita berhasil. Kegelapan telah dihancurkan…” Serandor mengepalkan tangan kanannya yang telah diperban lagi, membiarkan air mata membasahi wajahnya. Sekali saja ia ingin terlihat lemah karena ia sungguh lelah, tapi juga lega.

“Kau lihat Ced…masa depan yang kau impikan sekarang ada di depan mata. Pengorbananmu tidak sia-sia…” Serandor terisak. “Cedric! Semua ini untukmu saudaraku…! Untuk janjimu kepada Jane!” Serandor berlutut, air matanya jatuh membasahi tanah.

Seseorang berjalan mendekati Serandor, ia berhenti di depan Serandor dan berdiri diam. Serandor mendongak menatap orang itu, yang masih terbungkus baju besinya. Orang itu membuka helm penutup kepalanya, mengibaskan rambut pirangnya dan tersenyum simpati pada Serandor.

“Kita menang, tapi kenapa kau malah menangis seperti anak kecil?” Orang itu, yang adalah Arwen mengulurkan tangannya. “Bangunlah, dan rayakan kebebasan ini. Mulai sekarang kita akan hidup dalam damai.” Sekali lagi Arwen tersenyum.

.

.

.

Dari sudut matanya Ratu Nāeri yang tampak lelah, melihat dua elf berlarian menuju kastil, rambut mereka berkibar di belakang seperti bendera sutra. Sehening penampakan hantu, kedua elf itu berhenti di depan pintu aula dan berjalan pelan ke hadapan ratu.

“Yang Mulia, kami mendapat kabar jika Tuan Putri…” kata seorang di antara mereka.

“Katakan! Apa yang terjadi pada putriku?” Suara Nāeri terdengar cemas.

“Putri Jane, ia yang telah mengalahkan Morgoth…” Semua yang mendengar terhenyak tak terkecuali Abadel, beberapa bahkan bergumam takjub dan tak percaya. “Dan sekarang ia sekarat, Yang Mulia.” kata elf satunya dengan suara parau.

“Tidak…tidak mungkin…” Nāeri memegang dadanya, wajahnya langsung pucat. Ia terhuyung dan hampir jatuh jika Maurel tak memeganginya. “Dimana putriku sekarang?” Air mata ratu jatuh.

“Tuan Putri dibawa ke Véongrad oleh kelima Valar.”

***

“ARRGGHHHH…!!!” teriak Serandor di sela-sela latihan sihir bersama gurunya. Tangan kanannya gemetar hebat, jari-jarinya kaku dan sesaat seperti kebas tak bisa merasakan apapun.

“Apa, yang Anda lakukan padaku, Sir?” Serandor menggigit bibirnya menahan sakit yang tak terkira. Telapak tangan kanannya berlubang dan itu membuat Serandor ngeri sekaligus mual.

“Aku telah menanamkan Celeb-cam padamu.”

“Celeb-cam…?” rintih Serandor, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.

“Tangan-perak,” jelas gurunya. “Salah satu jenis sihir kuno yang paling kuat sekaligus mematikan.”

Serandor terkesiap mendengar itu, “Kenapa saya, Sir…” katanya bergetar.

“Karena kau akan menjadi tanganku.” ucap gurunya singkat.

.

.

“Hretgán tak lagi memercayaimu. Tidak setelah kau menempuh jalan yang keliru di matanya.”

“Tapi ini menyangkut putrinya dan kelemahan Tuan Kegelapan. Aku harus memberitahunya sendiri.”

“Mungkin….kau akan mati sebelum kata-kata keluar dari mulutmu.”

“Bagaimana dengan Maurel? Aku bisa bicara dengannya dan menjelaskan semuanya.”

“Tidak ada yang bisa kau lakukan, baginya…kau sudah mati. Tidak ada Vanyar yang ingin mendengar tentang dirimu. Begitu pun dengan Noldor, meski aku pribadi masih menganggapmu kawan lama, tapi jika Cirdan tahu kau ada di Valinor, aku tidak bisa melindungimu lagi.”

“Apa yang harus kulakukan?”

‘Keputusanmu telah menyulitkan semuanya. Pergilah dan lakukan sesuai caramu.”

Serandor menjatuhkan kerang-kerang yang ia kumpulkan dari pantai. Tangan kanannya terasa seperti digelitik. Tanpa sengaja Serandor mendengar pembicaraan antara ayah dan gurunya. Otak Serandor langsung bekerja cepat mengolah informasi yang dicuri dengarnya.

“Sir!” panggil Serandor ketika melihat gurunya keluar dari ruangan ayahnya. Gurunya menghentikan langkah dan berpaling pada Serandor.

“Ada apa Serandor?” tanya gurunya dengan senyum yang dipaksakan.

“Apa benar, Anda akan pergi Sir?”

“Ya…tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini, lebih tepatnya, aku tidak dibutuhkan di sini.” jawab gurunya murung.

“Kemana Anda akan pergi?”

“Kembali ke tanahku, ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Juga…seseorang telah menungguku.”

“Siapa dia?”

“Putraku, putra kebanggaanku. Aku ingin menyelesaikan tugasku dan segera pergi menemuinya.” gurunya tersenyum samar.

“Sir, izinkan aku ikut dengan Anda. Aku berjanji akan membantu Anda menyelesaikan tugas Anda…” Serandor berkata yakin dan penuh keinginan.

***

Kegelapan musnah, kesengsaraan berakhir dan awal baru pun dimulai.

Orion kembali ke Arnor setelah pertempuran di puncak Xelomor. Ia hidup setelah kematian, namun hidupnya terasa hampa. Orion tak merasa kehidupannya pantas disyukuri, ia dicederai oleh takdir. Jane Svitkona, wanita yang dicintainya, harus mempertaruhkan nyawa demi kebebasan Middle-Earth.

Orion menatap tanpa melihat dan memikirkan Jane, kemudian Morgoth, lalu Valar, serta semua yang ia alami di puncak Xelomor, kemudian ia memejamkan mata, denyut samar terasa di belakang pelipisnya. Ia mendengar derap langkah kaki dan, membuka mata sekali lagi, melihat Abadel berjalan mendekatinya.

“Yang Mulia.” Orion membungkuk hormat.

“Ada hal yang ingin kusampaikan padamu, nak.” kata Abadel. “Aku akan memberitahu semua tentang Oberon.”

Rahang Orion berkedut, darahnya mengalir deras mendengar nama itu, “Sudahlah, Aku tak peduli lagi soal itu.”

“Kau akan dengar. Bukan akan, tapi harus dengar. Itu kewajibanmu.” kata Abadel bersikeras. Ia berjalan menuju kursi terdekat dan menyuruh Orion duduk di dekatnya. “Kurasa aku telah menepati janji pada ayahmu dan sekarang waktunya untuk menceritakan sebuah kebenaran.”

Orion duduk dengan ekspresi dingin.

“Kisah ini dimulai enam puluh tahun lalu, jauh sebelum Pertempuran Petróvya dimulai. Ayahmu adalah Avari pertama yang mengunjungi Valinor. Tidak, bukan, ayahmu adalah Noldor yang kembali ke Valinor.”

“Nol…dor? Apa maksud Anda?” Orion terkejut.

“Ayahmu adalah keturunan Fingolfin – putra Finwe. Begitu pula denganmu Orion, di dalam darahmu mengalir darah para Noldor. Beribu-ribu tahun lalu, saat peristiwa pengasingan para Noldor, Finarfin – putra pertama Finwe, berangkat ke Middle-Earth bersama kedua saudaranya, Fingolfin dan Feanor. Namun ia memutuskan kembali dan menjadi Raja Noldor di Valinor. Feanor yang diasingkan ke Middle-Earth dan diikuti oleh Fingolfin saudaranya akhirnya menetap di Middle-Earth. Mereka disebut sebagai Kaum yang Diasingkan kemudian Fingolfin menjadi Raja Noldor di Middle-Earth. Perlahan, cahaya dalam tubuh kedua saudara itu menjadi redup dan hilang seutuhnya, karena seringnya interaksi mereka dengan Moriquendi. Beberapa berpendapat bahwa kekecewaan yang mereka rasakan akibat pengasingan, telah membuat spirit mereka hilang, dan cahaya mereka lambat laun memudar. Sebagian lagi meyakini jika kematian Finwe yang dibunuh Morgoth meninggalkan kesedihan yang mendalam hingga cahaya mereka seolah ikut mati bersama dengan kematian ayah mereka. Sejak saat itu tak terbilang banyaknya elf terutama kaum Noldor yang mati di Middle-Earth karena peperangan yang tidak berkesudahan antara bangsa kita dan kekuatan jahat Morgoth.”

“Itu tidak benar, aku adalah Avari. Anda pasti bohong.” bantah Orion, tangannya gemetar memegang pedangnya.

“Awalnya ayahmu juga tidak tahu siapa ia sebenarnya. Kakekmu, Rhunön, adalah keturunan terakhir Fingolfin yang hidup. Ia, Noldor terakhir di Middle-Earth. Seluruh kaum dan saudaranya mati dibantai pasukan Morgoth tanpa belas kasihan. Sebagai satu-satunya yang bertahan hidup, kakekmu menghilang dan bersembunyi bersama para Mithrim – Kaum Abu-Abu, di daerah barat laut Beleriand. Ia lalu menikah dengan wanita Avari, saat itu Rhunön memutuskan untuk mengubur dalam-dalam identitas Noldornya, dan mencoba untuk memulai hidup baru dengan bahagia. Bahkan ketika ayahmu Oberon lahir, Rhunön tetap merahasiakannya. Hingga suatu hari menjelang detik-detik terakhir dalam hidupnya, kakekmu memberitahukan rahasia dirinya pada Oberon dan mewariskan pedang itu,” Mata Abadel jatuh pada Sûlglor yang digenggam Orion.

“Bisa kau tunjukkan Sûlglor padaku, nak?” pinta Abadel.

Dengan ragu Orion maju dan memberikan pedang warisan kakeknya tersebut. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan Abadel dengan pedang itu. Abadel meraihnya dan meraba, ia merobek paksa kulit penutup gagangnya, tangannya mengelus lambang yang tersembunyi di balik penutup itu.

“Kau lihat lambang Horntail ini?” Abadel menunjukkannya pada Orion. Orion terpaku, ia tidak pernah tahu simbol itu terukir di gagang pedangnya.


“Ini lambang leluhurmu, lambang Finwe.” kata Abadel.

“Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah ada lambang Raw  pada mata pedangnya?” Orion masih tidak percaya.

“Simbol Raw ini ditempa Rhunön saat ia menikah. Ia ingin menyamarkan keberadaan warisan Finwe dari dunia, terutama dari sang Tuan Kegelapan, Morgoth. Ia tidak ingin keturunannya kelak dalam bahaya.”

Sesaat perasaan Orion antara takjub dan terluka. Sûlglor adalah senjata berharga keluarga Finwe, tapi ia juga menjadi pedang yang pernah dimiliki ayahnya, si Kaum Terkutuk.

“Bagaimana kakekku mati?” tanya Orion mengalihkan perasaannya.

“Ia meninggal karena dihinggapi kesedihan yang luar biasa. Memendam rasa sakit karena menyaksikan kematian kaumnya, Rhunön bertahan lebih lama dari yang bisa diperkirakan. Kakekmu elf yang kuat.”

“Lalu Oberon, apa yang pria itu lakukan setelah tahu dirinya seorang Noldor?” geram Orion.

“Ayahmu tidak percaya, terlebih lagi ia sangat terpukul karena kematian Rhunön dan masa lalu kaumnya. Saat itu usia ayahmu baru menginjak dua puluh tahun, ia masih sangat muda. Berbekal fakta bahwa ia seorang Noldor, ayahmu memutuskan mencari tahu sendiri kebenarannya. Ia pergi meninggalkan Beleriand dan nenekmu, menuju Arnor. Mendaftarkan diri menjadi pasukan kerajaan, pasukan termuda dan paling tangkas yang pernah kulihat. Dari sanalah persahabatan kami dimulai.” Abadel menghentikan ceritanya, ia menutup mata seperti mencoba mengingat kenangan bersama Oberon.

“Mengapa ia memilih jadi prajurit? Apa ia ingin balas dendam?”

“Balas dendam? Pada siapa?” tanya Abadel tertarik mendengar pemikiran Orion.

“Pada rasnya, pada elf yang membiarkan seluruh kaumnya mati, pada ketidakadilan menurut versinya.”

“Begitukah? Apa itu yang kau pikirkan jika berada di posisi Oberon?” Abadel tersenyum sedih.

“Aku hanya…mencoba menebak jalan pikirannya. Bukankah pada akhirnya ia berkhianat?” kata Orion sinis.

“Sayangnya, pikiran ayahmu masih jernih dan balas dendam bukanlah yang ia inginkan.” Abadel menarik napas sebentar, “Ia hanya ingin mengetahui asal-usulnya. Maka Oberon berlatih tanding lebih keras dari siapa pun, ia juga belajar lebih giat dari murid mana pun di Arnor, bahkan dari diriku yang saat itu dipersiapkan untuk menjadi raja. Aku sering melihatnya membaca buku-buku tentang Noldor dan Valinor.” Abadel menghentikan sejenak ceritanya, tangannya terjulur dan seekor burung kecil hinggap di jarinya. Abadel membisikkan sesuatu pada burung itu yang langsung terbang setelah mendengarnya.

“Aku bahkan tidak tahu,” lanjut Abadel, “kalau Oberon diam-diam sering mengunjungi Sindar – Elf Abu-Abu. Disana ia mempelajari Eragon – bahasa tertua yang digunakan para elf. Bahasa ini sudah tidak jamak digunakan oleh elf, kecuali para Sindar. Eragon sering digunakan oleh para ahli penunggang roch dan para ahli sihir untuk merapal mantra. Karena Eragon dianggap berbahaya apabila ada di tangan yang tidak baik, maka para Sindar mewariskan bahasa ini hanya pada keturunan atau orang kepercayaannya saja, dan Oberon beruntung memperoleh kepercayaan itu. Oberon pun mulai mempelajari sihir dari para Sindar. Itu mengapa ia dikenal sebagai sedikit elf yang menguasai sihir kuno. Oberon adalah elf paling berbakat dan hebat yang pernah ada.”

Merinding, Orion tidak menyangka ayahnya sehebat itu.

“Lalu, entah bagaimana ia bisa mendapatkan izin untuk membaca Kitab Silmarillion.” lanjut Abadel.

Silmarillion? Kitab apa itu?” tanya Orion penasaran.

“Itu adalah kitab tua yang sangat dirahasiakan keberadaannya. Sejak Noldor hilang dari Middle-Earth, kitab itu diselamatkan oleh seorang elf tua bijaksana bernama Aberdeén. Silmarillion berisi proses kejadian elf. Termasuk kisah tentang Feanor dan Fingolfin, serta sejarah dan silsilah keluarganya.”

“Ia menyelidiki sejauh itu?” bisik Orion terkesan.

“Ayahmu berusaha sebaik mungkin. Dan saat ia tahu bahwa masih ada Noldor di tempat selain Middle-Earth, ayahmu sangat gembira.”

“Jadi, ia pergi ke Valinor?”

“Tidak secepat itu, Oberon mempertimbangkan banyak hal termasuk jati dirinya. Sampai saat itu ia masih menutupi identitasnya, aku sendiri belum tahu jika ia Noldor. Selain itu ia masih harus menyelidiki sesuatu.”

“Sesuatu?”

“Sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya dan Tuan Kegelapan.”

Jantung Orion berdebar. Terdengar langkah kaki seseorang mendekati mereka. Serandor berjalan sedikit cepat dan wajahnya tampak serius.

“Aku datang setelah mendengar pesanmu Yang Mulia.” kata Serandor membungkuk hormat.

“Duduklah di samping Orion, kau akan membantuku menjelaskan sesuatu.” pinta Abadel.

Orion menduga, Serandor dipanggil Abadel setelah mendapat pesan dari burung kecil tadi. Mereka bertatapan sesaat dalam diam. Abadel melanjutkan ceritanya.

“Sebelum ketiga putranya diasingkan ke Middle-Earth, Finwe mewariskan kepada mereka tiga benda berharga miliknya. Kepada Finarfin, ia berikan sebuah busur hitam yang kuat dan elastis. Benda itu, jika aku tidak salah adalah milik Cedric Caladriel sebelum ia meninggal. Dan sekarang menjadi milikmu karena Ratu Nāeri menghadiahkannya padamu atas permintaan Raja Celeborn. Lalu kepada Fingolfin, ayahnya memberikan sebilah pedang yang sangat kuat – Sûlglor. Kaum Noldor di Middle-Earth menjulukinya sebagai Pedang Takdir, mereka percaya pedang itu mampu merubah takdir dan menghapus kesengsaraan di Middle-Earth. Yang terakhir ia berikan kepada Feanor sebongkah batu biru bercahaya, yang diketahui sebagai Sapphire Blue.”

Orion terkejut, “Bukankah…Sapphire Blue milik kaum Falmari…?” ia menoleh pada Serandor, memastikan kebenarannya.

Abadel mendesah, “Batu itu hilang, terjatuh di dasar laut Belegaer sewaktu Maedhros – putra pertama Feanor berangkat dari Middle-Earth menuju Valinor. Tentu saja Maedhros sangat sedih karena tak mampu menjaga pemberian ayahnya. Lalu beratus tahun kemudian, seorang Falmari bernama Aearon menemukannya. Ia terpesona dengan keindahan batu itu dan bermaksud membawanya pulang ke Valinor. Tapi di tengah jalan, ia dihadang sekelompok perompak, salah satu diantaranya adalah seorang dwarf. Mereka mencuri semua benda berharga yang ada di kapalnya, termasuk Sapphire Blue. Tentu saja Serandor tahu kisah ini, karena yang menemukan batu itu adalah kakek buyutnya.” Abadel memandang Serandor yang mengangguk membenarkan.

“Darimana kalian tahu, kalau batu yang ditemukan Aearon dan dicuri dwarf itu adalah batu yang sama yang dimiliki Maedhros?” sanggah Orion.

“Karena Aearon mengenali lambang Finwe pada batu itu.” jawab Serandor pelan. “Kakek buyutku bercerita pada ayahku dan Cirdan tentang batu cahaya sebelum kematiannya.”

Orion bergerak gelisah, otaknya menyatukan keping-keping cerita dengan fakta yang diterimanya. “Lalu, bagaimana Anda tahu…Sapphire Blue tersimpan di bawah Vraëstone?”

Abadel dan Serandor bertatapan sejenak, lalu Serandor berkata, “Ayahmu.”

Orion tertegun, tangannya meremas celananya. “Kau…kenal…orang itu?” tanya Orion terbata-bata.

“Beliau adalah guruku.” jawab Serandor. Orion kaget mendengarnya, ia baru akan membuka mulut untuk bertanya namun Abadel mendahuluinya bicara.

“Akan ada waktu bagi Serandor untuk menceritakan hubungannya dengan ayahmu.” potong Abadel, “Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, bahwa Oberon harus menyelidiki sesuatu. Oberon mencari semua informasi tentang Noldor dan tentu saja warisan Finwe yang berharga. Dan ketika itu awal kepemimpinanku pun dimulai. Aku menjadikan ayahmu verden pribadiku, sekaligus orang kepercayaanku.”

“D-dia…verden…”

“Verden terbaik yang hanya bisa ditandingi oleh putranya.” Abadel tersenyum penuh arti pada Orion.

“Oberon kuberi tugas pertama untuk memeriksa kondisi Cardolan yang hancur akibat serangan orc – Morgoth berencana memperluas kekuasaannya dengan menginvasi koloni-koloni Arnor. Tugasnya berjalan baik, elf-elf yang selamat dan bertahan dibawa ke Arnor, termasuk di antaranya adalah ibumu. Oberon jatuh cinta pada ibumu yang cantik. Mereka pun menikah dan memutuskan untuk menetap di utara kerajaan, di Arthedain. Meski telah menikah, ayahmu tetap menjalankan tugasnya. Berkali-kali ia harus melawan sekutu Morgoth bersama pasukan kerajaan. Menjadi penghubung antara Avari dan Sindar yang tertutup. Bahkan ia pergi ke Vraëstone untuk mencoba membangun kembali hubungan diplomatik dengan para dwarf. Aku merasa bersyukur memiliki Oberon di sisiku.” Orion melihat Abadel mengusap air mata di sudut matanya.

“Apa ibuku tahu ia seorang Noldor?” tanya Orion ingin tahu.

Abadel menggeleng lalu melanjutkan seolah tak ada interupsi. “Di saat Morgoth semakin kuat, Oberon mengusulkan padaku untuk meminta bantuan Valinor, hal yang tidak pernah kami pikirkan dan tentu saja diragukan oleh semua tetua kerajaan, tapi aku menyetujuinya. Maka enam puluh tahun lalu, saat usiamu sepuluh tahun. Untuk pertama kalinya Oberon menginjakkan kaki di Valinor. Pulang ke tanah leluhurnya. Bertemu dengan kaumnya yang tak tersentuh oleh Morgoth.”

“Apa ia pernah mengajakku ke Valinor?” tanya Orion pelan.

“Ya,” Abadel mengangguk, “beberapa kali saat kau masih kecil.”

“Itu mengapa aku bertemu dengan Jane.” gumam Orion seakan menemukan jawaban untuk rasa penasarannya.

“Busur itu…” kata Orion teringat, “Tujuannya datang ke Valinor pasti untuk memastikan keberadaannya, iya kan?”

“Benar, Oberon tahu busur itu dimiliki oleh keturunan Finarfin, putra Celeborn.”

“Dan ia menginginkannya?” Terdengar nada jijik dari suara Orion.

Serandor melirik Abadel untuk meminta izin bicara. “Suatu kali, sahabatku Cedric pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin menyelamatkan hidup banyak orang dengan busur pemberian ayahnya. Kau tahu Frâel? Tuan Oberonlah yang membuat Cedric berpikir seperti itu. Ya…mereka pernah bertemu.” kata Serandor sebelum Orion menyela pembicaraannya. “Tuan Oberon tidak pernah menginginkan busur Finarfin untuk dirinya sendiri. Bahkan ia berpesan pada Cedric untuk mengakhiri ketidakadilan dengan senjatanya.”

“Yang ayahmu maksud dan rencanakan ialah…agar Cedric, keturunan Finwe, sekali lagi harus menghadapi musuhnya – Morgoth.” Mata Abadel menerawang jauh ke pepohonan yang tumbuh tinggi di luar istana.

“Licik! Kejam!” geram Orion. “Itukah yang ia rencanakan? Mengirim Cedric untuk mati? Orang itu…benar-benar menjijikkan!”

“Haruskah, kau terus melihat ayahmu dari sudut pandang kebencian Frâel?” tanya Serandor prihatin.

“Tak ada yang ingin punya ayah seorang kaum terkutuk.” sergah Orion.

“Dia tidak…” Serandor menghentikan kata-katanya karena Abadel mengisyaratkannya untuk diam. Serandor menghela napas dalam.

“Biarkan aku melanjutkan ceritaku anak-anak,” Abadel memandang Orion dan Serandor bergantian. Orion hanya diam tak bergeming sedang Serandor mengangguk setuju.

“Oberon menjadi penghubung antara Valinor dan Middle-Earth. Sepuluh tahun sejak kedatangannya ke Valinor, Calaquendi dan Moriquendi akhirnya memutuskan untuk bersekutu. Semua berkat usaha ayahmu. Namun karena ayahmu juga, Calaquendi hampir membatalkan persekutuan tersebut…karena dua tahun sebelumnya, ayahmu menyeberang ke pihak Tuan Kegelapan.”

Tangan Orion gemetar, dadanya bergemuruh dan kebenciannya pada Oberon semakin dalam. “Kenapa? Kenapa Oberon mengkhianati rasnya?!” teriak Orion marah.

“Itu…adalah jalan yang dipilih sendiri oleh ayahmu.” kata Abadel sedih. “Keputusannya bergabung dengan Morgoth tidak serta merta diterima begitu saja, mengingat ayahmu adalah orang yang selalu ada di garis depan untuk melawan Morgoth. Satu-satunya cara adalah Oberon harus menunjukkan loyalitasnya, artinya…ia harus membunuh dan membantai setiap penentang Morgoth. Dan ayahmu melakukan semua itu. Bersama kedua belas Fuin-gûl lainnya, ayahmu membunuh ras kita. Bahkan tak sedikit Sindar, kaum yang telah mengajari ayahmu kekuatan sihir, mati di tangannya sendiri. Tidak perlu waktu lama bagi Morgoth untuk memercayai loyalitas ayahmu. Ia pun menjadi tangan kanan Morgoth yang paling dekat.”

Mata Orion memerah, tenggorokannya seperti tercekat, otot-otot rahangnya mengeras dan darah mengalir deras menuju kepalanya, seolah ingin membuat otaknya pecah.

“Raja Hretgán yang mengetahui tindakan ayahmu begitu murka. Ia tak pernah menyangka Oberon berani mengkhianati rasnya. Namun berkat kebijaksanaannya, Hretgán memutuskan untuk tetap bersekutu bahkan membantu Middle-Earth dengan ikut dalam Pertempuran Petróvya.”

“Dimana lelaki itu saat Pertempuran Petróvya?” tanya Orion getir.

“Oberon di sana, memimpin para orc dan…” kata-kata Abadel terhenti, ia memegang dadanya sesaat. “Melawan kami sebagai seorang Fuin-gûl. Ia juga yang menyebabkan kematian Hretgán.”

“A-Apa!!” kata Orion marah. Ia tertegun.

“Kematian Hretgán dan Cedric Caladriel dalam Pertempuran Petróvya membuat Calaquendi sedih sekaligus marah. Mereka memutuskan persekutuan dan kembali menutup mata terhadap Middle-Earth.” Abadel mendesah.

“Hentikan! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi.” Orion bangkit dan hendak pergi ketika Abadel berkata keras. “Kau, akan mendengar semuanya sampai akhir. Duduk!” perintahnya tegas. Orion sempat ragu, tapi ia duduk kembali dengan perasaan terluka.

“Alasan…mengapa aku merahasiakan tentang ayahmu darimu adalah, karena Oberon sendiri yang memintaku. Ia tidak pernah benar-benar menyeberang, Oberon hanya melakukan misi yang kuperintahkan kepadanya. Aku memintanya untuk menjadi mata-mata Morgoth. Itulah kebenaran Oberon.” Terdengar nada penyesalan dan kelegaan yang mendalam dari suara Abadel.

“Anda bohong!” teriak Orion. Tangisnya pecah, Orion mengatupkan rahangnya keras-keras saat tubuhnya gemetar. “Setelah semua kejahatan yang ia lakukan, Anda tidak perlu melindunginya seperti ini!”

Seolah tidak mendengarkan Orion, Abadel melanjutkan, “Semua orang hidup terikat dan bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri, itu disebut kenyataan. Tapi pengetahuan atau persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi. Semua orang hidup dalam asumsi. Apa itu tidak terpikirkan olehmu?”

Orion tersentak, menyeka air matanya, “Maksudmu, ia sengaja…membuat persepsi agar orang menganggapnya sebagai pengkhianat? Agar aku…membencinya?” tanya Orion lirih. “Tapi mengapa?! Mengapa ia harus melakukan semua itu?!” jerit Orion.

“Laki-laki yang membunuh perasaannya dan menghabisi sesama rasnya sambil menangis darah. Menerima misiku sebagai kaum terkutuk. Kau tahu apa artinya? Oberon tidak ingin kau dalam bahaya, baginya…nyawamu lebih berharga daripada…seluruh Noldor.”

Bahu Orion berguncang keras, “Tidak! Tidak! Tidak!”

“Ia bisa kehilangan kaumnya. Ia bisa menerima takdir sebagai keturunan Finwe. Tapi ia tidak bisa melihatmu hidup dalam bahaya. Tidak jika Morgoth mengincar seluruh keturunan Finwe. Tidak, untuk putra yang sangat dicintainya.” Air mata Abadel mengalir dan ia tidak bermaksud menyekanya.

“Maka sejak Oberon menjalankan misinya sebagai kaum terkutuk, ia memutuskan untuk menghapus semua memorimu tentang dirinya. Dan selanjutnya, tanggungjawab atas dirimu dilakukan sepenuhnya olehku. Di bawah pengawasanku, kau tumbuh dan besar jauh dari pemberitaan tentang ayahmu. Bahkan aku sengaja berbohong tentang kematian Oberon padamu. Kau hidup dalam pengamanan yang kuberikan. Baru setelah ayahmu meninggal, kau kupanggil untuk menjadi pasukan khusus kerajaan hingga akhirnya masuk ke dalam kelompok Varden.” Bibir Abadel bergetar dan matanya terpejam. “Satu-satunya orang yang harus kau persalahkan adalah aku, Orion.”

“Kenapa…ia harus melakukan semua ini…” Orion menangis, dadanya sesak. Di sampingnya, Serandor memandang kasihan pada Orion. Ia tahu kenyataan ini akan mengguncang emosi Orion.

“Demi kebebasan Middle-Earth…terlebih lagi demi dirimu…ia ingin mati sebagai penjahat dan pengkhianat, menerima aib sebagai ganti kehormatan, menerima kebencian sebagai ganti cinta. Walau begitu Tuan Oberon mati dengan wajah tersenyum.” kata Serandor.

“Lebih dari semua itu, Oberon mewariskan nama Noldor untukmu, untuk putra satu-satunya yang ia lindungi agar tetap hidup, untuk melanjutkan kepemimpinan Noldor di Middle-Earth.” sambung Abadel.

Orion menangis terisak mendengar semua kebenaran tentang ayahnya. Hatinya lega dan pedih sekaligus. Orion menyesali kebenciannya pada Oberon tanpa tahu kebenaran dibalik keputusan dan tindakan ayahnya, yang ternyata ingin melindungi dirinya dan Middle-Earth. Ayah…maafkan aku…

“Bagaimana, ayahku meninggal?” tanya Orion berusaha tegar.

***

Jane mengerjapkan matanya. Cahaya terang menyilaukan pandangannya. Apa aku mati? Jane bangun dan memandang berkeliling. Jika ia mati, mungkinkah ia berbaring di tempat yang begitu indah dan berkilau?

“Kau bangun, Jane?” Kelegaan terdengar dari suara Pavo yang berdiri di depan tempat tidurnya. Mereka berada di dalam kamar yang sangat indah. Jendela-jendela lengkung yang besar dengan ukiran rumit nan cantik berderet di salah satu dinding pada ruangan bundar itu, memberi jalan untuk masuknya sinar matahari yang menerangi sosok Pavo, membuatnya semakin berkilau bahkan tanpa sayapnya yang terbentang. Mata hangatnya menatap Jane dan ia tersenyum.

“Dimana aku?” Jane berusaha duduk dan bersandar pada kepala ranjangnya.

“Kau di Véongrad.” Pavo berjalan menuju jendela dan duduk anggun di salah satu jendela yang daunnya terbuka. Seperti sebuah mahakarya dari seorang seniman paling handal di seluruh Valinor saat memandang Pavo dengan posisi seperti itu. Ia benar-benar malaikat terindah yang pernah ada.

Jane mengabaikan pikirannya dan memegang kepalanya yang sedikit pusing. “Kenapa aku masih hidup? Bukankah seharusnya aku mati bersama Morgoth?” Jane memandang Pavo.

“Perlindungan kami, membuatmu tetap hidup.” kata Pavo.

Jane tidak ingin tahu apa yang dilakukan para Valar hingga membuatnya masih bisa bernapas, dan Pavo tampaknya tidak peduli jika Jane tidak mau menanyakan Cara-Ia-Dihidupkan-Kembali, Pavo juga tidak memaksa Jane untuk mendengarkan Kemampuan-Valar-Menyelamatkan-Seseorang-Dari-Kematian. Mereka diam untuk sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Pavo…” kata Jane pelan.

“Iya Jane,” Pavo sedikit kaget karena tersadar dari lamunannya.

“Bagaimana Orion bisa hidup kembali? Padahal ia…” Jane memilih tidak melanjutkan kata-katanya.

“Sesuatu dalam dirimu yang membuatnya hidup. Kelemahanmu adalah kekuatanmu.” Pavo seperti sedang berteka-teki.

“Apa maksud Anda?”

“Bagaimana menurutmu kau hidup selama ini? Hmm…”

“Aku…aku hidup dalam kesedihanku sendiri. Aku hidup dalam keegoisanku.” kata Jane malu.

“Benar sekali, sejak kepergian Hretgán dan kekasihmu, Cedric, kau hidup dalam perasaan sedih yang mendalam, memandang segala sesuatu di dunia menjadi tidak berarti lagi.”

“Apa hubungan itu semua dengan Orion?” tanya Jane bingung.

“Kau tahu Jane? Kau adalah makhluk yang istimewa. Dilahirkan sebagai setengah Valar, membuatmu memiliki sebagian bakat kami. Salah satunya, menjadi lebih kuat dan lebih peka dari makhluk manapun di duniamu. Dan yang paling kuat dalam dirimu adalah kesedihanmu.”

“Mengapa kesedihan bisa menjadi bakat dan menjadi yang paling kuat?”

“Bukankah sudah terbukti? Perasaan terlemah dalam dirimu – kesedihanmu, membuat Orion dapat hidup kembali. Kau pernah dengar tentang Air Mata Kehidupan, Jane?”

Jane menggeleng pelan.

“Itu adalah air mata Valar yang mampu menghidupkan makhluk yang telah mati. Tidak ada yang memiliknya sejak Aquarii – Valar dengan perasaan mencintai dan menghargai yang sangat besar, pergi meninggalkan Véongrad.”

Jane mengerutkan keningnya, mencerna apa yang dikatakan Pavo. “Aku masih tidak mengerti, maksudmu Aquarii yang memberi air mata itu untuk Orion?”

“Bukan Aquarii, tapi dirimu Jane…”

“Aku?” kata Jane terhenyak.

“Ya, air matamu adalah Air Mata Kehidupan, itulah kekuatanmu Jane. Air mata yang datang dari perasaan cinta yang sangat dalam. Kau pernah kehilangan ayah dan kekasih yang sangat kau cintai. Dan kau tidak ingin hal itu terulang. Rasa cintamu yang besar pada Orion, memberikanmu kekuatan untuk menghalanginya pergi.”

“Maksudmu, kesedihan menjadi satu-satunya kekuatanku untuk melindungi orang-orang yang kucintai, hanya karena aku takut kehilangan mereka?”

Pavo tersenyum, “Sederhananya, bisa dibilang seperti itu.”

Jane kembali terdiam memikirkan hal tersebut dan Pavo kembali melamun dengan pikirannya sendiri.

“Pavo…” Jane membuka percakapan, banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada Valar itu.

“Hmm…” kata Pavo lembut.

“Apakah, aku satu-satunya makhluk setengah Valar?” Jane merubah posisi duduknya lebih tegap untuk bisa melihat Pavo yang sekarang berdiri memunggunginya.

“Kau yang kedua,” jawab Pavo singkat. Suaranya terdengar enggan.

“Jadi, ada orang lain selain aku?” tanya Jane takjub.

Pavo tidak segera menjawab, ia tampak gelisah, “Kami bukanlah makhluk sesempurna seperti yang kalian bayangkan selama ini. Ada kalanya kami tergoda dan larut dalam nafsu keduniawian.” Terdengar helaan napas yang berat dari Pavo. “Ratusan ribu tahun lalu, saat kami belum mengundang Quendi untuk hidup bersama kami di Valinor. Ada seorang Valar yang datang ke Middle-Earth dan terpesona oleh kecantikan seorang wanita Quendi, akhirnya mereka menghasilkan seorang keturunan, makhluk pertama yang lahir sebagai setengah Valar dan setengah Quendi.”

“Di-dimana ia sekarang?”

“Ia di sini bersama kita, dan kau mengenalnya.”

“Siapa?” tanya Jane penasaran.

Pavo tampak ragu sebelum menjawab. “Ia…Cygnus.”

Jane terkejut dan tanpa sadar menutup mulutnya yang ternganga, “Bagaimana bisa Cygnus…?”

“Cygnus adalah Valar termuda. Tidakkah kau lihat? Emosinya yang paling tidak stabil di antara bangsa kami, ia mudah sekali marah dan sedikit gegabah dalam bertindak. Itulah sifat dasarnya sebelum menjadi Valar, sifat yang ia bawa saat masih menjadi Quendi.”

“Mengapa Cygnus yang memiliki darah Quendi bisa benar-benar menjadi Valar?” Jane masih tak mengerti.

“Itu pilihannya. Kau bisa hidup sebagai Valar, jika kau melupakan kehidupanmu saat menjadi Quendi, itu artinya semua kenanganmu sebagai Quendi akan dihapus. Dan kau, bisa memilih menjadi Quendi dengan syarat, sayapmu akan hilang selamanya begitu pula dengan kekuatan Valar yang kau miliki.” Pavo menatap mata biru Jane lekat-lekat.

“Maksudmu, aku tidak bisa hidup sebagai diriku yang sekarang? Jadi, aku harus memilih apakah ingin menjadi Valar atau menjadi Quendi seutuhnya?”

“Benar Jane…Inilah hukum yang kami tetapkan demi kestabilan alam semesta. Jika kau memilih untuk bertahan menjadi setengah Valar, maka kau akan mati.”

Jane membeku mendengarnya. Jika ia memilih bertahan, ia akan mati. Jika memilih menjadi Valar seperti Cygnus, ia akan kehilangan ingatannya sebagai Jane Svitkona, sebagai Putri Vanyar, dan yang lebih buruk ia tidak akan ingat tentang Orion dan kenangannya bersama Cedric. Lalu, jika ia menjadi Quendi seutuhnya, maka sayapnya akan hilang, padahal untuk sesaat ia senang memiliki sayap dan merasa jika sayapnya adalah bagian tubuhnya yang berharga, dan jika itu hilang, ia akan seperti orang cacat yang tidak berdaya.

Saat Jane masih memikirkan perkataan Pavo, pintu kamarnya terbuka dan seorang Valar rupawan berwajah sendu masuk.

“Kurasa, aku akan meninggalkanmu bersama ayahmu Jane,” Pavo melirik Avus lalu tersenyum pada Jane, menatap Jane tajam, seolah memintanya untuk memikirkan masak-masak keputusannnya. Kemudian Pavo menyibakkan jubah panjangnya dan berjalan pergi menuju pintu dengan tenang.

.

.

.

Suasana hening, hanya desir angin yang memecah kesunyian serta kicau burung-burung aneka warna yang terbang dan hinggap di dahan pohon cemara yang menjulang tinggi.

“Aku…” kata Avus dan Jane serempak.

“Anda dulu, kalau begitu.” kata Jane mengalah.

“Baiklah,” Avus menghela napas, mengumpulkan semua keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya. “Maafkan aku, putriku…”

Suasana kembali hening, Jane tidak merespon pernyataan Avus. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana atas situasi ini.

Merasa tidak mendapat tanggapan, Avus melanjutkan dengan suara bergertar, “Kesalahanku adalah jatuh cinta pada ibumu. Tapi kelahiranmu ke dunia bukan sebuah kesalahan Jane.”

“Ayahku tahu?” tanya Jane spontan. Entah mengapa ia memikirkan Hretgán, pria yang selama ini dianggapnya sebagai ayah. Jane mencoba membayangkan bagaimana perasaan Hretgán jika tahu ia bukan putri kandungnya.

“Aku tak yakin, mungkin saja ia mengetahuinya. Tapi selama hidup, ia selalu memperlakukanmu sebagai putrinya, tak pernah ada kasih sayang yang tidak ia berikan padamu. Aku…merasa bersyukur dan iri padanya.”

“Aku sangat mencintainya, ia ayah terbaik.” gumam Jane setuju, matanya mulai basah. Jane bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati Avus, “Mengapa tidak ada yang memberitahuku sejak awal? Mengapa kalian merahasiakannya dariku?”

Tangan Avus gemetar, dipandanginya Jane yang sedang menatapnya, “Ibumu yang memintanya. Ia tidak ingin menyakiti Hretgán lebih jauh dan berniat menanggungnya seorang diri.”

“Kenapa harus ibuku?” Air mata Jane jatuh, tapi ia buru-buru menyekanya.

“Aku sendiri tidak tahu, perasaan itu muncul begitu saja. Semua ini salahku…salahku…” Avus membuang mukanya, dari punggungnya sayapnya terbentang dan bergetar pelan.

“Avus…”

“I-Iya putriku…” Ada sedikit perasaan kecewa dalam nada bicara Avus. Ia ingin sekali mendengar Jane memanggilnya ayah, bukan namanya.

“Anda disana, hari dimana aku dipanggil oleh ibuku untuk menerima misi. Mengapa…harus aku yang melakukan misi itu jika aku bukan putri ayahku? Dengan kata lain bukankah aku sama sekali tidak terikat dengan takdir Middle-Earth? Tapi mengapa harus aku?” Jane sedikit meninggikan suaranya, dan itu membuat Avus mengerutkan keningnya.

“Justru karena kau…adalah satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Morgoth. Quendi dengan kekuatan setara Valar. Hal yang tidak disadari oleh Morgoth sendiri.”

Avus merentangkan sayapnya dan dengan hati-hati melingkupi belakang tubuh Jane dengan sebelah sayapnya. Hal itu membuat Jane membeku, tapi ia tidak menolaknya sama sekali, Jane malah merasakan kehangatan dalam dekapan sayap Valar – sayap ayahnya.

“Abadel memberitahu ibumu tentang kemungkinan ini.” lanjut Avus. “Ia memperoleh informasi dari mata-matanya, jika kelemahan Morgoth adalah dirimu.” Suara Avus terdengar letih. “Aku menentangnya, tapi ibumu bersikeras agar kau melakukan misi tersebut.” Jane menoleh tak percaya. “Bukan…bukan karena ia tidak memedulikan nyawamu, tapi karena ia yakin dengan takdirmu, dan ia yakin Hretgán menyertai langkahmu.”

Jane mencerna alasan tersebut namun ia juga berpikir tentang hal lain yang lebih masuk akal, “Kenapa bukan kalian saja yang menghentikan Morgoth. Bukankah Valar punya kekuatan yang lebih besar?”

Avus mendesah, “Jika seorang Valar membunuh Valar lainnya, ia akan dibuang ke Dunia Bawah dan selamanya hidup dalam penyiksaan.” Mata Avus memandang Jane sedih.

Jane tercengang, Avus pernah mengancam akan menghancurkan Morgoth demi dirinya. Jane tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar dilakukan Avus. Artinya…ia akan disiksa selamanya…

Untuk beberapa lama mereka hanya berdiri diam sambil memandang debu-debu yang terimpa cahaya matahari beterbangan menerobos masuk lewat jendela. Tidak ada yang berniat melanjutkan perbincangan. Sampai saat Jane hendak berjalan kembali ke tempat tidurnya, Avus membuka suaranya.

“Jane, aku meminta ibumu untuk tinggal di Véongrad. Ia lega sekali mendengar kabarmu. Nāeri, dalam perjalanan menuju kemari. Kuharap kau juga bisa tinggal bersamaku di sini.”

Jane menghentikan langkahnya, ia tidak pernah berpikir jika ibunya akan meninggalkan Edheline dan hidup bersama Avus. Bagaimana dengan Vanyar dan…?

Sambil mengepalkan tangannya Jane berbalik dan menatap Avus dengan tajam, “Tidakkah… Anda tampak terlalu serakah? Menginginkan aku dan ibuku di sisi Anda sekaligus.”

Avus tertegun, ia mengalihkan pandangan keluar jendela, “Aku hanya ingin…kita hidup sebagai sebuah keluarga.”

***

“Waktuku…tidak lama lagi nak…temui Raja Abadel…dan beritahukan tentang putri Hretgán…juga tentang Sapphire…Blue…yang…disimpan Hugin…” Oberon terbaring sangat lemah di pelukan Serandor.

Ia terluka parah akibat terkena senjata yang sudah dirasuki sihir yang amat sadis dan kuat. Seorang pembunuh bayaran menyerang Oberon di dekat Hutan Doriath. Pembunuh itu mendapat perintah dari seorang raja manusia untuk membunuh Fuin-gûl. Dan ia mengenali Oberon sebagai salah satu di antaranya. Saat kejadian itu, Serandor sedang dalam perjalanan menemui Oberon, dan ketika ia sampai, ia telah mendapati Oberon tergeletak sekarat.

“Sir…bertahanlah, Sir! Aku tidak akan pergi tanpamu. Aku berjanji akan menuruti semua perkataanmu…Jadi kumohon bertahanlah! Kita akan menemukan penyembuh…” isak Serandor.

“Aku…ingin beristirahat…di Belegaer…A-Aku…ingin…memandangi…Vali..nor…dan…Middle…Earth..” Oberon pun menghembuskan napas terakhirnya, sebulir air mata keluar dari sudut-sudut matanya yang telah terpejam untuk selamanya. Serandor terdiam, tubuhnya kaku memandang wajah tampan gurunya yang seakan tersenyum bahagia bahkan di saat ajal memanggilnya.

***

“Itu adalah hari terakhirku bersama Tuan Oberon. Sesuai permintaannya, aku membawa jasadnya ke Laut Belegaer. Dan di sana telah menanti Orome – Avanguard dari Valar penguasa samudera, yang kemudian membawa jasad ayahmu ke dasar lautan, menempatkannya di antara Valinor dan Middle-Earth, agar ia bisa terus mengawasi kita.” Serandor menyeka air matanya yang bercucuran, menyedot pelan ingus yang keluar dari hidungnya.

Orion tertegun mendengar kisah ayahnya, matanya basah karena sedih.

“Bagaimana bisa…kau berhubungan dengan ayahku sementara ia masih berperan sebagai seorang Fuin-gûl?”

“Aku menjadi kurir yang membawa pesan dari Raja Abadel untuk ayahmu dan sebaliknya. Tempat pertemuan kami selalu berpindah-pindah dan yang terakhir adalah di Hutan Doriath.”

“Bagaimana kau melakukan tugas seberbahaya itu?”

“Aku tidak secakap yang kau kira, aku ketahuan oleh mata-mata Morgoth. Morgoth menyadari bahwa ada kurir yang mengantarkan pesan dari seseorang untuk Abadel, untungnya ia tidak pernah tahu kalau seseorang itu adalah Tuan Oberon. Tapi aku meyakinkan ayahmu kalau aku akan lebih berhati-hati, aku bisa mengatasi antek-antek Morgoth, asal bisa terus bertemu dengan ayahmu.” Serandor menghela napas dan menggerak-gerakkan jari-jari tangan kanannya.

“Lalu, mengapa kau sangat ingin membantu ayahku?”

“Karena… Kau ingat? Aku pernah bilang ingin ikut memperbaiki kerusakan Middle-Earth? Bagiku, pengorbanan dan jalan yang ditempuh Tuan Oberon untuk mengakhiri kelaliman Morgoth, sungguh sangat luar biasa. Hal itu membuatku kagum padanya dan menyadarkanku untuk bisa membantu bangsaku yang tertindas. Semua itu kulakukan, karena aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang belum bisa diselesaikan Tuan Oberon.” Serandor mengakhiri kisahnya, ia berbalik dan berjalan mendekati Orion. “Ayahmu pernah mengatakan, bahwa takdir akan mempertemukan orang-orang, suka atau tidak suka. Dan aku sangat bersyukur bertemu denganmu Frâel.” kata Serandor tulus.

Orion memandang Serandor lekat-lekat, “Terima kasih, untuk selalu berada di sisi ayahku saat dunia menjauhinya.” Serandor tersenyum miring dan mengangguk pelan.

“Aku selalu menyimpan ini,” Serandor kemudian mengeluarkan selembar perkamen usang dari dalam kemejanya.

Waktu akan berlalu dan musim akan berganti. Suatu saat kesedihan juga akan berlalu dan takdir baru akan muncul. Orion membaca isi perkamen yang diberikan Serandor.

“Itu adalah pesan terakhir yang ditulis ayahmu,” kata Serandor.

Air mata Orion jatuh membasahi perkamen yang berisi pesan terakhir Oberon, ayah yang tak pernah diingatnya, yang sampai beberapa saat lalu sangat dibencinya, yang namanya bahkan tak mau ia sebut. Orion menyesali perbuatannya. Ia menangis terisak dan berlutut tak berdaya. “Bagaimana, dia…sebenarnya…?”

“Seperti semua yang dikatakan Raja Abadel, Tuan Oberon adalah pejuang paling tangguh.” Serandor mendekati Orion, berjongkok dan menepuk pundaknya. “Dan ayah yang sangat mencintai putranya.”

Hari itu menjadi hari terpanjang dalam hidup Orion. Hari dimana sebuah kebenaran tentang ayahnya terungkap. Dan ia bisa bernapas lega karena ayahnya bukan pengkhianat atau kaum terkutuk seperti yang selama ini ia dengar dan yakini. Orion memandang bintang-gemintang yang bertebaran di langit Middle-Earth. Ia bisa melihat wajah ayahnya tersenyum bangga padanya. Ayah…aku putramu, putra bintang…

***

Jane memandang pantulan dirinya di cermin. Ia memakai gaun putih panjang yang tampak seperti memancarkan pendar kuat keperakan. Lynnëa yang memakai gaun keemasan tampak lebih cantik dari biasanya, ia tersenyum memandang melewati bahu Jane, menatap mata Jane di cermin.

“Sangat indah Jane, kau cantik sekali. Aku yakin ia akan terpana begitu melihatmu. Ini akan jadi pernikahan yang memesona. Akhirnya kalian bersatu.” Lynnëa tak henti-hentinya mengagumi hal itu.

Jane tersenyum kecil mendengar ucapan Lynnëa, ia menghadap sahabatnya, “Aku sangat mencintainya, aku berjanji akan hidup bahagia.”

Lynnëa meraih tangan Jane, menggenggamnya dan berbisik, “Kita semua akan hidup bahagia.” Ia mengangguk pelan pada Jane.

Ratu Nāeri masuk ke kamar putrinya, memberi isyarat pada Lynnëa untuk meninggalkan mereka berdua. Jane berjalan mendekati ibunya dan memberi hormat.

“Ibu selalu menantikan hari dimana kau akan menemukan belahan jiwamu, putriku.” Nāeri menatap Jane lekat-lekat.

“Ibu…” Mata Jane berkaca-kaca.

Ratu mengeluarkan diadem permata yang sangat indah dari dalam kotak yang ia bawa. “Dulunya ini milik ibuku, ia memberikannya padaku saat aku akan menikah dengan ayahmu. Sekarang tiba waktunya bagiku untuk mewariskannya padamu.” Nāeri memakaikan diadem itu ke kepala Jane, ia tersenyum memandang putrinya. Nāeri memeluk Jane dan meneteskan air mata, “Berjanjilah kau akan bahagia anakku…”

“Ibu…” Jane pun menangis.

Di depan pintu aula Edheline, Jane yang sudah ditunggu Raja Hretgán, membungkuk memberi hormat lalu memeluk ayahnya sesaat. Hretgán mencium kening putrinya, “Kau siap putriku?” Jane mengangguk sekali. Hretgán mengulurkan lengannya dan Jane meraihnya.

Helaan napas terdengar bersamaan dari para bangsawan elf ketika Raja Hretgán dan Jane muncul berjalan di lorong di antara deretan kursi, Hretgán melangkah ringan dan penuh wibawa, Jane seperti melayang. Cahaya kecantikan Jane membuat cantik siapa saja yang tertimpa olehnya, termasuk dua gadis kecil yang berjalan di depannya, masing-masing mereka menggenggam sebuket morning glory. Mereka berjalan menuju paviliun putih tempat singgasana raja yang telah diubah menjadi altar. Langit-langit yang biasanya tampak seperti sarang lebah sekarang ditumbuhi ratusan lili cala putih yang menggantung bak lonceng-lonceng kecil. Lantai yang berlumut diganti oleh hamparan rumput halus, Jane melangkah di atas kelopak bunga warna-warni yang bertebaran.

Di depan altar telah berdiri seorang pria yang sangat rupawan dengan jubah putih panjang dan tunik keperakan, lambang Horntail menempel di dadanya. Cedric Caladriel tersenyum bahagia menanti kekasihnya, matanya tak sedetik pun berpaling dari Jane. Di sebelahnya, dengan pesona seorang Vanyar, Thróv tersenyum lebar, mengedip sekilas pada Lynnëa yang berdiri di seberangnya.

Dan begitu Jane telah mencapainya, Cedric kelihatan seolah tidak pernah bisa melupakan dansa pertamanya di malam Silme Ereg. Ia menyambut tangan Jane yang diserahkan oleh Hretgán.

Mereka berhadapan, saling memandang, kebahagiaan terpancar jelas dari mata keduanya. Cedric menggenggam tangan Jane diantara kedua tangannya. Jane menunduk, menyembunyikan air mata bahagianya dari pangerannya.

“Kau sudah memberikan hatimu padaku. Aku akan memberikan hidupku seluruhnya.” kata pria di hadapan Jane itu sepenuh hati.

Jane terpana mendengar suara itu, ia mendongak menatap wajah kekasihnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika Cedric Caladriel berubah menjadi Orion Frâel.

***

 [Epilog]

Seorang gadis – remaja, mengendap-endap keluar dari paramar, senyum puas merekah di wajah mungilnya. Ia mendekap sebuah buku – yang tampaknya sangat diinginkannya. Ia berlari riang menuju tepi Aelin Rhún, ke sebuah pohon tua yang besar – pohon Elvéri, di dekatnya seorang pemuda sangat tampan sedang berlatih memanah.

“Apa yang kau lakukan Cedric?!” bentak si gadis, “Jangan arahkan panah itu kepadaku!” ia mendelik pada sang pemuda yang sedang membidikkan anak panah ke arahnya.

Pemuda bernama Cedric itu tersenyum lebar, “Kukira kau rusa betina gemuk yang bisa kupanggang malam ini.”

“Tidak lucu Ced, kita bukan karnivora.” cibir gadis itu.

Si gadis berjalan melewati Cedric, gaunnya bergesekan kasar dengan rerumputan. Ia duduk di bawah pohon Elvéri. Mengacuhkan pemuda itu dan mulai membuka bukunya. Matanya berbinar saat sampai pada halaman yang dicarinya. Ekspresi takjub, seperti memuja terpancar di wajahnya.

“Kali ini buku apa yang kau curi Gretel? Middle-Earth lagi?” Cedric berjalan mendekati gadis itu, melirik buku yang dipegangnya lalu duduk di sampingnya, bersandar pada batang pohon dengan satu lengan di belakang kepalanya.

“Lebih menarik daripada Middle-Earth.” jawab Gretel tanpa berpaling dari bukunya.

“Véongrad?” tuntut Cedric.

“Aku sudah hapal semua tentang Véongrad dan Valar.” Gretel membalik halaman bukunya dan wajahnya semakin terpesona akan isi buku itu.

Cedric yang kesal karena penasaran akhirnya merebut buku dari gadis itu. Dahinya berkerut saat membaca judul buku itu – Keindahan Vanyar. “Seharusnya kau baca Keberanian Noldor, itu lebih keren.” komentar Cedric.

“Kembalikan!” Tangan Gretel mencoba meraih buku yang dijauhkan oleh Cedric.

Cedric terbelalak begitu sampai pada bab yang ia yakin sedang dibaca Gretel, “Thróv Yang Tampan?” Cedric memandang Gretel yang tersipu malu, ia menggeleng tak percaya, “Dasar perempuan.” dengusnya.

“Tampan kan? Dalam buku itu tertulis kalau ia salah satu dari tujuh Vanyar terindah, ketampanannya bahkan disejajarkan dengan Valar.”

“Sejak kapan kau tertarik pada pria tampan?”

“Sejak aku menyadari kalau teman laki-lakiku cuma kau, tahu!”

“Hei, seharusnya kau merasa terhormat karena aku mau menjadi temanmu.”

“Terserah apa katamu.” kata Gretel pasrah.

“Tapi dia bukan tipemu kan? Karena aku sanksi ada pria seperti Thróv yang mau mendekatimu. Kau kan…” Cedric menghentikan ucapannya saat melihat tangan Gretel sudah terangkat untuk memukulnya.

“Aku apa?!” tantang Gretel ketus.

“Tidak,” Cedric mengangkat bahunya dan mengembalikan buku itu pada Gretel. Ia lalu mengambil busur hitamnya, mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya dan sibuk mengelap lambang Horntail yang ada di busurnya.

“Haahh…” Gretel yang sesaat tadi tampaknya siap beradu mulut dengan Cedric hanya bisa menghela napas saat melihatnya membersihkan busur. “Kau sangat menyayangi itu ya?” Gretel menyimpan bukunya dan bergeser mendekati Cedric.

“Yeah, ini pemberian dari ayahku. Katanya busur ini milik pejuang Noldor yang hebat.”

“Ayahmu?” Gretel menoleh dan menatap ragu-ragu ke arah Cedric. “Kapan, ia akan pulang?”

Cedric tersenyum samar, ibu jarinya berhenti bergerak memutar saat membersihkan lambang kecil berwarna keperakan pada pegangan busurnya. “Entahlah, tapi…ia pasti akan pulang, ia selalu pulang.”

“Kalian pasti sangat merindukannya, kau, dan ibumu.”

“Yeah…ibuku selalu menanti kepulangannya.”

“Kau tahu, jika ibuku tidak melarang mati-matian ayahku, mungkin ia sekarang sedang bersama ayahmu, menjalankan tugas sebagai duta elf untuk Vraëstone. Pasti menyenangkan berhubungan dengan makhluk lain di Middle-Earth.” Gretel menggumamkan pikirannya.

“Bagaimana kalau kita pergi ke Middle-Earth?” cetus Cedric semangat.

“Kau…? Dan aku…? Hah, jangan bercanda ya!”

“Bukankah kau ingin melihat Middle-Earth secara langsung? Seberapa berbahayanya, seberapa luasnya. Akan lebih baik kalau kita menjelajahinya sendiri. Untuk itu kan kau bersikeras mencuri buku-buku yang berkaitan tentang Middle-Earth dari paramar?”

“Hei! Aku tidak mencuri tahu! Buku-buku itu selalu kukembalikan lagi ke tempatnya kok. Lagi pula, itu…aku… Kita masih di bawah umur Ced. Maksudku, kudengar Middle-Earth sedang dalam konflik.”

“Konfliknya adalah, kalau kau dengan bodohnya meninggalkan pesan tertulis pada orangtuamu yang memberitahukan kalau kita akan jalan-jalan ke Middle-Earth tanpa pengawal seorang pun. Lalu ibuku tahu dan dia akan mengerahkan seluruh Valinor untuk mencari kita. Dasar dungu!”

“Siapa yang dungu?! Aku hanya belum siap dengan ide gilamu.”

“Bilang saja kau takut.”

“Aku tidak takut! Aku…aku…hanya tidak mau melanggar peraturan dan menentang istana.”

“Kau lupa ya? Aku ini pangeran, putra mahkota, calon raja. Kalau kau menentangku kau sama saja menentang istana.” Cedric mengangkat tinggi-tinggi dagunya.

“Hei! Jangan mentang-mentang kau pangeran ya, jadi bisa semena-mena padaku. Tunggu sampai kuadukan rencana bodohmu pada Yang Mulia Ratu.” Pipi Gretel menggembung jengkel.

.

.

.

Cedric dan Gretel berpisah jalan, “Sampai besok malam di Perayaan Silme Ereg. Kuharap kau akan menemukan seseorang seperti Thróv, asal kau bisa merubah penampilan bebekmu itu menjadi angsa.” Lidah Cedric terjulur menggoda sahabatnya. Tangannya melambai ringan.

“Apa katamu?!” Gretel menahan tangannya untuk melempar buku tentang Thróv ke wajah Cedric. “Tunggu saja besok, kau akan ternganga melihat kecantikanku.” Gretel membuang muka, mengangkat dagunya dan berjalan angkuh, pergi meninggalkan Cedric yang tersenyum geli.

Cedric menyusuri jalan setapak dan menaiki undakan anak tangga menuju pintu besi ganda. Alih-alih menuju pintu aula depan, ia menyeberangi halaman menuju istal.

“Bagaimana kabarmu hari ini Narhen?” Cedric tersenyum pada kuda jantan putih yang menawan. Narhen menciumi pipi Cedric, ia kegelian dan balas menggosok-gosok belakang kepala Narhen. “Kau pasti rindu udara bebas, apa kau juga rindu ayahku…?” Narhen menganggukkan kepalanya dan mengangkat kaki-kaki depannya, meringkik keras. “Tentu…kau sangat merindukannya sama seperti aku merindukannya.”

Cedric berjalan diam menuju istana, sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Cedric Oberon.” seru sebuah suara dengan penuh kerinduan.

Cedric menoleh, mencari suara yang memanggilnya. “A-Ayah…!!” kata Cedric tercengang, serta-merta ia berlari ke arah elf pria tampan yang berdiri gagah merentangkan lengannya seakan tak sabar menyambut Cedric.

“Ayah…” Cedric menghambur dalam pelukan ayahnya. “Akhirnya ayah pulang, aku rindu ayah.” Cedric tak kuasa menangis tatkala ayahnya mengusap lembut punggungnya dan mencium kepalanya dengan sayang.

“Kau bertambah tinggi nak,” Pria itu melepaskan pelukannya, kedua tangannya mencengkeram bahu Cedric, mengamatinya untuk beberapa saat. Ia memandang mata Cedric yang persis seperti mata istrinya, “Dan sangat rupawan.” lanjutnya. Setetes air mata jatuh di sudut matanya, “Ayah juga…sangat merindukanmu, putraku.” Ia kembali memeluk Cedric, kali ini lebih erat.

“Bagaimana kabar ibumu?” Mereka berjalan masuk ke aula penuh pohon.

“Sangat…sangat…sangat…baik untuk terus menasihatiku ini dan itu.” Ayah Cedric tersenyum mendengarnya.

Seorang wanita berjalan keluar dari pintu lengkung di belakang paviliun diikuti seorang pria berjubah keperakan. Wanita itu sangat cantik dengan rambut hitam tergerai bebas, mahkota rubi menghiasi kepalanya. Jubah beludrunya menyapu lantai lumut dengan gerakan halus.

“Apakah ada kabar dari Middle-Earth?” tanyanya pada penasihat di belakangnya.

“Belum, Yang Mulia Ratu.” jawab penasihat berwajah polos, tampan, tapi sangat polos.

“Hamba kembali…Yang Mulia…”

Mata Cedric terbelalak melihat ayahnya berlutut di hadapan ibunya. Ratu dan penasihatnya terkejut melihat itu. Suasana hening.

“Kau…kembali…” Suara ratu bergetar, matanya berkaca-kaca melihat pria yang berlutut di hadapannya seolah tak sanggup lagi menyimpan kerinduan yang membuncah.

“Aku kembali…” ulang pria itu, yang juga tidak bisa menyembunyikan kerinduannya. Ia bangkit dan maju mendekati ratu, meraih kedua tangan kurusnya, mengangkatnya dan menciuminya dengan lembut dan penuh cinta.

Manen nalyë, aranel? – Bagaimana kabarmu, tuan putri?” Pria itu menatap rindu mata istrinya, Jane Svitkona.

“Tidak pernah sebaik ini verden,” gumam Jane, “Im gelir ceni ad lín – Aku sangat bahagia melihatmu lagi.” Mata Jane basah, ia meraba wajah suaminya. Mata birunya mengamati setiap detail wajah Orion.

“Aku merindukanmu…” bisik Orion yang hanya dibalas Jane dengan anggukan dan isak tangis yang akhirnya pecah.

Orion memeluk Jane, lalu mencium lembut bibirnya. Ia menatap mata biru istrinya, mata yang sejak dulu telah mencuri hatinya. Jane membalas tatapan Orion dan mencoba tersenyum dalam tangis bahagianya.

Sang penasihat menyeka air matanya dengan lengan jubahnya. Ia sangat terharu melihat pertemuan itu. Dan Cedric, ia tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya saling melepas rindu.

“Karena cinta tak pernah lelah menanti… Iya kan, paman?” kata Cedric pada penasihat.

“Maaf…pangeran,” Penasihat bingung dengan ucapan Cedric.

“Tuan Penasihat, bagaimana kabarmu?” Orion berpaling ke penasihat yang masih memikirkan perkataan Cedric.

“H-Hamba baik Yang Mulia.” Penasihat itu terkejut ketika Orion mendekatinya dan memeluknya.

“Kau terlihat sedikit gendut El…” Orion menggoda penasihat sekaligus sahabatnya, Eleanord.

“Lihat dirimu Frâel, kau yang begitu berantakan.” Eleanord dan Orion bertatapan sambil tersenyum.

.

.

.

“Ibu…tidakkah ini terlalu berlebihan?” Gretel menggerutu melihat gaun yang dipaksa ibunya harus dipakainya. “Aku tidak suka rendanya, terlalu ramai…leherku sampai tidak kelihatan.” Muka Gretel semakin cemberut saat ibunya hanya melenggang cepat sambil tersenyum puas.

“Jangan permalukan ayahmu Gretel, kau terlihat sangat cantik, percayalah pada ibu. Setidaknya harus ada seorang pangeran yang terpana melihat kecantikanmu.” kata ibunya tak mau tahu.

“Pangeran mana yang mau melihatku seperti ini? Apa pangeran kodok?” Gretel bergidik, “Kalau sampai itu terjadi lebih baik aku menenggelamkan diri di Aelin Rhún.”

“Aku mau lihat,” Cedric mengagetkannya dari belakang. Ia begitu rupawan dengan kemeja putih dan rompi coklat muda dengan bordiran perak bergambar Horntail, celana panjang gelap dan sepatu bot setinggi lutut.

Gretel kaget, sekarang Cedric berdiri di hadapannya, tangannya bersedekap dan ia memandang Gretel dari atas ke bawah ke atas lagi. Ekspresinya menilai. Mulutnya tak kuasa menahan tawa. “Buahahahaaa… putri dari bangsawan mana ini?” Wajahnya mendekati wajah Gretel, Cedric memiringkan kepalanya lalu mundur untuk melihat Gretel secara keseluruhan. “Kau seperti bebek dengan gaun pesta tua. Itu milik nenekmu ya?” ejek Cedric. Ia menyeringai menyebalkan.

Mata Gretel sudah berair karena malu dan marah, ia menggigit bibirnya dan lari memanggil ibunya. “Ibuuu…”

Orion dan Jane sedang bersama Eleanord dan istrinya ketika melihat Gretel berlari sambil menangis ke arah mereka.

“Ibuuu…” rengek Gretel. Eleanord bingung melihat putrinya.

“Apa yang terjadi nak?” tanya Eleanord.

Cedric sudah bergabung dengan mereka dan berlagak tidak terjadi apa-apa. Ia memandang Gretel sambil menahan senyum.

“Dia!” Gretel menunjuk Cedric kesal, “Mengataiku mirip bebek…huaaaa…” Tangis Gretel tambah keras. Cedric pura-pura tidak melihat.

“A-Apa…?” tanya ibu Gretel geram.

“Maafkan putraku, Lynnëa,” kata Jane pelan. Ia menatap Cedric dengan tatapan menegur.

Orion dan Eleanord hanya berpandangan bingung.

Mára aurë!” seru elf pria berpenampilan eksentrik. Kemejanya tanpa lengan dan sepatu botnya, sebelah hitam sebelah putih.

“Paman Serandor!” teriak Cedric, ia berlari menghampiri pria yang sebelah telinganya menjuntai aneh. Taktik yang bagus untuk menghindari tatapan ibunya yang mengintimidasi.

“Hei Ced, wah…kau tambah tampan saja.” Serandor nyengir lalu memeluk Cedric.

“Paman yang tambah keren. Woaaa…apa ini?” Cedric terpesona melihat gambar kapal dengan dua layar besar terkembang dengan simbol tengkorak dan dua pedang menyilang, di lengan kiri Serandor yang, tidak bisa dikatakan kekar.

“Manusia menyebutnya tatto. Kau mau buat?”

“Tidak!” kata Jane tegas. Ia sudah ada di depan Serandor dan Cedric dengan tatapan galak.

“Yang Mulia, senang melihatmu.” Serandor membungkuk singkat dan melempar senyuman miring khasnya pada Jane.

“Kau tidak berubah Serandor,” Mata Jane menyipit.

“Yeah…begitulah, aku tetap tampan seperti dulu.”

“Serandor,” Orion sudah berdiri di samping Jane dan tersenyum pada Serandor.

“Frâel! Kapan kau pulang?” Tanpa sungkan ia memeluk Orion dan itu membuat Eleanord mencibir.

“O, Tuan Penasihat, senang berjumpa denganmu.” Sikap Serandor mendadak sopan di depan Eleanord, ia bahkan menyentuhkan jarinya ke bibir.

“Aku tidak senang berjumpa denganmu.” kata Eleanord ketus.

“Aaa.. Aku tahu, aku tahu, kau pasti sangat merindukanku.” Serandor pura-pura tidak mendengar Eleanord dan memeluknya erat seakan mereka memiliki hubungan yang sangat akrab. Mata Eleanord melotot, ia membeku sesaat. “Lepaskan aku Falmari,” geram Eleanord sambil menggeliat berusaha lepas dari pelukan Serandor.

Lynnëa dan Gretel melongo melihat kelakuan Eleanord dan Serandor. Jane tersenyum geli begitu pula Orion dan Cedric yang tertawa kecil.

“Kau bersama siapa Serandor?” tanya Orion ketika Serandor melepaskan pelukannya.

Serandor menyengir lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. “Bersama Tuan Putri,” Serandor menoleh ke belakang, ke arah wanita cantik berambut pirang panjang dengan gaun violet. Wanita itu melihat ke sekeliling dengan heran.

“Arwen?” ucap Orion dan Eleanord serempak.

“Ehemm…” Serandor berdeham sok penting, “Aku sekarang adalah verden pribadi Yang Mulia Putri Arwen.” Sekali lagi ia menyengir bangga.

Arwen mendekati mereka dan memberi hormat pada Jane dan Orion. “Avari sangat terhormat untuk diundang ke Valinor.”

“Kapan pun, kalian akan diterima dengan baik di sini.” Jane mendekati Arwen dan memeluknya hangat. Arwen tersenyum.

Serandor berjalan ke bawah pohon dogwood bersama Cedric dan Gretel.

“Maksud paman, paman akan melamar Tuan Putri Arwen?” tanya Orion tak percaya.

“Di atas kapal?” sambung Gretel.

“Yeah,” jawab Serandor malas, tapi jelas sekali terselip kepuasan di dalamnya.

“Kalau ia menolakmu?” tanya Gretel yakin.

Serandor mendelik pada Gretel, “Kau sama saja seperti ayahmu.” Ia mendengus, “Tidak mungkin itu terjadi, tapi…kalau itu sampai terjadi aku tetap akan membawanya berlayar sampai ke Belfalas. Dan aku akan membuatnya mau menikah denganku.” sumbar Serandor.

Cedric dan Gretel hanya bisa bertukar pandang, mengedikkan bahu, lalu menggelengkan kepala.

Di tempat lain, Orion dan Jane sedang berdiri di bawah Pohon Elvéri di tepi Aelin Rhún. Mereka sengaja memisahkan diri dari perayaan agar bisa memiliki waktu berdua bersama. Orion bisa merasakan aura kebahagiaan terpancar dari pohon tua itu. Mata Jane memandang jauh ke puncak Véongrad.

“Kau rindu ibumu?” tanya Orion.

Jane mengangguk sekali, “Ia pasti bahagia di sana, bersama Avus.”

“Bersama ayahmu.” koreksi Orion. Jane mengangguk lagi.

“Jane…”

“Iya…”

“Kau…masih memikirkan Cedric?”

“Putra kita?” tanya Jane bingung. Ia memandang wajah Orion.

Orion menggeleng, “Cedric Caladriel.”

Jane membeku, tangannya tiba-tiba gemetar. “Sesekali.” katanya jujur.

Orion tersenyum samar, “Aku pernah bertemu dengannya di sini, persis di sini.”

“Apa maksudmu? Bagaimana…”

“Saat aku mati, aku bertemu dengannya.” Orion memandang Jane, “Cedric selalu mencintaimu bahkan dalam kematiannya.”

Mata Jane berkaca-kaca.

“Kau adalah alasan mengapa ia melawan Morgoth. Agar kau bisa hidup dengan aman dan bahagia.”

Jane menghela napasnya, “Ia masa laluku.” lirihnya.

“Ia cinta pertamamu.” kata Orion.

Ia memang cinta pertamaku, tapi kau pria pertama yang telah membuat hatiku bergetar…dulu sekali, sejak pertama kali kita bertemu di bawah pohon ini. Jane menatap Orion memintanya menghentikan pembicaraan ini.

“Dan aku berjanji pada Cedric untuk menjagamu, untuk melindungi wanita yang kami cintai. Kita…akan hidup bahagia beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun, melihat Cedric memerintah Vanyar dengan bijaksana, melihatnya menikah, dan melihat cucu-cucu kita tumbuh besar.”

Jane memandang Orion dengan mata yang basah. “Kita akan hidup bahagia.” katanya setuju.

Orion menyeka air mata Jane dengan jarinya lalu menciumi kedua mata istrinya.

“Ayah…Ibu…” panggil Cedric, “Sudah kuduga kalian di sini, pesta dansa akan dimulai. Mari kembali ke Edheline.”

Jane dan Orion tersenyum penuh arti memandang putra mereka, Cedric Oberon, putra Noldor yang akan mewarisi keberanian Pangeran Noldor – Cedric Caladriel, juga kesetiaan dan ketangguhan Pejuang Noldor – Oberon.

Jane Svitkona berjalan diantara suami dan putranya menuju Edheline. Sayap valarnya tidak pernah muncul lagi selama dua puluh tahun. Jane Svitkona meminta ganti sayapnya demi bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Pria yang sejak dulu ditakdirkan menjadi verdennya – Orion Frâel.

-END-

Special Appearance

Oh Sehoon (EXO-K) as Cedric Oberon

Jung Hyeosoo as Gretel

Untuk J.R.R. Tolkien, Christian Paolini, dan J.K. Rowling,

yang membuatku berani berimajinasi

Untuk para ELF di penjuru dunia,

yang memberikan begitu banyak cinta pada Super Junior

Untuk kelima valar yang muncul dari Timur, Dong Bang Shin Ki,

yang pesonanya tak akan pernah terganti

Untuk Oberon (Han Geng),

untuk keputusannya pergi mengikuti jalannya sendiri

Untuk Cedric Caladriel (Lee Donghae),

hari dimana aku merindukanmu berkali-kali, aku semakin jatuh cinta

Untuk Orion Frâel (Cho Kyuhyun),

sejak awal kau adalah verdenku

Ú i vethed…nâ i onnad – This is not the end…it is the beginning

Mára mesta – Good bye

Kalau kalian belum membaca part sebelumnya kalian bisa membaca

On Angels Wings [Part1] disini

On Angels Wings [Part2] disini

On Angels Wings [Part3 (1)] disini

 

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

Amigo!

Main cast: Jung Hyeo Soo (Salma Ayu Fauzia), Kim Junsu (2PM)

Supported cast: Jang Wooyoung (2PM), Nichkhun Buck Horvejkul (2PM)

Genre: General, humor, little bit romance

Type: One Shot

Recommended backsound: Dance2Night – 2PM, 離れていても Hanarete Itemo (Even When We’re Apart) – Junsu

Ps: |Eonni… mana JunK oppa… :D ; Eonni, apa kabar kamseupay Junsu oppa? kkk~ ; *Nyanyi sambil Teriak2* “Gidaridaga~ Jichinda~” *Bawa2*spanduk “Rilisnya kapaaan?”XD Gud night Eonni, Hwaiting! :D | Saya berani bertaruh orang yang kirim sms-sms itu ke saya sedang dalam masa tegang tingkat tinggi karena deadline Tugas Akhirnya tinggal menghitung hari. Ayuuu!! Eonni mianhae~ akhirnya kelar juga reader request-nya Ayu (seperti biasa, meleset dari janji eonni kkk~). Kirim eonni Howler kalau ceritanya jelek ><” (Eonni lagi di Hogsmeade bareng Junho, jadi gak bisa balas sms atau update homepage, karena yang ketahuan membawa barang-barang muggle akan langsung disita oleh kementrian XD)

Ayu Hwaiting!!! ^^

 

“Laugh often, Love much, Live well…”

“Aku dulu Ang~…” Seorang gadis mendorong tubuh temannya saat akan memasuki pintu masuk sebuah kafe.

“Aku Soo~…” balas temannya tak mau kalah.

“Tapi aku yang mencapai handle pintu duluan…”

“Tidak bisaaaa…pokoknya aku duluan!”

“Kau kan cowok, harusnya mengalah dong!”

Keduanya telah membuat antrian panjang di luar kafe karena aksi saling dorong mereka. “Hei! Minggir!”, “Cepat masuk!”, “Apa yang kalian lakukan bocah?!” Teriakan mulai terdengar dari belakang keduanya.

“Minggir!” Seorang namja berpenampilan flamboyan memerintah malas, lengan kekarnya mencengkeram bahu teman si gadis. Teman gadis itu langsung mengkeret begitu melihat bisep namja yang membuat otot bahunya berkedut sakit, tanpa berani membantah dia menyingkir dan mempersilahkannya masuk.

“Yaa..! Kenapa kau memberi dia jalan sementara aku tidak?” Si gadis mendelik pada temannya.

“Heehh…” Temannya melirik namja kekar yang sudah masuk lalu kembali menatap si gadis, “Kau tidak lihat ya Hyeosoo? Badannya segede gorila, aku tidak mau kalau sampai dikuliti dan dimakan seperti pisang?” ujar temannya membela diri.

“Dasar Jang Wooyoung pengecut!” Hyeosoo menjitak kepala Wooyoung. “Percuma aku berteman denganmu dari TK.” Pada akhirnya dia berjalan masuk kafe diikuti Wooyoung yang tampak mau protes dan menatap cemberut punggung Hyeosoo.

Sudah seminggu Jung Hyeosoo dan Jang Wooyoung selalu mampir ke kafe itu, bukan karena mereka menyukai menu andalannya, sebab sejak hari pertama mereka menjadi penghuni tetap meja nomor 12 di dekat counter bar, Hyeosoo dan Wooyoung hanya memesan shakerato panda. Padahal mereka bisa duduk berjam-jam di sana, sungguh tipe pelanggang yang merugikan.

“Sekarang katakanlah! Aku sudah hampir gila seminggu duduk di sini dan hanya minum kopi panda, sementara pasta-pasta itu terus menggoda perutku.” celoteh Wooyooung sambil menggigit tusuk gigi, matanya terus mengikuti pelayan yang membawa nampan penuh pasta ke meja di seberang mereka.

“Aku sedang berusaha Ang, kau pikir ini gampang?” Hyeosoo bersandar malas pada kursinya dan mengeluarkan buku bersampul kulit warna coklat dari dalam tasnya. Membuka cepat bagian tengah halamannya dan membaca serius tulisan dengan judul Seratus Cara Mengungkapkan Isi Hati Ala Muggle, di bawahnya ditulis dengan huruf miring kurus, Oleh Lee Junho – Pengamat Muggle Korea Paling Kredibel.

“Kau masih membaca semua omong kosong yang ditulis sepupumu itu?!” Wooyoung cemberut dan menatap sebal buku itu.

“Ini bukan omong kosong Ang, Junho telah melakukan penelitian untuk semua ini, dan tulisan-tulisannya selalu menjadi pedoman dalam komunitas kami.” kata Hyeosoo yang masih serius membaca.

Lee Junho adalah sepupu Jung Hyeosoo yang sangat ajaib dalam segala hal. Dia menganggap dirinya mempunyai kemampuan sihir hanya karena memegang tongkat sihir replika yang sangat mirip dalam film Harry Potter. Dia bahkan memimpin sebuah fanbase Harry Potter ternama di Seoul, tidak tanggung-tanggung salah satu anggotanya adalah Shim Changmin, anggota boyband terkenal, DBSK. Kalau kau melihat seorang pemuda yang berjalan-jalan di sepanjang Itaewon dengan membawa sapu terbang-sapu terbangan, bisa dipastikan dia adalah Lee Junho. Padahal dia cuma mau pamer gaya di hadapan turis asing yang kebanyakan nongkrong di sana.

“Haah! Bagaimana aku yang imut ini bisa terlibat dengan orang-orang gila seperti kalian. Asal kau tahu ya, setelah aku mengikuti instruksinya saat ujian kemarin, aku malah dapat tanda ini dari Profesor Nam,” Wooyoung menyibakkan poninya dan menunjukkan bekas memar keunguan di dahinya yang masih benjol. “Sembilan-Puluh-Sembilan-Tipu-Muslihat-Mencontek-Ampuh apa? Semua tulisan sepupumu itu sampah!” Dia menarik buku Hyeosoo dan hendak merobeknya.

“Yaa! Apa yang kau lakukan?” Hyeosoo merebut kembali bukunya. “Ini benda berharga tahu? Semua informasi tentang muggle ada di sini.” Dia memeluk bukunya.

“Hei! Memangnya kau bukan muggle? Lagian muggle targetmu itu bahkan tidak tahu kalau dia disebut muggle. Ayolah Soo~, kau hanya perlu mengatakan langsung atau mengutarakannya lewat surat kalau lidahmu kelu, keseleo, terlilit atau tidak bisa berkata-kata.”

“Tepat! Itu yang dikatakan Junho dalam buku ini.” Wajah Hyeosoo langsung berseri-seri, dia memandang Wooyoung dengan kagum, “Kau punya potensi Ang, seharusnya kau bergabung dengan komunitas kami.”

No way! Lebih baik aku minum kopi panda lagi seminggu ke depan, atau… Lihat!” Mata Wooyoung menangkap pemandangan ganjil. Namja flamboyan yang tadi mencengkeram bahunya sedang membelai pipi namja lain yang tak kalah kekar, sebaliknya, namja itu – yang giginya agak tonggos –  sedang mengusap bibir si namja flamboyan dengan ibu jarinya. Mereka sangat mesra untuk ukuran pria normal, dan aneh untuk ukuran pria berotot.

“Aigoo! Lain kali tunjukkan aku pemandangan yang layak Ang!” kata Hyeosoo dengan ekspresi mual.

“Jangan-jangan mereka,” Wooyoung mendekatkan kepalanya ke Hyeosoo, menempelkan telunjuk dan jari tengahnya lalu menggerak-gerakannya, “homo…” bisiknya.

“Yaa..! Jangan ngaco, kalau mereka dengar habislah kau.” teriak Hyeosoo, dia memukul kepala Wooyoung dengan sumpit. Membuat beberapa pengunjung menatap mereka.

“Ouch! Sakit Soo!” Wooyoung menggosok-gosok kepalanya. “Kenapa sih kau suka sekali memukul kepalaku?”

“Karena kepalamu itu kosong dan bunyinya nyaring sekali.” keluh Hyeosoo.

“Ehem…mau pesan?” tanya seorang namja beralis tebal yang tahu-tahu sudah berdiri di samping meja mereka, senyum ramahnya tersungging serasi dengan wajah kalemnya.

“O..err..i..iya..kami pe..san…” Hyeosoo mendadak linglung bahkan sebelum dia menatap wajah namja itu. Suaranya telah melumpuhkan otak Hyeosoo. Dan saat akhirnya dia menatap namja itu, hanya senyum bego dan mata tahan-tak-berkedip-lima-menit yang dia tampilkan. Benar-benar mengenaskan, begitulah Jung Hyeosoo yang sudah seminggu ini dibuat tak berkutik oleh namja pemilik kafe di depannya itu. Tepatnya, Jung Hyeosoo telah terkena mantra sihir pada pandangan pertama.

“Dua cangkir shakerato panda?” tebak si namja yang tetap tersenyum.

“Yeah…seperti biasa, hanya shakerato.” Wooyoung mengorek telinganya dengan kelingking dan menguap bosan. “Tidak perlu repot-repot menawari kami pasta.” lanjutnya sambil melirik meja seberang dengan iri.

“Baik, pesanan akan segera diantar.” Namja itu menunduk sesaat lalu berbalik.

“Eng… Junsu sunbae!” kata Hyeosoo.

“Ya…” Namja itu menoleh, sedikit bingung.

“Gamsahamnida~…” Hyeosoo membungkuk terlalu bersemangat hingga nyaris menjatuhkan botol saus di meja. Ia tersenyum sangat…sangat…sangat…lebar persis seperti senyum Joker. Junsu balas tersenyum dan menunduk kemudian berjalan lagi sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.

***

Hyeosoo sudah berdiri di depan kafe milik Junsu, dia tak berhenti tersenyum dan terus melihat pada dirinya sambil bergumam, “Apa aku cantik? Apa aku cantik?” berulang kali. Ini pertama kalinya dia pergi bersama dengan namja yang disukainya, dan ini benar-benar membuatnya gugup. Hyeosoo memakai black tights setinggi 3 inchi dan mengenakan dress kuning pastel dengan model seperti dalam kisah Alice In Wonderland. Mungkin dia ingin bergaya vintage agar terlihat feminine. Kalau Wooyoung sampai melihatnya berpakaian seperti ini, Hyeosoo pasti akan ditertawakan habis-habisan.

“Sunbae, maukah kau pergi denganku ke festival beot-kkot?”

“Mwo?”

“Err, kalau kau tidak bisa…tidak apa, aku akan pergi saja dengan…”

“Kapan?”

“Ehh? Eng…lusa, kalau kau ada waktu.”

“Baiklah, apa aku harus membawa tikar, rantang makanan atau sejenisnya?”

“Ehh? Tidak, tidak perlu sunbae. Kalau begitu sampai jumpa lusa sunbae, gomapseumnida~!”

Hyeosoo tertawa kecil mengingat bagaimana akhirnya dia bisa mengajak Junsu. Tepat  di saat itu Junsu keuar dari kafenya. Dia begitu tampan dan, mungkin Hyeosoo mengalami fatamorgana, kenapa Junsu tampak begitu…colourfull?! Dia memakai sweater V-neck turquoisse dengan dalaman shirt kotak-kotak berwarna jingga-putih, pant putih, sepatu kets biru muda dan…ransel merah menyala? Dia juga mengenakan kacamata lebar tanpa kaca yang –  harus Hyeosoo akui sangat cocok dengannya.

“Kau cantik sekali.” puji Junsu yang menghampiri Hyeosoo dengan senyuman.

“Terima kasih sunbae.” Hyeosoo yakin pipinya bersemu merah karena malu.

“Bagaimana denganku, apa aku terlihat tampan?” tanya Junsu sedikit antusias.

Apa benar dia Kim Junsu? Kenapa dia terlihat seperti…pelangi? Hyeosoo menghembuskan napasnya pelan. “Kau…terlihat tam..pan…sunbae.”

Hyeosoo dan Junsu tiba di taman dekat komplek Ewha Woman University, banyak sekali orang yang datang ke daerah ini. Ini adalah minggu dalam musim semi dimana Sakura bermekaran, dan pemandangan di daerah ini adalah yang terbaik. Mengajak Junsu melihat Sakura (beot-kkot) adalah ide Wooyoung yang paling briliant yang pernah Hyeosoo tahu.

Di jalanan pohon bunga Sakura, Hyeosoo dan Junsu berjalan bersisian. Mereka mengomentari betapa cantiknya Sakura yang bermekaran. Junsu sepertinya merasa senang dengan kebersamaan mereka. Mungkin dia berpikir seperti…kencan?

Hyeosoo dan Junsu menghampiri beberapa stand kesenian dan pameran bunga, saat mereka melewati stand makanan, mata Hyeosoo tidak pernah lepas dari makanan-makanan lezat yang dijajakan.

“Apa kau lapar?” tanya Junsu.

“O…Ne,” Hyeosoo mengangguk malu. Demi persiapan untuk pergi ke festival ini, dia sampai lupa sarapan, dan sejak tadi perutnya protes minta diisi.

Junsu tersenyum simpul, “Kalau begitu ayo kita cari makan, kau suka makan apa?”

“Apa saja sunbae…”

Saat mereka makan, Hyeosoo makan dengan lahap, tapi Junsu hanya memperhatikan Hyeosoo. Dia mengamati bagaimana Hyeosoo memasukkan udang, eggroll, sushi dan salad sekaligus ke mulutnya. Junsu jadi ingat saat pertama kali Hyeosoo datang ke kafenya, dia begitu antusias menanyakan berbagai menu andalan kafenya, yang membuat Junsu harus sabar menjelaskan satu per satu, tapi pada akhirnya Hyeosoo dan temannya Wooyoung hanya memesan shakerato panda. Akhirnya, Hyeosoo pun sadar kalau Junsu memperhatikannya saat sedang makan dengan lahap. Hyeosoo jadi malu. Dia mengambil serbet makannya dan menutupi mulutnya yang menggelembung penuh makanan.

“Kau pasti sangat lapar.” kata Junsu yang mulai mengambil sushinya.

Hyeosoo tidak bisa lebih malu lagi, dia mengangguk pelan dan meminum lemon ice-nya.

“Ahjussi, bisa ambilkan kami gambar?” Junsu meminta tolong pada seorang paman ketika mereka melanjutkan melihat-lihat festival bunga Sakura. Dia memberikan polaroidnya pada paman tersebut, dan bergabung bersama Hyeosoo untuk berfoto bersama. Mereka memilih latar danau kecil yang tepiannya ditumbuhi jajaran pohon Sakura, tampak beberapa pohon mulai menggugurkan bunganya.

“Lebih dekat lagi. Anak muda, kau harus merangkul pacarmu dengan mesra. Bagaimana bisa sepasang kekasih bertingkah sekaku ini di hari yang indah?” Paman itu memberi arahan sembari mengomentari Hyeosoo dan Junsu. Lagaknya sudah seperti fotografer profesional.

“Ehh?” respon Hyeosoo, dia bingung, canggung dan malu jadi satu.

“Mianhae,” Junsu meminta izin untuk merangkul pundak Hyeosoo, dia juga terlihat salah tingkah. Namun mereka akhirnya berfoto seperti yang diinstruksikan sang paman. Meski hasilnya, wajah mereka berdua menjadi merah karena malu dan atau…senang.

Mereka kemudian pergi bersepeda dan duduk-duduk untuk istirahat di taman. Junsu bercerita mengapa dia membuka kafe. Ketika masih kecil, dia pindah ke Seoul dan ingin menjadi seorang penyanyi terkenal. Tapi orang tuanya menentangnya, mereka malah memberikan Junsu sekardus besar penuh bungkus kopi yang di dalamnya terdapat pesan, “Belajarlah dengan giat agar kau bisa masuk perguruan tinggi, jika lelah atau mengantuk minumlah kopi ini. Ayah dan ibu hanya ingin melihatmu menjadi orang sukses seperti Kang Ho Dong. Jangan coba-coba membuang seluruh kopi ini, atau kau akan kami daftarkan wajib militer tepat di hari ulang tahunmu yang ke-20.” Junsu tertawa mengenang pesan itu, saat itu usianya 14 tahun.

“Karena kebanyakan minum kopi, aku jadi ingin membagi-bagikannya pada orang lain.” kata Junsu.

“Jadi, kau membuka kafe karena waktu kecil dipaksa minum kopi?” tanya Hyeosoo tersenyum geli.

“Ya seperti itulah, beberapa orang mungkin akan membenci sesuatu yang dipaksakan kepadanya. Tapi aku justru jatuh hati pada kopi pemberian orangtuaku. Sejak itu aku jadi tertarik dan ingin mempelajari lebih banyak tentang kopi.”

“Apa membuka kafe juga cita-citamu?”

“Tidak, aku tetap ingin menjadi penyanyi atau broadcast man seperti Kang Ho Dong.” Junsu tertawa dengan pernyataannya sendiri.

“Sunbae, apa yang paling kau cintai di dunia ini?” Hyeosoo memandang Junsu serius.

“Ehh…?” Junsu sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. “Molla, aku tidak benar-benar berpikir tentang itu.” Junsu mendongak memandang bunga-bunga Sakura yang bermekaran cantik.

“Apa kau bahagia? Atau sedih karena tidak jadi penyanyi?” Hyeosoo hanya mengikuti pikirannya untuk bertanya seperti itu.

“Kau banyak tanya gadis kecil…” Junsu tersenyum dan mengacak rambut Hyeosoo.

“Sunbae, kopimu…telah membuat hidup orang lain dipenuhi dengan kehangatan.” kata Hyeosoo tulus. Junsu hanya tersenyum mendengarnya, tapi di dalam hatinya dia sungguh berterimakasih atas ucapan Hyeosoo.

Mereka memutuskan untuk pulang setelah seharian menikmati panorama musim semi yang indah. Tiba-tiba Junsu menggamit lengan Hyeosoo dan menggandengnya. Tangan satunya dimasukkannya ke dalam kantong celana, Junsu tampak begitu keren, dia melangkah santai dan menikmati momen itu. Sementara itu Hyeosoo yang pasti sangat bahagia berusaha menjaga ekspresinya agar tidak terlalu terlihat.

Ang~! Aku yakin aku terkena amigo! Kenapa jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat? Hyeosoo yang kelewat bahagia tidak melihat ada lubang kecil di jalan, sepatunya tersangkut, dan KLEK! Haq sepatunya patah, Hyeosoo terjatuh – terduduk. Junsu yang kaget langsung berjongkok memeriksa keadaan Hyeosoo.

“Gwaenchana?” Suaranya terdengar panik. Hyeosoo memejamkan matanya kuat-kuat dan meringis menahan malu. Kau memalukan Jung Hyeosoo!

***

Hyeosoo berlari-lari kecil menuju kafe milik Junsu, sore itu hujan turun rintik-rintik. Seperti biasa, kafe selalu dipenuhi pengunjung yang kebanyakan remaja, ada juga beberapa pasang orang tua yang kelewat romantis untuk menyeruput cappuccino secangkir berdua saat suasana hujan begini. Hyeosoo tampak – jomblo – karena datang ke tempat itu sendirian tanpa sahabat-seumur-hidupnya, Wooyoung. Yeah, setidaknya mulai sekarang Hyeosoo harus membiasakan diri untuk tidak sering terlihat bersama Wooyoung saat di depan Junsu. Karena, jika Hyeosoo berhasil mengungkapkan isi hatinya pada Junsu hari ini – dan berdasarkan grafik ke-percayadiri-annya yang sedang tinggi, dia yakin 98,765% akan diterima Junsu – maka Hyeosoo harus siap-siap mendepak Wooyoung dari sisinya. Hyeosoo menggosok-gosok telapak tangannya yang kedinginan lalu menempelkannya ke pipi.

“Kau tahu? Pemilik kafe ini sudah pergi.”

“Maksudmu, kafe ini ganti pemilik? Dia dililit utang atau apa?”

“Bukan begitu, kata teman eonniku, dia pindah ke luar negeri.”

“Luar negeri? Ah…sayang sekali, padahal oppa itu ganteng.”

Hyeosoo sedang berjalan menuju meja nomor 12, saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan dua remaja dengan pakaian tabrak lari. Hyeosoo duduk dengan ekspresi antara tidak percaya dan sedih.

“Eotteoke?” gumam Hyeosoo sedih, “ Mengapa dia harus pergi? Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku.” Setetes airmata jatuh di sudut matanya.

“Maaf, apa kau yang bernama nona Jung Hyeosoo?” tanya seorang pelayan pada Hyeosoo.

“Ya,” Hyeosoo menyeka matanya.

“Ini, ada titipan dari bos kami. Mohon diterima.” Pelayan itu menyerahkan sebuah amplop biru yang masih disegel.

Bos? Apa ini dari sunbae? Hyeosoo merobek amplopnya dan membuka lipatan surat yang terdapat di dalamnya, tulisannya rapi, bahkan kertasnya menguarkan aroma kopi yang sangat wangi. Hyeosoo mulai membaca.


Wajah Hyeosoo basah oleh airmata, “Sunbae…” dia terisak, Hyeosoo mendekap surat itu ke dadanya. Dia menangis sesenggukan. Masih ada kertas lain di dalam amplop, Hyeosoo mengambilnya, itu sebuah foto, potret seorang Junsu yang tengah merangkul dirinya saat festival Sakura. Senyum mereka tampak canggung, tapi terpancar kebahagiaan di sana. Di belakangnya tertulis, “Datang ke festival bunga Sakura dengan gadis cantik, Jung Hyeosoo…♥”

***

-Satu bulan kemudian-

“Permisi, dimana aku bisa menemukan gedung Jurusan Musik?” seorang pemuda menanyai Hyeosoo dan Wooyoung yang sedang bolos dari mata kuliahnya, mereka terlihat saling bersandar punggung di bawah pohon akasia di dekat lapangan bola.

“Jurusan Musik ya di Fakultas Kesenian, ngapain kau bertanya di Fakultas Teknik. Lihat saja sana, di peta kampus di depan Dekanat.” Wooyoung yang malas memalingkan wajahnya menunjuk ke arah barat, ke sebuah gedung besar.

“Iya…mengganggu orang saja, kau ini mahasiswa ba…ru…ya?” Hyeosoo yang jengkel karena waktu santainya diganggu akhirnya berdiri dan menatap si penanya. Dia terpesona dan ternganga, karena pemuda itu benar-benar seperti seorang pangeran.

“Maksudku, kalau kau mahasiswa baru kami bisa menunjukkanmu arah. Hehee…” Hyeosoo langsung merapikan penampilannya dan bersikap manis di depan pemuda itu. Dia melirik map transparan yang dibawa si pemuda.

“Kau sepertinya bukan orang Korea?” tanya Hyeosoo.

“Ya, aku ikut program pertukaran pelajar, aku dari Thailand.”

“Oh, begitu…tapi bahasa Koreamu lancar sekali.”

“Gamsahamnida… Aku belajar keras untuk itu.” Si pemuda tersenyum berterimakasih atas pujian Hyeosoo.

“Kau operasi plastik ya?” Wooyoung yang sudah berdiri tiba-tiba menusuk-nusuk pipi pemuda itu penasaran. “Kenapa kau cantik sekali?”

“Ehh?” pemuda itu bingung dan meraba wajahnya.

“Ahahaa…jangan dengarkan temanku. Dia sedikit…” Hyeosoo membuat tanda silang di keningnya.

“Siapa yang gila Jung Hyeosoo?!” bentak Wooyoung kesal.

Hyeosoo menginjak kaki Wooyoung dan tetap berusaha manis dan tersenyum pada pemuda itu.

“Eh, Kau bertanya letak Jurusan Musik kan? Itu…dari sini kau ikuti jalan itu lalu belok kanan, nanti kau akan menemukan pertigaan. Selanjutnya kau harus belok kiri – jalan yang ada sclupture Yi Sun Shin, err…seorang panglima yang membawa pedang.” Hyeosoo menggambarkan bentuk patung tersebut di udara dengan gerakan tangannya. “ Sesudah itu kau jalan sejauh 500 meter nanti kau akan melihat plang arah menuju Jurusan Musik, tidak jauh dari sana kok.” Hyeosoo tersenyum mengakhiri penjelasannya.

Untung pemuda itu cepat tangkap, dia mengulangi penjelasan Hyeosoo dan di’iya’kan dengan senyum oleh Hyeosoo.

“Kalau kakimu takut patah berjalan sejauh itu…kau bisa menyewa sepeda di penyewaan di dekat halaman parkir di sana itu.” sambung Wooyoung yang sepertinya tidak mau dianggap gila oleh mahasiswa asing gara-gara Hyeosoo.

“Ne, gamsahamnida…” Pemuda itu membungkuk berterimakasih, tersenyum dan berjalan pergi.

“Cubit aku Ang~! Apa kita baru saja ngobrol dengan pangeran?” mulut Hyeosoo menganga, matanya tak berkedip memandang kepergian pemuda itu.

“Arrgghh!” Hyeosoo mengerang kesakitan karena pipinya dicubit keras oleh Wooyoung. “Jangan keras-keras bodoh!” Hyeosoo memukul lengan Wooyoung.

“Kan kau yang suruh…” bela Wooyoung, pipinya menggelembung dan bibirnya monyong karena kesal.

“Kau dengar kan? Dia mahasiswa baru! Kau lihat formulir pendaftarannya tidak? Namanya susah dieja..Nich..Nichkhun apa gitu.” Hyeosoo mengabaikan kekesalan sahabatnya, “Apa kau punya teman di Jurusan Musik?” tanya Hyeosoo semangat.

“Jo Kwon…” jawab Wooyoung bingung.

“Kalau begitu, mulai sekarang kita akan main ke Jurusan Musik. Kurasa aku telah menemukan kembali penyemangat hidupku.” oceh Hyeosoo.

“Ngapain kita main ke sana?” tanya Wooyoung masih bingung.

“Yaa!!” Hyeosoo meneplak kepala Wooyoung, “Kapan sih kau pintarnya? Tentu saja aku harus berkenalan dengan si Nichkhun Nichkhun itu!” jelas Hyeosoo.

“Aigoo! Kau tidak boleh amigo lagi Soo~, karena itu kan merepotkanku…” keluh Wooyoung.

-End-

A/N

Amigo adalah singkatan dari: Areumdaun Minyeorueljoahamyeon Gosaenghanda (Hati Jadi Sakit Ketika Kamu Jatuh Cinta Dengan Si Tampan).

벚꽃 [beot-kkot]: Bunga Sakura (Cherry Blossoms). Bunga Sakura hanya mekar selama seminggu di musim semi lalu gugur di jalanan seperti permadani merah jambu.

Shakerato: kopi yang dibuat es dan dicampur di shaker, di atasnya nanti ditambahkan krem.

Nb: Gagal buat Junsu kampungan -__- [Junsu sunbae, naneun Han Taera imnida... *wink* Lol XD #digorokChansung]

Main casts: Seo Jiae, Cho Kyuhyun, Song Joongki

Genre: General, humor, little bit romance

Recommended backsound: Don’t Touch My Girl – Boyfriend

 “I Hate 3C… Cho Kyuhyun, Christiano Ronaldo, Cat”

***

Apa yang kau impikan dari sebuah ciuman pertama? Kalau kau gadis dengan fairy tale-dream seperti aku, tentu kau akan berharap dicium oleh seorang pangeran charming berkuda putih – dengan kedipan mata paling menggoda –  saat usiamu menginjak tujuh belas tahun, oke…usiaku hampir dua puluh dua tahun sih. Dan aku…well, tolong jangan sebut itu sebuah ciuman!

Menjengkelkan jika mengingat insiden pendaratan gagalku tempo hari. Gara-gara itu aku harus minta resep dokter untuk mensterilkan bibirku. Aku juga jadi salah tingkah kalau berpapasan dengannya, aku bahkan pernah sampai mencium tembok hanya untuk menghindari bertatapan dengannya, menghindari bertatapan dengan…bibirnya. Aarrgh! Aku bisa jadi gila kalau mengingat kejadian memalukan itu. Aku benci Cho Kyuhyun! Aku benci iblis gila itu!

===

@Hwayoungie: @Hyorin102 semoga gosip @GaemGyu oppa yang jalan di Gwanghwamun Square bareng si leader kaki lentur itu bohong. Aku bete mendengarnya.

(˘̩̩̩_˘̩ƪ) lagi-lagi ngomongin dia, kalau kau saja bete, aku sudah mau operasi usus buntu mendengar nama setan itu RT @Hwayoungie: @Hyorin102 semoga gosip @GaemGyu oppa yang jalan di Gwanghwamun [t.co]

@Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou berhenti menyebutnya setan jiae! sudah sana, kerjakan saja gambarmu!

Faktanya dia memang setan, dan kau lebih cerewet dari Prof. Jung, aku lagi buntu ide nih RT @Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou berhenti menyebutnya setan jiae! sudah sana, kerjakan saja gambarmu!

@Hwayoungie: aku dan @Hyorin102 sedang tidak ingin mendengar curhatmu @jiaeou !!!

Siapa yang curhat? Aku hanya sedang mencari ide RT @Hwayoungie: aku dan @Hyorin102 sedang tidak ingin mendengar curhatmu @jiaeou !!!

@Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou kau pikir twitter bank ide? MENGHILANGLAH! cari sana di kitab DK Chingmu!

KAU PIKIR AKU HANTU!!! RT @Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou kau pikir twitter bank ide? MENGHILANGLAH! cari sana di kitab DK Chingmu!

@Hwayoungie: sudahlah @Hyorin102 tidak usah hiraukan @jiaeou , jadi apa benar kalau gosip itu menghebohkan sparkyu? @GaemGyu oppa kau tidak boleh dengan cewek itu.

HAHAHAHA RT @Hwayoungie: sudahlah @Hyorin102 tidak usah hiraukan @jiaeou , jadi apa benar kalau gosip itu menghebohkan sparkyu? @GaemGyu oppa kau tidak boleh dengan cewek itu.

@Hyorin102: @Hwayoungie kurasa @GaemGyu oppa hanya menumpang mobil victoria ke gwanghwamun, karena kudengar mobilnya dirusak cewek gila yang ikut tawuran. kabar ini sudah lama sih.

@Hwayoungie: serius kau @Hyorin102 ?? Pasti cewek itu sakit jiwa deh. Apa dia AF?

@Hyorin102: @Hwayoungie sepertinya bukan, karena menurut kabar dia hanya salah lempar batu, kau tahu? sparkyu paran bilang cewek itu anak sungkyunkwan.

Cool! Yang jelas cewek itu pasti keren XD RT @Hwayoungie: serius kau @Hyorin102 ?? Pasti cewek itu sakit jiwa deh. Apa dia AF?

@Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou cewek gila itu dan jiae bisa jadi ancaman @GaemGyu oppa. Kau kenal dia kan jiae?

Kalau kubilang kenal apa kau mau meminta tandatangannya #Lol RT @Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou cewek gila itu dan jiae bisa jadi ancaman @GaemGyu oppa. Kau kenal dia kan jiae?

@Hwayoungie: @Hyorin102 kita harus cari tahu dia di jurusan apa, hei @jiaeou keren jidatmu!

@Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou jangan sampai kau menjadi musuh kami kalau benar2 mengenal cewek itu.

My enemy is CHO KYUHUN!!! Hahaha sudah ya, aku mau boker nih siapa tahu dapat ide XD RT @Hyorin102: @Hwayoungie @jiaeou jangan sampai kau menjadi musuh kami kalau benar2 mengenal [t.co]

===

Sudah nongkrong hampir satu jam, tapi tetap tidak ada ide yang melintas di kepalaku. Aku harus mencari metode lain untuk mendapatkan ide – mungkin dengan berdiri terbalik – karena deadline tugasku kurang dari dua minggu lagi. Untungnya sudah seminggu ini si Lucifer itu tidak ada di rumah, jadi aku tidak perlu tertekan di bawah intimidasinya. Yeah, setidaknya meski ide tidak muncul tapi aku masih bisa bernapas lega bahkan kentut dengan leluasa. Dan yang terpenting, aku terhindar dari penampakannya di sekelilingku yang membuat canggung.

Ngomong-ngomong soal twitter tadi, kalau Hwayoung dan Hyorin sampai tahu aku pelaku pengrusakan mobil Cho Kyuhyun, habislah aku. Dan nyawaku bisa dalam bahaya kalau mereka tahu jika selama ini aku tinggal bersama idolanya.

Aku keluar kamar mandi dengan perasaan tidak enak, bukan karena masih menyisakan amunisi di dalam perutku, tapi…kenapa auranya mendadak panas ya? Dengan langkah malas aku berjalan ke dapur mengambil air minum di kulkas lalu melangkah ke ruang keluarga. Deg!!! Jantungku mencelos saat melihat iblis berkaos hitam yang masih menggendong ranselnya, duduk diam sambil memandang layar notebook-ku. Dia tidak mungkin sedang main starcraft kan? Karena di notebook-ku sama sekali tidak ada gamenya. Kalau begitu, wajah sok seriusnya itu…

“Ka..kau..sudah pu..lang..boss..?” tanyaku lemas.

Kyuhyun tidak menghiraukanku, matanya masih fokus menatap layar notebook-ku. Suasana jadi sedikit mencekam. Apa dia membaca timeline-ku? Dengan takut-takut aku berjalan mendekatinya, meremas ujung kaosku dengan gelisah dan melirik notebook-ku. Perutku mendadak mulas lagi, Cho Kyuhyun ternyata sedang membaca profil twitterku, I Hate 3C… Cho Kyuhyun, Christiano Ronaldo, Cat. Tidak masalah jika orang lain membaca bio-ku, tapi kalau yang membaca adalah salah satu dari 3C, itu sama saja malapetaka, maksudku 2C, karena kucing tidak dihitung. Kyuhyun menarik sudut bibir kanannya, menyeringai dan menutup begitu saja notebook-ku.

“Jadi, kau pikir dirimu keren?” Tatapan mautnya praktis menghambat peredaran darahku. Tamatlah riwayatku, dia pasti sudah membaca semuanya.

“Itu…aku…” Karena lemas, kakiku tidak mau diajak kompromi, aku pun jatuh berlutut di depannya. Kedua tanganku menopang tubuhku yang membungkuk. “Maaf…bos, aku hanya…” Aku mendongak, menatapnya pasrah. Seo Jiae bodoh! Kenapa mesti berlutut?! Kenapa kau tidak membela diri?!

Kyuhyun berdiri lalu menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan tersenyum sadis, “Kau hanya…musuhku.” DEZZUUUUNNG!! Apa rudal militer Korea Utara baru saja berdesing dekat telingaku? Cho Kyuhyun, ia…barusan…menyatakan deklarasi perangnya meski secara tersirat. Aku hanya bisa menelan ludah. Hidupku tidak aman lagi. Bagaimana pun, pada akhirnya aku harus menghadapi musuhku.

“Hoaaamm…” ia menguap lebar, menggeliat sambil merentangkan tangannya dan memutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri. “Aku lapar cumi, buatkan aku ramen!” Ia menekan kepalaku lalu beranjak ke kamarnya. Menganggap seolah apa yang dikatakannya tadi hanya gurauan. Aku seperti merasakan angin pemakaman yang membuat merinding.

***

“Tumben kau langsung pulang, biasanya patroli dulu ke Jurusan Ekonomi?” cibir Hwayoung.

“Hari ini senior Joongki tidak ada kelas. Aku sudah cek jadwalnya.” jawabku santai sambil mengemut lolipop.

“Jadwal senior Joongki kau hapal, jadwal pengumpulan tugasmu sendiri lupa. Ckckck dasar otak setengah!” Hwayoung mulai dengan kebiasaan menjengkelkannya, menguliahiku.

“Ada apa sih kok banyak cewek berkumpul di depan gedung teknik?” Hyorin memotong dan menunjuk pada kumpulan cewek yang berkerumun.

“Paling-paling persiapan untuk demo BBM…” sahutku asal, “Ah…kalau dibayar dan dapat jatah makan siang aku mau deh ikut, sayang Senat kita kere.” Aku merangkul Hwayoung dan meminta paksa kentang gorengnya.

Hwayoung memukul lenganku dan berteriak, “Yaa!! Beli sendiri dong! Lagian sejak kapan cewek-cewek itu meneriakkan nama Cho Kyuhyun untuk menurunkan BBM…”

“CHO KYUHYUUUUN ?!!!” pekik Hwayoung dan Hyorin serempak, mereka saling pandang, dan tanpa aba-aba segera berlari secepat kilat bergabung dengan kerumunan.

Dasar cewek, otak mereka benar-benar sudah terkontaminasi oleh setan jelek itu. Untuk apa Cho Kyuhyun ke Sungkyunkwan? Cho Kyuhyun?! Ke sini?! Tubuhku terpaku. Ada yang salah dengan situasi ini. Mendadak aku membayangkan Cho Kyuhyun berdemo di depan kampusku sambil berteriak, Seo Jiae adalah musuhku!!! Dia yang telah merusak mobilku!!! Bawa dia ke hadapanku, biar aku bisa memberinya pelajaran!! Aku memejamkan mata dan menggeleng kuat-kuat, lalu menatap takut pada kerumunan cewek yang berteriak semakin histeris.

Karena ingin membuktikan sendiri apakah benar itu dia, aku pun mencari celah di antara kerumunan sambil berjinjit. Aku terpaku saat melihat musuhku berdiri sok keren di samping mobil audi putih – pasti bukan mobilnya – dengan kacamata hitam dan hoodie yang menutupi kepalanya. Matanya seperti mencari-cari sesuatu, tanpa memedulikan teriakan histeris cewek-cewek yang – aku berani bertaruh – mendadak menjadi sparkyu. Pandangan kami bertemu dan ia tersenyum puas saat melihatku. Apa dia mencariku? Instingku mengatakan, aku harus segera melarikan diri sebelum dia benar-benar membantaiku di depan teman-temanku.

Baru beberapa langkah aku mencoba untuk kabur, tapi dia berteriak, “Seo Jiae-ssi?!” Aku berhenti melangkah, dunia berhenti berputar, cewek-cewek berhenti berteriak, harga BBM tidak jadi naik.

Kejadiannya cepat sekali ketika ia menarik paksa tanganku dan mendorong kepalaku masuk ke dalam mobil. Telingaku berdengung mendengar teriakan protes, tidak setuju, dan kemarahan cewek-cewek di sekitar kami. Aku bahkan tidak berani melihat Hwayoung dan Hyorin yang pasti sangat bingung bercampur marah.

Dengan perasaan cemas aku bertanya, “Kita mau kemana bos?”

“Neraka.” jawabnya enteng.

***

“AAARRRGGHHHHH!!!! AAARRRGGHHHHHHH!!!! EOMMAAAA!!!! TOLOOOONNGG!!!! EOMMAAA!!!! EOMMAAA!!!! TIDAAAAAAAAAKKKK!!!! AAARRRGGHHHHHHHHH!!!! AMPUN BOOOOSS!!!!!!” Seluruh tubuhku gemetar ketakutan, dunia terasa jungkir balik. Setan itu tidak bercanda ketika akan mengajakku ke ‘neraka’, meski ‘neraka’nya dalam versi theme park dan mesin penyiksanya adalah rollercoaster. Aku paling takut naik rollercoaster karena aku pernah punya trauma masa kecil. Ceritanya, anak perempuan bibi tetanggaku yang cantik meninggal gara-gara naik rollercoaster, semenjak itu mindsetku mengatakan, wanita cantik tidak cocok dengan rollercoaster, aku kan tergolong cantik meski tidak secantik anak perempuan bibi tetanggaku.

Di sampingku, setan brengsek ini malah tertawa dan menikmati – entah sensasi rollercoasternya atau jeritan ketakutanku. Yang jelas ia tidak mau repot-repot menenangkan aku yang sudah berkeringat dingin, menangis dan hampir mati ketakutan.

Aku…akan…mencekiknya…ketika turun…dari sini…

“Asyik kan? Kita coba yang lain…” kata Kyuhyun ketika kami sudah turun dari rollercoaster.

“Tidak mau…” kataku lemah, “Bos, aku menyerah…” Aku menutup mulutku yang rasanya ingin muntah.

Kyuhyun merangkul leherku dan berbisik seram di telingaku, “Siapa bilang kau boleh menyerah, permainan bahkan belum dimulai.” Glek! Apa ia ingin balas dendam?

Lucifer jelek itu menyeretku untuk naik wahana kora-kora. Menyebalkan! Kenapa semua permainan yang ia pilih adalah yang paling aku benci? Walau terpaksa, aku akhirnya naik juga. Kalau ia tidak mengancamku untuk memberitahu orangtuaku soal pengrusakan mobilnya, aku pasti sudah kabur dari neraka ini. Aku berusaha memikirkan senior Joongki untuk mengurangi rasa mualku, tapi percuma, aku toh tetap ingin muntah. Akhirnya aku hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat dan menutup rapat mulutku, tidak berteriak.

Ingin sekali aku menjitak kepala setan ini karena sudah mengerjaiku. Aku benar-benar kesal. Kekesalanku semakin menjadi saat melihat dirinya yang berteriak kegirangan saat kora-kora berayun semakin lama semakin kencang dan tinggi. Aku heran bagaimana mungkin orang mau membayar untuk mengalami siksaan seperti ini, buang-buang uang saja.

“Lumayan…” komentarnya saat selesai. “Hebat juga kau, bisa tidak berteriak seperti itu.” Setan itu menunjuk wajahku yang sudah pucat keunguan seperti goguma. “Kalau begitu, selanjutnya yang itu!” katanya sambil menunjuk wahana siksaan lainnya – tornado.

“AAARRRGGHHHHH!!! AAAAAAARRRGGGGHHH!!! EOMMAAAAAA!!! HUEEEEEKKK!!” Hebat! Aku berhenti berteriak, rasanya semuanya plong. Lebih hebatnya lagi…aku muntah di jeansnya Cho Kyuhyun.

Giliran Cho Kyuhyun yang berteriak histeris, “AAARRGGGHHHHH!!! APA YANG KAU LAKUKAN CUMI?!!!” Aku seperti melihat api dalam matanya. Alarm tanda bahaya dalam kepalaku langsung berdengung keras.

Di kehidupan sebelumnya, ia pasti seorang pembunuh berdarah dingin, karena, Cho Kyuhyun mencekikku – mencekik seorang wanita, ia bahkan mengguncang-guncang kepalaku dengan kuat. “Berani-beraninya kau…” – ”HUEEEKK!” Ia tidak jadi menyelesaikan kata-katanya karena aku sudah muntah lagi, kali ini di hoodienya. Siapa suruh mengguncang-guncang aku? Antara takut dan geli, aku yakin melihat wajahnya yang berubah warna dari putih ke indigo ke merah padam. Sekuat tenaga aku menahan mulutku agar tidak tertawa.

“Bagaimana bisa kau muntah di tubuhku cumiiii!!!” omelnya. Kami sudah turun dari tornado yang – harus kuakui, sangat keren, karena bisa membuat isi perutku tumpah ke tubuh Cho Kyuhyun.

“Benar! Itu Cho Kyuhyun oppa!” teriak seorang gadis.

“Iyaa! Mana ponselmu, cepat ambil fotonya! Ambil fotonya!” teriak temannya tak sabar.

Dalam hitungan detik kami sudah jadi bahan tontonan, rasanya seperti badut. Cho Kyuhyun tampak gelisah, ia menutupi kepalanya dengan hoodienya dan menutup wajah dengan satu tangannya.

“Ayo lari!” gumamnya. Kyuhyun menarik tanganku dan berlari menerobos kerumunan. Kontan saja itu membuat para penggemarnya histeris dan ikut berlari mengejar kami.

Aroma tubuhnya yang…bagaimana aku menyebutnya ya? Oke, tidak sedap. Ah aku tidak menyangka produksi lambungku bisa sebau itu. Aku menutup hidungku dan membuang muka ke arah lain.

“Kenapa begitu?” tanyanya ketus.

“Ap..paa?” tanyaku ngos-ngosan.

“Itu, menutup hidung dan mulutmu. Apa karena ini?” Ia mendekatkan pakaian bernodanya padaku.

“Tidaakk!” kataku spontan, “Tolong jangan dekat-dekat bos!”

“Salah siapa aku jadi begini?!” teriaknya jengkel. Di saat berlari pun kami masih sempat bertengkar, kalau ada award untuk couple of enemy, mungkin kami akan menang.

Kami terus berlari entah kemana, sampai akhirnya Kyuhyun membuka pintu dan kami bersembunyi di dalam…toilet pria?!!!!!

***

“Turun!” Kyuhyun menepikan mobilnya dan menyuruhku keluar.

“Tapi, kita kan belum sampai rumah bos.” kataku bingung.

“Siapa bilang aku akan pulang, kau turun dan pulanglah naik taksi.”

Apa?! Dasar iblis! Dimana etikanya sehingga tega menurunkan wanita di tengah jalan? Jadi ini caranya membalas dendam gara-gara aku muntah di pakaiannya. Oke, turun ya turun, apa susahnya pulang sendiri, tapi…

“Tunggu apa? Keluar!” ia melotot memasang tampang galak.

“Iya, iya, aku keluar, tapi bos…” Aku melepaskan seat belt sambil menatapnya, berharap ia melunak dan kasihan padaku.

“Cepat! Aku sudah terlambat menjemput Victoria.”

Aku pun keluar dan sengaja membanting pintu mobil kuat-kuat. Sedetik kemudian, ia melaju begitu saja. Karena kesal aku berteriak memakinya. “Yaa!! Setan brengsek! Setidaknya kau memberiku ongkos untuk naik bus! Dasar Lucifer jelek! Pelit! Kyaaa….!!! Awas kau Cho Kyuhyun!!” Kakiku menjejak-jejak tanah saking jengkelnya. Aku terengah, benar-benar membuang energi saat memakinya. Lalu sekarang dimana aku? Bagaimana caraku pulang kalau dompetku saja kering?

Terseok-seok aku berjalan di sepanjang pedestrian. Cuaca benar-benar dingin. Bodohnya, aku melupakan syal serta sarung tangan yang kutinggalkan di loker kelas. Bisa kulihat napasku yang menguap saat hidung dan mulutku menghembuskan udara. Mengapa nasibmu bisa sesial ini Seo Jiae?

“Kriiing~ kriiing~…” Sebuah sepeda berjalan bersisian denganku, pengemudinya berhenti dan memanggilku. “Hei, nona sakit jiwa?” Suara itu? Aku menoleh cepat, terlalu cepat hingga leherku nyaris putus.

“Senior!” kataku kaget.

“Ternyata benar kau, ngapain malam-malam berjalan sendirian?” Ia menatapku aneh.

“A..ku..mau ke halte.” Aku menyisir rambutku dengan jari cepat-cepat dan membetulkan topi rajutku. “Err…senior jangan panggil aku sakit jiwa dong, namaku Seo Jiae.” Aku menunduk malu. Siapa yang mau disebut sakit jiwa oleh orang yang kau sukai? Kuharap image sakit jiwa ini segera hilang begitu senior Song Joongki tahu namaku.

“Hahaha…” ia tertawa renyah, “Maaf, habisnya kita selalu bertemu saat kau…” senior Joongki tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia mengganti topik, “Ah…ya, Seo Jiae, kau anak arsitek kan?”

“Ehh? Yeah…” jawabku gugup.

“Kau dan tabung gambarmu itu sangat mencolok ketika berjalan di koridor Jurusan Ekonomi Bisnis.” katanya kalem.

Tampar aku! Setidaknya jangan biarkan mulutku menganga bego. Senior Joongki kok tahu kalau aku suka mampir ke Jurusan Ekonomi Bisnis. Hancur sudah reputasiku sebagai penguntit.

“Aku sering melihatmu, tapi…apa yang kau lakukan di sana?”

“Ehh…itu…aku…hanya mencari inspirasi senior…” Aku menampilkan cengiran kuda idiot dengan sukses. Kenapa aku tidak bisa menampilkan image cewek kalem yang anggun sih?

“O… sepertinya inspirasimu ada di Jurusan Ekonomi ya?” Bibirnya tersenyum manis.

Itu kau senior… Aku kehabisan energi dan hanya bisa mengangguk lemah. Semoga dia tidak curiga kalau alasanku ke Jurusan Ekonomi Bisnis adalah karena dirinya.

“Kruuukk~” Udara yang begitu dingin membuat perutku jadi lapar, dengan refleks aku pun memegangi perutku yang sudah keroncongan.

Senior Song Joongki tersenyum melihat sikapku. “Kau lapar?”

Aku mengangguk enggan.

“Ayo cari makan!”

“Tapi aku…tidak punya uang…” kataku pelan.

“Aku yang traktir. Ayo naik, tidak masalah kan kalau naik sepeda?” Ia memberi isyarat padaku supaya duduk di belakangnya. Kalau ini mimpi, please jangan bangunkan aku! Dan kau Cho Kyuhyun, jangan coba-coba membuyarkan mimpi indahku lagi! Aku, dibonceng, senior Joongki. Aku butuh masker untuk menutupi pipiku yang memerah. Aargghh!! Aku bahagiaaa!

***

Tidak ada yang absolut dalam arsitektur. Tidak ada satu cara atau gaya yang terbaik, atau landasan hakiki di mana seluruh arsitektur harus berkembang. Gaya klasik, tradisional, modern dan lainnya mempunyai posisi dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Aku sedang menelaah prinsip dasar ber-dekonstruksi yang diterangkan Profesor Jung tadi, saat seseorang menggebrak mejaku dengan kasar.

“Yaa! Seo Jiae! Apa yang kau lakukan dengan Cho Kyuhyun kemarin?” bentak Hwayoung.

“Kenapa dia bisa mengenalmu?!” sembur Hyorin.

“Apa hubunganmu dengannya?!!” teriak Hwayoung dan Hyorin nyaris serempak.

Satu lagi yang perlu kutelaah, kemarahan fangirl. Tidak ada yang boleh dekat, terlihat dekat, atau mendekati idola mereka. Atau kau akan berakhir dengan ancaman dan caci maki. Karena tidak bereaksi, aku diseret keluar kelas oleh mereka.

Hwayoung mendorong tubuhku ke pintu loker, Hyorin mencengkeram lengan atasku dengan kasar. Mereka benar-benar marah atas kejadian kemarin. Aku sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi, tapi aku tidak pernah membayangkan kemarahan mereka bakal semenakutkan ini hanya gara-gara seorang setan bernama Cho Kyuhyun.

“Kau belum menjawab kami Jiae! Apa hubunganmu dengan Kyuhyun oppa?” tuntut Hyorin. Hidungnya kembang kempis dan bibirnya tampak berkedut menahan kesal.

“Musuh…” jawabku spontan, “Bisa tidak, kau melepaskan aku…sakit tahu…” Aku mencoba berontak.

“Kami serius Jiae!” bentak Hwayoung, bulu mata palsunya sudah miring sebelah.

“Aku dua rius Youngie!” Aku membuat tanda V dengan jariku.

“Kenapa dia bisa mengenalmu?” tanya Hyorin lagi.

“Traktir aku makan siang dulu, nanti baru kujelaskan semuanya.” Aku memegang perut yang mulai bernyanyi.

Hwayoung dan Hyorin mendelik sebal padaku, saling bertatapan sesaat lalu mengangguk satu sama lain, pertanda sepakat dengan penawaranku.

“Apa?!! Jadi kau yang merusak mobil Kyuhyun oppa!” pekik Hwayoung sambil menggebrak meja, membuat sendok dan sumpitnya jatuh dan mangkok-mangkok bergetar. Di sebelahnya, Hyorin menutup mulutnya dengan mata terbelalak.

“Yeah, begitulah…” kataku malas.

“Dan kau,” Hyorin mengambil napas banyak-banyak sebelum melanjutkan kalimatnya, “tinggal bersama Kyuhyun oppa sebagai pembantunya?” Setelah menyelesaikan kalimatnya Hyorin memijat-mijat tengkuknya. “Aigoo! Aigoo! Ini tidak mungkin, tidak masuk akal” lanjut Hyorin.

Sementara itu Hwayoung menatapku cemberut sambil bersedekap.

“Percayalah, ini bukan kemauanku. Setan itu…”

“Jangan panggil dia setan Jiae!” bentak Hyorin.

Aku mengorek telinga saking tulinya mendengar Hyorin berteriak terus-menerus. “Oke! Aku tidak mau berkomentar lagi, terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi…boleh aku minta jus apel segelas lagi? Tenggorokanku kering…” Aku mengerjapkan mata berkali-kali untuk merayu mereka.

“TIDAAAAK!!!” teriak mereka.

***

Aku mencoret tanggal di note-calendarku, sudah 97 hari aku tinggal bersama Cho Kyuhyun, itu artinya tiga hari lagi tepat 100 hari aku menjadi budak si Lucifer, ahh…rasanya sudah seperti 100 abad dalam neraka. Tapi di antara 100 abad penyiksaan itu, aku juga masih bisa mencium wangi surga. Maksudku, hubunganku dengan senior Joongki menjadi semakin akrab sejak kami – aku maksudku, memutuskan untuk sering pura-pura tidak sengaja menemuinya di atap Global Zone. Saat di atap, kami banyak berbagi cerita – kebanyakan tentang kuliah yang membosankan dan menyiksa. Yang bikin aku dongkol, waktu senior Joongki cerita kalau ciuman pertamanya adalah saat SMP, di sebuah halte bus, sepulang les jam 11 malam. Tapi itu tidak mengurangi rasa sukaku padanya, yang menjadi masalah, aku justru sebal dengan cewek yang sudah merebut ciuman pertama senior Joongki, seharusnya itu milikku! Senior Joongki juga cerita kalau rahasia kulit-putih-mulus-bersinarnya itu adalah karena ia tidak merokok. Senior Song Joongki benar-benar tipe cowok idealku. Tidak percuma aku mengejarnya sampai Sungkyunkwan.

“Mau pulang bersama?” ajak senior Joongki saat kami bertemu di depan kafeteria kampus.

“Bo..boleh..senior,” kataku pura-pura gugup. Aku tersenyum manis di depannya.

Berhubung rumahnya dan apartemenku, err…apartemen Cho Kyuhyun maksudku, searah, jadi ia menawariku pulang bersama. Akhirnya…aku bisa duduk bersebelahan di bus dengan senior Joongki.

“Kau sudah lama tinggal di sana?” tanya senior Joongki. Ia tahu kalau aku tinggal di apartemen mewah saat ia mengantarku pulang tempo hari, waktu aku dicampakkan Lucifer brengsek itu di pinggir jalan. Tapi ia tidak tahu kalau aku tinggal bersama monster jelek Cho Kyuhyun. Kuharap ia tidak akan pernah tahu.

“Ehh? Err…yeah, hampir 100 hari.” jawabku jujur.

“Pasti enak tinggal di apartemen mewah seperti itu, kudengar banyak artis yang tinggal di sana.” katanya.

“Aku malah ingin keluar dari sana secepatnya.” ujarku pelan.

“Ehh?”

“Ah…tidak, bukan apa-apa senior.”

“Kita sampai, ayo turun!” Senior Joongki menunjuk halte di depan.

Kami turun di halte dekat apartemen. Sudah hampir pukul 9 malam. Udaranya dingin, tapi aku merasa hangat karena berada di dekat senior Joongki. Rasanya ini seperti kencan sehabis pulang kuliah. Pipiku pasti sudah bersemu merah karena malu. Seandainya eomma tahu kalau aku diantar cowok keren pulang ke rumah, ia pasti akan menawari senior Joongki makan malam. Seleraku dan eomma kan sama, kami sama-sama suka cowok senyum-menawan-berkilau.

“Kau sering main di taman di sana itu ya?” tanya senior Joongki membuyarkan lamunanku.

“Eh…kadang-kadang, kalau di rumah sedang ada tamu, biasanya aku diusir, hehehee…” Aku menggaruk dagu dan menyengir. Benar kan? Kalau evil tengil itu sedang kedatangan si cewek China atau teman-teman – apa yang disebut Hwayoung sebagai Kyuline, pasti aku disuruh menghilang. Aku kasihan dengan orang-orang yang mau berteman dengan si brengsek Cho Kyuhyun, mereka pasti tidak punya pilihan lain.

Kami tiba di depan gedung apartemen berlantai 15. Sebuah mobil berhenti tidak jauh di depan kami, seperti mobil yang aku kenal. Seorang pria turun diikuti seorang wanita, mereka tampak sedang berbicara.

“Sepertinya mereka artis…” tanya senior Joongki.

“Hehee…di sini memang banyak artis berkeliaran.” jawabku cuek.

Si pria menatap kami sekilas lalu melanjutkan obrolannya dengan si wanita.

“Oh…dia seperti Super Junior Cho Kyuhyun.” Senior Joongki terlihat kaget.

“Err…mungkin, aku tidak begitu tahu dirinya.” kataku bohong. “Senior…sampai di sini saja, terima kasih sudah mengantarku pulang.” Aku menunduk lalu memandangnya dan tersenyum penuh arti.

“Ah, tidak perlu sungkan, lagian kita kan searah.” ujarnya yang balas tersenyum. “Lain waktu, mungkin kita bisa pergi nonton bersama.” Senior Joongki tampak malu-malu, ia tidak berani menatap mataku. Apa ini ajakan kencan? Cubit aku! Cubit aku! Tunggu sampai Hwayoung dan Hyorin tahu.

“Te..tentu saja, dengan senang hati.” jawabku yang hanya bisa menunduk malu memandang sepatuku.

“Oke…kalau begitu, selamat malam. Sampai jumpa.” Senior Joongki berjalan mundur dan tetap tersenyum cute. Ia melambaikan tangannya ke arahku lalu dengan kikuk menggaruk belakang kepalanya. Hatiku seperti mau meledak saking senangnya. ZWUUUUNNG! DAAARR! DAAARR! Seperti ada puluhan kembang api yang menghiasi langit malam ini.

Sementara itu, tidak jauh dari tempatku. Wanita itu masuk ke mobilnya dan melaju pergi, meninggalkan si pria yang masih berdiri di tempatnya. Ia berbalik dan menatapku tajam, ekspresi wajahnya datar nyaris kelam, tidak ada senyum di sana, bahkan seringai kejinya pun tidak tampak. Sepertinya, Cho Kyuhyun sedang dalam mood yang buruk. Sepertinya, malam ini aku akan kena imbasnya.

***

Kami pulang dari supermarket. Susah payah aku membawa semua belanjaan, jangan tanya apa yang dibawa setan degil Cho Kyuhyun, ia hanya sibuk menggenggam kaleng softdrink sambil berteleponan dengan, siapa lagi kalau bukan cewek akrobatik Victoria. Dengan tergopoh-gopoh aku berjalan di sampingnya, menyeimbangkan tubuhku dengan semua barang bawaanku. Untuk apa sih ia belanja sebanyak ini? Memangnya mau ada pesta. Ah, kalau benar ia mengadakan pesta di rumahnya, itu artinya aku harus angkat kaki. Asyik, jadi aku bisa bebas, sebaiknya aku main ke rumah Hyorin atau pergi ke taman saja ya? Siapa tahu aku bisa ketemu senior Song Joongki lagi, dan kami bisa menghabiskan malam ini dengan pergi ke bioskop seperti janjinya beberapa hari lalu. Aku tersenyum sendiri memikirkan itu.

“Kau lupa minum obat ya?” Si jelek Kyuhyun menoyor kepalaku. Ia pasti memperhatikan tingkahku.

“Tidak.” jawabku polos.

“Terus kenapa tersenyum sendiri?”

“Memangnya tidak boleh.”

“Hahh…lupakan! cewek gila sepertimu memang cocok tertawa sendiri.”

“Lebih baik aku tertawa daripada aku memuntahi tubuhmu.” sahutku tenang.

“Tambahan tiga hari masa hukuman karena kau telah mengotori baju kesayanganku.” balasnya mengancam.

“Hitung saja total masa hukumanku, jadi aku bisa membuat pesta syukuran kalau sudah bebas dari rumahmu. Kau benar-benar membuatku frustasi bos!”

“Seharusnya sih kau bisa saja mendapat grasi, tapi karena kau telah mengklaim sebagai musuhku, jadi akan ada hari-hari panjang bagi masa hukumanmu, mungkin bisa sampai satu tahun.” Nada bicaranya terdengar membosankan, tapi itu seperti vonis mati bagiku.

Tunggu sampai aku melaporkan tindak kriminalmu pada polisi, karena kau sudah mengeksploitasi seorang pelajar untuk bekerja paksa bagi kepentinganmu. Aku menatapnya dendam.

“Kenapa lihat-lihat?” tanyanya ketus.

“Siapa yang melihatmu?!” Aku membuang muka, jengkel.

“Hei, Seo Jiae!” Sebuah suara menyapaku, suara yang sangat kuhapal. Senior Joongki berjalan ke arahku sambil melambaikan tangan, seperti biasa, ia tersenyum manis sekali dan itu selalu membuat jantungku meloncat girang.

“Se..senior…” Aku kaget, cepat-cepat aku menjauhi Cho Kyuhyun. Aku melirik setan itu dan memberinya kode dengan pandangan bisakah-kau-tinggalkan-kami-berdua?

“Yeah, apa kau habis pulang belanja?” Senior Joongki melirik kantong-kantong belanjaku.

“Iya…begitulah.” kataku salah tingkah.

Apa setan itu mengerti kodeku? Apa ia sudah pergi. Aku tidak berani menoleh, karena takut senior Joongki tahu.

“Apa yang kau lakukan di sini senior?” tanyaku menutupi kecanggunganku.

“Oh..itu, aku…mau mengajakmu…”

“Siapa dia Jiae?” BRAAK! Satu pertanyaan itu menghancurkan segalanya. Cho Kyuhyun sudah berdiri di sampingku dan menatap senior Joongki dengan pandangan merendahnya. Tidak! Apa yang kaulakukan brengsek?

“Aku teman kuliah Seo Jiae.” Senior Joongki menunduk memberi salam. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman dengan tatapan Kyuhyun. Setidaknya ia mampu menutupinya.

“Kau kelihatan lebih tua dari Jiae, juga kelihatan lebih tua dariku. Apa benar kau teman kuliahnya?” tanya Kyuhyun kurang ajar.

“Dia, dia seniorku. Kami satu universitas.” Aku berusaha membela senior Joongki.

“Ya, perkenalkan namaku Song Joongki. Dan kalau boleh tahu, kau ini siapanya Seo Jiae?” Nada bicara senior Joongki terdengar sopan, meski ia ingin tahu. Tidak seperti si brengsek ini.

“Sepertinya aku mengenalmu. Kau…bukannya, Super Junior Cho Kyu…”

“Benar, aku Cho Kyuhyun anggota Super Junior yang terkenal. Ah, sepertinya aku tidak hanya populer di kalangan gadis-gadis. Apa kau salah satu penggemarku?” tanya Kyuhyun malas, ia menggosok hidungnya dengan telunjuk. Benar-benar manusia sombong paling menyebalkan di dunia yang namanya Cho Kyuhyun ini.

“Tidak. Aku tidak terlalu suka dengan Super Junior.” jawab senior Joongki kalem. Cool! Aku suka gaya senior Joongki. Aku yakin melihat kejengkelan di raut wajah Kyuhyun dan itu membuatku ingin tertawa.

“Oh ya, kau belum jawab pertanyaanku Kyuhyun-ssi, apa hubunganmu dengan Seo Jiae?”

Kalau boleh, aku tidak mau punya hubungan apa-apa dengannya senior…bahkan sebagai pembantunya sekalipun. Aku melirik Kyuhyun, berharap mulut besarnya itu terkunci.

“Aku…” Kyuhyun menghentikan kata-katanya, tiba-tiba ia merangkul pundakku dan menarikku lebih dekat dengannya. “Apa kau tidak memberitahukan kepada teman-temanmu Jiae?” Ia mendekatkan wajahnya dan tersenyum keji padaku. Aku yakin mencium sesuatu yang amis di sini. Sesuatu yang tidak beres akan terjadi.

Aku menggeleng menanggapi pertanyaannya. Bukan karena aku tidak memberitahukan apa yang dimaksud olehnya dengan ‘tidak memberitahukan’, tapi karena aku tidak mengerti apa yang harus aku beritahukan seperti yang dimaksudkannya.

Kyuhyun tiba-tiba merubah posisinya agar bisa menghadapku, dan ia semakin mendekati wajahku. Deg!! Apa yang ingin dilakukannya? Sial! Kenapa mataku harus terpaku pada bibirnya? Kenanganku pun melayang pada kejadian berbulan-bulan yang lalu, kejadian saat aku menghantam-sesuatu-yang-lembut – kenangan terburukku. Tanpa pemberitahuan, Cho Kyuhyun menciumku, di depan senior Joongki. Aku membeku. Semua barang belanjaanku jatuh. Tidaaak!!! Apa aku bermimpi buruk? Kenapa tubuhku sulit sekali digerakkan? Kenapa hatiku…? Apa senior Joongki melihat ini? Senior!

Setelah Kyuhyun menciumku, aku mundur beberapa langkah, tertegun, shock dengan serangan tiba-tibanya. Sementara itu, ia menatap senior Joongki dengan tatapan tajam dan itu membuat senior Joongki akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kami tanpa kata-kata.

Aku menyentuh bibirku, “Apa yang kau lakukan?!” tanyaku lirih.

“Apa kau terkejut?” kata Kyuhyun santai.

Tanganku terkepal saking marahnya. Aku hanya menatapnya nanar. Sambil menahan tangis, aku berbalik dan cepat-cepat berlari menyusul senior Joongki. Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini, senior Joongki tidak boleh berpikiran buruk tentang kami, aku harus meminta maaf padanya. Aku terus berlari mencarinya, pada akhirnya membiarkan airmataku jatuh membasahi pipi.

Aku berjongkok di taman, tempat dimana pertama kali senior Joongki menyebutku ‘sakit jiwa’. Aku tidak menemukan senior Joongki dimana pun, bahkan di tempat ini. Tubuhku masih lemas, tangisku juga semakin kencang. Ingin sekali aku berteriak dan menghajar Cho Kyuhyun. Tapi itu tidak ada gunanya lagi.

“Senior…” Aku terisak. “Kuharap…kau tidak berpikir yang bukan-bukan…” Kupeluk lututku dan membenamkan wajahku yang basah.

“Jiae!” seru Hyorin, ia dan Hwayoung berjalan mendekatiku. Entah apa yang mereka lakukan di sekitar sini.

“Kau, menangis?” tanya Hwayoung kaget. “Apa yang terjadi?”

Aku menyeka mata, bangkit dan berjalan gontai menuju ayunan, mereka mengikutiku hati-hati.

“Aku benci Cho Kyuhyun…” gumamku.

“Kau selalu membencinya.” kata Hyorin setuju.

Aku tertawa datar mendengarnya, “Yeah…aku ini antifan nomor satu-nya Cho Kyuhyun. Aku ini musuh nomor satu-nya Cho Kyuhyun. Aku ini…pembantu yang selalu ditindasnya. Aku ini…cumi-cumi yang selalu disiksanya.” Aku mulai berbicara ngawur sesukaku. “Ya! Aku ini orang paling sial karena harus bertemu setan jelek itu!!!” teriakku sambil menyedot ingus.

“Apa…yang terjadi padamu…Jiae?” tanya Hwayoung takut.

“Apa kau marah padaku?” Cho Kyuhyun berdiri tidak jauh dari kami, ia menatapku tajam.

Hwayoung dan Hyorin menoleh terkejut. Hebat sekali pesona seorang Cho Kyuhyun, sahabatku sampai mengabaikan kondisiku begitu melihatnya. Hwayoung dan Hyorin berjalan cepat mendekati Kyuhyun, tetapi aku lebih cepat dari mereka – PLAK!

Aku telah menampar Cho Kyuhyun dengan sekuat tenaga. Ia terhuyung. Hwayoung dan Hyorin berdiri terperangah, menutup mulut mereka – tak percaya. Sementara aku siap mengangkat tangan lagi.

“Jangan berani-berani, kau menciumku seperti tadi, kau cowok brengsek – jahat…!” Emosiku meluap.

“Seo Jiae…” kata Hyorin lemah, dan ia mencoba menyambar tanganku yang sudah terayun lagi.

“Aku benci kau, Cho Kyuhyun!” teriakku marah.

TO BE CONTINUED

Story of April

Main casts: Super Junior Lee Hyukjae, Han Taera

Genre: Fluff

Type: Ficlet

Recommended backsound: Friends of Love – U-KISS

Ps: Pengen banget bikin Hyukjae-Taera story, berhubung hari ini dia [cowoknya cowok saya] ulang tahun, jadi mau kasih cerita gaje ini deh ke kalian..^^ #sotoy

 “There are all kinds of love in the world”

“Itu Eunhyuk oppa!” teriak seorang siswi SMA cempreng, kepada teman-temannya yang serempak terkikik tak percaya.

“Aduh, siapa cewek yang berjalan bersamanya?” Siswi-siswi itu berjalan lebih cepat, berbicara dan menjerit penuh arti, berkali-kali menoleh memandang Lee Hyukjae dan Han Taera. Tidak cukup puas, mereka terang-terangan mengambil foto.

“Resiko berjalan dengan seorang idola.” ledek Han Taera.

“Memang kalau dengan Donghae tidak?” tanya Lee Hyukjae.

“Tidak… lebih heboh malah.” Han Taera gagal menyembunyikan senyumnya.

“Aishh…! Oke-oke kuakui kepopulerannya lebih tinggi.” Lee Hyukjae pura-pura membuang muka.

“Ngomong-ngomong, kita mau kemana?” Hyukjae bertanya ketika mereka memasuki Hongdae. Jalan rayanya dipenuhi orang-orang yang berjalan santai, melongok ke dalam kaca etalase, dan bergerombol di trotoar.

“Ke sini!” Taera menarik lengan Hyukjae dan berbelok menuju ke sebuah restoran Italia.

“Aku lapar, kita makan dulu.” Taera membuka pintu dan mendorong Hyukjae yang tampak enggan.

“Siapa yang bayar?” tanyanya sedikit cemas.

“Tentu saja kau oppa, masak aku?”

“Tidak mau! Kita cari makanan di pinggir jalan saja. Kau tidak lihat, di sini harga-harganya mahal.” Hyukjae menunjuk daftar menu dan harga yang tertempel di dinding.

“Di sini! Aku mau makan spaghetti…” Taera merengek, dia sengaja mengeraskan suaranya. Beberapa pengunjung sampai menoleh dan berbisik-bisik.

Hyukjae merangkul leher Taera dan berbisik tak sabar, “Dengar Han Taera, aku tidak bawa uang.”

“Pakai kartu kerdit oppa.” Taera menatapnya dan memasang wajah innocent.

“Aku tidak bawa dompet.” Hyukjae ngotot.

“Makan di sini atau kutelepon Donghae oppa.” ancam Taera, dia mengeluarkan jurus terakhirnya.

“Kau…! telepon saja, suruh dia datang kemari dan membayar makanannya.” tantang Hyukjae.

“Oke…” Taera mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon pacarnya, “ Hall..lo…” Sambungannya terputus karena Hyukjae merebut ponsel Taera dan mematikannya.

“Baik-baik, kita makan, tidak usah panggil dia.” kata Hyukjae menyerah, dia memandang sekeliling dan menunduk tersenyum pada para pengunjung, menyiratkan permohonan maafnya.

“Nah begitu dong…” Taera melangkah puas ke meja di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan jalan dan club-club Hongdae yang selalu ramai. Diam-diam dia tersenyum karena berhasil mengerjai Lee Hyukjae – si pelit yang tidak pernah mau rugi.

“Kau, benar-benar ancaman!” Hyukjae menghempaskan tubuhnya di kursi.

“Hah? Ancaman… bagi siapa?” tanya Taera pura-pura bingung.

“Bagi dompetku, gadis tengik!”

***

“Batu, gunting, kertas! Batu, gunting, kertas!” Hyukjae mengepalkan tangannya sementara Taera membuka lebar telapak tangannya.

“Yei, aku menang…!” Taera menjingkrak kesenangan, dia menyibak poni Hyukjae dan menyentil keras keningnya.

“Aarghh!!” teriak Hyukjae, dia menggosok-gosok keningnya dan menatap Taera dengan sebal.

Kau payah oppa, hahaa…” Han Taera menepuk-nepuk pundak Hyukjae sambil tertawa puas.

“Ayo pulang! Kau sudah membuatku bangkrut hari ini!” keluh Hyukjae.

Seharian mereka menghabiskan waktu di Hongdae. Setelah dari restoran Italia, Han Taera mengajak Hyukjae ke toko buku, pergi nonton film, dan terakhir makan es krim strawberry sambil melakukan permainan ‘batu, gunting,kertas’. Ini bukan pertama kalinya Han Taera pergi bersama Lee Hyukjae tanpa Lee Donghae, pacarnya. Biasanya mereka akan pergi bertiga bersama Lee Sungmin, tapi karena Sungmin sedang mengantar ibunya ke klinik kecantikan jadi hanya Hyukjae dan Taera yang pergi.

“Hahaa… tidak ada salahnya mentraktir demi kebaikan. Kau kan jarang sedekah.” Taera menyikut lengan Hyukjae.

“Lain kali aku tidak mau pergi berdua denganmu tanpa Sungmin hyung atau Donghae. Bahkan Kyuhyun lebih manusiawi daripada kau. Dia tidak akan berani memerasku seperti ini.” Hyukjae menunjukkan isi dompetnya yang tinggal berisi selembar uang sepuluh ribu won.

Mereka berjalan pulang sambil memakan permen kapas, hal terakhir yang dibeli Hyukjae dengan perasaan terluka.

“Oppa…terima kasih.” Taera melirik Hyukjae dan mengalungkan tangannya di lengan Hyukjae.

“Haaahh!! Asal kau tahu, pulang ini aku akan memastikan Donghae mengganti rugi semua pengeluaranku…” Hyukjae membuang mukanya sambil menarik kesal permen kapasnya.

Han Taera tertawa, tiba-tiba dia menjinjit dan mencium pipi Hyukjae sekilas, menyisakan bekas-bekas gula di pipi cekung Hyukjae. “Aku sayang oppa…” katanya cepat.

“Aargh! Apa yang kau lakukan gadis jelek?!” Hyukjae terkejut, dia mengusap pipinya, berusaha menutupi rasa malunya. Namun di dalam hati dia tersenyum geli dan merasa gembira.

“Oppa lihat!” seru Han Taera, dia mengabaikan Hyukjae yang pura-pura marah, “Itu Won Bin, tampannya…” mata Taera mengarah pada baliho raksasa yang menutupi fasade sebuah departemen store.

“Kau jangan memuji kembaranku seperti itu. Cukup lihat aku saja, apa kau tidak puas? Hah?” Hyukjae mengangkat dagunya yang menampilkan jelas rahang kerasnya yang sangat keren. Dia memasang gaya seperti Won Bin dalam baliho itu, menggosok-gosok bawah hidungnya yang sudah memerah.

“Hahaahh! Aku bukan Han Geng oppa, lagian mataku masih normal…” ledek Taera.

“Aisshh! Gadis ini…” Hyukjae mengacak rambut Taera geram.

Mereka duduk dalam subway yang lumayan ramai, untung mereka kebagian tempat duduk. Di samping Hyukjae dua orang gadis yang, sepertinya mahasiswi, sedang berbicara serius mendiskusikan buku yang mereka baca bersama.

“Ehem…” Hyukjae melempar senyum lebarnya pada kedua gadis itu.

“Apa yang kau lakukan oppa?” bisik Taera yang menarik-narik jaket Hyukjae.

“Hanya mengajak mereka kenalan, untung-untung aku bisa dapat nomornya.” Hyukjae balas berbisik.

“Memalukan! Aku akan pura-pura tidak kenal denganmu.” dengus Taera. Dia bersedekap dan mengalihkan perhatian pada seorang ibu yang memangku anaknya yang lucu.

“Apa kalian mahasiswi?” Hyukjae mulai beraksi.

“Ya…” jawab kedua gadis itu serempak.

“Boleh aku tahu nama kalian, aku Lee Hyukjae…” kata Hyukjae sok percaya diri, dia mengenalkan dirinya dan berharap mereka akan terkejut dan meminta foto bersama.

“Cowok ini aneh,” bisik gadis dengan rambut dibuntut kuda panjang.

“Hati-hati mungkin dia pria hidung belang,” balas gadis satunya yang mata besarnya berpadu dengan bibir mungil merahnya.

“Aku Lee Hyukjae, apa kalian tidak tahu? Eunhyuk…Eun…Hyuk…”

Kedua gadis itu menggeleng bingung, kesal lebih tepatnya. Mereka saling bertatapan dan secara jelas menggeser posisi duduknya menjauhi Hyukjae. Hyukjae menghembuskan napasnya, menutup muka dan menahan malu. Tangan kanannya meremas ujung jaket Taera yang bebas. Sementara itu Taera susah payah menahan diri untuk tertawa, dia berpegangan kuat pada tiang di samping tempat duduknya.

“Ayo Hyeo Soo, kita turun di sini.” ajak gadis berbuntut kuda pada temannya. Dia berdiri dan mempersilahkan seorang paman untuk duduk di tempatnya.

“Kau yakin Ji ah? Bukannya kita harus ke Yongsang? Sepertinya ini kejauhan…” tanya si bibir mungil sedikit bingung.

“Kita mampir ke rumah senior Joongki dulu untuk meminjam diktat.” jawab si buntut kuda.

Kedua gadis itu akhirnya turun tanpa sedikit pun menoleh pada Hyukjae. Mereka bahkan tidak mau repot-repot memikirkan nama Lee Hyukjae atau Eunhyuk. Nama yang sangat berpengaruh bagi para Elf. Karena tidak tahan, Han Taera akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Dan Lee Hyukjae menatap cemberut bocah lucu yang dipangku ibunya, yang balas menertawainya.

Hari itu adalah satu hari termanis di bulan April dimana Han Taera dan Lee Hyukjae menghabiskan waktu bersama sebagai seorang sahabat, teman, sekaligus saudara.

-End-

Happy Birtday Eunhyuk oppa…!!! ^___^ Saiangan terberat saya dalam merebut hati Lee Donghae, hahahahaaa

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

ImageImage

Image

Image

Image

Image

Image

Image

credit: http://blog.yam.com

Polaris in Paris

Recommended backsound: To You It’s Separation, For Me It’s Waiting – Jaejoong

 

If you get lost, find your polaris…”

 

Lee Donghae POV

Lee Donghae ssi, aku berangkat pagi ini pukul 08.00, kuharap bisa mengucapkan salam perpisahan padamu.

Pesan singkat itu dikirim Han Taera – kekasihku, tiga jam sebelum kepergiannya. Begitu mendadak. Mungkin dia berfikir aku masih marah makanya dia bimbang untuk memberitahuku. Ya, aku memang marah, tapi bukan padanya melainkan pada diriku sendiri. Han Taera, yeoja cantik dengan senyum semanis bidadari yang sudah dua tahun menemani hari-hariku, sekarang malah mau meninggalkanku untuk pergi belajar ke luar negeri. Tentu itu membuatku sedih, bagaimana bisa aku menjalani hari tanpanya di sisiku. Dua tahun ini semuanya selalu tentang dirinya, tentang kami, tentang aku yang memilikinya. Tapi, keputusannya sudah bulat dan itu semakin membuatku sedih – marah. Puncaknya, dua hari lalu ketika kami makan malam bersama dan dia membicarakan waktu kepergiannya, aku malah kesal dan berteriak padanya, aku pergi meninggalkannya sendiri di kafeteria dengan wajahnya yang sedih dan mungkin hati yang sakit. Ya aku memang bodoh.

 

Kupejamkan mata sesaat untuk mengusir kesedihanku lalu bertanya pada sopir taksi,

“Berapa lama lagi ahjussi?” tanyaku tak sabar sambil mengecek jam tanganku.

“Mungkin sekitar 30 menit, lihatlah jalanan begitu macet.” jawab sopir taksi yang matanya terus fokus ke mobil di depan kami.

Kulihat argometer dan segera kukeluarkan 3 lembar uang 10.000 won.

“Ambil saja kembaliannya ahjussi, aku turun di sini.”ujarku.

Aku keluar mobil dan segera berlari menuju Bandara Incheon. Barisan mobil yang merayap ditambah deru mesin, polusi gas yang memenuhi udara, bunyi klakson yang bersahutan dan teriakan para pengemudi, tidak kupedulikan. Aku hanya ingin sampai di sana tepat waktu dan melihat yeojaku untuk yang terakhir kalinya sebelum dia meninggalkan Korea. Tunggu aku Han Taera.

 

Kuatur nafasku, dan bergegas menuju Departure Public Hall. Mataku mencari sosok Taera. Kepalaku nyaris pusing melihat begitu banyak manusia yang hilir mudik di bandara tersibuk di Korea Selatan ini. Itu dia! Di sana sedang memeluk eommanya sambil menahan tangis.

 

Satu Tahun Kemudian . . .

Han Taera POV

Jam menunjukkan pukul 21.45, aku sadar ini sudah larut malam dan sudah hampir 6 jam sejak aku berkutat dengan buku-buku Sastra Perancisku di perpustakaan kecil yang bisa kutemui di Cours Julien, salah satu sudut kota tua Marseille. Yeah, sudah dua minggu aku menghabiskan liburanku di Marseille dengan tetap menenteng tugas-tugas kuliahku yang seabrek. Bisa ditebak, perpustakaan dengan arsitektur bergaya Siena-Italia ini jadi markas rahasiaku untuk menyelesaikan essay-essay panjangku tentang Les Serments de Strasbourg (“Piagam dari Strasbourg”) yang ditulis pada tahun 842 Masehi. Untungnya perpustakaan ini tutup pukul 22.00 setiap hari, jadi aku bisa dengan leluasa menekuni bertumpuk-tumpuk buku sastra tanpa takut diusir pustakawannya.

 

Aku melangkah keluar menuju trotoar terdekat sambil mengencangkan mantel bulu bepergianku. Temperatur Marseille yang cukup rendah di bulan Desember membuatku menggigil karenanya. Kupikir aku akan mengambil jalan pintas untuk bisa sampai di rumah Isabel – teman yang rumahnya kutumpangi selama liburan – lebih cepat. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik nafas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Setelah 10 meter berjalan aku tersadar telah berbelok ke sudut yang salah. Kuputuskan untuk berbelok ke timur mencari gang yang mungkin bisa tembus ke jalan yang kumaksud. Kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku, tiga pria yang kelihatan mabuk berjalan sempoyongan ke arahku. Kulayangkan pandanganku ke penjuru gang sempit yang temaram ini dengan cepat, namun sialnya sepi. Oke, tamatlah aku kalau sampai ketiga pria itu melihatku. Dengan refleks aku memutar badan untuk bergegas menjauhi mereka, berjalan cepat sambil sesekali menoleh ke arah mereka.

 

“Hey kau!” panggil salah satu dari mereka, suaranya terdengar berat.

Mendadak tubuhku membeku, pasti ia berbicara padaku mengingat tak ada orang lain di gang ini selain kami.

“Hey gadis, mau kemana kau malam-malam begini?” tanya pria yang lain.

“Apa mau kami temani?” kata pria ketiga dengan nada menggoda.

Oke, Han Taera cepat pikirkan sesuatu, kau tidak mau berakhir di sini dengan tiga pria asing yang mabuk dan melakukan hal-hal buruk padamu kan? Kau tidak mungkin melawan mereka sekaligus, kalau begitu larilah selagi kau punya kesempatan, batinku.

Kupercepat langkahku kali ini tanpa berani menoleh ke belakang. Tapi kudengar langkah-langkah kaki yang juga cepat di belakangku. Mereka mengejarku. Aku pun segera berlari sekuat tenaga.

“Tunggu, jangan lari kau nona!!” teriak salah satu dari mereka. Suaranya terdengar mendekat.

 

Ternyata mereka berlari juga. Bagaimana mungkin mereka mabuk tapi masih semangat untuk mengejarku? Aku sampai di sudut, tapi dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Aku setengah berbalik dengan siaga, sayangnya ketiga pria itu sedang berjalan ke arahku dengan senyum kemenangan mengembang di wajah mereka.

“Kau tidak bisa lari kemana-mana lagi manis. Kemarilah! Temani kami.” kata pria jangkung bersuara berat yang lengan kanannya dihiasi tatto tengkorak.

“Hoho…lihat siapa yang kita temukan? Gadis Asia, benarkah?” pria dengan rambut jerami dan hidung besar yang agak bengkok memandang liar kepadaku.

“Dia cantik, kulitnya mulus. Kita akan bersenang-senang malam ini.” lanjut pria ketiga yang paling kekar yang dagunya dipenuhi jenggot dan kelihatan seperti pimpinan mereka.

“Jangan mendekat,” aku mengingatkan dengan suara lantang yang seharusnya berani. Tapi ketakutanku membuat tenggorokanku kering dan yang keluar malah seperti cicitan tikus.

Mereka mengabaikan perkataanku dan semakin mendekatiku. Si jangkung mencoba membelai rambutku, dan si rambut jerami meraih pundakku.

“Sudah kubilang jangan dekati aku! Jangan sentuh aku!!” kukumpulkan sisa-sisa keberanianku sambil merintangi tangan-tangan mereka dengan tasku.

“Tenang manis, kalau kau tenang kami tidak akan berlaku kasar padamu.” rayu si kekar.

“TIDAK! JANGAN!!” teriakku ketakutan sambil menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Jangan sentuh aku!!” erangku.

 

LEPASKAN YEOJAKU!!!

Suara itu?! sesaat aku seperti mendengar suara Donghae, maksudku jelas aku mendengar suara Lee Donghae, entah di kepalaku atau…tapi kalau ini hanya delusiku, ini berhasil. Entah kekuatan apa yang mendorongku, yang kutahu aku telah menginjak kaki si jangkung, meninju hidung si jerami dan akhirnya aku menendang bagian terlarang pria yang paling kekar. Saat kulihat celah untuk meloloskan diri, aku pun sekonyong-konyong berlari menjauhi mereka dan mencari jalan besar. Aku terus berlari tanpa mempedulikan apa-apa, lututku yang gemetar, buku-buku jariku yang memar, atau mantelku yang melambai-lambai membuat sekujur tubuhku kedinginan. Siapa pun, kumohon tolong aku! Donghae oppa, tolong aku!!

“Lewat sini!” tarik tangan seseorang dengan suara gusar.

Ia membawaku berlari melewati gang lain yang berbelok ke selatan. Dia seorang pria – Korea?! Entah mengapa aku sangat familiar dengan suaranya. Ia terus memegang tanganku dan berlari. Aku mencoba mengatur nafas di sela-sela lariku. Sampai akhirnya kami memperlambat langkah dan tahu-tahu sudah ada di depan Katedral megah de La Garde yang ada di puncak bukit, di bawah sinar lampu katedral yang berpendar pria itu berbalik dan menatapku.

“Kau?!!” pekikku tertahan.

Mataku langsung basah melihat namja di depanku, perasaanku campur aduk. Aku langsung menghambur untuk memeluknya. Aku tidak mau melepaskannya barang sedetik pun. Untuk sekian lama akhirnya aku merasa aman di negeri yang asing ini. Seketika, pikiranku melayang ke kejadian satu tahun yang lalu.

 

-Flashback-

“Jaga dirimu baik-baik sayang, kalau kau perlu apa-apa segera hubungi eomma.” eomma terlihat begitu sedih, airmatanya tidak berhenti keluar. Ia memelukku erat seperti tidak rela jika aku pergi. Untung ada appa, ia berusaha menguatkan eomma dengan menepuk pelan pundaknya.

“Percayalah padanya sayang, Taera sudah cukup dewasa untuk bisa menjaga dirinya sendiri.”

Mendengar appa berkata begitu, aku jadi merasa kuat.

“Appa aku pergi, aku akan merindukanmu, aku sayang appa.” aku beringsut memeluk appa. Airmataku jatuh.

“Appa juga sayang kau. Jaga dirimu.” balas appa singkat, dia memelukku sambil membelai rambutku. Kurasakan dadanya berdetak cepat. Aku tahu appa tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depanku.

 

Masih ada Sungmin oppa, Eunhyuk oppa, Ryeowook oppa, dan Kyuhyun yang mengantar kepergianku. Hanya mereka yang punya waktu luang. Tapi namja yang kuharapkan untuk mengantar kepergianku malah tidak datang. Mendapati kenyataan ini, hatiku sedih. Apa dia begitu marah pada keputusanku?

“Hati-hati Taera sayang, aku akan merindukanmu.” Sungmin oppa memelukku dengan mata berkaca-kaca.

Ia memberiku sapu tangan merah muda dengan sulaman bertuliskan namanya di sudut kanan bawah.

“Oppa, kok namamu?” aku mencoba protes.

“Biar kau selalu ingat padaku saat kau merindukanku. Ini kubuat sendiri semalaman.” jelasnya dengan wajah aegyonya yang permanen.

Ryeowook oppa datang memelukku dan menangis sesenggukan, “Han Taera boleh aku mengunjungimu sebulan sekali?” tanyanya polos.

“Yaa..apa maksudmu sebulan sekali? Kau pikir kita tidak sibuk? Minggir! Aku juga mau memeluk Taeraku.” potong Eunhyuk oppa.

Eunhyuk oppa memelukku hangat.

“Oppa, apa dia benar-benar tidak akan datang?” bisikku lirih.

“Sekalipun ia tidak datang, ia pasti sedang menangis di suatu tempat sekarang. Kau tenang saja aku akan menjaganya untukmu. Jadi pergilah dengan tenang, aku pasti akan sangat merindukanmu.” Lee Hyukjae berusaha menghiburku. Kali ini ia tampak seperti kakak bagiku.

“Ne oppa, aku titip dia dan aku sayang oppa.” Aku tersenyum ke arahnya.

“Han Taera…bisakah kau tidak pergi?” Kyuhyun bertanya dengan mata basah.

“Hey, kemana Kyuhyunku yang evil?” candaku. “Apa kalau aku tidak pergi, kau akan berubah jadi malaikat?”

“Han Taera…aku benci kau!” Kyu menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku juga.” jawabku sambil mengelus punggungnya.

“Aku menyayangimu.” Kyu menangis, airmatanya jatuh ke pipiku.

“Aku tahu…jaga dirimu dan berhentilah mengganggu hyung-hyungmu.” pesanku, yang dibalas dengan anggukan kecil darinya.

 

Sesaat aku memandangi sekitarku, berharap ia muncul pada detik-detik terakhir. Namun dia tidak datang. Rasanya dadaku sesak dan aku ingin menangis, dengan langkah gontai kuseret  koperku menuju International Gate Lounge sambil melambaikan tangan pada rombongan yang mengantarku.

 

“Kajiman!!” teriak seorang namja.

“Taera-ya apa kau harus pergi?” Lee Donghae berdiri dengan tatapan nanar, matanya sarat akan kesedihan. Terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai keputusanku.

“Donghae ssi…!” aku berlari untuk memeluknya dan airmataku benar-benar tumpah sekarang.

“Jeosonghaeyo, tapi aku harus pergi. Apa kau mau menungguku?” aku bertanya sambil menatap matanya yang sendu.

“Aku benci kau Han Taera! Bodoh! Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kapan pun aku akan selalu menunggumu. Bahkan jika kau meninggalkanku, aku akan mengejarmu dan akan menemukanmu. Arasseo?” Donghae memperingatkanku sambil tetap memelukku. Ia seperti hendak menegaskan bahwa aku hanya miliknya.

“Urojima.” kataku. Aku melepas pelukannya dan berusaha tersenyum.

“Nugu? Kau yang jangan menangis.” Donghae memalingkan wajahnya dan buru-buru menghapus air matanya.

“Donghae ssi, kau yang terbaik. Aku menyayangimu.” ujarku sambil memegang wajahnya.

“Aku pergi…” aku mencium keningnya untuk beberapa saat.

“Annyeong-hi gaseyo,,,josimhaseyo,,,na saranghaeyo Taera-ya.” Donghae memberi pelukan terakhir dan balas mengecup keningku.

Aku mengangguk dan melempar senyum terakhirku, berjalan menjauhinya. Saat aku menoleh kulihat Hyukjae oppa dan Kyuhyun tengah menghiburnya, kulihat Sungmin oppa dan Ryeowook oppa yang saling berpelukan menahan haru, dan terakhir kulihat eomma yang tak henti-hentinya menangis dalam pelukan appa.

-Flashback End-

 

“Gwaenchana? Apa ada yang terluka?!” suaranya bergetar dan terdengar cemas, hampir marah. Tangannya sibuk memeriksa lengan dan wajahku.

“Ne gwaenchanayo.” Aku menatapnya lirih masih merasa bahwa ini hanya mimpi.

“Kenapa malam-malam masih berada di luar? Hey nona! Kau bukannya di Korea, bahkan kalau kau di Korea,  kau tidak seharusnya berada di luar rumah pada jam segini! Itu tidak aman, kau tahu?!” kemarahan Donghae akhirnya meluap.

“Eotteoke arasseo?” aku mengabaikan amarahnya, aku lebih penasaran dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Bagaimana dia tahu aku sedang ada di Marseille?

“Mwoya?” dia masih tampak marah, terlebih karena diinterupsi.

“Donghae ssi bagaimana kau tahu aku ada di sini? Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau yang berteriak tadi? Apa kau mengikutiku sejak tadi? Dengan siapa kau di sini?” pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari kepala ke mulutku.

“Kau tambah berisik Han Taera!” omel Donghae.

“Kenapa aku di sini? Tentu saja untuk menemui yeojaku, apa itu salah? Dan aku tahu itu dari Hyukjae. Hah…bagaimana bisa yeojaku memberitahu segala detail tentangnya hanya pada sahabatku. Kau hanya mengirim e-mail secara rutin pada Hyuk dan Sungmin hyung. Kenapa berhenti mengirimiku e-mail? Kenapa twittermu tidak pernah update? Aku selalu mengecek jejakmu Han Taera!” percakapan ini jadi menegangkan. Donghae terus menumpahkan kemarahannya.

“Bukankah kau duluan yang mengabaikanku?” jawabku pelan, kutahan airmataku susah payah agar tidak jatuh.

“Setiap kukirim e-mail tak pernah sekalipun kau balas. Aku sempat berfikir kau melupakanku…membenciku…hanya lewat Eunhyuk oppa aku bisa tahu keadaanmu. Hanya Sungmin oppa yang selalu menghiburku saat aku benar-benar merindukanmu, merindukan Korea.” pipiku mulai basah.

“Jadi kau berfikir aku membencimu? Melupakanmu? Dasar bodoh! Han Taera aku hanya tidak sanggup menghadapi kesedihanku sendiri. Sudah kubilangkan kan? Aku ini rapuh tanpamu, aku membutuhkanmu di sisiku!” Donghae menarikku kasar dan mendekap tubuhku erat. Tangannya  membelai lembut rambutku dan berkali-kali ia menghela nafas dalam-dalam, ya…itu caranya mengontrol emosi, aku tahu kemarahannya mulai reda, dadanya tak lagi bergemuruh kencang.

“Aku merindukanmu.” kataku pelan.

“Aku lebih daripada sekedar merindukanmu, aku selalu memimpikanmu, memikirkanmu dan itu membuatku nyaris gila. Aku benci karena aku terlalu mencintaimu.” Donghae mengakui perasaannya.

“Lee Donghae…” bisikku.

“Jangan lakukan itu lagi padaku, jangan mengacuhkanku.” sekarang Donghae menatapku.

“Dan jangan pergi sendirian di malam hari! Kau masih beruntung, bagaimana jika pria-pria kurang ajar tadi sampai melakukan hal yang buruk padamu? Jika kau masih mengabaikan keselamatanmu, aku bersumpah akan mengepakmu langsung ke Korea.” tatapannya berubah mengintimidasi.

“Jadi kau mengikutiku? Apa kau yang berteriak agar mereka tidak menggangguku tadi?” kucoba mencairkan suasana.

Donghae tampak bingung, “Tidak, berteriak apa?”

“Aku melihatmu keluar dari gedung yang bertuliskan bibliothèque, “ lanjutnya.

“Itu perpustakaan.” potongku.

“Kenapa sih kau suka sekali datang ke perpustakaan?” Donghae mendengus.

“Itu kamar kebutuhanku.” jawabku asal.

“Lalu, kau dimana saat itu?”

“Aku di kafe di seberang perpustakaan. Aku melihatmu keluar dan hendak memanggilmu, tapi kau keburu menghilang di balik gang sempit yang gelap itu. Aku mengejarmu tapi kehilangan jejakmu. Aku berputar-putar di lorong-lorong yang…kau tahu? Jalannya dipenuhi ekskresi anjing, ugh!! Aku juga sempat berpapasan dengan tiga pria mabuk itu, kami berlawanan arah. Saat aku dengar suara jeritan – suaramu, aku mulai khawatir. Untungnya aku hanya dua blok dari tempatmu. Saat melihat kau berlari dari ketiga berandal itu aku sedikit lega, dan saat kutarik tanganmu aku yakin kau akan aman, setidaknya bersamaku.” Donghae mengakhiri ceritanya masih memandangku dengan tatapan tidak percaya.

 

Kami pulang ke rumah Isabel setelah memutar untuk kembali ke kafe di depan perpustakaan karena Lee Donghae meninggalkan kopernya di sana. Pria ceroboh, untung saja pemilik kafe mau menyimpankan kopernya.

 

Isabel tinggal bersama orangtua dan kakak perempuannya yang bernama Sylvain, di rumah dengan fasade bergaya Mediteran yang nyaman. Rumahnya didesain praktis, namun tetap bersahabat dan santai. Konsep open space diterapkan di atas floor plan berbentuk persegi panjang. Lantai parquet di rumah ini memberi kesan hangat. Ruang tamu yang bersofa empuk menyambung ke ruang serba guna yang bersebelahan dengan dapur. Dapurnya sendiri tidak besar namun lengkap, dirancang seperti counter bar, lengkap dengan bangku stool – kursi yang berkaki tinggi. Kamar tamu – kamar tempatku menginap, terletak di ruang mezzanine yang berhadapan langsung dengan courtyard yang rindang dan ada meja pikniknya. Kuajak Donghae menuju kamar untuk beristirahat setelah sebelumnya kuperkenalkan pada Monsieur dan Madame Emanuele – orangtua Isabel, dan meminta izin agar Donghae bisa bermalam di rumah mereka. Sambil menggeret kopernya, Donghae dan aku masuk ke kamar tamu. Kamar yang tidak terlalu besar, tetapi lengkap. Ada double bed, sprei linen bersih, dan bahkan mesin pemanas. Double bed? Ya, itu yang penting.

“Apa orang-orang Perancis ini bercanda? Mengapa mereka memasukkan dua tempat tidur ke dalam kamar yang sempit ini?” tanya Donghae yang matanya nampak memberi penilaian pada kondisi kamar kami.

“Apa maksudmu?” aku balik bertanya dengan sedikit curiga.

“Kuharap hanya ada satu tempat tidur di sini.” katanya sambil melongo ke kamar mandi.

“Yaa..jangan berfikir yang macam-macam Lee Donghae ssi!” aku benar-benar jengkel.

“Pergi mandi dan segera istirahat. Besok kita akan ke Paris.” perintahku sambil melempar handuk bersih yang tersampir di kursi.

 

Keesokan paginya, aku dan Donghae berpamitan pada Monsieur dan Madame Emanuele untuk pulang ke Paris, setelah sarapan sederhana yang ramah ditemani café au lait – kopi dengan susu panas – yang disajikan di mangkuk dengan croissant. Donghae tampak antusias mengolesi berbagai jenis selai pada briochenya, hal itu membuat Madame Emanuele tersenyum. Isabele sendiri baru akan kembali ke Paris minggu depan, jadwal kuliahnya seminggu lebih lambat dariku. Jadi aku akan di apartemen sendirian karena housemateku yang lain, Adriana juga tengah menghabiskan liburannya di kampung halamannya Perugia-Italia dan tidak tahu kapan akan kembali.

 

******

Lee Donghae POV

Masih ada tempo satu jam sebelum Transilien datang untuk mengambil calon penumpang. Angin di luar yang dingin memaksaku dan Taera untuk masuk ke ruang tunggu yang sesak. Selain sesak, ruang ini juga…err, sedikit kotor…dan bau. Padahal dalam bayanganku stasiun di Perancis itu bersih. Apa sebabnya? Ternyata ada cukup banyak gelandangan yang menganggap stasiun ini seperti rumah mereka sendiri. Tak peduli dengan para calon penumpang, mereka asyik menggelar perlengkapan tidurnya. Alas dari kardus-kardus memanjang dilapisi busa tipis menjadi kasur mereka. Lembar-lembar selimut usang menutupi badan dan tumpukan baju-baju bekas diubah menjadi bantal mereka.

Aku bukannya anti-ketidakadilan sosial. Tapi rasanya sulit diterima jika hak-hakku – hak-hak kami dirampas oleh mereka yang bukan saja tidur-tiduran di samping kaki, tapi juga asyik ngobrol setengah berteriak. Aroma busuk mereka karena tidak mandi selama berminggu-minggu pun menusuk hidung. Mereka bahkan memasang musik tekno dari radio transistor yang diset dengan volume super keras yang memekakkan. Kebanyakan dari mereka adalah orang Afrika berkulit gelap, banyak juga yang kelihatannya berasal dari Eropa Timur. Untungnya tak ada satu pun wajah Korea yang kulihat.

“Taera-ya…apa kau punya sapu tangan?” tanyaku sambil membekap mulut menahan keinginan untuk muntah.

“Tunggu, kurasa aku membawanya.” jawab Taera yang tangannya sibuk merogoh isi ranselnya.

“Yeogi,” Taera menyodorkan sapu tangan merah muda padaku.

“Aarrghh!! Kenapa pink sih?” protesku sedikit jijik.

“Dan, apa ini?” aku menunjuk tulisan yang menghiasi sapu tangan itu.

“Itu…Lee Sungmin, kau tidak bisa baca apa?” jawab Taera dengan nada mengejek.

“Yaa…aku tahu, tapi kenapa hyung memberimu sapu tangan senorak ini?” tuntutku.

“Sapu tangan itu cantik kok dan aku suka, heh…jangan kau ko..torr..,” kata-kata Taera terhenti begitu melihatku memuntahkan isi perutku ke saputangan “Sungmin”nya.

“Yaa…Lee Donghae ssi?! Apa..apa yang baru saja kau lakukan?” wajahnya merah padam bercampur sedih.

“Mian..mianhae…” jawabku menyesal sekaligus geli.

“Pergi ke kamar mandi dan bersihkan itu! kalau tidak, akan kuadukan perbuatanmu ke Sungmin oppa.” ancam Taera.

 

Menjelang tengah hari, akhirnya kami naik juga ke kereta. Di koridor yang ramai penumpang, aku kebingungan mengikuti Taera yang mencari kamar kami. Kereta mulai bergerak, bergoyang halus. Dua gerbong kemudian, wooaah…ternyata kompartemenku bentuknya nyaris seperti kapsul pesawat luar angkasa yang ada di film Star Trek. Diterangi cahaya temaram sinar ultraviolet, ruang mungil yang futuristik ini menjadi kamarku. Dua ranjang susun pas untuk empat orang penumpang memenuhi kompartemen. Selain kami, ada seorang wanita paruh baya dan anak laki-lakinya yang masih remaja. Si wanita terlihat ramah, ia langsung mengajak kami berkenalan. Sementara itu, anaknya – yang katanya masih remaja tapi lebih tinggi dariku, sudah berbaring nyenyak di ranjangnya. Tidak sampai satu menit, Taera dan si ibu yang kutahu bernama Marry terlibat dalam perbincangan akrab. Samar-samar aku dengar kata-kata seperti “bonjour”, “mon nom”, “Où venez-vous?” dan “belle journée”. Aku kagum pada Han Taera, yeojaku ini terlihat cantik bahkan saat ia berbicara dalam bahasa Perancis. Aksen Perancisnya boleh juga, dan aku larut dalam memandangi Taeraku, gerak bibirnya, senyumnya saat berbicara bahkan tatapan dari mata indahnya saat memandang lawan bicara.

 

Est-il votre amant?” tanya si ibu sambil memandang ke arahku.

Oui vous avez raison.” jawab Taera yang juga memandangku dengan muka kemerahan.

Un beau jeune homme et une femme belle. Vous correspondez.” Marry menatap kami bergantian dan tersenyum manis padaku. Jangan-jangan dia menyukaiku. Andwae!!

Merci pour votre compliment, madame.” Taera tak bisa menyembunyikan wajah malunya.

Je vous prie heureusement jamais après.” lanjut Marry sambil memegang tangan Taera dan memeluknya hangat.

Hey, ada apa ini? Kenapa wanita-wanita ini mendadak melankolis?

“Yaa..Han Taera apa yang kalian bicarakan sih? Cepat beritahu aku!” desakku.

“Marry memintaku untuk mengunjunginya di Lyon, siapa tahu aku tertarik dengan Bertrand, putranya.” dagu Taera menunjuk anak laki-laki yang tertidur pulas di depan kami, ia tersenyum lebar menatapku.

“Yaa..Han Taera! Apa kau sudah gila? Apa kau mau menduakanku?” tanyaku sengit. Aku mendelik sebal ke arahnya.

“Molla…” Han Taera mengangkat bahunya sambil tetap memasang senyum menggoda.

“Aku akan mengawasimu Han Taera. Pasti.” kuberi dia tatapan peringatan.

 

Hampir malam ketika kami tiba di Paris, perjalanan selanjutnya adalah apartemen Taera.

“Kenapa tidak naik taksi saja sih?” keluhku.

“Kau sedang berjalan dengan mahasiswi yang kuliah di negeri orang, jadi ikuti caraku.” perintahnya.

“Kita mau kemana?” tanyaku.

“Ke stasiun metro. Cepat sedikit! Kau ini lambat sekali.” Taera yang berjalan di depanku menoleh tidak sabar.

Dari penjelasan Taera yang wajahnya ditekuk karena kutanyai terus-menerus; mengendarai mobil di kota Paris termasuk sulit, banyaknya rambu dan persimpangan kecil membuat pengendara mobil di kota ini butuh ketelitian khusus. Well, itu kan urusan sopir taksinya bukan wisatawan asing sepertiku. “Malu bertanya sesat di jalan” agaknya tidak berlaku di kota ini. Semakin kau bertanya semakin bingung dibuatnya. Pertama karena banyak orang yang tinggal di Paris ternyata tidak fasih bahasa Inggris. Kedua karena mereka tidak begitu hafal nama-nama jalan kecil di kotanya. Jadi saran Taera, lebih baik jalan-jalan menggunakan metro dengan modal map/peta kota Paris yang memang banyak disebarkan di seluruh sudut kota ini. Tiket metro juga tidak terlalu mahal, kira-kira € 5.20 per orang untuk tiket seharian.

Kami turun ke stasiun bawah tanah yang lagi-lagi tidak bisa dikatakan bersih. Stasiun bawah tanahnya tidak menyediakan lift atau elevator yang memadai. Stasiun ini hanya menyediakan tangga yang sedikit curam dan tinggi untuk dijalani. Hal ini membuat beberapa orang yang kujumpai panik dan bingung mencari pertolongan untuk sekedar membantu mengangkat koper atau kereta dorong bayi untuk turun atau sampai ke tingkat atas. Hey! Itu termasuk aku!

“Han Taera, tolong aku!” seruku yang dengan susah payah mengangkat koper menuruni anak tangga.

“Itu deritamu, lagi pula aku sudah cukup repot dengan bawaanku.” dia melirik backpacknya yang aku yakin tidak seberat seperti kelihatannya.

“Awas kau Taera!” gerutuku.

 

Kami naik Metro line 1 untuk sampai di kawasan Boulevard Diderot 75012 Paris, dimana apartemen Taera berada. Apartemen lima tingkat yang unik, dindingnya dipenuhi tanaman menjalar sebagai pelapisnya. Bentuknya juga tidak isometris, selain itu pipa-pipa besi berbagai ukuran – yang mungkin adalah shaft untuk utilitas bangunan, sengaja diekspos untuk memberi kesan neomeodern pada bangunan ini.

“Ya, kita sudah sampai. Terima kasih telah mengantarku, sekarang kau bisa pergi dan mencari hotel untuk menginap.”

“Heh?! Apa kau bercanda? Aku bahkan belum makan apa pun sejak turun dari kereta. Setidaknya izinkan aku untuk minum secangkir kopi dan meluruskan kakiku.” aku melotot dengan tatapan tak percaya.

“Hmm…sayangnya tidak bisa, apartemen ini khusus untuk mahasiswi, kami dilarang membawa tamu pria masuk ke dalam.” Taera meminta pengertianku tapi senyumnya yang tertahan tak bisa membohongiku. Dia sedang mempermainkanku. Huhh! Kau kejam Han Taera.

“Baiklah, aku pergi.” putusku.

Aku berpaling dan berjalan dengan gaya terseok-seok memprihatinkan, berharap Taera kasihan dan mengizinkanku tidur di apartemennya malam ini.

“Hati-hati di jalan, carilah hotel yang dekat dari sini. Jika kau ingin naik taksi bicaralah dengan bahasa Inggris sederhana pada sopirnya, jika tidak menemukan taksi kau masih punya peta di sakumu kan?” Taera berteriak memberi instruksi-instruksi dengan nada riang.

Hah! Tidak bisa kupercaya pacarku menelantarkanku di negeri asing ini tanpa mencemaskanku sedikit pun.

 

******

Han Taera POV

Aku bukannya tidak suka suasana romantis. Tapi ini agak canggung…bukan, ini canggung sekali. Dua puluh menit yang lalu, Donghae menelponku untuk bertemu di depan air mancur Place de la Concorde pukul 19.00. Sebelumnya, saat aku pulang kuliah kudapati sebuah paket di depan pintu apartemenku dengan pesan yang tertulis di selembar kertas yang berbunyi, Harus kau pakai malam ini – ttd. Donghae, kekasihmu satu-satunya dan selamanya. Benar-benar kekanakan.

Dan sekarang, kami tengah bergandengan tangan menyusuri Avenue des Champs-Elyséesla plus belle avenue du monde (“jalan terindah di dunia”).

Sepanjang jalan Donghae terus melirik ke arahku sambil tersenyum simpul.

“Apa aku sedang berjalan dengan seorang putri?” Donghae menggodaku dengan pujiannya yang berlebihan.

“Ne, kau seharusnya merasa terhormat tuan Lee Donghae, karena putri yang sibuk ini mau meluangkan waktunya di malam yang dingin ini bersamamu.” aku tersenyum padanya.

“Apa kau suka?” dia memperhatikanku dari atas sampai bawah dan lagi-lagi tersenyum.

Aku mengangguk lalu berkomentar, “Tapi, tidakkah ini berlebihan?” aku memandangi diriku sendiri dan berputar canggung di hadapan Donghae.

Diane von Furstenberg’s wool coat hitam dengan desain kerahnya yang klasik membuat tubuhku hangat, di dalamnya Reiss ‘Maddox’ dress dengan warna senada membalut dan melekat indah dalam lekuk-lekuk tubuhku. Dan yang paling kusuka adalah Barrats navy blue heels, sepatu yang selalu kuimpikan.

“Mmm…Aniyo…” Donghae menggelengkan kepalanya, “Semuanya tampak indah untukmu Ma’am.” katanya sambil menunduk memberi hormat seperti pelayan kerajaan.

Aku buru-buru menarik Donghae untuk berjalan sebelum orang-orang menertawakan kami, “Jangan begitu, kau membuatku malu.”

Donghae menarik tangan kiriku dan memasukkannya ke dalam kantung coat Burberrynya, tangan kami saling menggenggam, terasa hangat. Giliranku memperhatikan namjaku yang tampan ini. Sweater J.Crew-nya cocok sekali dengan kemeja Reiss yang berpadan dengan dasi Pierrepont Hicks. Well, berapa kira-kira yang ia habiskan untuk membeli semua merk-merk kelas dunia ini. Jangan-jangan seharian tadi ia keluar masuk semua rumah mode di Champs-Elysées. Entahlah, Donghaeku memang royal untuk masalah penampilan, dan kini dirinya tampak seperti mannequin berjalan. Hey, bukankah ini keren? Aku berjalan dengan super model Korea terkenal dengan tinggi di bawah rata-rata namun memiliki ketampanan luar biasa menawan di kota paling romantis di dunia.

“Jadi, kita mau ke mana?” tanyaku.

“Ehmm…ke sana.” Donghae menunjuk Menara Eiffel dengan semangat.

Apa tidak ada yang lain? Kenapa semua turis ingin sekali melihat Eiffel sih? Ya..aku juga dulu begitu. Saat pertama sampai di Paris aku langsung ingin melihat Eiffel, tapi sekarang setelah setahun aku rasa tidak ada yang benar-benar istimewa dari Eiffel selain hasil rangkaian 18.083 besi yang dibangun antara 1887 dan 1889. Kalangan seniman saja menilai kalau Eiffel tidak indah, sedang para arsitek mendebat ketahanan angin pada strukturnya. Yeah, mungkin karena dia maskot Paris, sehingga harus jadi kunjungan wajib para turis. Aku sendiri lebih memilih Musee Du Louvre, meski ya… kau harus antri panjang untuk masuk ke dalamnya.

“Baiklah…tapi untuk apa kita ke sana? Tidakkah ini terlalu dingin?”

“Aku mau melakukan hal yang besar.” jawabnya penuh rahasia.

“Iya, tapi aku…” – “kryuuukk~” terdengar cacing-cacing di perutku bernyanyi. Kupegangi perutku dengan malu.

“Lapar?” Donghae menyelesaikan kalimatku.

Aku mengangguk pelan.

“Ayo kita cari makanan.” ajaknya menarik tanganku. Donghae sungguh sangat bersemangat malam ini. Itu membuatku heran.

 

Ku kira kami akan berakhir di sebuah restoran untuk makan malam alih-alih melihat Eiffel. Penampilan kami sudah sangat rapi dan formal, tapi akhirnya,,, kami malah duduk di bangku taman sambil menggenggam segelas minuman bersoda dan sebungkus swoarma – roti Turki, ukuran jumbo, sambil memandang Eiffel. Orang-orang pasti berfikir kami pasangan yang aneh, karena dari tadi kulihat orang-orang yang melihat kami berbisik-bisik sambil tersenyum.

“Kenapa tidak dimakan? Katanya kau lapar..” Donghae bertanya dengan mulut yang penuh roti.

Kugigit rotiku enggan, di lain sisi aku lapar. Jadi, masa bodoh dengan orang-orang, aku ikut menikmati swoarma sambil tersenyum melihat namjaku yang bibirnya penuh remah roti. Kubersihkan bibirnya dengan jariku dan dia tersenyum lebar sambil terus mengunyah, “Hmm..massita…”

 

“Malam yang indah…”

“Mmm…”

“Tidak bisa kupercaya, aku mengejar yeojaku sampai ke Paris.”

“Marseille,” ralatku.

“Perancis.” ulangnya tak mau kalah.

“Sudah kukatakan kan, aku akan mengejar dan menemukanmu. Jangan coba lari dariku lagi, karena mungkin aku akan mengikatmu kali ini.” gumamnya.

“Heh?” aku bingung dengan ucapannya.

“Apa Eiffel selalu seindah ini? Kenapa banyak sekali bintang, padahal ini Desember dan aku heran, kok tidak turun salju?” alihnya, Donghae mendongak melihat puncak Eiffel dan menunjuk bintang-bintang di langit.

“Hujan salju sangat jarang di Paris dan hampir tidak pernah cukup untuk membuat lapisan yang bertahan lebih dari sehari, tidak seperti Korea… Mungkin saat ini eomma dan appa tengah minum anggur beras di depan perapian,” aku mengerjap menutupi mataku yang mulai basah, “Biasanya eomma akan menjahitkan kami sweater pasangan yang cantik setiap tahunnya. Lalu aku akan membuat pancake bersama appa. Aku benar-benar rindu mereka. Aku rindu Korea.” airmataku menetes mengenang musim dingin dua tahun lalu.

“Kalau begitu pulanglah bersamaku.” pinta Donghae, tangannya menyapu ujung-ujung mataku.

Aku tertawa kecil mendengar permintaannya, “Haha…mana bisa begitu, aku harus menyelesaikan studyku dulu, paling tidak setahun lagi. Aku sudah berjanji pada appa untuk tidak pulang sebelum membawa gelar.”

“Satu tahun?!” Donghae seperti tidak percaya dengan pendengarannya.

Aku mengangguk sambil menatapnya meminta pengertian. Aku tak mau kami berdebat lagi soal berapa lama aku tidak bisa bersamanya.

“Kau keras kepala Han Taera..” Donghae menekan-nekan pelipisku dengan telunjuknya.

 

Lee Donghae POV

Satu tahun! Apa yeoja ini sedang menguji kesabaranku? Kucoba menahan diri untuk protes, aku tidak mau merusak malam yang indah ini dengan perdebatan. Lagi pula aku harus melakukan misi penting malam ini, dan itu sudah cukup membuatku stress.

“Kau keras kepala Han Taera..” kutekan-tekan pelipisnya sebagai ungkapan ketidaksetujuanku.

“Dingin?” tanyaku, mengalihkan topik.

“Ne…” dia mengangguk dan tampak kelegaan di wajahnya.

“Apa sekarang terasa hangat?” tanganku beralih merangkul bahunya.

“Ini lebih baik.” dia tersenyum dan merapatkan dirinya padaku,

“Cantik.” kata Taera, menengadah ke langit yang penuh bintang.

“Hmm?” kuikuti arah pandangnya, “Lumayan.” sahutku.

Perlahan-lahan aku memalingkan wajahnya menghadapku. Mata Taera tampak jernih di wajahnya yang seputih susu. “Tapi aku tidak akan menggunakan kata cantik,” lanjutku. “Tidak, jika kau berada di sampingku sebagai pembandingnya.”

Taera separo tersenyum, wajahnya tampak merah, “Gomawo…” gumamnya, ia selalu sedikit salah tingkah jika aku mencoba romantis, dan aku menyukai itu.

“Kau tahu bintang apa itu?”, Taera menunjuk satu bintang paling terang yang terlihat tepat di puncak Eiffel. Dia pasti ingin mengalihkan pandanganku darinya.

“Aniyo… apa itu Andromeda? Cassiopeia? Orion? Atau Phoenix?” jawabku asal.

“Kau tahu tentang perbintangan?” tanya Taera heran.

“Tidak, aku hanya suka melihat-lihat majalah horoscope milik Shindong hyung. Kau tahu? Dia itu sangat percaya ramalan.” terangku.

Wajahnya tampak sedikit kecewa mendengar jawabanku, “Hmm..kupikir,” katanya seraya mengerucutkan bibirnya – hal yang selalu dilakukannya jika jawaban yang kulontarkan tidak memuaskannya.

“Yang kau sebut semua tadi itu adalah konstelasi atau rasi bintang, itu kumpulan bintang-bintang yang dihubungkan menjadi suatu pola rekaan pada bidang langit. Bintang yang cantik di langit utara itu namanya Polaris. Kau tahu? Polaris merupakan bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Polaris berjarak sekitar 430 tahun cahaya dari bumi dan merupakan sistem bintang ganda. Hal yang luar biasa dari bintang ini adalah… Polaris tidak pernah berpindah dari tempatnya. Bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam, sehingga bintang-bintang terlihat bergerak mengelilingi bumi. Sedangkan Polaris terlihat berada tetap di tempatnya karena letaknya tepat di titik sumbu bumi…” jelasnya sambil mengulurkan tangan membuat gerakan seolah hendak menangkap bintang cemerlang di atas Eiffel itu. “Hmmm…hampir persis di kutub utara langit, pusat spin. Karena itu, di India Polaris disebut dengan Dhruva yang melambangkan keinginan dan harapan yang kuat. Aku sendiri lebih senang menganggapnya sebagai bentuk kesetiaan dan panduan.” Taera tersenyum memandangi bintang bernama polaris itu.

 

“Taera-ya….”

“Mmm…” gumamnya, ia menoleh dan menatapku hangat dengan senyum cantiknya – senyum favoritku.

“Bisakah Polaris menunjukkanmu jalan pulang ke hatiku?” kuangkat tangannya dan kuletakkan tepat di dadaku. Kutatap Taera dalam-dalam, aku mencoba mencari jawabannya sebelum kata-kata meluncur dari mulutnya.

“Donghae ssi…” dia tampak tertegun.

Ku selipkan rambut panjangnya yang terurai ke balik telinganya. Jemariku menelusuri wajahnya. Kudekatkan wajahku ke telinganya dan berbisik, “Bisakah kau menjadi polarisku, Han Taera ssi?” kucium keningnya sembari membelai pipinya.

Sesaat kurasakan tubuhnya menegang, “Aku…tentu saja.” ujarnya lirih.

“Jeongmalyo?” aku tersenyum lega mendengarnya.

Ini saatnya, pikirku. Aku berdiri di hadapannya dan berlutut, Tera terlihat bingung dengan apa yang sedang kulakukan. Kurogoh kantung bagian dalam mantelku, mengeluarkan benda kecil yang sejak tadi kubawa. Kuulurkan padanya, “Nae sarangi negero ga, saat pertama kita bertemu, sekarang dan selamanya. Aku hanya akan melihat ke arahmu. Malam ini, di bawah langit Paris, aku… Lee Donghae meminta yeojaku Han Taera, gadis paling keras kepala yang pernah kukenal, untuk berada di sisiku sampai ujung perjalananku.”

“Lee Donghae ssi…” mata Taera telah basah.

Ia menatapku, tatapan penuh bulir-bulir cinta dari air matanya yang tulus. Kuraih tangan kirinya dan menyematkan cincin Claudia Bradby dengan batu sapphire biru ke jari manisnya. Lalu kuciumi punggung tangannya dengan lembut.

“Ini… Kau…” dia benar-benar terkejut, memandang cincinnya dan aku bergantian.

Han Taera memelukku, menangis dalam kebahagiannya. “Aku benci suasana romantis,tapi aku suka caramu melakukan semua ini.” kata-katanya bercampur dengan isak tangis.

“Je t’aime, c’est mon rêve d’être toujours avec vous.” lanjutnya sekarang menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Apa artinya sayang…?” aku bingung, tapi aku yakin itu pernyataan cinta.

Dia berusaha tertawa mendengar pertanyaanku, “Cari di kamus, pabo…” dan kembali memelukku.

“Aku akan menjadi polarismu dan jika kau tersesat, temukan aku, arasseo?” Taera mengungkapkan keinginannya.

Aku mengangguk pasti, “Bukankah telah kulakukan? Aku menemukan polarisku di Paris.” kuhapus airmata di pipinya dan kukecup kening indahnya.

 

Aku memilin tangannya sehingga bisa mengaitkan jari-jariku dengan jari-jarinya. Jari-jarinya begitu hangat, mungkin sebaliknya, ia merasakan jari-jariku yang dingin. Kuletakkan jari-jari kami di pangkuanku. Han Taera menyandarkan kepalanya di pundakku dan kusandarkan kepalaku ke kepalanya. Untuk beberapa saat kami menikmati momen indah ini dalam diam. Sampai akhirnya aku melakukan agresi, lagi! Aku mencium keningnya, menghirup aroma khas rambutnya – aroma lavender. Naluriku memerintahkan untuk mencium setiap jengkal wajahnya, aku pun mencium kedua kelopak matanya dan pipinya. Han Taera hanya diam menerima perlakuanku, tapi kurasakan ia bernafas pelan-pelan meski kudengar detak jantungnya bergemuruh sama cepatnya seperti detak jantungku. Aku tersenyum karenanya. Saat bibirku mulai turun mencari bibirnya, Taera tampak gugup, ia memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya, aku bahkan mendengar ia menelan ludah.

Lalu…suara dari ponselku berbunyi. Sial! makiku dalam hati. Tepat sekali sih! Taera langsung menegakkan posisi duduknya dan berdeham kecil. Kubuka ponselku, ternyata sebuah video call, dan di seberang sana wajah dan suara Hyukkie seketika membuatku dongkol.

“Donghae-ya~…bagaimana kabarmu?” Hyukjae memamerkan senyum super lebar yang memperlihatkan gigi-giginya. Di samping dan belakangnya kulihat Eeteuk hyung, Sungmin hyung, Yesung hyung dan Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja sebelum kalian menggangguku…” kupasang tampang sebal ke arah mereka.

“Aku tidak peduli hyung, mana Taera? Apa kau bersamanya? Kami ingin melihatnya.” Kyuhyun mendorong Hyukjae dan mencondongkan kepalanya mendekati layar, sekarang layarku dihiasi senyum evilnya.

“Taera-ya…mereka ingin bicara denganmu.” kuarahkan ponselku pada Taera.

“Nu..gu.. Haahh?” dia terkesiap dan menutup mulutnya yang menganga kaget dengan kedua tangannya.

“Taera-ya~…” seru mereka berisik.

“Oppa!!” suara Taera pecah. Jelas sekali ia kaget.

“Taera! Bagaimana kabarmu?… Kami rindu… Kapan kau pulang?… Mengapa kau tampak kurus?… Apa Donghae menyusahkanmu?…” Taera diserbu pertanyaan-pertanyaan.

“Yaa…apa maksdumu? Siapa yang menyusahkan siapa?” protesku.

“Taera! Pulanglah…aku sudah punya pacar sekarang!!” seru Kyu.

“Oh! Benarkah Kyu… Siapa?… Kapan?… Jangan macam-macam Kyu!” mereka malah sibuk menanyai Kyu, terakhir Sungmin menjitak kepala Kyu dan memperingatinya.

“Ouchh! Sakit hyung, aku kan cuma mau buat Taera cemburu agar dia pulang…” gerutu Kyu yang menggosok-gosok kepalanya.

“Hey Kyu! Apa maksudmu!” gantian aku yang keki. Kulirik Taera dan ia sedang menutup mulutnya menahan senyum.

“Oo…jeget..jeget!” Teukie hyung menunjuk ke arah Taera, “ Cincin itu! Apa kau sudah melamarnya Hae?” mata Teukie hyung masih terbelalak melihat cincin yang melingkar di jari tangan Taera.

“Ne…” jawabku bangga, aku tersenyum lebar ke arah mereka.

“Andwae!” pekik Kyu.

“Ohh!!” Sungmin hyung meniru gaya Taera yang terkejut dengan membekap mulutnya.

“Hah…ya…jeget!” Yesung hyung mendekat untuk memastikan pandangannya. “Taera-ya…maukah kau menukar cincin itu dengan Ddangkomaku?” mata Yesung hyung berbinar seolah sedang membayangkan berapa banyak won yang ia dapat dengan menjual sebuah cincin sapphire ketimbang kura-kura tukang tidur miliknya.

“Hyung!!” teriakku.

Mereka terkekeh mendapati reaksiku. “Berhenti bermain-main! Aku sedang sibuk, tahu?” aku masih geram karena pekerjaanku diganggu.

“Eodiyeyo? Dangsineun? Kenapa berpakaian seformal itu?” Eeteuk penasaran.

“Bukan urusan kalian…” jawabku enggan.

Taera mengambil ponselku dan mengarahkannya untuk memperlihatkan keberadaan Eiffel pada mereka. Ia tersenyum lebar padaku.

“Yaa…Hae!! Beraninya kau…pergi ke tempat seromantis itu untuk melamar seorang gadis? Itu ideku tahu?! Dimana lagi aku akan melamar yeojaku nanti?” Hyukjae terlihat shock mengetahui aku ada di depan Menara Eiffel untuk melamar Taera.

“Pergi saja ke Pyeongyang, atau ke Giza…kau bisa melamarnya di dalam Piramida.” kulontarkan jawaban yang bisa membuatnya jengkel.

Taera menyenggol lenganku dan memberi pandangan menegur, “Oppa…jangan dengarkan dia.” Hyuk yang awalnya hendak membalasku langsung diam begitu Taera bicara, “Aku akan memberitahumu tempat yang jauh lebih romantis dari Eiffel, namanya Cinque Terre, letaknya di perbukitan Liguria, Italia. Di sana ada jalan bernama Via dell’Amore – Jalan Cinta. Kau bisa bawa Choco jalan-jalan ke sana.” Taera tersenyum menggoda Hyukkie.

“Jinjja? Kenapa kau tidak memberitahuku saja sih? Kita harus ke sana suatu hari nanti.” kataku.

“Andwae! Berhenti mendahuluiku melakukan hal-hal yang sangat ingin kulakukan. Tidak akan kubiarkan kau pergi ke Cinque Rere duluan.”

“Cinque Terre..oppa.” Taera menahan tawa melihat aku dan Hyuk bertengkar di ponsel.

“Iya itu..maksudku.”

“Kyu…kita juga harus ke sana ya?” Sungmin hyung menatap Kyu penuh harap.

Kyuhyun menggeleng keras, “Tidak! Kenapa aku harus pergi bersamamu, lebih baik kuajak noonaku.” Kyu memonyongkan bibirnya.

Kumatikan sambungan video callku sepihak, aku tidak mau mendengar mereka ribut dan mengganggu momenku bersama Taera.

“Donghae ssi…kasihan mereka.” Taera melirikku dan ponselku, ia menahan senyum.

“Han Taera, mulai saat ini bisakah kau memanggilku oppa?” pintaku mengalihkan perhatiannya, yeah…apa salahnya dia kan sekarang milikku.

“Mwo…? Waeyo…?” ekspresinya seperti orang yang disuruh menelan gurita hidup-hidup.

“Karena aku dua tahun lebih tua darimu dan aku namjamu..dan..dan..aku memang oppamu kan?” kataku tak sabar.

Ini adalah topik yang tidak pernah selesai dalam satu kali pembahasan, memanggilku “oppa”. Entah kenapa, dulu saat kutanya dia malah jawab, “Kau memang lebih tua dariku, tapi tidak lebih dewasa dari yang kuperkirakan.” Lalu suatu waktu saat kuminta lagi, ia menjawab. “Yang penting bukan panggilan sayangku, aku lebih suka menyebut namamu. Itu terdengar indah.”

“Donghae ssi, sebenarnya aku bukannya tidak suka memanggilmu op..itu..yang kau minta itu, aku hanya tidak terbiasa, lidahku kelu saat harus mengatakannya.”

“Tidak masuk akal, kenapa kepada semua hyungku kau memanggil oppa dengan gampang?”

“Karena perasaanku pada mereka hanya perasaan seorang dongsaeng pada oppanya.” jawabnya kalem.

Sebenarnya jawaban itu sudah cukup membuatku merasa spesial, Han Taera tidak memanggilku oppa selama ini sebab dia memiliki perasaan yang berbeda padaku, dari yang ia berikan untuk hyung-hyungku. Tapi tetap saja aku ingin diakui sebagai oppanya, oppa pemilik hatinya.

“Sudahlah! Pikirkan baik-baik untuk memanggiku oppa mulai sekarang, sebelum kepulanganku besok aku ingin kau mengatakannya.” aku bangkit dan pergi meninggalkannya, sebenarnya bukan ini closing yang kuharapkan. Aku hanya menggertaknya dan berharap dia mau berubah pikiran.

 

Han Taera memanggilku ragu-ragu, “Lee Donghae ssi.” – masih namaku, itu membuatku sedikit kecewa.

Tapi kuhentikan juga langkahku. Han Taera mendekatiku, dipeluknya pinggangku dari belakang. Senyum kecil menghiasi wajahku, walaupun kekhawatiran masih bersemayam di benakku. Apa begitu susah memanggilku oppa? Satu kata yang bahkan seluruh penggemarku dapat mengatakannya ribuan kali. Namun…ia mempererat pelukannya dan berbisik di telingaku, “Aku sayang oppa! Oppa saranghaeyo! Aku…tidak sanggup hidup tanpamu oppa…”

“Benarkah?” ucapku pelan. Aku masih tertegun dengan pernyataannya.

Tanpa diperintah, tubuhku pun berbalik padanya, tanganku meraih ujung dagunya dan kudaratkan sebuah ciuman di bibir mungilnya. Han Taera aku juga mencintaimu.

 

******

Semakin jauh taksi ini bergerak membawaku pergi, pemandangan mulai terganti, Paris tertinggal di belakang. Kini aku memandang lurus ke arah pilar-pilar sinar matahari di sana yang berusaha keras menembus gugus-gugus awan kelabu. Panorama yang fantastis di tengah musim dingin. Aku pergi meninggalkan polarisku, tidak untuk melepaskannya hanya untuk membiarkannya berlari ke arahku saat waktunya tiba.

 

End

 

A/N

  • Bonjour = halo
  • Mon nom = nama saya 
  • Où venez-vous? = anda dari mana?
  • Belle journée = hari yang indah

Est-il votre amant? – Apakah dia kekasihmu?

Oui vous avez raison. – Ya kau benar.

Un beau jeune homme et une femme belle. Vous correspondez. – Seorang pemuda tampan dan wanita cantik. Kalian serasi.

Merci pour votre compliment, madame. – Terima kasih atas pujian anda, nyonya.

Je vous prie heureusement jamais après. – Aku doakan kalian bahagia selamanya.

  • Je t’aime, c’est mon rêve d’être toujours avec vous. – Aku cinta padamu, ini adalah impianku untuk selalu bisa bersamamu.

Fakta Tentang ELF

Nb: tulisan bold dalam kurung itu komentar saya ^^

1. Be the person that 1000 times feel happier when see Super Junior smiling, and 1000 times more sad/hurt when Super Junior crying #ELFfacts

2. Ketika aku bilang aku tidak peduli kepada Super Junior, itu pasti BUKAN aku yang sesungguhnya #ELFfacts (itu pasti RIZKY POTTER -.-”)

3. Lebih dari sekali aku berfikir untuk membuat nail art berwarna Sapphire Blue #ELFfacts

4. Kami pasti memiliki foto Super Junior atau bias kami di dalam dompet, atau dimanapun. Dan selalu kami bawa kemanapun kami pergi #ELFfacts (yeah..I have Donghae *nunjuk-nunjuk gambar :D )

5. Kami ingat Fanchant semua lagu Super Junior dihati kami #ELFfacts

6. Jika kami diminta untuk menarikan lagu Super Junior, Sorry Sorry adalah tarian yang pertama kali akan kami lakukan #ELFfacts (bener! gerakan gosok-gosokin tangan itu paling mudah kan? -,-…hey! I am miss excuse by the way :D sorry-sorry~~)

7. Jika kami ditanya “Siapakah ‘Super Hero’ kalian?”, ELF yang sesungguhnya pasti akan menjawab, “Super Junior!” #ELFfacts

8. Kami mencoba belajar bahasa Korea dengan harapan ketika kami bertemu dengan Super Junior, kami akan mengobrol dengan mereka #ELFfacts

9. Kami menyanyikan lagu Super Junior seperti sebuah bisikan, tapi ketika sudah pada bagian Reff, kami akan bernyanyi dengan keras #ELFfacts (iya!! cuma bagian itu yang ingat..Elf dengan ingatan payah -.-)

10. Kami pasti akan sangat merasa senang ketika mengetahui mereka akan mengeluarkan album baru #ELFfacts

11. Kami sesungguhnya akan merasa sangat sedih jika mengetahui anggota Super Junior sudah memiliki pacar #ELFfacts (Donghae oppa jangan menikah selain denganku!! =))

12. Kami terus belajar bahasa Inggris, setidaknya agar bisa berkomunikasi dengan mereka #ELFfacts

13. Kami mulai memanggil Leeteuk sebagai Teuk/Teukie/Jungsoo #ELFfacts

14. Kami memanggil Heechul dengan Heenim/Cinderella #ELFfacts

15. Kami memanggil Hankyung dengan Geng/China man #ELFfacts

16. Kami memanggil Yesung dengan Yeppa/Jongwoon/Cloud

17. Kami memanggil Kangin dengan Youngwoon/Racoon/Korea’s No.1 Handsome guy #ELFfacts

18. Kami memanggil Shindong dengan Dongie/Dongguri dong dong #ELFfacts

19. Kami memanggil Sungmin dengan Ming/Min/Minnie/Aegyo Prince/Pink Boy #ELFfacts

20. Kami memanggil Eunhyuk dengan Hyuk/Hyukjae/Monkey/Anchovy/Jewel Guy #ELFfacts

21. Kami memanggil Donghae dengan Hae/Haeppa/Fishy #ELFfacts (Dongdong…Dongo..ehh?)

22. Kami memanggil Siwon dengan Horse/Simba/MaSiwon/Shisus #ELFfacts (Wonwon ><)

23. Kami memanggil Ryeowook dengan Wookie/Umma #ELFfacts

24. Kami memanggil Kibum dengan Snow White/Bummie #ELFfacts

25. Kami memanggil Kyuhyun dengan Kyuppa/Kyuhyunnie/GameKyu/evil Kyu/evil Maknae #ELFfacts

26. Kami memanggil Zhoumi dengan Mimi/Gentleman Mimi #ELFfacts

27. Kami memanggil Henry dengan Mochi/Henry Bieber/Mochi Baby #ELFfacts

28. Kami berusaha mencari dimana album mereka dijual dan membelinya dengan segala upaya #ELFfacts

29. Kami selalu menganggap bahwa mereka adalah milik kami #ELFfacts

30. Setidaknya sekali dalam sehari kami mendengarkan lagu Super Junior #ELFfacts

31. Ketika kami pergi ke Pantai, kami menulis kata “Super Junior” atau “슈퍼주니어” #ELFfacts (belum kesampaian kkk~ ntar de kalo ke Nusakambangan ^^)

32. Kami mengenal bahkan bertemu orang-orang dari negara lain karena Super Junior #ELFfacts

33. Menghadiri Super Show adalah salah satu tujuan hidup kami….mimpi terbesar kami #ELFfacts (Aye!!! Ibuku sampai geleng-geleng kepala kalau aku ngomong soal Super Show -.-)

34. Kami tahu siapa member yang bernyanyi pada lagu Super Junior hanya dengan mendengar suaranya #ELFfacts (K.R.Y….& Donghae)

35. Hampir setiap hari kami membuka Youtube dan melihat MV Super Junior di sment’s channel untuk menambah jumlah ‘viewers’ #ELFfacts

36. Kami bahkan hafal urutan member yang bernyanyi pada suatu lagu Super Junior #ELFfacts

37. Karena hampir setiap hari kami mendengarkan CD Super Junior, kami hafal urutan lagu di album tersebut #ELFfacts

38. Kami terkadang menggunakan Lightstick Super Junior kami jika kami memerlukan cahaya #ELFfacts

39. Kami memiliki tempat sendiri untuk menyimpan CD album dan atribut Super Junior kami #ELFfacts

40. Kami sering menganggap 13 adalah angka keberuntungan kami walaupun orang bilang 13 adalah angka sial #ELFfacts (pasti dong…aku kan anak 13 ^^)

41. Jika kami sedang merasa bosan didalam kelas, kami akan membuat gambar hati dan menulis nama mereka didalamnya #ELFfacts

42. Kami sering berkhayal tentang mereka setiap malam, bahkan setiap waktu #ELFfacts

43. Ketika seseorang bertanya siapa tipe ideal pacar kalian, bias kami adalah orang pertama yang terlintas dipikiran kami #ELFfacts (Donghae forever…)

44. Kami ingin menggunakan semua yang bias kami pakai. Kaos, sepatu, topi, hampir semua yang ia gunakan…. #ELFfacts

45. Hari dimana Super Show dilaksanakan adalah hari yang ‘besar’ bagi kami. Walaupun kami tidak menghadiri acara tersebut #ELFfacts

46. Kami sering menangis karena Super Junior. Kami menjadi sensitif jika menyangkut hal tentang mereka #ELFfacts

47. Kami berharap, kami adalah orang yang sangat kaya dan bisa pergi kemanapun mereka pergi #ELFfacts

48. Bagi kami, tidak ada yang lebih tampan dibanding bias kami #ELFfacts (Ya!! tapi…aku juga tampan,,ehh?! -.-)

49. Jika Super Junior tersenyum, kami merasa sangat senang walaupun sesungguhnya mereka bukan tersenyum kepada kami #ELFfacts

50. Kami rela berhemat, bahkan terkadang kami merasa lapar hanya untuk mengumpulkan uang untuk membeli tiket Super Show. Fighting! #ELFfacts (Ini benar sekali!! ><”)

51. Kami tidak sering berteriak, tapi kami akan berteriak sangat kencang ketika melihat Super Junior walaupun hanya di TV #ELFfacts

52. Kami sering menyebarkan semua hal tentang Super Junior kepada semua orang, walaupun mereka bukan seorang ELF #ELFfacts (Ya…dan korban pertama adalah Eriza ^^)

53. Rasanya aku ingin agar semua orang tahu bahwa aku adalah seorang ELF #ELFfacts (Aku memang ELF kok..dari zaman Lord of The Ring malah >_<)

54. Kami sering menghias kata “Super Junior” di kertas kosong kami #ELFfacts (di bukunya Eriza, sampai-sampai dia ngomel kkk~)

55. Kami menuliskan kata “Believe” dengan “13elieve” dan “Promise” dengan “Prom15e” #ELFfacts

56. Kami sangat ingin mengenakan segala sesuatu mengenai Super Junior, sehingga semua orang tahu aku adalah seorang ELF #ELFfacts

57. Kami membuat panggilan tersendiri dari gabungan nama kami dan bias #ELFfacts (Dongky —> Donghae Rizky…my close friends called me Dongky hyung kkk~)

58. Walaupun anggota Super Junior sedang menguap dengan mulut yang terbuka lebar, kami akan bilang bahwa mereka ‘Cute’ #ELFfacts

59. Kami sangat menikmati berdiam diri didalam kamar kami untuk menonton video Super Junior #ELFfacts (sampai jejeritan kayak orang gila…dan itu pasti bakal berbuah omelan dari ibu -.-)

60. Kami mempunyai nama panggilan tersendiri untuk bias kami #ELFfacts (Dongo..-.-”)

61. Ketika bias kami mengupdate twitternya, yang kami lakukan adalah me-retweet-nya dan mencoba mengerti apa yang mereka katakan #ELFfacts (“@donghae861015 oppa Saranghae ♥ ♥ ♥” #gakreatif -.-)

62. Kami mencoba mendengar jika orang disekitar kami membicarakan tentang Super Junior #ELFfacts

63. Kami akan merasa sangat kesal jika ada seseorang yang membicarakan hal negatif tentang Super Junior #ELFfacts (asli!!)

64. Kami akan mengatakan “terserah”, “tidak peduli” & tertawa kepada antifans yang membicarakan omong kosong tentang Super Junior #ELFfacts

65. Kami rela melakukan apapun untuk melindungi Super Junior #ELFfacts (ngacungin tongkat sihir…gue Laskar Super Junior!)

66. Kami dengan tidak sadar akan mengatakan “Saranghae” ketika kami sedang mendengarkan lagu Marry You #ELFfacts (Marry me Hae…+_+)

67. Kami mem-follow banyak akun twitter yang berhubungan dengan Super Junior #ELFfacts

68. Hampir 50% akun twitter yang kami follow adalah seorang ELF #ELFfacts

69. Kebanyakan dari kami menggunakan nama yang berhubungan dengan bias kami pada username twitter #ELFfacts

70. Pengetahuan kami tentang Super Junior lebih banyak dibandingkan dengan pengetahuan kami tentang pelajaran di sekolah #ELFfacts

71. Nominal/Jumlah angka adalah sesuatu hal yang sangat sensitif bagi kami #ELFfacts

72. Kami akan tersenyum jika mereka tersenyum, Menangis ketika mereka sedang menangis. Ya, faktanya kami memilik satu hati #ELFfacts

73. Kami akan sangat khawatir jika mengetahui mereka sedang sakit #ELFfacts

74. Kami lebih banyak memiliki foto anggota Super Junior daripada foto kami sendiri baik di Hp atau di laptop kami #ELFfacts

75. Kami menaruh foto bias atau member Super Junior lainnya di wallpaper HP/background desktop laptop kami #ELFfacts (Donghae….^^)

76. Ketika kami melihat foto bias kami baik foto yang sudah lama atau foto yg baru, secara tidak sadar kami akan meng-klik “SAVE” #ELFfacts

77. Kami akan terus membela Super Junior jika ada seseorang yang mem-bash mereka #ELFfacts

78. Walaupun kami tdk mengenal dekat seseorang, tp ketika kami berbincang tentang “Super Junior”, kami akan mengobrol dengan baik #ELFfacts

79. Menjadi seorang ELF, membuat diri kami seakan hidup disebuah “Dreamland” #ELFfacts (Neverland…Wonderland…Greenland…ehh?^^)

80. Kami menyukai grup KPop lainnya, tp bagi kami Super Junior tetaplah menjadi prioritas. Bias kami selalu menjadi (he eh..sekali ELF tetep ELF, meski aku digoda Hottest, Inspirit ><)

81. Memikirkan segala sesuatu hal tentang Super Junior adalah kegiatan rutin kami #ELFfacts (sampai kepala mau pecah!! :D )

82. Melihat nama anggota Super Junior di Timeline kami, secara tidak sadar kami akan menekan “tombol retweet” #ELFfacts

83. Kami membuat akun twitter, me2day karena Super Junior. Dan kami menjadi “addict” terhadap twitter karena ELF #ELFfacts (betul..betul..betul..)

84. ELF adalah keluarga bagi kami, walaupun kami tidak mengenal mereka semua, tapi kami memiliki satu motto “Prom15e to 13elieve” #ELFfacts

85. Kami merasa cemburu jika bias kami melakukan adegan romantis pada suatu drama #ELFfacts (lalala~~ pura-pura ga tahu..bo’ong! ><)

86. Jika kami pergi ke suatu tempat&melihat tulisan “Super Junior”/ melihat foto mereka, tubuh kami akan tertarik seperti magnet #ELFfacts

87. Kami memiliki foto buatan kami sendiri yang menggabungkan foto bias dan foto kami #ELFfacts

88. Jantung kami akan berdetak sangat cepat ketika membuka album Super Junior yang kami beli. Rasa senang & bahagia. #ELFfacts

89. Ketika anggota Super Junior menuliskan kata “ELF” pada tweet mereka, kami merasa senang dan bangga #ELFfacts

90. Kami berusaha membuat teman kami menjadi seorang ELF #ELFfacts

91. Ketika kami melihat foto anggota Super Junior melakukan “Skinship”, bagi kami mereka ‘Cute’ bukan ‘Gay’ #ELFfacts

92. Kami sering berdoa untuk Super Junior setiap kami akan tidur #ELFfacts

93. Kami akan berteriak “kyaaaaaa” ketika melihat anggota Super Junior melepas baju mereka #ELFfacts

94. Kami sering bermimpi untuk bekerja di SMEnt agar bisa bertemu dengan Super Junior #ELFfacts

95. Keinginan kami pergi ke Seoul bukan untuk menikmati keindahannya, tetapi untuk “stalking” dan bertemu anggota Super Junior #ELFfacts

96. Terkadang kami membayangkan menjadi “make up artist” mereka agar bisa memegang rambut Heechul, dan menyentuh muka mereka #ELFfacts

97. Secara tidak sadar, setiap kali kami bertemu ELF yang lain, pasti kami membicarakan Super Junior #ELFfacts

98. Kami merasa bangga jika mengetahui seorang nenek, anak kecil, atau orang-orang dari seluruh dunia ikut menonton Super Show #ELFfacts

99. Kami sangat berharap bisa masuk kedalam asrama Super Junior dan melihat mereka sebagai “diri mereka sendiri” #ELFfacts

100. 100Facts tentang ELF tidaklah cukup, karena terdapat ribuan fakta menjadi seorang ELF :) (bahkan lebih…semua hal dari hati, jiwa dan pikiran serta tindakan kami tentang Super Junior adalah Fakta sekalipun itu dalam sebuah cerita FF ^^)

source : *SuPeR jUnIOr*sUjU*

Reshared : AyuELFishy dan dikomentari secara tidak jelas oleh janioetomo ><

Main casts                                          :

(Elf)

  • Jane Svit-kona (Han Taera)
  • Orion Frâel (Cho Kyuhyun)
  • Cedric Caladriel (Lee Donghae)

Supported casts                               :

(Elf)

  • Eleanord (Kim Jongwoon)
  • Thróv (Choi Siwon)
  • Maurel (Kim Heechul)
  • Serandor (Lee Hyukjae)
  • Abadel (Park Jungsoo)
  • Hretgán (Lee Sungmin)
  • Oberon (Han Geng)
  • Lynnëa (Cho Eunjae)
  • Arwen (Kwon Jiah)
  • Aurielle (Song Pipot)
  • Nāeri (Tara Andhari)

(Valar)

  • Lynx (Jung Yunho)
  • Pavo (Kim Jaejoong)
  • Avus (Kim Junsu)
  • Volans (Park Yoochun)
  • Cygnus (Shim Changmin)

A/N

-          Calaquendi (elf cahaya)

-          Moriquendi (elf kegelapan)

-          Valar (malaikat)

-          Avanguard (pengawal Valar)

-          Vanyar (kaum Ingwe yang tinggal di tanah para Valar (Valinor) dan menjadi kaum elf yang paling mulia dan terhormat, layaknya para bangsawan yang terhormat. Mereka disebut Elf Rupawan)

-          Noldor (kaum Finwe yang tinggal di antara keluarga Falmari (elf yang tinggal di tepi pantai) dan Vanyar (elf yang tinggal di dekat kediaman para Valar). Mereka disebut Elf Dalam)

-          Falmari (kaum Olwe yang memilih untuk tinggal di tepi pantai agar dapat memandangi Middle-Earth  dari jauh. Disebut juga Kaum Penunggang Ombak)

-          Avari (kaum elf yang menolak ikut ke Valinor dan tetap tinggal di Middle-Earth)

-          Nandor (kaum elf yang memilih untuk tidak meneruskan perjalanan ke Valinor dan menetap di tanah yang mereka sedang lalui)

-          Verden (penjaga, Varden (jamak) para penjaga)

-          Xelomor (pegunungan terkutuk, kediaman Morgoth)

-          Fuin-gûl (kaum terkutuk, elf pemberontak yang mendukung kekuasaan Morgoth)

-          Elvish (bahasa yang dipakai para Elf untuk berkomunikasi)

“Takdirku adalah mengembalikan semuanya seperti sedia kala sebelum Morgoth merusak keseimbangan Middle-Earth. Namun tak pernah kusangka aku harus melakukannya bersama seorang Avari.”

Dipandangi wajahnya di pantulan air jernih Aelin Rhún yang beriak kecil. Di sana terpahat wajah halus seorang wanita dengan mata biru cemerlang, telinga runcingnya mencuat dari balik rambut hitam pekat yang tergerai hingga ke pinggang. Tatapannya dalam, seakan ingin menembus bagian tergelap dari dasar danau itu. Ekspresi hampa tanpa secercah senyum di wajahnya bahkan tak mampu mengurang kecantikan yang sempurna dari wanita itu. Tapi jelas ia tampak menderita.

“Di sini kau rupanya.” Suara merdu seorang pria mengembalikan kesadarannya.

“Ayo kembali ke Edheline! Yang Mulia Ratu mencarimu.” Pria yang memberi perintah itu duduk di ranting dan bersandar pada batang Pohon Elvéri – pohon tertua di Valinor, wajahnya sangat rupawan untuk ukuran manusia, dia bisa disangka Valar, dan dia adalah satu dari tujuh Vanyar yang paling indah. Pria itu melompat anggun dan mendekati sang wanita, menatapnya dengan kepala yang dimiringkan. Mata cokelatnya beradu dengan mata biru si wanita.

“Kau…tidak bisa berhenti memikirkannya…?” Seolah dengan sekali pandang, pria itu tahu apa yang dipikirkan si wanita.

***

“Haruskah kau pergi ke Middle-Earth? Bukankah Raja sudah mengerahkan seluruh Falmari untuk bergabung dengan para Nandor dan Avari untuk melawan mereka?”

“Aku Caladriel, putra bintang, tidak mungkin aku hanya berdiam diri sementara bangsa kita berjuang untuk kebebasan Middle-Earth?”

“Tapi aku…tidak ingin kau terluka…” Wanita itu memeluk pria yang bernama Caladriel dan setetes airmata sebening kristal jatuh di wajah cantiknya.

“Gerich meleth nîn – kau memiliki cintaku, tidak perlu khawatir…aku akan kembali untukmu Jane.” Caladriel mencium bekas airmata Jane di bawah matanya, dan memberinya aura kehangatan dalam pelukan yang erat.

“Cedric…kau harus kembali.” Jane bergumam lirih sambil menatap sendu pria di hadapannya.

***

“Thróv!! Darimana saja kau? Aku mencarimu sejak tadi.” Seorang wanita dengan senyum menyenangkan menghampiri Thróv – pria rupawan yang sedang berjalan bersama Jane menuju Edheline.

“Aku disuruh mengantarnya.” Thróv menelengkan kepalanya ke arah Jane dengan malas.

“Jane!!” seru wanita itu. Matanya terbelalak sempurna.

“Hai, Lynnëa…lama tidak bertemu.” sahut Jane pelan, suaranya nyaris seperti erangan.

“Kau…” Jane menatap Thróv sekilas, “lebih baik temani Lynnëa. Aku bisa ke sana sendirian.” Jane menatap Edheline – istana Raja Vanyar yang berdiri megah di Puncak Orthíad, puncak tertinggi di Valinor setelah Véongrad – kediaman para Valar. Ia melangkah ragu setelah mengerling pada Thróv dan berbisik “Le hannon – terimakasih.”

“Apa sepupumu baik-baik saja?” Lynnëa bertanya pada Thróv tepat setelah sosok Jane menghilang di balik pepohonan.

Thróv menggeleng dan menghela napas panjang, “Ia menyimpan banyak luka, aku khawatir jika ia terlalu larut dalam kesedihannya, itu malah akan semakin menyakitinya. Bisa kau beritahu aku bagaimana mengembalikan senyum di wajahnya?” Thróv menoleh ke arah Lynnëa dengan sedih.

“Aku tak tahu…” jawab Lynnëa, “Aku pun merindukan senyumnya.”

“Yeah…mari lupakan dia sejenak. Jadi, ada perlu apa kau mencariku penggangu?” Thróv mengacak rambut  Lynnëa, menyembunyikan semua kegundahannya.

“Ini…aku menemukannya di Paramar, di bagian terlarang.” Lynnëa tersenyum bahagia dengan mata berbinar. Dia seperti habis menemukan harta tak ternilai.

“Apa in..? Sejuta Pesona Lynx?!” Thróv berjengit setelah membaca judul kitab yang dipegangnya.

“Jangan keras-keras! Apa kau mau kita ditangkap Valar yang kebetulan terbang di sekitar sini?” Lynnëa membekap mulut Thróv dan menggiringnya ke tepi sungai.

***

Jajaran pohon pinus berdiri di sisi-sisi sepanjang jalan menuju Edheline, jalan setapak yang dilalui Jane berakhir di jalinan akar yang membentuk anak-anak tangga menuju pintu besi ganda berukuran besar dengan tinggi hampir lima puluh kaki. Itu gerbang Edheline. Kedatangan Jane disambut oleh seorang elf tua berambut perunggu dengan garis wajah yang tegas, menyiratkan lamanya waktu yang ia jalani dalam kefanaan. Elf itu adalah Maurel si bijak, Pangeran Rumah Reolândra, penyandang Api Putih Uzár dan penjaga Edheline. Tidak seorang pun boleh memasuki Edheline tanpa seizinnya.

“Akhirnya kau datang putriku.” Maurel merentangkan tangannya menanti Jane untuk datang memeluknya. Jane maju dan menyambut pelukan pamannya. “Masuklah, Ratu sudah menunggumu.”

Mereka menyeberangi halaman kastil menuju aula depan. Mata Jane terpaku pada dua sosok Avanguard yang berdiri di kanan dan kiri pintu depan kastil. Mengapa mereka mengundang Valar? batin Jane. Ketika menaiki undakan batu, jantung Jane berdebar cepat saat pintu kastil terayun membuka, seakan dengan sendirinya, dan menampakkan aula penuh pohon. Ratusan cabang menyatu membentuk langit-langit yang bagai sarang lebah. Di bawah, dua belas kursi ditata melingkari meja kayu bundar yang sebenarnya adalah batang dogwood berdiameter lebih dari tiga puluh kaki yang dibuat sedemikian rupa. Di sana telah menunggu dua belas bangsawan pria dan wanita elf. Mereka bijkasana dan rupawan, dengan wajah-wajah halus yang tidak termakan usia dan mata tajam yang membara. Tidak seperti elf lain, masing-masing dari mereka menyandang pedang di pinggang – dengan gagang berhias batu-batu permata. Dan di kepala kumpulan itu terdapat paviliun putih yang menaungi singgasana dari jalinan akar dan tanaman-tanaman merambat yang menggantung. Ratu Nāeri duduk di sana. Ia secantik matahari pagi di musim semi, bangga dan berkuasa, dengan dua alis gelap yang miring seperti sayap terangkat, bibir seranum berry dan rambut lebat sepekat malam yang disanggul rumit di bawah mahkota ruby. Tuniknya merah marun. Di pinggangnya melingkar sabuk dari jalinan emas. Dan di lehernya terikat jubah beludru yang menjuntai ke lantai. Di tangan kirinya terdapat tongkat dari kayu holly dengan batang berukir di ujungnya. Sekalipun sikapnya yang mengesankan, Ratu tampak rapuh, seakan menyembunyikan penderitaan hebat.

Jane berjalan mendekati Ratu dengan tatapan hampa. Ia berlutut di lantai berlapis lumut dan membungkuk lebih dalam. Nāeri bangkit dan turun dari singgasana, jubahnya memanjang di belakangnya. Ia berhenti di depan Jane dan meletakkan tangan yang gemetaran di bahu elf itu, ia berkata dengan suara bergetar, “Berdirilah.” Jane mematuhinya. Sekarang mereka saling pandang dengan tatapan nanar satu sama lain seolah bisa memahami penderitaan masing-masing.

Akhirnya Nāeri memeluk Jane dan berkata, “O putriku…akhirnya kau datang. Maafkan ibu.” Tubuh Ratu bergetar saat memeluk Jane.

Di sudut, di bawah Pohon Alea yang rindang duduk seorang Valar yang sangat tampan, sorot matanya tak lengah dari adegan pertemuan tersebut. Sayapnya berdesir saat Jane menatapnya melalui bahu sang Ratu.

***

Kau akan mengemban sebuah misi putriku. Akan datang utusan Varden dari Middle-Earth untuk membantumu. Kata-kata Ratu terus terngiang di telinganya. Misi? Varden? Dan Avus? Kenapa Valar harus ikut dalam pertemuan. Ini pertama kali sejak kematian Raja Hretgán tiga puluh tahun silam, Valar turun tangan dalam urusan elf, karena biasanya mereka tidak mencampuri urusan makhluk fana. Hanya lima valar yang secara rutin mengunjungi Edheline untuk mengawasi para Calaquendi, termasuk Avus. Dan sekarang Ratu memberinya sebuah misi, menemukan Sapphire Blue – batu cahaya untuk mengalahkan Morgoth. Apa itu artinya ia harus ikut berperang?

Ibu tahu, hatimu masih sedih. Tapi hanya kau yang mampu melakukannya, kau putri Vanyar dan putri ayahmu… Masih jelas ekspresi Ratu saat memintanya melakukan misi, wajahnya mengisyaratkan keengganan dan keragu-raguan. Tapi Ratu tak bisa menghindar saat kedua belas tetua menekannya dengan pandangan tajam.

Jane berjalan mengikuti langkah kakinya yang telanjang sampai ia berhenti di depan Rumah Mandos, sang Valar Kematian. Kastil hitam yang berdiri di ujung Tebing Deathfold itu adalah makam bagi para elf Valinor yang meninggal, rohnya berkumpul di sana. Jane memandang gerbang Mandos yang berhias wajah sang Valar yang tersenyum angkuh, seakan menantangnya untuk mati.

“Kau bohong Cedric…” Jane terisak saat mengucapkan nama itu.

***

“Apa masih jauh Eleanord?”

“Kita sudah di Valinor dan orang Noldor itu bilang setelah menyeberangi Aelin Rhún kita akan sampai pada para Vanyar. Jadi berhentilah mengeluh Orion!”

“Kurasa itu Aelin Rhún.” Pria yang bernama Orion menunjuk danau yang membentang luas kira-kira sepuluh kali Aelin Nurnen di Middle-Earth.

“Lompat atau berputar?” ia melirik Eleanord, senyum separonya yang angkuh menyungging di wajah tampannya. Eleanord menoleh ke sisi danau yang nyaris tak terlihat.

“Baiklah, kalau begitu aku yang lompat.” Orion mundur sepuluh kaki kemudian berlari kecil dan menghentakkan kakinya keras di tepi danau hingga ia melompat tinggi dengan gerakan secepat angin. Eleanord yang sempat bingung, segera menyusulnya, berlari cepat menyusuri tepi danau. Hanya terlambat beberapa detik, saat Eleanord bergabung bersama Orion yang sedang memandangi pohon yang sangat besar dan tua di tepi Aelin Rhún.

“Berhenti bermain-main seperti tadi Frâel.” Eleanord mendengus, “Ayo jalan! Apa yang kau lihat?”

Orion mengikuti Eleanord namun ekor matanya masih melirik pohon itu. “Pohon yang menyimpan kesedihan.” gumamnya.

Saat mereka mendekati Edheline, banyak elf yang memperhatikan mereka dengan tatapan aneh dan beberapa berbisik-bisik sambil tertawa kecil seolah melontarkan gurauan ringan satu sama lain. Orion dan Eleanord berjalan canggung.

“Apa para Vanyar tidak pernah melihat orang asing?”

“Tenang El, jangan hiraukan mereka.”

“Cih! Lihat gayamu sekarang Frâel, berpura-pura tenang di balik tatapan-tatapan menghina mereka. Calaquendi ini terlalu terang karena hidup bersama Valar dan mereka jelas sekali sombong.” Eleanord memandang galak pada sepasang elf yang berbisik dan tertawa saat mereka lewat.

Man râd na Edheline – kemana jalan menuju Edheline?” Orion berhenti dan bertanya pada seorang elf super tampan yang kebetulan melewati jalannya.

Man eneth lín – siapa namamu?” Elf itu menatapnya curiga.

Orion Frâel eneth nîn – namaku Orion Frâel, aku utusan dari Middle-Earth dan ini temanku Eleanord.” Orion menundukkan kepalanya diikuti Eleanord.

“Ikut aku, akan kutunjukkan jalannya.”

***

Orion dan Eleanord berlutut sambil menyentuhkan telunjuk dan jari tengah mereka ke bibir, membungkuk lebih dalam untuk memberi hormat pada Ratu Nāeri.

“Berdirilah. Kuterima kedatangan kalian dengan tangan terbuka. Ini adalah persekutuan kita sejak lima puluh tahun.”

“Kami hanya menjalankan perintah Abadel, Raja para Avari dan Nandor.” Orion maju dan menyerahkan segulung perkamen yang diikat pita emas kepada Ratu.

“Ini adalah pesan yang…” Belum selesai dengan ucapannya, pintu aula terbuka dan masuklah seorang wanita muda dengan raut kesedihan yang masih melekat. Orion menoleh seperti semua yang hadir di aula Edheline. Matanya menangkap sosok wanita cantik yang memotong pembicaraannya tadi. Hatinya seperti terusik melihat kesedihan yang menyelimuti wanita itu.

“Maaf aku terlambat ibu.” katanya singkat saat telah berdiri di samping Orion, mengacuhkan pria itu seolah menganggapnya tak ada.

Ratu Nāeri tersenyum singkat dan mengenalkan Orion pada wanita muda itu. “Dia adalah Orion Frâel putra Avari yang akan menjadi Verdenmu.” Orion menunduk memberi hormat saat diperkenalkan dengan wanita itu. Orion menatap wanita yang akan dijaganya, wanita itu balas menatap Orion angkuh dan tak peduli, lalu berjalan menjauh begitu saja untuk duduk di salah satu kursi di sudut ruangan.

Wanita? Jadi aku harus menjaga seorang wanita untuk misi sepenting ini. Dan lihatlah betapa angkuhnya dia? Mata Orion masih mengawasi wanita itu ketika Ratu menyuruhnya duduk.

“Putriku, Jane Svitkona akan melakukan misinya untuk menemukan Sapphire Blue yang menurut kabar terpendam di kegelapan gua-gua Vraëstone. Sejak kematian suamiku, Raja Hretgán…” suara Ratu terdengar bergetar. “Ini…pertama kalinya aku menerima permintaan Raja Abadel untuk membantunya melawan Morgoth. Meski kita, Calaquendi tidak punya peranan penting di Middle-Earth, mengingat kita telah beribu-ribu tahun yang lalu meninggalkan tanah itu. Tapi demi pengorbanan Raja dan para pejuang elf yang gugur dalam Pertempuran Petróvya tiga puluh tahun lalu, demi orang-orang yang kita kasihi yang mati dalam pertempuran…” Ratu menatap Jane sejenak. “serta demi para leluhur kita, Ingwe, Finwe, dan Elwe. Dengan ini aku menyatakan bantuan terbuka kepada saudara-saudara kita, Avari dan Nandor. Dan jika waktunya tiba, para Vanyar, Noldor dan Falmari akan kembali ke Middle-Earth untuk bertarung langsung melawan kekuatan Morgoth sang penguasa kegelapan.”

Pidato Ratu mendapat sambutan dari para bangsawan dan tetua yang hadir, mereka menggumamkan persetujuannya, bahkan ada yang mengangkat pialanya tinggi-tinggi dan bersorak, “Demi Raja Hretgán yang pemberani!”

Cedric, apa ini yang kau inginkan? Meninggalkanku lalu membuatku terlibat dalam pertempuran? Untuk apa aku harus peduli dengan Middle-Earth, dengan Moriquendi yang tak kukenal? Jane memejamkan matanya dan memegang dadanya yang sesak setiap kali dirinya menyalahkan Cedric. Diam-diam matanya menatap sosok Avari yang menjadi Verdennya, pria yang tampan dan sorot mata yang tajam, terkesan acuh, yang sedang membisikkan sesuatu di telinga temannya. Aku tidak akan cocok dengannya. Jane mengalihkan pandangannya ke Pohon Alea, tempat terakhir kali Avus memandangnya. Di saat yang sama Orion melihat Jane dengan tatapan penuh minat.

***

“Akan banyak elf pria dan wanita yang datang untuk Perayaan Silme Ereg tahun ini. Para Penunggang Ombak di tepi pantai pun akan datang, dan kudengar Noldor akan mengutus pangerannya. Kau tahu kan Jane? Pangeran Noldor sangat tampan, aku akan memberikan apa pun untuk bisa berdansa dengannya saat perayaan nanti.”

“Maka kau harus menyerahkan semua koleksi Lynx-mu padaku Lynnëa. Karena di sana, gadis-gadis itu akan menjadi sainganmu.” Jane menunjuk kumpulan gadis yang tengah berbincang santai tentang Silme Ereg dan Pangeran Noldor.

“Tidak akan kubiarkan.” Mata Lynnëa memandang sebal pada gadis-gadis itu.

“Kalau kau mengincar Pangeran Noldor, lalu bagaimana dengan Thróv? Sepupuku pasti akan sedih jika mengetahuinya.” Jane menggoda Lynnëa.

Lynnëa memutar kedua bola matanya dan tersenyum nakal, “Entahlah, mungkin dia akan kujadikan yang kedua.” Mereka tertawa bersama, tawa yang nyaring namun merdu,  membuat beberapa kupu-kupu raja yang sedang meneguk nektar terbang menjauh.

Jane duduk di bawah Pohon Elvéri memandang sinar bulan dari celah-celah dedaunan. Malam itu Perayaan Silme Ereg, namun ia memutuskan pergi dan menyendiri di sini. Wajahnya tersenyum cantik dan tanpa sadar melantunkan sebuah lagu.

O môr heniion i dhû:

Ely siiriar, êl síla.

Ai! Aníron Undómiel.

Tiro! Él eria e môr.

I ‘lîr en êl luitha ‘úren.

Ai! Aníron…  

“Suara merdumu akan lebih baik diperdengarkan dalam perayaan.” Sebuah suara membuyarkan kedamaiannya. Seorang pria berjalan mendekat, luar biasa tampan dan berwibawa. Ia tersenyum memandang Jane yang terhenyak sesaat.

“Siapa kau?” Jane bangkit dan merapikan gaunnya.

Pria itu tak menjawabnya, ia berjalan melewati Jane dan duduk di ujung akar besar yang menonjol dari Pohon Elvéri. Jane memperhatikan dengan seksama pria yang mengusik kesendiriannya. Sangat rupawan dalam balutan kemeja putih dan rompi coklat muda yang dihiasi tenunan dan bordiran perak, celana panjang gelap dan sepatu bot mengilap. Sebuah bros tersemat di dadanya, itu lambang Horntail – lambang Finwe, leluhur  kaum Noldor.

“Apa kau…Pangeran Noldor?” Jane bertanya ragu-ragu.

“Apa terlihat jelas di dahiku? Tulisan Pangeran?” Pria itu berusaha bercanda dan matanya jatuh memandang Jane yang pipinya bersemu merah karena malu. Mata yang hangat dan teduh, entah mengapa Jane merasa nyaman dalam tatapannya.

Pria itu berjalan mendekati Jane, sangat dekat hingga napas mereka menyapu wajah satu sama lain.

“Cedric…panggil saja aku Cedric.” bisiknya di telinga Jane.

“Mau berdansa denganku?” Cedric mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.

***

Sinar matahari pagi yang menyorot menerobos jendela bulat cembung itu, membuat Jane menggeliat dari tidurnya. Masih setengah terpejam, matanya pelan-pelan membuka dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok pria di hadapannya yang berdiri memunggunginya, pria yang dirindukannya. “Cedric!” ucapnya tak percaya. Pria yang dipanggil itu berbalik dan tersenyum sinis pada Jane.

“Kau!” Jane kaget karena pria itu bukan Cedric.

Man carel le? – Apa yang kau lakukan?” desisnya, “Lancang sekali kau Verden! Masuk ke kamarku tanpa izin.” Jane bangkit dari ranjangnya, gaun tidurnya melambai kasar. Ia mendekati penjaga barunya, Orion Frâel, dan menatapnya dengan pandangan murka.

“Jadi…namanya Cedric…?” Orion mengabaikan kemarahan Jane. Matanya melayang ke beberapa lukisan elf pria yang sangat tampan, dalam bingkai-bingkai emas berukir.

“Keluar! Gwanno ereb nin! – Tinggalkan aku sendiri!” Jane mengarahkan telunjuknya ke pintu, menyuruh Orion pergi. Matanya masih berkilat penuh amarah. Dadanya naik turun menahan napasnya yang memburu.

Orion menyeringai mengejek, membalas tatapan Jane dengan tajam dan melenggang pergi, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu ia berbalik dan berkata, “Kutunggu kau di lapangan latih tanding, kita akan menemui Maurel.”

“Apa kau kenal Cedric?” Orion bertanya pada Thróv di sela-sela latihan pedang mereka. Dengan satu lompatan Thróv menyeberangi jarak di antara mereka dan menusukkan pedang ke bahu kiri Orion. Mudah bagi Orion untuk menangkis pedang Thróv, bunga api biru berhamburan dari logam saat pedang mereka bergesekan. Thróv mendarat dengan ekspresi tertegun.

“Dari mana kau tahu nama itu?” Ia kembali menyerang dan Orion menghindari pedangnya dengan mencondongkan tubuh ke belakang.

“Sepupumu yang aneh itu…” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Thróv kembali menghujani Orion dengan serangkaian serangan yang cepat. Orion bisa menangkis dan menghindari setiap serangan, menggunakan sarung pedangnya sama seringnya seperti pedangnya untuk menghadapi serbuan Thróv.

Didorong untuk segera menuntaskan latihan mereka, Orion melompat setinggi mungkin, pedangnya menyambar, merah ditimpa sinar matahari, ia terbang ke langit membubung lebih dari sepuluh kaki sebelum akhirnya berjungkir balik dan mendarat di belakang Thróv. Ia menyerang Thróv, dan lapangan dipenuhi dentangan ribut saat mereka saling menyerang, maju mundur di rerumputan yang terinjak-injak. Kekuatan serangan mereka menciptakan angin kencang yang berhasil mengibarkan rambut mereka sampai berantakan, dan daun-daun berguguran. Duel pagi itu berlangsung lama. Dengan memutar-mutar pedangnya, Orion melesat melewati pertahanan Thróv dan berhasil memukul lengan atasnya. Thróv menjatuhkan pedangnya, wajahnya memucat karena shock. Orion tersenyum lebar, mengulurkan tangannya untuk membantu Thróv berdiri.

“Jadi…siapa Cedric?”

Thróv melayangkan pandangan ke sekitar lapangan, dengan sekali sapuan tangannya ia memberi tanda pada Orion untuk mengikutinya. Mereka memilih untuk duduk di bawah Pohon Dogwood di tepi sungai.

“Dia tunangan sepupuku, Putra Noldor. Namanya Cedric Caladriel.”

Tunangannya? Orion mendengarkan penjelasan Thróv dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Dimana dia sekarang?”

Thróv memejamkan matanya sesaat dan menghembuskan napas pelan, “Dia sudah meninggal dalam Pertempuran Petróvya.”

“Jadi, itu sebabnya sepupumu terlihat seperti orang yang menderita sepanjang waktu. Ditinggal mati oleh ayah dan kekasihnya sekaligus.”

***

“Orion sudah punya pedang ayah.” Thróv memandang iri pedang Orion yang telah melumpuhkannya pagi tadi.

Mata Maurel menunjukkan minat pada benda panjang yang melilit di pinggang Orion, “Boleh aku lihat anak muda?” Tangannya mengulur untuk meminta pedang Orion. Orion melirik Eleanord dan mengerling pada sosok Jane yang berdiri agak jauh dari mereka, seperti biasa tidak peduli. Ia menarik pedang dari sarungnya dan memberikannya pada elf tua itu. Maurel mengambil pedang Orion dengan ekspresi keheranan. Ia mengelus mata pedangnya, agak lama di simbol Raw yang terukir di sana, mengelus setiap inchi bilah pedang tersebut, melekuknya hingga Orion khawatir pedangnya akan patah. Lalu dengan kewenangan pejuang, Maurel mengayunkan pedang itu melewati kepalanya dan membelah batu besar di tanah diiringi suara berdentang.

“Sûlglor,” kata Maurel. “Aku ingat dirimu.” Ia menatap takjub senjata itu. “Sesempurna saat pertama kali aku melihatmu.”

“Apa maksud anda Sir?” Orion bingung dengan perkataan Maurel.

“Siapa pemilik sebelumnya?” Maurel menatap Orion menunjukkan minat yang sama seperti pedang yang dimiliknya.

“Ayahku.”

“Siapa nama ayahmu?”

“Oberon Putra Rhunön, Pangeran Rumah Rawânda.”

“Oberon?” Maurel terkejut mendengar nama itu. Ia maju memegang bahu Orion dan menatapnya dalam. “Ya…seharusnya aku mengenalimu sejak awal. Mata yang sama dengan mata ayahmu, dan luka itu…” Maurel melihat luka seperti bulan separo di dada kiri Orion. “Aku bahkan masih ingat jelas bagaimana kau mendapatkan lukamu Nak.”

“Kau…kenal ayahku?”

Maurel mengalihkan pandangannya, menatap langit dan mengangguk pelan.

“Ikut aku! Kalian juga…” Maurel menyuruh Orion, Thróv, Jane dan Eleanord untuk mengikutinya ke padang terbuka di sebelah selatan Edheline.

Mereka duduk mengelilingi meja kayu tua, padang itu menyebarkan aroma evening primrose yang selembut sutra. Jane duduk di antara Maurel dan Thróv, berhadapan dengan Orion, sikapnya masih sedingin sebelumnya. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Hanya matanya yang sesekali membalas tatapan Orion dengan marah.

“Tujuanku mengundang kalian,” Maurel menatap Orion, Eleanord dan Jane bergantian. “adalah untuk mengikat sumpah di antara kalian. Setelah sebelumnya aku memeriksa senjata milik Eleanord dan Orion, senjata-senjata yang kuat. Raja Abadel mengirim Varden terbaiknya, ini membuatku tenang. Putriku…kau akan aman bersama mereka.” Maurel menatap Jane dan menepuk lembut punggung tangannya.

Maurel berdiri memberi isyarat pada Orion, Jane dan Eleanord untuk berjalan ke tengah padang. Ia berdiri menghadap ke matahari yang sebentar lagi tenggelam.

“Sekarang waktunya mengucapkan sumpahmu.”

Setelah menguatkan diri dengan tarikan napas, Orion mendekati Jane dan memandang sekilas wajah yang dingin itu. Orion membungkuk dan berlutut di hadapannya. Ia mencabut Sûlglor dari sarung, meletakkan pedang itu rata di kedua telapak tangannya, lalu mengangkatnya. Napasnya memburu dan ia berpaling memandang Jane dengan tatapan tajamnya.

“Karena kehormatan yang kuterima sebagai Verden…dan penghargaan akan setiap kesulitan yang akan kau hadapi…aku, Orion Frâel Putra Oberon, putra bintang dan anak para Avari, memberikan pedang dan kesetiaanku untuk melindungimu…Putri Jane Svitkona, sampai misi kita selesai.”

Putra bintang? Jane menatap Orion, sorot matanya tak percaya, bibirnya bergetar. Cedric…kau…dia… Dengan ragu Jane meraih Sûlglor, menempelkan ujung pedang ke dahi Orion. Dengan gemetar dan nyaris menangis Jane berkata, “Aku terima, seperti kau menerima semua tanggung jawabmu. Bangkitlah sebagai Verdenku dan terimalah pedangmu.” Saat tangan Jane dan Orion memegang Sûlglor bersamaan, pedang itu bergetar pelan lalu mengeluarkan bunga api biru dari ujungnya dan mengalirkan sensasi hangat pada tubuh Jane dan Orion, Jane kaget dan melepaskan pegangannya, membuat Orion mundur beberapa langkah.

Maurel terkesan melihat pemandangan itu.

***

“Sangat menarik Yang Mulia.”

“Maksudmu, dia putra Oberon? Satu dari tiga belas Fuin-gûl?”

“Ya…dia putranya, aku tahu saat dia memiliki Sûlglor.”

“Apa kau yakin putriku akan aman di tangannya? Apa kau sudah memastikan bahwa benak anak itu bersih?”

“Ya, dia bersih Yang Mulia. Tapi tidak bisa kita pungkiri…darah Oberon mengalir di dalam tubuhnya.”

To be continue…

Nb: Annyeong!!! waaa ini FF fantasy pertama saya, ga jauh-jauh dari Elf ><”. Cast-nya lumayan banyak ^^ ini pertama kalinya saya melibatkan teman-teman 889 line :) happy reading…kalau ga happy salahkan author -.-”
Jangan tanya kenapa Cho Kyuhyun yang jadi pairing saya, saya juga ga tahu TT.TT [kena hipnotis senyumnya Kyu -__-]

The Beginning

Recommended backsound : Hug – Tohoshinki

Ps: Setelah mendengarkan lagu ‘Hug’ milik Tohoshinki dalam versi Jepang berulang kali, dan terbuai oleh dua suara favorit saya Junsu dan Mjeje, akhirnya saya membuat scene ini dalam bentuk monologue. Selamat membaca… ^^

***

Donghae memejamkan matanya dan tersenyum lebar. Ia menikmati sinar matahari musim gugur yang menghangatkan wajahnya. Sementara jendela Blue bus yang dibiarkannya terbuka memberi celah bagi angin untuk mengibarkan rambut coklat tuanya. Donghae sangat jarang bisa menikmati musim gugur seperti ini. Di musim gugur suhu udara cukup enak hingga sesuai untuk berjalan-jalan, seperti yang dilakukannya sekarang.

Banyak sekali rencana yang ia dan sahabatnya Lee Hyukjae ingin lakukan, seperti pergi ke festival Jungyangjeol untuk sekedar mencicipi gukhwajeon (pancake krisan) atau yujacheong (teh madu sitrun), dan menonton langsung beberapa pertandingan olahraga. Tapi saat ini ada hal lain yang harus dilakukannya.

Donghae turun di halte dekat kompleks perkantoran, dikeluarkannya topi kesayangannya dan kacamata hitam dari ranselnya lalu dipakainya, hanya untuk antisipasi dan berjaga-jaga dari para penggemar yang siapa tahu mengenalinya. Kakinya melangkah ke tempat pertama yang sudah direncanakan sebelumnya. Berbelok di tikungan kedua di samping coffee shop yang kelihatannya baru saja dibuka.

Donghae berhenti sejenak di depan etalase toko bunga, mengetuk dagunya dengan telunjuk berulang kali sambil menimbang bunga apa yang akan dibelinya untuk wanita itu. Donghae membuka pintu toko bunga, bunyi lonceng yang terpasang pada bagian atas pintu mengalun pelan dan lembut di telinga. Ia masuk bersamaan dengan keluarnya seorang gadis. Aroma lavender yang menguar dari tubuh gadis itu menahan langkah Donghae sesaat hanya untuk menghirup lebih dalam wanginya, wangi yang disukainya.

Tidak sampai lima menit, namja itu keluar dengan seikat lili cala yang dihias cantik dengan pita merah muda dan terangkai dalam balutan kertas berwarna kuning. Ia tersenyum puas melihat bunga yang digenggamnya, diciumnya sebentar, lalu melangkah ringan ke tempat selanjutnya.

Donghae berdiri di tepi jalan menunggu lampu lalu lintas berganti merah. Di sampingnya berdiri sederet anak-anak Sekolah Dasar yang juga hendak menyeberang, mereka didampingi seorang guru muda yang cantik. Sesekali guru muda itu membetulkan letak kacamatnya yang melorot di hidung kecilnya sambil terus mengawasi anak-anak muridnya. Mereka pun menyeberang ketika kendaraan-kendaraan beroda itu menghentikan lajunya. Donghae dengan senang hati membantu guru muda itu menuntun murid-muridnya untuk menyeberang.

Dari seberang, para gadis SMA memandangnya antara tidak percaya dan terpesona, bahkan ada yang terang-terangan mengambil gambarnya lewat ponsel canggih mereka. Saat Donghae sampai di seberang, gadis-gadis SMA itu bergumam dan berbisik-bisik satu sama lain, melempar senyum paling manis yang bisa mereka berikan pada Donghae. Penyamaran sederhananya terbongkar, tapi namja itu tak ambil pusing.

Donghae membungkuk menyampaikan salam perpisahan dan melambai kepada anak-anak Sekolah Dasar juga kepada ibu gurunya, yang balas membungkuk, berterimakasih untuk bantuan Donghae tadi. Namja itu juga sempat melempar senyum pada rombongan gadis remaja yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-geriknya dan berteriak-teriak memanggil namanya.

Donghae begitu menikmati keramaian kota dengan berjalan kaki, bukannya ia tidak mau naik mobil pribadi karena tidak mahir mengendarainya, tapi ia lebih suka bertegur sapa dengan orang lain meskipun tidak mengenalnya. Ia menyukai saat orang-orang berjalan mengejar waktu untuk kembali ke tempat kerjanya saat makan siang usai, atau untuk memenuhi janji dengan teman atau kekasih di tempat favorit mereka.

Akhirnya Donghae tiba di depan kamar rawat inap, di sebuah rumah sakit. Dibukanya perlahan pintu kamar itu, ia menjulurkan kepalanya ke dalam memastikan keberadaan orang yang akan dijenguknya. Ia tersenyum lalu melangkah masuk, mendapati wanita itu tengah tertidur pulas dengan seragam rumah sakitnya. Donghae menuju meja kecil di samping ranjang, mengeluarkan bunga yang sudah layu dari vasnya yang silinder sempurna lalu menggantinya dengan bunga lili cala yang tadi dibelinya.

Ia melepas kacamatanya dan menyelipkan gagangnya di kerah koas putihnya yang tertutup kemeja, menarik kursi di samping ranjang dan duduk sambil tersenyum memandang wanita yang berbaring dengan napas teratur dari dadanya yang naik turun di balik selimut rumah sakit yang bermotif garis-garis biru vertikal. Donghae memijat kaki si wanita dengan sayang, menggosok lembut punggung tangannya dan menciuminya, sambil bersenandung seperti menyanyikan lagu pengantar tidur. Hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata dari kedua ujung matanya.

Hampir lima belas menit ia menunggui wanita itu di rumah sakit, waktunya untuk pulang. Ditariknya selimut sampai menutupi dada wanita itu, dan dikecup keningnya yang sudah menampakkan kerut-kerut kecil serta diciuminya pucuk kepala wanita paruh baya yang beberapa helai rambutnya mulai memutih. Donghae membisikkan sesuatu di telinga wanita itu, tersenyum sekilas saat memandang wajah damainya, lalu berjalan keluar.

Di tengah perjalanan pulang, Donghae tertarik pada kumpulan orang-orang yang mengerumuni seorang musisi jalanan. Musisi itu memainkan lagu Goose’s Dream dengan alunan violinnya yang merdu. Beberapa orang yang mengapresiasi usahanya melemparkan koin-koin logam dan uang kertas ke dalam kotak violinnya. Namja itu pun melakukan hal yang sama, lalu melanjutkan perjalanannya.

Donghae mengernyitkan keningnya, mendongak menatap langit yang mulai tertutup awan kelabu. Tes…setitik air hujan tepat mengenai pipinya. Detik berikutnya rintik demi rintik hujan mulai membasahi pedestrian dan meninggalkan bekas titik-titik air yang banyak di celana jeans dan juga kemejanya. Hujan di musim gugur memang jarang sekali terjadi.

Ia berlari menuju emperan toko terdekat, meskipun terlindung topi tapi ia tidak mau mengambil resiko basah kuyup dengan menerjang hujan yang semakin deras untuk menunggu taksi yang lewat. Di saat bersamaan seorang gadis pun berlari ke tempat yang sama. Gadis itu tampak kerepotan dengan barang bawaannya – sebuah buket bunga yang cukup besar. Ia menepuk-nepuk pundaknya yang basah dengan tangannya yang bebas. Mengelap tetes-tetes air dari dagunya dengan punggung tangannya. Saat itu Donghae berpikir untuk mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, tapi wanita itu keburu mengambil sapu tangannya sendiri.

Diliriknya buket bunga yang dibawa gadis itu, untungnya tidak rusak meski plastik pembungkusnya sedikit basah oleh titik-titik air hujan. Rangkaian mawar putih tersusun cantik, mungkin hampir empat puluh tangkai, di dalamnya terselip sebuah kartu ucapan selamat dengan tulisan ‘I Love U Mom’ yang ditulis miring dan rapi, sepertinya tulisan gadis itu.

Mawar putih sering diidentikkan dengan ketulusan, nampaknya gadis itu ingin menyampaikan ketulusan cintanya lewat rangkaian mawar, atau mungkin ia hanya ingin memberikan bunga yang disukai ibunya. Terlepas dari itu, ia pasti sangat menyayangi ibunya. Donghae tersenyum dengan pikiran-pikrannya. Ia sendiri tidak menolak jika ada penggemarnya yang mau memberinya mawar putih. Tapi ia akan lebih senang jika itu lavender, bunga kesukaannya. Saat pikirannya menyentuh lavender saat itu juga Donghae mencium aroma lavender di dekatnya.

Aroma itu berasal dari gadis di sampingnya.

Diperhatikannya gadis itu dengan seksama saat ia sedang meniup-niup poninya, mungkin itu caranya mengeringkan poninya yang basah. Kedua bola matanya yang melihat ke atas sepakat untuk mengawasi gerakan poninya yang naik turun, menutup dan memperlihatkan keningnya yang indah. Pipinya yang mengembung tiap kali menghembuskan udara dengan bibir bawahnya yang dimajukan, tidak bisa menahan bibir Donghae untuk tersenyum.

Namja itu asyik memperhatikan gadis yang berdiri kurang dari semeter di sampingnya, ia begitu terpesona dengan wajahnya yang cantik dan manis, perpaduan yang menawan. Efek dari melihatnya lama-lama membuat jantung Donghae berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan seperti ada sesuatu yang menggeliat di dalam perutnya, entah itu naga yang berontak ingin dilepaskan atau sekelompok Leprechaun yang sedang berebut emas. Ini, pertama kalinya ia merasakan sensasi seperti ini saat melihat seorang gadis. Donghae tidak tahu, yang jelas ia sangat bersyukur karena hujan bisa mempertemukan mereka.

Tiba-tiba gadis itu menoleh dan menatapnya dengan pandangan aneh. Tertangkap basah karena sedang memperhatikan seorang wanita sungguh tidak enak. Kau bisa disangka penguntit atau lelaki hidung belang. Tapi bukan itu yang ditakuti Donghae, ia hanya takut kalau gadis itu tahu siapa dirinya.

Sepertinya dia bukan tipe gadis infotainment atau termasuk dalam kelompok fangirl yang bisa dengan mudah mengenali idolanya. Gadis itu langsung membuang muka segera setelah – sepertinya – menilai bahwa tidak ada yang mencurigakan dari Donghae. Ia kembali menyibukkan diri dengan permainan tiup poninya. Donghae menghela napas lega dan mengalihkan perhatiannya pada mobil-mobil yang lalu lalang di jalan.

Cukup lama mereka berdiri di depan toko menunggu hujan reda. Tidak satu pun percakapan terjadi di antara keduanya. Entah kenapa lidah namja itu seperti terkunci saat hanya ingin sekedar mengucapkan salam. Begitu juga dengan gadis itu, ia sepertinya tidak mau repot-repot membuka percakapan dengan pria asing yang tidak dikenalnya. Meski pada kenyataannya pria di sampingnya itu sangat terkenal di seluruh dunia.

Bosan karena tidak ada yang bisa dilakukan, gadis itu mencari kegiatan lain untuk membunuh waktunya. Tangan putih kurusnya dijulurkan ke depan, menantang rintik hujan yang jatuh. Mengumpulkan air dalam tadahan tangannya, tersenyum kecil tiap kali titik-titik itu menggelitik permukaan tangannya. Setelah tangannya dipenuhi genangan air ia akan segera menumpahkannya, dan kembali mengumpulkannya dengan perasaan yang riang. Gadis itu seperti anak kecil yang polos ketika bermain dengan air.

Donghae tidak tahan untuk tidak ikut-ikutan bermain air seperti gadis di sampingnya. Perlahan ia menjulurkan tangannya, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan gadis itu. Melihat tangan lain yang juga terjulur gadis itu menoleh ke arah Donghae, ia memiringkan kepalanya dan tersenyum pada Donghae.

Hampir saja keseimbangannya goyah saat Donghae menatap gadis itu, yang tersenyum padanya. Senyum paling manis yang pernah dilihatnya itu berhasil menggetarkan dadanya dan membuat kakinya sedikit gemetar. Dengan kikuk, Donghae membalas senyumnya.

Entah iseng atau hanya ingin mengajaknya bermain, gadis itu mencipratkan genangan air dalam tangannya ke wajah Donghae. Kaget karena diserang, namja itu hanya terpana melihat tawa lepas gadis yang sudah membuat wajahnya basah. Tapi tidak saat gadis itu kembali menyerangnya, tanpa pikir panjang Donghae pun membalas serangan gadis itu, mencipratkan sedikit air ke wajahnya. Mereka tertawa bersama menghilangkan kecanggungan dan kebosanan yang dari awal terasa menegangkan.

Donghae baru tahu mengapa anak-anak suka sekali bermain hujan dan perang air. Ia tidak pernah sebahagia ini saat melihat seorang gadis tertawa lepas bersamanya. Donghae berharap hujan kali ini bisa turun lebih lama.

Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, menerima panggilan masuk. Ia tersenyum lebar saat tahu seseorang akan datang menjemputnya. Diberitahunya tempat dimana ia berada sekarang, selang beberapa menit kemudian seorang pria paruh baya berjalan sambil melambaikan tangannya, tangan satunya menggenggam payung yang cukup besar untuk mereka berdua. Gadis itu balas melambai, tak sabar dihampiri ia malah nekad menerobos rintik hujan. Sekilas gadis itu menoleh dan melempar senyum manisnya pada Donghae, seakan ingin mengucapkan terima kasih.

Hati Donghae mencelos, ia tak sanggup membalas senyuman itu. Hanya sesak dan penyesalan yang dirasakannya, ia mengumpati dirinya sendiri yang tidak bertindak cepat untuk menanyakan siapa nama gadis itu. Dengan wajah hampa ia memandang kepergian gadis itu.

Donghae tertunduk lesu memandangi sepatu ketsnya yang basah akibat percikan air hujan yang menghantam lantai kaki lima. Sampai matanya tertumbuk pada selembar kartu yang tergeletak di dekat sepatunya. Dipungutnya kartu itu yang ternyata adalah ID card, kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional. Foto seorang gadis dengan senyum tertahan terpampang di sudut kiri, gadis cantik yang tadi berdiri di sampingnya. Matanya beralih melihat nama yang tertera di samping foto, Han Taera. Senyumnya mengembang seperti semangatnya yang kembali terpompa memenuhi relung-relung hatinya.

Han Taera, gadis itu mungkin tidak sengaja menjatuhkan kartu perpustakaannya saat tadi mengeluarkan ponsel dari tasnya.

Han Taera…Donghae terus mengulang-ulang nama itu di dalam hatinya. Tanpa sadar kakinya melangkah menyambut hujan yang tak lagi deras, merentangkan tangannya dan menengadah membiarkan wajahnya dibasahi rintik hujan. Itu caranya meluapkan kebahagiaan. Karena Donghae yakin akan ada pertemuan kedua dengan Han Taera.

On Angels Wings [Part 2]

Main casts                                          :

(Elf)

  • Orion Frâel (Cho Kyuhyun)
  • Jane Svit-kona (Han Taera)
  • Cedric Caladriel (Lee Donghae)

Supported casts                               :

(Elf)

  • Eleanord (Kim Jongwoon)
  • Thróv (Choi Siwon)
  • Maurel (Kim Heechul)
  • Serandor (Lee Hyukjae)
  • Abadel (Park Jungsoo)
  • Hretgán (Lee Sungmin)
  • Oberon (Han Geng)
  • Lynnëa (Cho Eunjae)
  • Arwen (Kwon Jiah)
  • Aurielle (Song Pipot)
  • Nāeri (Tara Andhari)

(Valar)

  • Lynx (Jung Yunho)
  • Pavo (Kim Jaejoong)
  • Avus (Kim Junsu)
  • Volans (Park Yoochun)
  • Cygnus (Shim Changmin)

Author Notes

-          Calaquendi (elf cahaya)

-          Moriquendi (elf kegelapan)

-          Valar (malaikat)

-          Avanguard (pengawal Valar)

-          Vanyar (kaum Ingwe yang tinggal di tanah para Valar (Valinor) dan menjadi kaum elf yang paling mulia dan terhormat, layaknya para bangsawan yang terhormat. Mereka disebut Elf Rupawan)

-          Noldor (kaum Finwe yang tinggal di antara keluarga Falmari (elf yang tinggal di tepi pantai) dan Vanyar (elf yang tinggal di dekat kediaman para Valar). Mereka disebut Elf Dalam)

-          Falmari (kaum Olwe yang memilih untuk tinggal di tepi pantai agar dapat memandangi Middle-Earth  dari jauh. Disebut juga Kaum Penunggang Ombak)

-          Avari (kaum elf yang menolak ikut ke Valinor dan tetap tinggal di Middle-Earth)

-          Nandor (kaum elf yang memilih untuk tidak meneruskan perjalanan ke Valinor dan menetap di tanah yang mereka sedang lalui)

-          Verden (penjaga, Varden (jamak) para penjaga)

-          Xelomor (pegunungan terkutuk, kediaman Morgoth)

-          Fuin-gûl (kaum terkutuk, elf pemberontak yang mendukung kekuasaan Morgoth)

-          Elvish (bahasa yang dipakai para Elf untuk berkomunikasi)

Ps: Mára aurë…! – Hello…!

Akhirnya Part 2 yang panjang ini selesai juga (ˇ_ˇ’!l) sampai terbawa emosi saat menulisnya. Sebenarnya saya masih ingin mengulur waktu untuk menyelesaikannya, masalahnya otak saya memang lagi buntu untuk mengeluarkan ide. Ya…tahu sendirilah, apalagi kalau bukan karena ‘insiden WGM’ (¬_¬”) #abaikanDonghae ><”

Seperti biasa Fanfic ini saya persembahkan untuk teman-teman 889 line ^^, karena seseorang menyuruh saya untuk segera melanjutkan cerita ini maka saya mengais-ngais ide di kepala yang berjogedan gak jelas. Buat beberapa cast yang belum keluar di part ini, sekali lagi saya minta maaf…!! masalahnya mereka memang belum boleh keluar (˘̩̩̩_˘̩ƪ) dan bagi yang belum baca Part 1, kalian bisa membacanya di blog ini juga -,-“

Fanfic ini juga saya persembahkan untuk semua Sparkyu di seluruh Middle-Earth (?), karena Pangeran Avari kita berulang tahun hari ini.

Hei Kyu!! Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan,

“Garo arad-o-onnad ‘elir!  -  Have a happy birthday!”

______________________________________________________________________

“Kenapa kau bertempur?”

“Karena aku ingin melihatmu bahagia.”

 

“Tidak! Itu roch Cedric!” Jane maju dan menarik paksa tali kekang Narhen, kuda jantan putih yang sangat indah. Rambut peraknya menjuntai lemah di sisi-sisi wajahnya hingga ke ujung lehernya yang jenjang.

“Tidak kuizinkan kau menungganginya!” Jane membelai kepala Narhen. Kuda itu menatap Jane dengan mata abu-abunya yang basah.

“Tapi dia butuh majikan baru, Yang Mulia.” Orion menekankan kata ‘Yang Mulia’ dengan nada sedikit mengejek. Orion mengambil kembali kekang Narhen, membiarkan kuda itu mencium tangannya; hewan itu membiarkan ia menggosok-gosok lehernya. “Lagipula dia tak keberatan.” Senyum sinis tersungging di wajahnya.

“Kau boleh ambil roch yang lain asal jangan dia!” Jane setengah berteriak saat hendak menepis tangan Orion dari Narhen.

“Yang Mulia Ratu mengizinkan Orion memilih kudanya sendiri Jane.” Thróv masuk ke istal bersama Eleanord dan berjalan mendekati mereka.

“Dan kurasa, Cedric akan senang jika Narhen ikut dalam misi kalian.” gumam Thróv.

“Tidak! Tidak akan kubiarkan Narhen menjadi miliknya.” Mata Jane membara menatap Orion. “Juga, tidak akan kubiarkan…Narhen…mati konyol…” Airmata mengalir di kedua pipinya yang pucat. Ia berbalik kasar dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Otot-otot di rahang Orion berkedut saat ia menggertakkan gigi. Tangannya mengepal dan memandang punggung Jane dengan dingin. Aku akan melucuti keangkuhanmu putri Vanyar

***

Orion mengemasi barang-barang miliknya dalam waktu singkat. Ia mengambil pelana pemberian Thróv, berlari secepat mungkin menuju istal, membawa Narhen keluar dan mengikatkan pelana ke punggungnya, lalu menyampirkan tas-tasnya di sana. Selanjutnya Orion berjalan ke gerbang Edheline, di sana ia mendapati Eleanord yang sepertinya sedang mendapat ‘hadiah selamat jalan’ dari elf wanita cantik.

“Ini untukmu…” kata elf wanita itu malu-malu, “kuharap kau suka.” Ia menyerahkan seikat foxglove dan lili yang terangkai indah. Eleanord menerimanya dengan wajah bingung.

“Pengagummu perhatian sekali El…” Orion tidak tahan untuk tidak menggoda sahabatnya. Eleanord tersenyum samar.

“Apa kau sudah selesai Lynnëa?” Thróv tahu-tahu sudah berdiri di antara Lynnëa dan Eleanord, ia menarik wanita itu ke belakangnya, menghalangi pandangan Lynnëa ke Eleanord.

“Apa kau cemburu, bodoh?” bisik Lynnëa, ia terkikik geli melihat tingkah Thróv.

“Siapa yang cemb…aku hanya…kau hanya…yeah, kau hanya jangan membuat ulah. Jaga kelakuanmu young lady!” Thróv melotot pada Lynnëa.

Kurang dari lima menit kemudian, Ratu Nāeri  dan rombongannya muncul dari kedalaman Aula Edheline. Tunik merahnya begitu kontras dengan jubah serba putih para bangsawan yang menemaninya. Di belakangnya berjalan dengan keangkuhan yang menawan, Jane Svitkona, ia mengenakan pakaian kulit hitam dan sepatu bot setinggi lutut, menyandang ransel bepergian dan pedangnya, bergerak sesantai dan selincah kucing, meski wajahnya tak bisa menutupi ketidaksukaan atas misi yang ditugaskan padanya. Sewaktu matanya menangkap keberadaan Narhen yang berdiri di samping Orion, kebencian kembali menjalari tubuhnya.

“Hari ini, kalian bertiga,” Mata Nāeri memandang Jane, Orion dan Eleanord sekilas, “akan berangkat melakukan misi. Mungkin perjalanan kalian akan melalui banyak rintangan dan memakan waktu yang lama, tapi kuharap kalian bisa segera menemukan batu itu. Karena aku mendapat kabar dari Rhovanion, Morgoth berencana memobilisasi pasukan orcnya untuk menguasai wilayah itu.”

Ratu Nāeri mendekati putrinya, memeluknya erat dan bergumam menyampaikan pesan-pesan, lalu ia memberi Jane sesuatu yang tersimpan dalam kantung merah berbordir emas. Nāeri mengecup lembut kening Jane dan berkata, “Noro go hûl, bado go Eru – berlarilah bersama angin, pergilah bersama Eru.”

Nāeri mengulurkan tangan dan Maurel memberikan kotak kayu tipis tanpa hiasan, ia berjalan ke arah Orion.

“Keluarga Finwe mempercayakan benda ini padaku, dulunya ini milik pejuang Noldor paling berani yang pernah kulihat, pria berhati mulia yang berkorban demi bangsanya. Anggaplah ia memintamu untuk melanjutkan perjuangannya yang belum selesai.” Nāeri membuka kotak yang menampilkan busur hitam panjang dengan batang dan ujung melengkung yang terselip pada bantalan beludru biru. Lambang Horntail ada di ujung dan pegangan busur. Di sampingnya terdapat setabung anak-anak panah baru dengan bulu angsa putih. “Ini salah satu senjata berharga kaum Noldor, ini milik Cedric Caladriel.”

Baik Orion dan Jane menegang ketika mendengar nama itu.

***

“Hati-hati…” Thróv memeluk erat sepupunya. “Kita akan bertemu di Rhovanion, segera setelah kau menemukan batu itu. Sudah saatnya kita bersatu untuk mengakhiri tiran Morgoth di Middle-Earth.”

“Aku tidak mau bertempur Thróv. Aku tidak ingin kau, ibu, Maurel atau yang lainnya pergi seperti ayah dan dia pergi meninggalkanku. Tidak bisakah kita tutup mata tentang Middle-Earth? Tidak bisakah kita hidup tenang di Valinor? Aku sudah cukup berduka karena kepergiannya. Aku hanya tidak mau terlibat dengan sesuatu yang telah merenggut nyawanya.” Jane menangis di bahu sepupunya, menumpahkan semua keengganannya.

“Tidak Jane, bukan ini yang Cedric inginkan.” gumam Thróv membelai punggung sepupunya dengan sayang.

Dari jauh Orion memperhatikan Jane dan Thróv.

“Lihat itu!” Eleanord berhasil membuat Orion mengalihkan perhatiannya.

“Apa mereka valar…?” Eleanord berbisik tak percaya.

Dari langit timur, lima valar terbang mendekat ke Edheline, sangat terang dengan sayap-sayap yang berkilau. Tidak lama kemudian mereka mendarat dengan gerakan yang begitu luwes, sampai-sampai Eleanord ternganga. Bahkan Nāeri yang setiap gerakannya seperti menari, tidak bisa menandingi mereka.

Berjalan menuju Ratu Nāeri nyaris tanpa suara, jubah putih mereka yang melambai tertiup angin, hanya menimbulkan desir halus. Dengan garis-garis wajah yang memang sempurna, mereka lebih daripada sekadar rupawan.

“Lynx, Pavo, Avus, Volans, Cygnus…kalian datang,” Ratu Nāeri sedikit terkejut dengan kedatangan valar-valar indah itu. Ia segera membungkuk anggun memberi hormat, para tetua, bangsawan, pengawal juga Jane, Thróv dan Lynnëa segera melakukan hal yang sama. Hanya Orion dan Eleanord yang tetap berdiri, bingung dan terpaku melihat pemandangan itu. Ini pertama kalinya mereka melihat valar secara langsung, bukan melalui buku-buku cerita yang biasa diceritakan oleh orang-orang tua atau pendongen keliling yang mengisahkan keindahan Valar di Valinor sewaktu mereka masih kecil.

Valar yang paling tampan maju mendekati Nāeri, rambutnya kuning keemasan. Sangat sunyi saat ia berjalan, seolah seluruh makhluk di Edheline khusyuk mengikuti setiap gerak-geriknya, burung-burung pun tidak berani terbang atau berkicau.

“Apa yang diceritakan saudaraku Avus tentang keputusan kalian untuk melakukan misi, menjadi perdebatan di antara para valar.” Suaranya seperti alunan simfoni alam yang menggetarkan jiwa, begitu merdu. Orion tak percaya ia bisa mendengar suara malaikat dengan telinganya sendiri.

“Maafkan aku, Pavo…” Ratu Nāeri membungkuk lebih dalam, mewakili rakyatnya untuk meminta ampunan.

Valar bernama Pavo, yang tampaknya adalah pemimpin mereka menyuruh Nāeri bangkit. Ia melanjutkan kata-katanya yang seperti sebuah nyanyian.

“Saat pertama valar mengundang para elf untuk tinggal bersama kami di Valinor, kami berharap kalian para Calaquendi untuk tidak terlibat dengan kerusakan dalam bentuk apa pun di dunia ini. Dan itu ditepati oleh keturunan-keturunan pertama Ingwe, Finwe, dan Olwe. Kami ingin kalian hidup damai di Valinor, menjadikannya tempat terindah yang pernah ada di dunia, sementara kami berkumpul di dunia atas.” Matanya menatap puncak Véongrad yang tertutup awan. “Sampai saat Hretgán, Raja Vanyar yang pemberani datang menemui kami untuk meminta izin membantu bangsa kalian yang menderita di Middle-Earth, membuat kami berpikir bahwa hal semacam ini tidak bisa lagi dihindari. Kami sangat mengagumi betap besarnya kepedulian kalian terhadap nasib ras kalian.” Pavo menarik napas panjang dan memalingkan wajahnya, menghentikan kata-katanya.

Seorang valar dengan wajah yang paling tenang maju ke samping Pavo, rambut hitamnya yang sebahu nyaris menutupi wajah tampannya, dan ia meneruskan cerita Pavo, “Arda, elf pertama yang “dibangunkan” di bawah sinar bintang menjadi teman pertama kami. Ia dan keturunannya lalu  tinggal di tepi aliran sungai, kami mengajarkan mereka cara menciptakan puisi, musik dan lagu… Mereka hidup dengan damai, sampai kejahatan masuk ke Middle-Earth dan mengubah Morgoth – valar pemberontak yang ingin menghancurkan segala yang baik di dunia, menjadi Tuan Kegelapan yang meneror ketenangan Middle-Earth. Kami tidak bisa mengabaikan bahwa kami pun bersalah dalam hal ini, menutup mata dari penderitaan yang dialami ras kalian. Mencoba hidup tenang di Véongrad sambil sesekali mengawasi Valinor dan melakukan kontak dengan kalian.”

“Kami menanggung…apa yang seharusnya menjadi beban kami dengan kelapangan hati, Volans…” Maurel berbicara merendahkan diri untuk menghindari rasa bersalah valar-valar itu terhadap penderitaan Middle-Earth.

“Tapi, apakah kalian pernah mengawasi Middle-Earth dan mencari tahu seberapa parah kerusakan yang telah ditimbulkan teman kalian yang memberontak itu?!” seru Orion, ia tidak tahan untuk menyela kisah pertemanan-baik-valar-elf yang membuatnya mengubah persepsi tentang valar. Mereka tidak bertanggungjawab. Tidak jika mereka hidup tenang di sini dan kami mempertahankan tanah dan kebebasan kami dari kelaliman Morgoth.

Semua yang hadir menahan napas, dan menatap Orion dengan pandangan tercela. Calaquendi menganggap valar adalah yang terhormat hingga tidak pantas untuk menerima penghinaan seperti yang baru saja Orion lakukan.

Valar yang paling tinggi hendak maju untuk mendekati Orion, namun langkahnya ditahan valar bermuka sendu.

“Tidak Cygnus…” Valar itu menggeleng pelan kepada si valar tinggi. Suaranya sangat merdu namun berbanding terbalik dengan ekspresinya yang seperti menanggung beban berat.

“Tapi dia telah melampaui batas Avus…” tolak Cygnus. Sayapnya terbentang, sangat lebar, menimbulkan angin kencang yang membuat rerumputan bergoyang hebat dan daun-daun berguguran, wajahnya tampak tersinggung.

Semua elf ketakutan, mereka belum pernah melihat kemarahan Cygnus. Orion sendiri merasa gemetar, ia tidak menyangka provokasinya akan menyulut kemarahan seorang valar. Valar tinggi itu memiliki temperamen yang sulit dikendalikan. Valinor tidak selamanya cerah dengan cuaca yang bersahabat, ada kalanya langit Valinor menjadi gelap dan petir menyambar dari puncak Véongrad, itu hanya salah satu pertanda jika Cygnus sedang meluapkan amarahnya.

Di sudut lain, Lynnëa tampak gelisah dan ketakutan ia menyembunyikan sebagian tubuhnya di belakang Thróv dan mencengkeram keras lengan pria itu. Namun seketika, bibirnya tersenyum dan matanya berbinar begitu mendengar suara yang dikaguminya.

“Tahan, saudaraku…” seru valar bertubuh tinggi lainnya. Ia menginstruksikan Cygnus untuk tenang dan menutup sayapnya.

“Maafkan atas kelancangan kami Lynx…” Ratu Nāeri menunduk lemah pada valar bernama Lynx yang berjalan ke sampingnya, diikuti Pavo dan Avus.

“Apa dia yang akan menjadi verden bagi Jane?” Lynx menatap Orion dan Jane bergantian. Orion melirik Jane yang tidak bisa menutupi wajah tegangnya. Ingin sekali ia berdiri di dekatnya dan memberi sedikit ketenangan.

“Lynx, Cygnus…kalian tahu apa yang harus dilakukan pada Jane bukan?” Pavo memerintahkan saudara-saudaranya untuk melakukan sesuatu yang telah mereka sepakati pada Jane. Tanpa sadar tangan Orion terkepal, ia tidak suka membayangkan valar-valar itu melakukan hal buruk pada Jane. Namun Orion hanya bisa diam saat tak satu pun dari para elf yang mencoba untuk menginterupsi. Bahkan Nāeri tampak pasrah, dan Jane, meski terlihat gurat ketakutan di wajahnya tapi ia maju mendekati dua valar dengan ketenangan yang dipaksakan. Hanya perasaan Orion saja atau apa, saat matanya menangkap sosok Avus yang ekspresinya seperti dirinya, tidak suka dengan apa yang akan dua valar tinggi itu lakukan pada Jane. Wajah Avus tampak semakin tersiksa.

Lynx dan Cygnus sudah berdiri di samping kanan dan kiri Jane. Cygnus seperti melupakan kemarahannya saat ia menatap Jane dengan tatapan kasihan.

“Ini tidak akan sakit Jane.” janjinya.

Mendengar itu, jantung Orion berdetak cepat. Ia hampir maju untuk mencegah Cygnus menyakiti Jane – ia bahkan siap melawan valar itu meski ia tidak yakin kemampuan tempurnya akan menyelamatkan nyawanya dari kekuatan Cygnus, jika saja Eleanord tidak mencengkeram dan menahan bahunya.

Lynx dan Cygnus menautkan kedua pasang tangan mereka sehingga mengelilingi Jane. Membuka sayap-sayap putih bercahaya mereka, menutupi tubuh Jane seutuhnya dari pandangan. Mereka pun merapalkan sebuah mantra yang terdengar seperti melody, meski begitu suara mereka memberi dampak yang membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.

Detik berikutnya Orion tersungkur sambil menutup kedua telinganya saat mendengar jerit kesakitan dari Jane. Jeritan Jane mengoyak dinding-dinding hatinya.

***

Subuh kelabu dan mendung diiringi angin yang sangat dingin. Lembah sunyi. Sesudah sarapan ringan, Orion dan Eleanord memadamkan api dan menyandang ransel masing-masing, dan bersiap berangkat. Mereka sudah melakukan perjalanan hampir empat minggu dan telah sampai di selatan Pegunungan Misty setelah melewati Dunland.

Jane yang sepertinya tidak tidur semalaman sudah menunggu mereka di samping rochnya sambil memainkan ujung sarung pedangnya. Ia tidak menghiraukan kesibukan vardennya.

Jane masih bersikap angkuh seperti yang biasa ia tampakkan, dan Orion tidak pernah pura-pura bersikap lembut hanya untuk sekadar melunakkan hatinya. Eleanord yang kelihatannya lebih bisa dekat pada Jane ketimbang Orion selalu mencoba menjadi penengah ketika keduanya mulai terlibat pertengkaran kecil yang selalu berakhir pada perasaan terluka di salah satu pihak. Seperti pagi ini saat mereka berkuda menuju Hutan Doriath.

“Tidak bisakah kau tidak bersikap angkuh young lady? Berhentilah bersikap acuh dan berpikir bahwa kau orang paling malang di dunia ini…!!”

“Tidak bisakah kau tidak memedulikan aku verden? Kerjakan saja tugasmu! Jangan campuri urusanku! Dan kau…tidak berhak menilaiku!!!”

“Tidak bisakah kalian berhenti bertengkar?!” Eleanord sudah bosan dengan pertengkaran mereka.

“Diam kau El!!!” bentak mereka bersamaan. Hal itu membuat Eleanord jengkel dan memacu rochnya untuk berlari cepat meninggalkan mereka.

“Apa kau pikir hanya dirimu yang kehilangan orang-orang tercinta? Kalian Calaquendi, terlalu nyaman hidup di Valinor. Pernahkah kau berpikir, banyak anak yang kehilangan ayahnya, ibu yang kehilangan anaknya, istri yang kehilangan suaminya, adik yang kehilangan kakaknya? Pernahkah kau mendengar tangisan yang memilukan dari orang-orang yang kehilangan tersebut? Jadi berhentilah bersikap acuh pada kesengsaraan! Dan berhenti menangisi kekasihmu yang sudah mati itu!!” Orion berteriak kasar pada Jane, ia sadar telah menyakiti hatinya tapi ia sudah tidak tahan dengan keangkuhan wanita itu.

“Jadi…kenapa harus aku yang menanggung kesengsaraan kalian? Kenapa harus aku yang menyelamatkan Middle-Earth?!” Jane balas berteriak dengan suara parau dan hampir menangis.

“Kenapa tidak kau ajukan saja pertanyaan itu pada ibumu? Ia yang mengutus sendiri putrinya untuk melakukan misi berbahaya yang seharusnya diberikan kepada orang yang lebih berkompeten ketimbang wanita angkuh manja seperti dirimu.” Orion memanasi Jane, ia ingin tahu sampai sejauh mana Jane bertahan dengan sikapnya.

“Berhenti mengataiku angkuh verden, kau sungguh lancang!” hardik Jane. Ia membesut rochnya yang melesat seperti angin. Marah.

“Dan berhentilah bersikap sombong putri Vanyar! Kau bahkan tidak memiliki separoh saja kemurahan hati dan kepedulian seperti yang ditunjukkan ayahmu dan pangeran Noldormu itu. Aku heran mengapa ia bisa menyukai gadis angkuh sepertimu!” seru Orion dari belakangnya, ia juga melecut Narhen untuk mengejar Jane.

“Kau…tidak tahu apa-apa tentangnya.” Jane menggigit bibir bawahnya yang bergetar, berusaha menahan turun airmata yang sudah menggenangi pelupuk matanya.

“Maksudmu Cedric?! Kurasa aku tidak punya waktu untuk perlu tahu segala sesuatu tentangnya.” ucap Orion sinis.

.

.

.

Sisa hari itu dihabiskan dalam diam, tidak satu pun di antara mereka yang mau membuka pembicaraan. Hanya derap-derap kaki roch yang memecah kesunyian.

Mereka tiba di tepi hutan yang terbentang panjang sampai ke barat, menampilkan beragam varietas pohon yang menjulang tinggi hingga ada yang mencapai seratus kaki.

“Kita sampai di Hutan Doriath.” Orion memandang ragu pada Eleanord.

Baginya, keremangan di bawah cabang-cabang melengkung pepohonan Hutan Doriath terasa misterius dan memesona, sekaligus berbahaya, ia tidak tahu kegelapan seperti apa yang tersembunyi di dalam sana. Orion dan Eleanord hidup dan dibesarkan di Arthedain di bagian utara Middle-Earth, dan secara berkala mengunjungi Raja Abadel di Arnor, karena mereka telah menjadi pasukan khusus kerajaan saat masih muda dan sering mendapat misi-misi penting dari Raja. Tapi mereka sama sekali belum pernah menyentuh Doriath. Mitos mengatakan bahwa hutan itu terlarang karena menjadi sarang orc untuk menetaskan telurnya. Bahkan Fuin-gûl – ketiga belas kaum terkutuk, disinyalir menciptakan Lhûg – naga yang dipaksa menetas dan diberi kekuatan hitam dengan sihir kuno. Doriath memang lebih dekat ke Xelomor, kediaman Morgoth, dan menjadi tempat paling ideal untuk mengembangkan sihir-sihir hitam. Tapi Doriath juga jalan pintas terdekat menuju Vraëstone, dimana para dwarf bersembunyi dalam gua-gua panjang nan gelap.

“Kita berkemah di sini.” Orion berhenti di tepi Hutan Doriath dekat sebuah pohon dogwood dan menurunkan ranselnya dari pelana Narhen.

***

Scry dia El!” Orion melecut Narhen, memaksanya melesat lebih cepat menyisiri tepi Hutan Doriath, masih subuh saat dirinya dan Eleanord kehilangan Jane. Ini salahnya, ia lengah dan tidak berjaga malam tadi.

“Aku mencobanya Frâel!” Eleanord terlihat tegang, ia berkonsentrasi keras, matanya terpejam kuat dan dahinya berkerut.

Pergi kemana gadis itu? Dada Orion bergemuruh secepat lesatan Narhen yang berlari tak lagi di bawah kendalinya. “Di mana dia? Sudah kau temukan?”

“Orc…ia ditawan sekawanan orc, banyak…puluhan.”

“Orc! Apa mereka melukainya?!” Kepanikan Orion bercampur dengan perasaan bersalahnya.

“Tidak, ia hanya pingsan… Tunggu! Mereka menuju gerbang barat Xelomor – Forod Annon.”

Scry terus El! Akan kubimbing rochmu.”

.

.

.

Mereka mengendap-endap, berjalan merambat menyisiri dinding kastil hitam Forod Annon – penjara bagi para pemberontak Morgoth. Secara beruntung Orion dan Eleanord bisa masuk dan menyusup ke lorong. Orion menempelkan jari di bibir, lalu merayap maju, paralel dengan jalan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Saat mereka berbelok di tikungan, ia terpaku. Dua baris panjang orc berjalan memenuhi lorong ke arah mereka. Orc-orc itu bergumam, mendesah, bahkan memaki dalam bahasa mereka. Tepat saat orc berkulit hijau dengan dua taring panjang melihat ke arahnya, seseorang menarik tangannya ke balik celah dinding yang sempit. Eleanord berdiri dengan wajah bingung dan tegang. Orion pikir Eleanord yang menariknya tapi ada seseorang  yang memberi kode ‘jangan bersuara’ dengan telunjuknya, sementara matanya sibuk mengawasi barisan orc yang berjalan gaduh, berbelok di lorong berikutnya.

“Kita aman, makhluk-makhluk buruk rupa itu sudah pergi.” Elf pria dengan rambut coklat menyala itu menyengir lebar kepada Orion dan Eleanord. Gigi-giginya berbaris rapi di dalam mulutnya yang tersenyum super lebar pada wajah kecilnya, telinga runcingnya mencuat ke arah yang berlainan, yang sebelah kiri tegak ke atas menembus rambutnya yang berantakan sedangkan telinga kanannya tampak menjuntai aneh, sepertinya itu efek karena terkena sihir. Pakaiannya…tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa dekilnya pakaian elf itu. Ia memiliki rahang yang tajam dengan dagu runcing yang sangat indah. Ia tampan, tapi eksentrik.

Hal yang paling menarik perhatian Orion dari penampilan elf eksentrik itu adalah telapak tangan kanannya yang terbalut lilitan kain putih, yang anehnya sangat bersih dibanding kain-kain lain yang melekat di tubuhnya.

“Di sini sempit, ayo ikut aku!” ajaknya. Mereka berjalan ke arah berlawanan dengan para orc.

“Kami mencari sel dimana para tawanan ditahan.” kata Orion.

“Sel ada di menara utara kastil.” Elf itu menunjuk menara tertinggi lewat celah jendela kecil yang agak tinggi.

“Bagaimana cara kami kesana?” Orion menimbang jarak dan kesulitan yang akan dihadapi jika mereka tersesat dan bertemu dengan orc.

“Kurasa aku bisa menunjukkan kalian jalannya. Ikut aku!” Ia melambaikan tangannya menyuruh mereka mengikutinya.

“Siapa namamu?” Eleanord yang sejak tadi penasaran dengan pria itu, berjalan menyejajarinya.

“Aku…” Elf itu seperti berpikir untuk memberitahu siapa dirinya.

“Kalian tidak tahu? Aku ini Calaquendi…” jawabnya ringan.

“Kami tidak perlu diberitahu cara membedakan kau yang bercahaya dan kami yang tidak.” Eleanord sedikit kesal dengan jawaban main-main pria aneh itu.

“Aku…aku ini kaum Penunggang Ombak – Falmari.” Pria itu menyunggingkan senyum miring karena puas dengan penjelasannya yang sama sekali tidak menjawab keingintahuan Eleanord.

“Aku tidak tanya kau itu kaum apa? Aku tanya siapa namamu?!” Eleanord nyaris berteriak saking kesalnya.

“Tenang El…kau bisa membuat orc-orc berdatangan.” Orion memegang bahu Eleanord.

“Aaa…baiklah-baiklah, namaku, ehhmm…itu!” Pria itu mengedarkan pandangannya dan menunjuk perkamen lusuh yang tertempel pada dinding lorong yang berlumut di bawah obor yang menarikan cahaya kuning. Orion dan Eleanord mendekat dan melihat wajah yang terpampang di pamflet itu lalu membaca tulisan yang tertera di bawahnya.

“Buronan? Kau musuh Morgoth?” Orion seolah tak percaya dengan siapa sekarang mereka berhadapan.

“Aku jelas tidak ingin menjadi sekutunya.” Pria aneh yang bernama Serandor itu terkekeh mendengar jawabannya sendiri.

“Kepalamu mahal sekali, 500 glor…itu bisa untuk perayaan Gîl Sein dua dekade.” komentar Eleanord.

“Yeah…itu karena aku orang keren yang berbahaya.” celetuknya.

“Kau hanya orang aneh yang  berjalan-jalan di penjara seperti Forod Annon ini.” cibir Eleanord.

“Kejahatan apa yang kau lakukan sehingga dihargai 1000 glor?” Orion mulai tertarik dengan Serandor.

“Ceritanya panjang, kalian mau menginterogasiku atau mencari sel?” Serandor terdengar tak sabar.

***

Berkat Scry-nya, Eleanord berhasil menemukan di sel mana Jane ditahan. Penjagaan di sepanjang sel sangat ketat, empat sampai enam orc di depan masing-masing sel.

“Bagaiman cara kita melaluinya?” bisik Orion.

“Tentu kita harus membungkam mereka tanpa menarik perhatian.” ucap Serandor,  “Lihat caraku!” Ia maju menantang orc-orc penjaga dan bersiul mengejek. “Hey monster! Kalian ingat aku?” serunya dengan penuh gaya.

“Katanya jangan menarik perhatian…” dengus Eleanord, wajahnya terlihat kesal.

“Kita maju!” perintah Orion.

Melawan orc-orc hijau berlendir bukan pertama kalinya bagi Serandor, tampaknya ia terkenal di kalangan antek-antek Morgoth, mengingat ia buronan paling dicari. Masalahnya, ia terlihat sangat santai saat memukul dan menyerang orc yang berusaha menghantamnya dengan kapak mereka. Padahal Orion dan Eleanord harus menghindar, melompat dan menangkis dengan sedikit kesusahan.

“Panggil bantuan!” teriak seorang orc pada temannya.

Belum sempat temannya berlari hendak mencari bantuan, kakinya seperti terikat, tertahan lalu tubuhnya terjerembab ke lantai. Ia menggeliat, memberontak, namun mulutnya seakan terkunci saat seharusnya ia mengerang.

“Apa yang kau…” Orc yang meneriaki temannya tiba-tiba juga membisu, mulutnya tampak sedang mengatakan sesuatu namun tak terdengar suara sama sekali.

“Kau penyihir?!” tanya Orion tak percaya. Sejak tadi ia memperhatikan Serandor yang menggerak-gerakkan telunjuknya ke orc-orc yang mendadak membatu dan membisu itu. Orion juga samar-samar mendengar Serandor menggumamkan kata “Din” dan “Sarn”, itu mantra sihir.

Serandor tertawa lebar, “Aku dapat…!” serunya sambil mengangkat gantungan penuh anak-anak kunci – yang diambilnya dari orc bertubuh besar bermuka babi, ke arah Orion.

Orion meminta kunci-kunci itu. Serandor mengangkat bahu dan memberikannya. Orion menemukan anak kunci yang tepat dan pintu sel itu mengayun membuka. Seberkas cahaya bulan menerobos miring melalui jendela, menerangi wajah seorang wanita dengan cahaya keperakan yang sejuk.

Orion terpaku saat melihat wanita itu meringkuk gemetar di lantai dingin dalam sel yang gelap, ia memeluk kakinya yang terlipat dekat dadanya. Pandangannya hampa, seperti roh yang meninggalkan jasadnya. Saat Orion berjalan mendekatinya dengan hati-hati, wanita itu mengerling padanya. Mereka beradu pandang sejenak, mata birunya menatap dalam mata Orion, lalu wanita itu gemetar dan terkulai tanpa suara.

“Jane!!” pekik Orion. Orion nyaris tidak sempat menangkapnya sebelum ia menghantam lantai. Didekapnya wanita itu dan diguncang-guncangkannya tubuhnya.

“Bangun Jane! El…El..!!”

Serandor memasuki sel. “Ia cantik!”

“Tapi terluka.” geram Orion.

“Apa ia disiksa…?” Serandor menatap kasihan pada Jane.

“Kita bisa merawatnya nanti, sekarang waktunya keluar. Kau bisa memondongnya?” Eleanord bertanya pada Orion. Orion mengangguk dan mengangkat Jane ke bahunya.

Serandor tahu lebih banyak tentang seluk-beluk Forod Annon, karenanya mereka berhasil keluar tanpa perlu ketahuan orc-orc yang  berjaga dan berkeliaran di sepanjang lorong.

***

Sudah tiga hari sejak Jane pingsan, ia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Orion khawatir dan takut. Ini kesalahannya, lalai dalam melindungi putri Vanyar itu. Mereka tetap melanjutkan perjalanan selama itu, dari Forod Annon mereka kembali berbelok ke selatan untuk menuju Vraëstone. Jika perhitungan Serandor tidak salah mereka hanya butuh dua malam lagi untuk sampai Fangorn, koloni pertama dwarf, pos terdekat ke Vraëstone. Ya, Serandor memutuskan untuk ikut dalam rombongan mereka setelah sebelumnya bersitegang dengan Eleanord tentang siapa mereka dan mengapa mereka menyelamatkan seorang putri dari penjara Forod Annon.

“Jadi kalian kurir?” tanya Serandor tanpa basa-basi.

“Kami varden, bukannya kurir. Lagipula dia bukan barang, dia seorang putri!” ketus Eleanord.

“Yeah…bagiku sama saja, intinya kalian mengantarkan dia pergi – pulang dengan selamat.”

“Kami ini menjalankan misi penting bodoh! Dan kami bukan hanya mengantarnya, tapi bertugas menjaga dan melindunginya, kami ini partner!” Entah mengapa kemarahan Eleanord mudah sekali terpancing jika sudah berbicara dengan elf eksentrik itu.

“Ya..ya..aku bilang kan mengantarnya dengan selamat, tentu saja tanggungjawab kalian untuk menjaganya, tapi yang kulihat kalian malah membuatnya tertawan di sel…ckckck.” Serandor benar-benar membuat Elenord jengkel.

“Bukan urusanmu buronan!” geram Eleanord.

“Sudahlah El, jangan bertengkar lagi.” Orion menenangkan sahabatnya, ia sudah cukup lelah dan gelisah memikirkan keadaan Jane yang belum juga siuman, ia tidak ingin mendengar pertengakaran konyol mereka.

Sepanjang perjalanan, Orion yang membawa Jane, sedangkan Serandor menunggangi roch milik Jane. Jane yang didudukkan di depannya begitu lemah, kepalanya terkulai ke dada Orion. Elf itu ringan sehingga tidak sulit bagi Orion untuk hanya memegang tali kekang Narhen dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan tubuh Jane. Hanya saja Orion merasa sedih setiap kali ia memeriksa dada Jane, detak jantungnya sangat lemah. Ia butuh elf penyembuh untuk memeriksa keadaan Jane, namun tak satu pun dari mereka mengetahui bagaimana cara kerja elf penyembuh dalam mengobati orang sakit. Yang ia tahu, elf penyembuh bekerja hampir seperti elf penyihir, mereka merapalkan mantra sihir saat memberikan pasiennya ramuan obat. Kondisi Jane yang semakin melemah hanya bisa diringankan oleh mantra yang dirapalkan Serandor, meski sedikit sekali membantu. Harapan Orion adalah, agar mereka cepat tiba di Fangorn dan meminta pertolongan dwarf untuk menyembuhkan Jane.

Mereka berkemah di tepi sungai saat matahari turun. Orion keluar dari tendanya setelah ia merawat Jane dan membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Orion tidak ingin lama-lama di dekat Jane, ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya jika ia berada berdua saja dengan Jane. Faktanya, Orion memang tidak menyukai gadis angkuh itu, tapi melihat kondisinya yang lemah, hati Orion merasa, seperti yang ia rasakan – sangat sakit.

Orion mendapati Serandor yang duduk di tepi sungai, ia sedang membebat kembali perban yang menutupi telapak tangan kanannya.

“Tanganmu terluka?” Orion menghampiri Serandor dan duduk di sampingnya. Ini pertama kalinya mereka berdua bisa berbincang.

Ekspresi Serandor sedikit kaget, dengan cepat ia melilit dan mengikat kain perbannya. “Yeah…tapi tidak parah.” jawabnya sesantai mungkin. Ia segera menyembunyikan tangan kanannya ke dalam kantong rompinya. Orion yang curiga tidak mau ambil pusing.

“Kemana El…?”

“Oh, si tukang marah itu? Kulihat dia mencari kayu bakar disana.” Serandor menunjuk hutan kecil tempat pepohonan tumbuh jarang-jarang.

Orion hanya tertawa mendengar jawaban Serandor.

“Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan secara resmi.” Serandor membuka topik.

“Aku Serandor – buronan paling berbahaya, setidaknya menurut versi mereka, Putra Romanön, putra ombak.” Serandor menyentuhkan telunjuk dan jari tengahnya ke bibir.

“Aku Orion Frâel Putra Oberon.” jawab Orion, terselip nada bangga saat ia mengucapkan nama ayahnya. Ia pun melakukan hal yang sama dengan menyentuhkan jarinya ke bibir.

“Ob..Oberon?” Serandor bertanya pelan.

“Ya…ayahku.” Orion memandang bintang yang mulai muncul di langit malam dan tersenyum. Sedangkan Serandor  menatapnya tak percaya dengan pandangan menilai.

“Kenapa kau meninggalkan Valinor?” Gantian Orion yang bertanya.

“Oh, karena aku ingin berpetualang, melihat dunia…”

“Dan kau berpetualang ke dunia yang penuh dengan kerusakan.”

“Mungkin, aku bisa sedikit membantu memperbaiki kerusakannya.”

“Kenapa kau berpikir untuk memperbaiki kerusakan yang bahkan bukan disebabkan olehmu?”

“Kenapa kau pikir Calaquendi mau memikirkan nasib kalian Maraquendi?” Serandor balik bertanya.

“Kasihan…kurasa.”

“Sudut pandangmu terlalu sempit kalau begitu…”

“Jadi…apa kalian ingin dianggap kaum cahaya yang welas asih?”

Serandor tertawa kering, “Ya…apa itu salah, mungkin kau baru dianggap berhati mulia dan berbelas kasih jika kau telah tiada. Aku belajar itu dari seseorang…” Ucapannya terhenti sebentar. “Dia sahabatku sejak kecil, orang yang selalu mengajariku kebaikan, orang yang aku yakin…hatinya terbuat dari emas. Sayang sekali umurnya tidak panjang, ia mati bahkan sebelum cita-citanya terwujud.” Serandor menghembuskan napas panjang.

“Sahabatmu pasti orang yang hebat.”

“Hmm…dia inspirasiku, kau tahu Orion…? Sebenarnya aku kenal siapa gadis itu.” matanya menatap tenda dimana Jane tertidur. “Dia putri Hretgán bukan?” Orion terkejut mendapati pengetahuan elf itu tentang bangsawan Vanyar.

“Darimana kau tahu?” tanya Orion pelan.

“Karena tunangannya…adalah sahabatku yang berhati mulia itu. Pria yang sangat mencintai kekasihnya, bahkan di saat terakhirnya, hanya Jane yang ia pikirkan.” Serandor yang Orion kira tidak bisa menangis ternyata meneteskan banyak airmata manakala mengenang sahabat masa kecilnya.

“Kau…dan Cedric…?” tenggorokan Orion tercekat. Semua orang di dekatnya selalu terkait dengan Cedric Caladriel.

***

Jane bangun dari tidurnya, ia mencium aroma morning glory. Kaki-kaki telanjangnya turun dari ranjang dan melangkah ringan ke arah paviliun tepat di depan kamarnya. Gaun tidur satin putihnya berderak halus saat menyentuh ubin.

Di tengah paviliun berdiri seorang pria dengan tunik kebanggaannya, ia menatap bintang dengan mata dark-brownnya yang hangat. Jane mendekatinya, dan memeluknya dari belakang. Ia sangat merindukan pria itu.

“Cedric…” lirihnya, ia merasakan napasnya yang hangat melekat di punggung tunangannya.

“Jane…” Pria itu berbalik dan merengkuh wajah kekasihnya. “Kau merindukanku?” Mata teduhnya menginginkan jawaban ‘ya’ dari Jane.

Jane mengangguk pelan dan kembali memeluk pangerannya. “Sangat…aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga…” Cedric menarik dirinya dan membuat Jane kembali menatapnya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Jane, menerobos masuk ke dalam bola mata wanita itu. Ia tersenyum lalu bibirnya menyentuh lembut bibir Jane. Mereka saling melepas rindu dalam sentuhan penuh kebahagiaan. Cedric selalu tahu bagaimana bersikap romantis, setelah ciuman rindunya,  ia mengambil seikat morning glory dengan tiga kuntum seputih salju yang tertutup rapat. Sambil meniupnya, Cedric berbisik, “Buka.”

Kelopak-kelopak bergetar ketika merekah, membuka jubah-jubah putihnya untuk menampilkan tumpukan nektar di tengahnya. Bintik-bintik berwarna biru tua memenuhi tenggorokan bunga-bunga itu.

“Untuk wanita yang paling cantik…” Cedric berlutut pada satu kakinya. Ia menyodorkan bunga itu pada Jane yang tampak terpesona dan malu.

“Le hannon…” bisik Jane. Ia menundukkan badannya dan mencium kening Cedric. Rambut panjangnya menggelitik pipi Cedric.

“Ayo…” Jane menarik Cedric bangkit dan menggandengnya  ke bangku di tepi paviliun.

Cedric terus memandangi kekasihnya yang tertawa bahagia saat memainkan kelopak bunga itu, menggumamkan kata “Buka” dan “Tutup” berkali-kali. Ia seperti gadis kecil yang mendapat hadiah di ulang tahun pertamanya.

“Kenapa?” Jane yang sadar telah diperhatikan oleh Cedric berhenti memainkan bunganya.

“Melin ceni hin lîn síla i ‘eladhach – aku suka melihat matamu bersinar terang saat kau tertawa.” Cedric menarik Jane dalam dekapannya dan mengecup rambut hitamnya yang lembut, menikmati aroma pinus yang menguar.

“Aku kemari untuk menyampaikan sebuah kabar padamu.”

“Apa…?”

“Aku memutuskan untuk ikut berperang, aku akan ke Middle-Earth.”

“Tidak!” seru Jane, ia menjatuhkan morning glorynya ke lantai.

“Izinkan aku Jane…” Wajah Cedric memohon pengertiannya.

Jane menggeleng keras, ia tidak menyukai keputusan kekasihnya.

“Kenapa kau bertempur?” tanya Jane kemudian, ia menahan jatuh airmatanya.

“Karena aku ingin melihatmu bahagia.”

“Kau bisa membuatku bahagia, tapi tidak dengan cara itu…!”

“Aku merasa terpanggil Jane. Kurasa ini adalah sebuah kewajiban…”

“Jika kau pergi dan…dan…tak kembali, hatiku akan hampa, hancur!  Apa kau tahu itu?” Jane sudah berteriak saat airmata jatuh di pipinya.

“Kau boleh mengisinya dengan orang lain jika aku pergi…”gumam Cedric, Jane seperti menangkap pertanda buruk dari kata-katanya.

“Tidak akan! Hati ini hanya milikmu, selamanya…” Jane bangkit dan berlari mendekati tiang di ujung paviliun, ia memunggungi Cedric dan menangis, bahunya berguncang saat Cedric mendekatinya dan menariknya ke dalam pelukannya.

“Aku tahu…maafkan aku, kumohon jaga hatimu untukku. Aku pasti kembali Jane, untuk memintanya kembali. Meminta hatimu…dan kau…untuk kutawan selamanya.” Cedric menciumi kedua mata Jane yang basah.

Cedric berbaring di samping Jane yang telah terlelap di ranjangnya, lengannya menyangga kepala Jane yang terkulai. Ia tidur sambil memeluk morning glorynya, dengan sisa-sisa airmata di sudut-sudut matanya. Melihat wajah damai kekasihnya, Cedric bersenandung lembut di telinga Jane, tangan bebasnya bergerak berkala mengusap rambut Jane.

I ngîl cennin erthiel

Ne menel aduial,

Ha glingant be vîr

Sîliel moe.

I ngîl cennin firiel

Ne menel aduial,

And-dúr naun i fuin a galad firn

Naegriel moe.

An i natha

An i naun ului

A chuil, ann-cuiannen

Am meleth, perónen.

Dalam tidurnya, Jane merasa tenang dan bahagia, meski hati kecilnya merasa takut akan masa depan mereka berdua.

***

….

And-dúr naun i fuin a galad firn

Naegriel moe.

An i natha

An i naun ului

A chuil, ann-cuiannen

Am meleth, perónen.

Jane membuka matanya, ia memegang kepalanya yang terasa sakit, mencoba bangun dari pembaringannya. Ia duduk di tepi ranjang kecil tempatnya menghabiskan masa tidur. Alunan suara merdu itu terdengar dari luar tenda tempatnya berada. Lagu itu…

Dengan tertatih, bertahan demi menjaga keseimbangannya, Jane keluar tenda mencari asal suara yang menyadarkannya. Suara itu datang dari seorang pria yang duduk di tepi sungai, memunggunginya. Mungkin sudah hampir fajar, tapi pria itu tidak juga beristirahat.

“Darimana kau…” Jane menghentikan langkahnya, ia kelelahan, mencengkeram dadanya yang gemetar.

Pria itu menghentikan nyanyiannya, ia menoleh dan terkejut melihat Jane yang sudah sadar.

“Jane!!” pekiknya, secepat angin ia sudah berdiri di samping Jane. Membantu memapahnya.

“Kau sudah sadar…?” Suaranya terdengar lebih lembut di telinga Jane.

“Lepaskan aku…!” Jane menggeliat menjauhkan tubuhnya dari pria itu.

“Kenapa kau masih berjaga?”

“Sekarang giliranku.”

Jane mengerang saat hendak bertanya lagi, kali ini ia memegangi punggung kanan atasnya yang kesakitan.

“Ke tenda?”Suara pria itu terdengar panik. Jane tidak suka mendengar perubahan nada bicaranya.

“Tidak…” Ia mengabaikan pria itu dan berjalan ke tepi sungai, tapi tubuhnya hampir jatuh jika pria itu tidak menahannya dengan sigap.

“Biar kubantu…” Jane ingin menolak pertolongannya tapi ia tidak punya tenaga untuk melawannya, bahkan untuk berjalan dengan benar.

Mereka duduk di tepi sungai dalam diam. Hanya memandangi riak air kelabu pada sungai yang mengalir tenang dan memperhatikan cahaya bulan yang menari-nari dalam pantulan air. Jane kembali merasakan sakit di punggungnya, ia menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakitnya, tapi airmatanya berkata lain. Sakitnya begitu luar biasa hingga saraf-saraf di kepalanya berdenyut hebat.

“Aaarrgghh!!” Akhirnya Jane menyerah dan mengerang kesakitan.

“Kau baik-baik saja Jane?” Lagi-lagi  Jane mendengar kecemasan dalam nada suaranya. Ia tidak suka itu, ia tidak suka pria itu mengasihaninya.

Tangan pria itu mencoba untuk memeriksa punggung Jane, tapi dengan keras ditepisnya. Jane menatapnya marah.

“Biar aku periksa!” paksanya, terdengar nada tidak sabar dalam suaranya.

Ia menarik turun lengan pakaian Jane, merabakan jari-jari panjangnya yang dingin di punggung atas Jane, mencoba mencari sekecil apa pun bentuk luka di sana. Namun tidak didapatinya.

“Tak ada luka di punggungmu, mungkin ini luka dalam. Sebentar lagi kita sampai di Fangorn dan kau akan mendapat pengobatan yang semestinya. Aku janji.” Pria itu menatap Jane penuh keyakinan.

Jane membuang mukanya, sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri? Kenapa pria yang sangat dibencinya ini menjadi sangat baik? Lalu ia berteriak kesakitan lagi saat – ia yakin – mendengar bunyi tulang patah dalam tubuhnya, tulang punggungnya.

.

.

.

Wajahnya terbenam dalam dada pria itu, kemejanya basah, pasti karena airmatanya. Rasa sakit telah melumpuhkannya hingga ia tidak sadar telah menggunakan tubuh pria itu untuk menahan sakitnya. Ia menegakkan tubuhnya, duduk dengan posisi sewajarnya. Memandang ke arah lain, karena ia terlalu malu.

“Terima kasih…Orion…” gumamnya. Ini pertama kalinya Jane memanggil nama pria itu dan entah mengapa dadanya bergetar.

“Apa masih sakit?” Orion menyentuh bahu Jane. Jane memandang tajam pada Orion, tapi ia tidak berusaha mengedikkan bahunya.

“Maaf…” Orion seperti paham arti tatapan Jane, sambil mengangkat tangannya yang tadi menyentuh Jane ia menunduk.

“Maaf…” ulangnya, “Karena tidak bisa menjagamu dengan baik dan melindungimu dari para orc.”

“Bukan salahmu, aku yang ceroboh. Malam itu…aku bermaksud melarikan diri dari kalian. Tapi orc-orc melihatku dan mengejarku.” Jane mengingat bagaimana dia tertangkap oleh makhluk ganas-jahat menjijikan itu.

“Middle-Earth begitu gelap, aku tidak menyangka ada makhluk seperti orc yang hidup di dunia ini.”

“Di Middle-Earth, semua makhluk yang tidak pernah kau lihat hidup, tidak bisa dikatakan saling berdampingan. Kami hidup dan bertahan di sini untuk menjaga ras kami. Elf yang terkuat tentu saja, lalu ada dwarf, orc, si makhluk kecil hobbit, bahkan manusia yang lemah.”

“Mempertahankan ras?”

“Yeah…dari tiran Morgoth. Tapi tidak untuk kasus orc, mereka kanibal dungu yang mau bersekutu dengan Morgoth demi sepotong daging.”

“Jadi makhluk-makhluk di Middle-Earth berperang demi mempertahankan ras?”

“Beginilah cara kami bertahan hidup…”

“Lalu…kenapa kau bertempur?” Jane tidak tahu mengapa ia menanyakan pertanyaan itu pada Orion, ia hanya mengikuti nalurinya.

“Karena aku ingin melihat orang-orang yang kucintai bahagia. Aku ingin memberi mereka kehidupan yang aman.” jawab Orion.

Jane tertegun mendengar jawaban Orion.

Cedric…? Kenapa dia selalu mengingatkanku padamu…

***

“Oberon? Maksudmu salah satu Fuin-gûl? Pelayan setia Morgoth?”

“Tapi…bagaimana mungkin? Putranya menjadi Verden sementara ayahnya adalah kaum terkutuk.”

“Kudengar Abadel merahasiakan masa lalu Oberon dari anak itu. Ia tidak ingin anak itu tahu sejarah kelam ayahnya. Tidakkah kalian tahu? Oberon dan Abadel adalah sahabat dekat, sebelum akhirnya Oberon menyeberang dan bersekutu dengan Morgoth.”

“Sebuah kehilangan besar bagi Avari. Dari yang kutahu, Oberon adalah elf yang tangguh dan ia menguasai sihir kuno.”

“Lalu, mengapa bangsa mereka menyembunyikan fakta ini? Seolah tak ada yang mau menyinggung tentang siapa sebenarnya ayah anak itu?”

“Yeah…entahlah, kurasa Abadel tidak ingin anak itu berubah seperti ayahnya. Jadi dia merahasiakan semuanya dan membesarkannya sendiri di bawah pengawasannya.”

Tubuh Orion menegang, raut wajahnya mengeras dan tanpa sadar tangan kanannya mencengkeram gagang Sûlglor dengan kuat sampai urat-urat nadi di tangannya menonjol. Napasnya berburu sama cepatnya dengan kerja otaknya yang mencerna percakapan sekumpulan dwarf Fangorn tadi. Jane, yang saat itu bersamanya hanya bisa memandang hampa pintu lengkung ruang makan yang tadinya akan mereka masuki. Sesaat kemudian, Orion berbalik meninggalkan tempat itu. Ia menyusuri terowongan remang itu dengan gusar, jubahnya melambai bergesekan dengan dinding terowongan sehingga menimbulkan bunyi yang aneh. Jane bergegas menyusulnya, menjaga jarak karena ia tahu Orion sangat marah mendengar percakapan tadi.

“Apa kau baik-baik saja…?” Hati-hati Jane memberanikan diri untuk bertanya.

“Apa aku terlihat baik-baik saja hah!”

“Aku…aku hanya khawatir.” gumam Jane.

“Haah…ini menggelikan bukan? Aku ternyata putra dari salah satu kaum terkutuk. Oberon…nama itu…selama ini aku selalu bangga menyandang namanya. Aku putra ayahku… Cih! Apa salahku sehingga harus menjadi putra ayahku?!” Orion terlihat seperti orang sinting yang dikhianati.

“Sejak kecil aku selalu ingin tahu bagaimana ayahku. Elf seperti apakah dia? Sejak kecil aku selalu menganggap ayahku pahlawan, pejuang Avari yang memperjuangkan tanahnya, melindungi keluarganya, setia kepada rajanya. Sejak kecil aku tumbuh dengan pikiran-pikiran itu, pikiran-pikiran yang membuatku kuat dan bertahan sebagai anak yatim yang kesepian.”

“Sekarang…setelah aku mengetahui kebenarannya, apa aku masih bisa terlihat baik-baik saja?!” Orion berteriak, matanya memerah basah.

“Tidak…tentu saja tidak, aku tahu bagaimana perasaanmu.”

“Apa?! Apa yang kau tahu tentang perasaanku?! Aku bahkan tidak bisa mengingat jelas wajah ayahku! Dan yang paling membuatku sesak adalah…Abadel sendiri yang menyembunyikan semua kebenaran ini dariku!” Bahu Orion berguncang hebat, ia menangis meluapkan seluruh emosinya.

Hening, hanya tangisan Orion yang menggetarkan menyayat kehampaan.

“Aku bukan ayahku.” isaknya.

“Aku tahu.”

“Aku tidak akan menjadi seperti dia.”

“Ya…kau…hanya akan menjadi seperti apa yang hatimu katakan.” Entah mengapa Jane menyentuh dada Orion dengan jari-jari kurusnya.

Orion menatap Jane, matanya masih basah. Untuk pertama kalinya mereka bertatapan tanpa emosi dan keangkuhan. Lalu…Orion menarik Jane ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seakan tak ingin wanita itu meninggalkannya dalam kesendirian, menghirup aroma daun pinus yang khas dari tubuh Jane. “Le hannon, goheno nin – terimakasih, maafkan aku.” bisik Orion.

Jane hanya diam membeku, ini pertama kali seorang pria memeluknya setelah kepergian Cedric. Orion

-TO BE CONTINUED-

Author: “Kyaaaa…..!!!! kepanjangan ya? Maaf kalau ceritanya membosankan.” -__-

Reader: “Iya…membosankan thor!” #gorokauthor

Author: “Maaf deh…author juga kan ELF butuh makan, butuh tidur…” (?)

Reader: “Kita juga ELF, tapi kita butuh baca cerita author..” ><

Author: “Chuu~~~ ♥ ♥ ♥” #ciumELFsatusatu

Part selanjutnya sepertinya akan menjadi part terakhir, sesuai request teman saya, akan ada tokoh penting yang mati. (Penting?? Penting ga ya? Penting dong…kalau gak penting gak bakalan disuruh  mati -.-“)

Garo arad vaer – Have a good day~~ ^^

Protect My Enemy [Part 1]

Main casts: Seo Jiae, Cho Kyuhyun, Song Joongki

Genre: General, humor, little bit romance

Recommended backsound: Miracle – U-KISS

 “Satu hal yang paling kubenci di dunia ini setelah kucing adalah…Cho Kyuhyun!”

***

“Kalau kubilang dia tidak sekeren seperti yang kalian pikirkan, apa kalian percaya? Kalau kubilang dia lebih evil dari Lucifer, apa kalian percaya hah? Dan…kalau kubilang dia itu cowok paling brengsek se-Korea, apa kalian akan membunuhku?!!” Aku mengacung-acungkan sumpitku pada dua sahabatku, Park Hwayoung dan Min Hyorin, saking kesalnya aku sampai setengah berdiri, menggebrak meja dan memberi tatapan Aku-Benci-Dia pada mereka. Seisi kafeteria sampai menoleh ke meja kami. Masa bodoh, yang jelas aku tidak tahan lagi.

“Sepertinya kau yang kerasukan Lucifer.” Hyorin memandangku takut dari balik bahu Hwayoung.

“Kau jangan menghina dia seperti itu dong? Memangnya kau punya bukti?” Hwayoung yang tidak mau kalah berdebat balik memprotesku.

“Sudahlah! Kalian tidak akan percaya, ya kan?” Kuhempaskan tubuhku ke kursi dan mendengus kesal, perdebatan seperti ini bukan pertama kalinya bagi kami. Kalau saja mereka bukan sahabatku, mungkin aku akan langsung mengajak mereka untuk debat terbuka tentang ‘Dunia memang tidak butuh Cho Kyuhyun’ atau ‘Evil telah merusak generasi muda Korea’.

“Tentu saja, siapa yang percaya omong kosong dari anti fan seperti dirimu. Bahkan seluruh kampus tahu kau itu anti fan no.1-nya Cho Kyuhyun.” Hwayoung mengembungkan pipinya, menyilangkan tanganya di dada dan menyipitkan matanya padaku.

“Ya..ya..dan kalian adalah Sparkyu no.1-nya Cho Kyuhyun. Begitu kan?” Kuambil kaleng softdrink dan kuteguk isinya dua kali.

“Lagian apa sih ya..ng…” kata-kataku terhenti saat seorang cowok dan beberapa temannya masuk kafeteria sambil tertawa dan melempar lelucon. Itu cowok paling keren di kampus kami. Senior Song Joongki. Dia alasan mengapa aku mati-matian belajar dari pagi sampai ketemu pagi lagi selama sebulan agar bisa lulus ujian masuk Sungkyunkwan.

Dengan sadar dan mulut menganga aku memandang senior Song Joongki yang tampan itu seperti menelaah Museum of Contemporary Music-nya Frank O. Gehry saat pelajaran Teori Arsitektur di kelas Professor Jung tadi. Dia bersiap memesan makanan dan melambaikan tangannya pada pelayan saat dengan cool-nya mata indahnya itu melihat ke arahku dan tersenyum manis sekali. Dia benaran melihatku kan? Oh Tuhan…

“Hei…kau kenapa? Apa yang kau lihat?” Hyorin memutar-mutar telapak tangannya tepat di depan wajahku. Hwayoung menyenggol lengannya dan menunjuk apa yang kulihat.

“O…aku, apa? Kau menggangguku Hyorin.” Aku melotot padanya lalu kembali memperhatikan senior Joongki yang sayangnya kembali asyik berbicara dengan teman-temannya.

“Seo Jiae! Kau ini, bisa tidak sih jangan kelihatan bego saat melihatnya. Song Joongki oppa akan menganggapmu aneh, dan… jual mahal lah sedikit!” Hyorin menguliahiku.

“Kenapa memangnya? Aku kan cuma tidak mau menyia-nyiakan pemandangan indah.” Untung senior Joongki duduk jauh dari kami sehingga dia tidak perlu mendengar kritikan Hyorin dan Hwayoung yang memang tidak mau bersusah-payah mengecilkan volume suara cempreng mereka.

“Kalau seperti itu terus kau malah akan menjatuhkan nama baik wanita tahu?” Hwayoung menggigit bibirnya saking gemasnya.

“Memangnya kalian tidak? Berteriak seperti orang gila saat melihat Cho Kyuhyun, padahal itu cuma di televisi…memasang poster-poster muka jeleknya di setiap sudut kamar, begadang semalaman hanya untuk nongkrong di daum buat membahas dirinya. Hah! Lebih baik kalian membantu mengeblat kalkirku…aku lagi banyak tugas nih!” Aku menggerutu sambil mengacak-acak rambutku.

Ini buruknya menjadi anak Arsitek. Kau akan dikira orang gila yang perlu direhabilitasi kalau sudah menyinggung deadline tugasmu yang menumpuk, padahal tak satu pun ide desain keluar dari kepalamu. Aku salah masuk jurusan! Seharusnya dulu aku memilih jurusan film, mungkin aku sudah berpacaran dengan Moon Joowon yang sekarang menjadi incaran cewek-cewek Sungkyunkwan.

“Ya…jangan mulai lagi soal Kyuhyun oppa, terus siapa suruh masuk Arsitek!” Hwayoung membekap mulutku agar aku tidak mengomel lagi soal Kyuhyun jelek dan tugas-tugas kuliahku.

“Sudahlah, ayo pulang saja! Atau kita pergi nonton, ada Sherlock Holmes terbaru nih di bioskop.” usul Hyorin.

“Tidak bisa…aku harus pulang.” jawabku lesu.

“Kalau begitu, kita ke rumahmu saja. Lagian aku kangen masakan bibi.” Hwayoung mengedipkan matanya berulang-ulang. Aku sampai takut bulu mata palsunya yang lentik itu bisa copot.

“Jangan!” pekikku spontan. Dan itu sukses membuat mereka menatapku curiga. “Ehmm..itu, maksudku rumahku lagi direnovasi. Berantakan deh…” Ini alasan paling masuk akal ya kan?

“Ya sudah, ayo pergi dari sini sebelum Jiae pindah tempat duduk ke sana.” Hyorin melirik meja senior Joongki.

“Kalau saja aku tidak harus cepat-cepat pulang, aku pasti akan ke sana.” Mataku memandang rindu pada kursi kosong di samping senior Joongki. “Ayo pulang…” lanjutku dan melangkah malas keluar kafeteria.

“Hei Jiae…itu, samuraimu ketinggalan.” Hwayoung menunjuk penggaris sepanjang 1 m yang tergeletak di atas meja. Senjata berhargaku.

“Dan itu…tabung oksigenmu.” Mata Hyorin jatuh ke tabung gambarku yang kubiarkan menggantung di kursi. Nyawaku yang lain.

***

Aku sudah berdiri di depan pintu dan menghela napas sedalam mungkin. Menepuk dadaku dan menekan tombol kode keamanan pintu. “Aku pulang…” kataku dengan lesu. Meski aku tahu tidak ada orang di dalam. Soal rumahku yang direnovasi itu jelas bohong, lalu soal aku harus cepat pulang ke rumah itu juga bohong. Karena sekarang sudah hampir seminggu terakhir ini aku pulang ke sini, ke apartemen ini. Aku memandang sekeliling dan berhenti pada foto cowok dengan senyum menyebalkan dan gaya sok cool yang dipaksakan, yang besarnya hampir menutupi sebagian dinding barat ruang keluarga.

“Hei brengsek! Apa kau lihat-lihat?” kataku sebal pada foto itu.

“Hei cumi! Kenapa baru pulang? Cepat buatkan aku makan, aku lapar.” Suaranya benar-benar membuat jantungku melompat. Aku membalikkan badan dan mendapati si brengsek Cho Kyuhyun memandangku malas sambil menguap lebar, sepertinya dia habis bangun tidur. Aku menelan ludahku dengan bunyi ‘glek’ yang bisa didengarnya bahkan jika dia menyumpal telinganya.

Iya, ini Cho Kyuhyun yang itu, Cho Kyuhun yang aku benci, Cho Kyuhyun maknaenya Super Junior, Cho Kyuhyun brengsek yang fotonya baru saja kumaki. Ngomong-ngomong soal foto, apa dia mendengar umpatanku tadi?

“Tunggu apa lagi? Cepat buat!” ucapnya ketus dan mengarahkan pandangannya ke dapur.

“I..iya…”

Huh!! Aku benar-benar benci Cho Kyuhyun! Aku menjambak rambutku sambil bersungut-sungut ke dapur.

Aku bukannya tidak suka Super Junior, masa hanya karena si brengsek Kyuhyun aku menyia-nyiakan kesempatan untuk menyukai Choi Siwon yang tampan, lagi pula aku dan eommaku sepakat kalau kami adalah pengagum beratnya Kim Jongwoon. Tapi Tuhan tampaknya sedang menghukumku, seharusnya aku tidak perlu membenci Cho Kyuhyun sampai bersumpah tujuh turunan. Seharusnya kuabaikan saja keberadaannya di dunia ini dan fokus pada senior Joongki. Dan kalau dia masih nekat wara-wiri di televisi seharusnya kubanting saja televisi itu, tidak, tidak, nanti bisa-bisa malah aku yang  dibanting sama eomma. Seharusnya dari dulu aku ikut program greencard agar bisa tinggal di Amerika dan menjadi imigran di sana. Bukannya di sini, di bawah satu atap yang sama dengan Cho Kyuhyun.

Apa? Kalian salah! Aku bukan istrinya, idih siapa yang mau jadi istri si brengsek itu. aku juga bukan pacarnya, hueekk…lebih baik aku menjomblo sampai senior Joongki menembakku. Jadi, kenapa aku bisa tinggal bersama dengan Cho Kyuhyun? Huh…sudah kubilang kan, Tuhan sedang menghukumku, gara-gara aku tidak sengaja – sungguh ini tidak sengaja, suer! – memecahkan kaca belakang mobilnya dan sukses membuat kacanya benar-benar lenyap.

Well, ceritanya seminggu yang lalu, saat aku pulang kuliah dan baru selesai asistensi desain dengan dosenku. Sialnya semua desainku ditolak mentah-mentah dengan alasan tidak sesuai konsep. Jelas sekali aku bete, karena itu berarti aku harus mengulang dan merencanakan desain baru, padahal waktu pengumpulannya bulan depan. What the hell? Please dong dosen, setidaknya pikirkanlah nasib malam minggu mahasiswamu ini yang ingin kongkow-kongkow di Hongdae. Jadi di saat-saat bete-ku itu memuncak, lewatlah gerombolan siswa sekolah berseragam Kirin High School yang berlari sambil membawa stick baseball dan menggenggam batu. Mereka berlari ke arah berlawanan denganku, menyerbu pihak lain yang sepertinya anak dari Paran High School. Hei…tawuran! Asyik… ini baru namanya pelampiasan. Tanpa pikir panjang aku pun langsung bergabung dengan anak Kirin dan meminta sebongkah batu yang lumayan besar agar bisa kulempar ke pihak lawan.

“Hei noona, kau ini niat bantu gak sih? Kenapa malah melempar batu ke mobil orang?”

Hah? Seandainya saja anak sekolah itu tidak berteriak dan aku tidak bertengkar dengannya memeributkan objek lemparanku. Pasti Cho Kyuhyun – yang namanya ada di dalam daftar cowok paling menyebalkan di seluruh dunia setelah Justin Bieber dan Christiano Ronaldo dalam buku harianku – tidak akan mendatangaiku dan berbicara dengan raut wajah kesetanan. Lagian kenapa sih anak sekolah itu malah menunjukku terang-terangan saat Kyuhyun bertanya siapa yang memecahkan kaca mobilnya pada kami.

“Dia…dia hyung yang melempar batu ke kaca mobilmu.” Ya…! Bisa tidak sih, dia pergi saja dan kembali ke medan tawuran. Jadi kan aku bisa pura-pura tidak tahu dan lari juga kalau-kalau Kyuhyun bertanya.

Akhirnya setelah dia mengancam akan menggelandangku ke kantor polisi, dengan sangat terpaksa aku memberikan kartu identitasku sebagai jaminan. Gilanya lagi dia minta ganti rugi 50 juta won padaku. Hah! Yang benar saja, sebagai mahasiswa dengan uang jajan di bawah upah minimum regional, aku tidak punya uang sebanyak itu. Meski aku yakin appaku punya, tapi aku lebih yakin akan berakhir di tiang gantungan kalau appa tahu aku ikut tawuran dan memecahkan kaca mobil orang. Jadi…jalan keluar konyol yang bisa terpikirkan olehnya adalah menjadikanku pembantunya sampai waktu yang tidak ditentukan. Ya…pembantu, aku ini pembantunya si brengsek Cho Kyuhyun sekarang. Aku ini anti fan yang malang.

***

Setelah dia makan dan aku menyelesaikan pekerjaan rumahku. Aku bergerak menuju ruang keluarga yang juga ruang tamu yang juga ruang belajarku, itu pun setelah aku memohon-mohon pada si Lucifer agar diizinkan menggambar di sini. Habisnya kamarku kecil sekali sih. Aku duduk selonjor di ruang keluarga dan menggelar kalkir A2-ku di atas meja. Tanpa mesin gambar, ini benar-benar penyiksaan. Saat dipaksa pindah ke sini aku harus berbohong pada orang tuaku, kalau aku akan menginap di flat temanku untuk menyelesaikan project kelompok kami. Aku mana bisa membawa mesin gambarku, bukan takut orangtuaku curiga, tapi takut si brengsek itu akan menolak matang-matang barang pindahanku yang besar.

Baru satu garis yang kubuat saat rapidoku menggores kalkir polos tak berdosa itu, tiba-tiba dia datang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan. Ih…dia pikir tubuhnya bagus apa? Dengan gerakan slow motion yang dibuat-buat, dia menyalakan televisi dan play stationnya. Mengambil sticknya lalu duduk bersila di atas sofa, di belakangku, memasang muka serius dan…dan…dia mulai berteriak kesetanan, padahal dia baru memilih karakter dalam game. Dasar Lucifer, dia pasti sengaja mengganggu konsentrasiku. Kurasa yang namanya Cho Kyuhyun ini sengaja memberi bonus siksaan untuk membuat hidupku tidak tenang selama menjadi budaknya. Aku tidak mengerti game dan aku lebih tidak mengerti mengapa cewek-cewek se-Asia bahkan seluruh dunia bisa mengidolakan cowok iblis seperti dia. Ngomong-ngomong kenapa dia tidak pergi ke dormnya saja sih?

Huh! Kalau aku tidak memecahkan kaca mobilnya, dan secara kebetulan bertemu dengannya di tengah jalan, aku akan dengan senang hati menantangnya duel. Ingin rasanya kutonjok wajah sok cute-nya itu, atau membuat hidungnya bengkok, memelintir tangannya, mencongkel bola matanya, atau…atau… Arrgghh!! Kesabaranku sudah habis. Kutarik napasku dalam-dalam, lalu bangkit menggulung kalkirku dan memasukkannya secara asal ke tabung gambar, mengumpulkan semua alat gambarku ke dalam tas, dan berjalan menuju pintu depan, sengaja melompati kabel sticknya.

“Seo Jiae! Mau kemana kau?” Dia bertanya heran kepadaku.

Masih tanya, sudah jelas kan? Aku mau hilang dari pandanganmu, bego!

Sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal aku menjawab malas, “Aku mau ke kuil di bukit belakang bos.” Ughh! Memanggilnya ‘bos’ selalu membuat perutku melilit. Ya, aku harus memanggilnya bos, itu aturannya.

“Mau apa kau ke kuil malam-malam?” Sekarang dia benar-benar mengalihkan perhatiannya dari gamenya. Dia berjalan mendekatiku sambil bersedekap.

“Ini,” kataku sambil menunjukkan tabung gambarku, “Aku mau menggambar bos dan aku butuh ketenangan.” Tanpa menunggu jawaban darinya aku berjalan ke arah pintu depan dan hampir meraih gagangnya kalau saja tangannya tidak menarik kerah belakang kaosku dan menyebabkan aku mundur dengan sedikit terhuyung.

“Masuklah! Kerjakan tugasmu di dalam.” perintahnya sambil membuka pintu kamarnya.

“Ehh…?” tanyaku bingung. Dia gila ya? Menyuruhku mengerjakan gambarku di kamarnya, itu sama saja masuk kandang macan.

“Cepat masuk!” Dia mendorong tubuhku, tepatnya kepalaku untuk masuk ke kamarnya.

“Tapi bos…” Belum sempat aku protes, pintu kamarnya tertutup tepat di depan hidungku. Mataku melotot kaget.

“Buka! Buka bos!!” Aku berteriak memohon. Cowok sinting itu menahan pintu dengan tangannya agar tidk bisa dibuka.

“Selesaikan tugasmu! Kalau kau melawan, hukumanmu bertambah sehari, mengerti!” teriaknya dengan nada – yang aku berani sumpah – sangat puas.

Hukumanku akan bertambah sehari. Ya itu ada di dalam surat kontrak kami. Aku sampai hafal isinya di luar kepala. Surat itu tentu saja menguntungkan dirinya. Itu surat perbudakan, dan aku adalah korban. Maksudku, aku ini tersangka yang menjadi korban si Lucifer.

Well, interior kamarnya bagus, aku suka. Ternyata selera si brengsek itu boleh juga. Kamarnya jauh lebih luas dari ruang keluarga. Ini hampir seperempat luas apartemen. Tapi kok aku merasa canggung ada di kamar cowok idola seperti dia, eng…ralat bukan canggung tapi aku agak merinding. Hah! Ternyata yang membuatku merinding adalah…itu! Standee dirinya yang menyeringai dan menatapku dengan tatapan keji. Ya Tuhan! Kenapa si Lucifer menyimpan standee di kamarnya sendiri? Apa dia kelewat narsis, tidak cukup ya dengan foto dindingnya di ruang keluarga yang bisa membuat kambing-kambing muntah.

Kuputuskan untuk tidak mengambil pusing dan mengerjakan tugasku di meja kamarnya. Oke! Ini lebih menyeramkan dibanding ujian Struktur Konstruksi dengan Professor Park semester kemaren. Kalau mata Profesor Park mengawasiku dari balik kacamata bulat yang melorot di hidung peseknya, saat ini aku merasa diawasi malaikat kematian gara-gara standee Cho Kyuhyun yang mengerikan. Intinya, aku tidak nyaman tapi aku harus fokus menyelesaikan gambarku sebelum dia masuk ke kamar ini dan berusaha merayuku untuk tidur bersamanya. Aarrgh!! Kenapa aku jadi berpikir yang bukan-bukan sih! Samar-samar aku mendengar Kyuhyun jelek itu berteriak heboh, dasar setan maniak game!

***

Aku sedang makan es krim di taman dengan senior Song Joongki, dan dia menyuapiku. Aaa…senior Joongki romantis sekali, kenapa dia tersenyum semanis itu padaku? Aku bisa meleleh seperti es krim yang disuapinya. Ini mimpi atau kenyataan? Kenapa bibirku basah? Apa dia menciumku…?

“Hei Seo Jiae! Cumi…!” Kok ada suara Lucifer itu sih. Otakku pasti sudah error. Aku menggelengkan kepala keras-keras agar suara itu menghilang dari kepalaku. Sial, bukannya suara itu yang hilang tapi sosok senior Joongki yang kabur dari pandanganku.

“Senior Joongki!” teriakku. Aku bangun dari tidurku dengan napas terengah seolah habis berlari mengejar senior Joongki yang meninggalkanku sendiri di taman. Jantungku berhenti berdetak seketika saat wajahnya hanya berjarak tiga inchi dari wajahku.

Oke, aku butuh waktu untuk mencerna keadaan. Dimana aku? Siapa aku? Siapa cowok berwajah evil ini? Dan kemana senior Joongki? Tunggu…cowok evil?!

“Aarrgghh!!!” Aku mundur sambil merapatkan selimut menutupi separo wajahku.

“Akhirnya kau bangun juga.” Kyuhyun jelek itu menatapku galak.

“Aku…kenapa bisa tidur di sini?” Pertanyaan bodoh! Seingatku semalam aku menggambar, sampai kalkir keempat yang kuselesaikan aku masih di meja dan aku tertidur di sana, entah pukul berapa itu. Tapi kok sekarang aku ada di atas ranjangnya si brengsek ini? Pantas saja empuk. Hei! Apa penyakit lamaku kambuh? Maksudku, dulu aku terbiasa tidur sambil jalan. Lalu semalam, dimana si brengsek ini tidur?

“Bos…kalau aku tidur di sini, semalam kau tidur dimana?” Takut-takut aku bertanya padanya.

“Kau pikir dimana? Ini ranjangku, ya aku tidur di sini!” Kata-katanya bagai petir di siang bolong.

“Tidak!!! Jadi semalam, kita…” Aku takut membayangkan hal itu, aku dan si brengsek ini, kami, aarrgh!!

“Hei! Kau ini suka sekali ya tidur di ranjangku? Cepat bangun! Buatkan aku sarapan!”

***

“CHO KYUHYUN BRENGSEEEEKK!!! EVIL JELEEEEKK…!!! DASAR LUCIFEEEER! AWAS KAUUU…TUNGGU PEMBALASANKUUU!!! Aku terengah, mengatur napas untuk kembali mengumpat si jelek itu.

“Berani-beraninya kau…tidur…aku… Aarrgghh!!!” kujambak rambutku yang memang sudah berantakan.

Saat ini aku sedang tidak ingin masuk kelas, dan memilih untuk merutuki nasib sialku semalam di sini, di atap gedung Global Zone. Ini tempat favoritku untuk menghilang dari kelas, jika ingin tidur atau meneriaki dosen-dosenku yang kejam.

“CHO KYUHYUUUNN…!!!”

“Kau berisik sekali sih…” Seorang cowok muncul dari balik upper tank, sambil mengucek matanya. Sepertinya tempat ini bukan hanya jadi milikku, ada orang lain yang juga suka numpang tidur di sini. Cowok itu menggaruk belakang kepalanya dan menguap lebar…lalu menatapku.

***

Aku setengah tertidur dengan kepala menyandar di lenganku yang bergelayutan di dalam kereta. Tangan satuku memeluk tabung gambar tempat dimana daguku bertumpu. Aku yakin gayaku ini tidak akan menarik perhatian cowok-cowok kampus lain, atau eksekutif muda yang dengan senang hati memberikan bangkunya padaku. Karena kesiangan, aku tidak sempat mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi. Dan sekarang aku hampir tertidur dengan mulut separo terbuka, dan air liur yang menetes keluar lalu masuk lagi lalu keluar lagi dari mulutku, begitu seterusnya, seiring napasku yang naik turun. Sampai nama yang paling tidak ingin kudengar pagi ini keluar dari mulut seorang anak SMA yang berbicara serius kepada temannya.

“Iya…dari sumber yang kutahu, mobil Cho Kyuhyun oppa dirusak oleh perempuan gila.”

“Siapa perempuan gila itu? berani sekali dia merusak mobil Kyuppa?”

Cho Kyuhyun?! Pe..perempuan gila! Ya… maksud kalian itu aku? Mau tidak mau, mata dan telingaku aktif mengikuti pembicaraan para Sparkyu ingusan itu.

“Entahlah, dari siswa Kirin yang kutanyai, perempuan itu sepertinya anak kuliahan. Huh! Eonni itu…pasti otaknya di dengkul.”

“Lalu bagaimana dengan oppa?”

“Yeah…Kyuppa hatinya terlalu baik, dia membiarkan masalah itu sebagai sebuah kecelakan semata. Padahal banyak saksi yang melihat kalau perempuan gila itu sengaja melempar batu ke kaca belakang mobil Kyuppa.”

Saksi? Maksudnya si anak Kirin bermulut besar itu. Cih! Sejak kapan Lucifer mempunyai hati yang baik? Dan…aku ini bukan perempuan gila anak bodoh!!! Ingin rasanya kusumpal mulut Sparkyu yang kelakuannya sudah seperti idolanya itu.

***

Kami duduk serius menatap layar televisi, dia yang serius sementara aku pusing. Tombol mana yang harus kutekan untuk menyerang dan yang mana untuk menghindar. Akhirnya daripada bingung, aku asal pencet saja biar cepat game over.

“Bodoh! Kau ini tidak bisa main ya?”

“Harus kubilang berapa kali sih bos, aku tidak suka game dan aku tidak bisa main game!”

“Masa permainan segampang ini kau tidak bisa? Bocah lima tahun saja bisa memainkannya. Otakmu itu tertukar dengan keledai atau gimana sih?” Kyuhyun menoyor-noyor kepalaku berulang kali.

Kau yang keledai…dasar idiot brengsek! Kalau otakku keledai mana mungkin aku bisa jadi mahasiswa Sungkyunkwan…Sungkyunkwan sodara-sodara! Dan bisa jadi juniornya senior Joongki. Oh…hanya dengan mengingat senior Joongki aku bisa meredam amarahku untuk menendang bokong evil jelek ini.

“Bodo ah…aku menyerah bos!” kataku kesal dan melempar stick sembarangan. Aku bangkit dan berencana berjalan ke dapur.

“Ya…cumi! Mau kemana kau?!”

“Ting~~ Tong~~” Bunyi bel itu menyelamatkanku. Kubelokkan kakiku ke pintu depan.

“Mau buka pintu bos, sepertinya itu pengantar pizza.”

“Siapa yang pesan pizza?” tanyanya bingung.

“Aku…tapi pakai nama bos, soalnya aku lapar sih. Uang jajanku habis dan di sini aku memang tidak digaji kan?” Sindiranku ditambah lidah yang kujulurkan untuk membuatnya kesal ternyata berhasil membuatnya terbelalak.

“Seo Jiae! Beraninya kau…ada apa hah?” Kyuhyun bingung melihat ekspresiku ketika membuka pintu.

“Ef..ef..” aku terperangah melihat pengantar pizza yang cantik. Bukan, maksudku cewek cantik yang suka bikin aku grogi.

“Apa? Kalau ngomong yang jelas…” Kyuhyun hendak berdiri dan mendekatiku.

“Eks…leader…” kata-kataku yang tertahan di tenggorokan akhirnya keluar.

***

Bermain ayunan sendiri di tengah malam saat cuaca dingin sungguh terdengar tidak keren. Kutempelkan kedua telapak tangan ke pipiku yang hampir membeku. Lucifer itu sungguh kejam, dia mengusirku ke luar hanya karena ingin berduaan dengan Victoria Song, cewek China bermata kelereng yang tadi menatap aneh padaku. Memangnya aku alien?!

“Plaakk!!” Kutampar pipiku. Sial, kenapa banyak nyamuk sih?

Lihat saja kau jelek! Akan kubalas, kalau kau masih semena-mena padaku, hubunganmu dengan si leader f(x) itu akan tersebar. Akan kusebarkan di internet atau kujual informasi ini kepada para stalker. Aku ingin lihat bagaimana reaksi sparkyu yang mengagung-agungkan iblis jelek seperti dirimu.

“HAHAHAAA…MATI KAU KYUHYUN JELEEEEKK!!!” Aku tertawa dan berteriak senang dengan ide menjatuhkan Cho Kyuhyun ini.

“Kau sakit jiwa ya?” tanya seseorang yang kulihat bayangannya menjulang tinggi di depanku. Aku mendongak dan tubuhku langsung lemas karena yang berdiri di hadapanku adalah senior Song Joongki.

“Saat di atap, kau memaki seperti orang kesetanan dan sekarang kau tertawa juga seperti orang kesetanan. Apa kau ada masalah dengan setan?” senior Joongki sudah mengambil tempat duduk di samping ayunanku. Dia memandang aneh padaku.

Ini lebih buruk daripada diusir Kyuhyun di tengah cuaca dingin menusuk, kalau kau dianggap gila oleh gebetanmu sendiri.

“Ak..aku…hanya…” Otakku berhenti bekerja saat memandang wajahnya yang tampan.

“Eng..yeah, aku memang ada masalah dengan setan. Tapi…aku tidak sakit jiwa kok, benar senior…aku tidak sakit jiwa…” Aku menggeleng keras padanya berharap ia mengubah pikirannya yang menganggap aku gadis gila penghuni atap gedung dan ayunan taman. Aku menunduk lesu, rasanya ingin sekali menghilang dari hadapan senior Joongki, tapi kakiku seperti terikat.

“Hahahaa…kau ini lucu sekali sih…” senior Joongki mengacak rambutku dan menyodorkan sekaleng cola yang diambilnya dari kantung jaket nike-nya. “Nih…biar kau terhindar dari sakit jiwa.”

Aku yang semula tersipu malu karena ia menyentuh kepalaku langsung merah padam saat ia menyebutkan kata sakit jiwa. “Senior…aku pastikan aku ini tidak sakit jiwa…” keluhku.

Dia tersenyum manis sekali melihat ekspresi frustasiku. Senyumnya saja sudah bisa menghangatkan tubuhku yang beku karena setan jelek itu. Ah…harus kuakui, aku berterimakasih untuk pertama kalinya karena telah diusir Cho Kyuhyun.

***

Pandangan kami pun bertemu. Damn! Matanya kenapa harus sekeren Won Bin sih. Jarak kami kurang dari tiga meter, aku tidak berharap dia mendekatiku. Kalau sampai dia mendekatiku, aku tidak yakin apa yang harus kulakukan. Bodoh! Kenapa aku harus beradu pandang dengannya dan harus melihat seringai keji dari bibirnya. Perlahan aku berjalan menjauhinya, tanpa suara sekecil apapun, bernapas saja aku takut. Pikiran yang ada di dalam otakku adalah menghindarinya. Tapi…

“Gukk..gukk..Grrrrrhh..GUUKK!!” Ini benar-benar hari sialku. Kenapa dia harus tertarik padaku sih. Instingku menyuruh untuk mengambil langkah seribu, karena aku menolak teori ‘menjongkoklah saat dikejar anjing’, gila itu sama saja bunuh diri. Secepat mungkin aku berlari entah kemana, yang penting menyelamatkan diri dari anjing-mata-keren itu.

“AAARRGGHHH!!!!” Aku berteriak saat moncongnya nyaris mengendus ujung celanaku.

“TOLOOOOOONNGG!!” Aku sudah setengah menangis, namun enggan menyerahkan nyawaku begitu saja pada si anjing.

Adrenalin memang muncul saat kau benar-benar dalam keadaan terjepit dan Fortuna memang lagi berpihak padaku, ada pohon di depanku tak sampai lima meter. Pohon?! Aku kan tidak bisa memanjat pohon. Tapi berkat bantuan si adrenalin dan – sepertinya aku gila kalau bilang anjing-mata-keren yang seolah memberi dukungan padaku untuk memanjat pohon –  tahu-tahu saja aku sudah nangkring di atas pohon.

Anjing-mata-keren itu menyalak keras tepat di bawahku, dia memamerkan geliginya yang tajam, mata kerennya sama tajamnya saat menatapku. Keringat dingin membasahi wajah dan leherku.

“Pergi…!! Huusshh, pergi sana…” rengekku sambil melemparinya dengan ranting pohon. Bukannya pergi atau memang tidak tahu bahasa lisan dan bahasa tubuhku yang memohon agar dia pergi saja untuk menggoda gadis yang lebih cantik, anjing itu malah jalan mondar-mandir di dekat pohon sambil terus menatapku.

“BUAHAHAHAA….!!!” Tawa menyeramkan yang membuat bulu kudukku berdiri itu terdengar dari arah lain. Si pemilik tawa mendekat dan mendongak menatapku , ia tertawa sambil memegangi perutnya.

Lengkap sudah kesialanku. Bagaimana tidak? Jika kau tertangkap basah sedang nangkring di atas pohon dan ditertawakan secara…bahagia-permanen oleh musuhmu sendiri gara-gara takut digigit anjing-mata-keren.

“Berhenti tertawa dan tolong aku bos…!” Aku menelan gengsiku sendiri saat memandangnya dengan tatapan memohon, tatapan yang tidak pernah kulayangkan pada siapa pun.

Lucifer itu malah berjongkok di samping si anjing dan menggaruk belakang telinganya. Dengan wajah polos ia bertanya pada anjing-mata-keren itu.

“Apa yang telah kau lakukan pada gadis gila di atas sana?” Dia menunjukku dengan telunjuknya dan menatap mata si anjing dengan keingintahuan.

Dasar sinting!! Kenapa malah mewawancarai anjing, tolong aku bodoh! Aku mengepalkan tangan menahan geram. Dari atas sini, mereka tampak seperti Dewa Erlang dan Anjing Kudisan dalam cerita Kera Sakti, makhluk-mahluk yang menyebalkan.

“Bos…!!” pekikku, kutahan tangisanku yang hampir pecah. Aku tidak boleh menangis di hadapannya, aku tidak boleh membiarkan ia tersenyum puas penuh kemenangan karena telah berhasil – untuk kesekian kalinya, menyiksaku.

“Hmm..oke, aku sudah dengar alasanmu. Sekarang pulanglah Tom! Kau dicari majikanmu tuh…” Kyuhyun jelek itu bangkit dan menyuruh anjing sekutunya untuk pulang setelah mendengar teriakanku.

“Anjingnya sudah pergi cumi! Sekarang kau bisa turun…” ejek Kyuhyun.

“Aku tidak bisa!” balasku, “Aku takut…” kali ini aku tidak bisa tidak terdengar seperti merengek.

“Bodoh! Apa maksudmu takut? Kenapa bisa naik tapi tidak bisa turun? Ayo cumi, kau tidak mau nginap di atas sana semalaman kan?” si jelek itu malah menceramahiku.

“Ambilkan tangga!” pintaku putus asa.

“Mana ada tangga di sekitar sini, lagipula jarak apartemen ke sini cukup jauh. Aku tidak mau kelihatan sedang menggotong tangga, apa kata dunia nanti jika melihat Cho Kyuhyun yang terkenal, menggotong-gotong tangga untuk menurunkan gadis aneh dari atas pohon sehabis dikejar anjing.” Nadanya terdengar sangat gembira saat melontarkan alasan malas-membantuku.

“Jadi aku harus gimana?” Aku sudah menangis kesal karena menghadapinya.

“Lompat saja bodoh!”

“Apa kau mau melihatku mati hah?”

“Kau hanya akan memar dan patah tulang kalau terjun dari ketinggian seperti itu.”

“Kau jahat Cho Kyuhyun!!” pekikku disertai derai airmata.

Kyuhyun terdiam mendengar kata-kataku. Mungkin dia shock mendengar aku menyebut namanya, itu artinya aku sudah melanggar aturan. Persetan dengan aturan! Setelah aku berhasil turun dari pohon ini, aku akan langsung melayangkan surat pengunduran diri sebagai budaknya. Pulang ke rumah, berterus terang pada appa dan memintanya membayar ganti rugi pada evil tengil ini.

“Lompatlah…aku akan menangkapmu.” Suaranya terdengar pelan dan lebih lembut, atau ini hanya perasaanku saja.

“Tidak! Setelah aku lompat, kau akan bergeser dari tempatmu dan menertawaiku saat aku mendarat di tanah dengan tangan patah. Iya kan?!”

“Tidak…lompatlah dan percaya padaku…!” Nadanya masih aneh, lembut namun terdengar tidak sabar.

“Kau janji akan menangkapku?” seruku. Aku tidak punya pilihan lain selain lompat. Setelah aku turun, ingatkan aku untuk menendang bokongmu Cho Kyuhyun!

Dengan mata terpejam aku memberanikan diri untuk mengikuti kata-katanya, melompat. Dia tidak bohong, dia menangkapku, karena aku merasa dilindungi oleh tangan-tangan dan lengan yang menutupi kepalaku. Aku juga jatuh di atas sesuatu yang lebih empuk ketimbang tanah keras. Well, setidaknya aku menimpa tubuhnya. Tapi kok…bibirku menghantam sesuatu yang aneh. Pendaratanku pasti gagal. Bibirku seperti menyentuh benda lembut dan kenyal. Wajahku…wajahku juga seperti membentur…

Aku membuka mata saat gravitasi yang kurasakan sudah kembali normal. Haruskah aku lompat sekali lagi dan memilih untuk menumbuk tanah??! Karena, karena…aku tidak mau mencium bibir Cho Kyuhyun!!!!

TO BE CONTINUED

 

Marlion in Love

Based on true story

Main cast: Pewe, Anjani, Yun Jun Woo (OC), Han Seung Woo (OC)

Genre: General

Type: One shot

Recommended backsound: Angel – Super Junior

Ps: Err…ini apa ya, bisa dibilang cerita paling berkesan setelah nonton SS4 Singapore. Ketemu dua cowok Korea yang unyu terus ngajak foto bareng (ง’̀⌣’́)ง yeah…norak-norak bergembira gitu de.. (ˇ_ˇ”). Buat Pewe…ini cerita lo, gue, mereka…END!! kkk~

Senin, 20 Februari 2012

Gue sama Pewe masih di Singapore setelah nonton Super Show-nya Suju. Rencananya hari ini  kita mau ke Marlion Park. Gue sendiri udah gatel pengen foto bareng si Marlion. Paginya kita muter-muter dulu di Lucky Plaza di kawasan Orchard… Orchard? Aje gile, ini tempat bukan buat dompet gue banget de, segala barang branded yang bikin mata ngiler ada di sini.

Siangnya hujan turun lumayan deras, sempat takut juga kalau kita gak bisa ke Marlion dan gagal foto-foto di Landmarknya Singapore. Untungnya si Hujan gak mau eksis terlalu lama dan kita pun langsung caps cups ke taxi queue di depan lucky Plaza buat antri taksi. Gue bener-bener terkesan dengan budaya antrinya orang Singapore, kapan ya Indonesia bisa kayak gitu (⌣́_⌣̀)

Eng..ing..eng…kita dapat taksi yang sopirnya ramah banget, waktu tahu kita mau ke Marlion, si om sopir mendadak jadi tour guide. Dia jelasin pusat-pusat perbelanjaan di Orchard yang bagus-bagus, kayak Takashimaya Shopping Centre dan Paragon Shopping Centre (yang isinya mulai dari Louis Vuitton, Guess, Chanel dan kroni-kroninya). Dari Orchard kita jalan ke Stamford di sana banyak banget museum dan kita lewat di depan Istana Presiden (betul ga sih Pewe? Gue mendadak linglung kalau udah lihat bangunan-bangunan bagus, rasanya pengen disurvey satu per satu Ҩ( > ̯ < )Ҩ), si om sopir juga nunjukin Raffles Hotel yang luar biasa tua dan mahal itu..huaaa jadi pengen ke sana  ><”

Voilaa…sampai di Nicoll Highway dan lihat Esplanade Theatres, kenorakan gue langsung muncul. Untung si om sopir baik hati, dia kasih kita kesempatan buat motoin Esplanade, walau hasilnya ga jelas…kkk~. Akhirnya kita sampai di Marlion, nama tempatnya One Fullerton. Begitu masuk kita langsung disuguhi view sungai dengan background Marina Bay Sands, Art Science Museum, dan Singapore Flyer. Cukup lama kita foto-foto di sini dengan berbagai gaya alay (gue terutama).

Jreng..jreng..niat buat foto bareng Marlion akhirnya kesampaian. Lumayan banyak turis yang foto di sana, padahal itu hari Senin. Jeprat jepret pun dimulai, gue sama Pewe gantian ambil foto bareng Marlion, Pewe itu photographer handal de, captured gue keren-keren kalau dia yang ambil. Lha gue…standard banget ngambilin foto dia, maaf ya Pewe (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

Banyak turis asing buat gue mupeng pengen foto bareng. Tapi belum nemu yang sreg…kkk~. Gue pun ikut-ikutan Pewe motoin objek-objek di sekitar Marlion, kayak The Original Tour – Singapore Sightseeing (bus pariwisatanya Singapore – bus tingkat yang bagian atasnya terbuka); The Fullerton Hotel yang di belakangnya berdiri Maybank dan Starits Trading; si mata capung Esplanade dan…dan…objek paling bagus yang gue foto adalah dua cowok oriental yang gayanya simple banget. Awalnya mereka gak sengaja..err, kayaknya sengaja de, kefoto pas gue mau motoin Pewe dengan background Fullerton Hotel.

Well, gaya mereka lucu, pakai manjat-manjat pagar segala buat ambil view foto bareng Marlion. Yeah gue langsung kepikiran dong buat foto bareng.

“Eh..eh..kita foto bareng mereka yok, orang asing tuh kayaknya.” ajak gue ke Pewe.

Maklum misi gue liburan kali ini benar-benar buat ngumpulin foto sebanyak mungkin dengan turis asing. Waktu di Chinatown hari sebelumnya, gue udah dapat foto bareng bayi bule imut, cewek oriental – entah dari Jepang atau China, sama Kakek China yang senyumnya kagak nahan. Terus Pewe malah kedapetan foto bareng keluarga multi ras. Kocak banget de kalau lihat foto Pewe bareng keluarganya.

Awalnya Pewe kayak ogah-ogahan gitu, jadi belum ada pergerakan (?).Tapi setelah gue denger mereka ngobrol dalam bahasa Korea, langsung aja gue samperin, dan Pewe ngikutin di belakang gue.

“Excuse me, can you speak in English?” tanya gue ke cowok berkaos merah.

“Yes, i can.” jawabnya dengan ekspresi setengah shock setengah cool.

“Oh..oke..ehmm..can we take a photo together?” Dengan pedenya gue ngajak mereka buat foto bareng.

Si kaos merah sempat mandang ke temannya dan akhirnya bilang iya, pertamanya dia ngira gue cuma minta tolong buat ngambilin foto gue bareng pewe. Ngekk…misunderstanding.

“Oh, no.. I mean, you, your friend and I, we make a photo together. My friend…” gue nunjuk Pewe, “ will take it.” jelas gue.

Fuhh..untungnya mereka mau. Sebelumnya kita basa-basi dulu ke mereka.

“Where do you come from?” tanya gue ke mereka.

“Korea…” jawab mereka.

“Oh, I like Korea.” kata gue sok-sok antusias.

“I like Super Junior, did you know Super Junior?” tanya gue.

“No…” dengan muka bingung mereka geleng-geleng.

Ehh? Apa? What? Kok…mereka…gak…kenal…Super…Junior…sih? Oke no problem, mungkin mereka bukan tipe cowok fanboy, atau mereka lebih suka artis barat, sama de kayak kita yang pada suka Korea…(Kita? Gue kali…kalian juga?), atau mereka jarang nonton televisi, atau mereka tipe pelajar kutu buku, atau mereka ada di distrik paling terpencil di Korea sana jadi gak gaul gitu.

Singkat cerita gue dan dua cowok Korea itu ambil posisi dengan background Marlion. Dengan pedenya gue ngulangin kata-kata gue, “I like Super Junior and I like Donghae.” kata gue sambil nunjukin kaos bergambar wajah Donghae yang gue pakai. Responnya, tetep sama mereka cuma pasang wajah bingung sambil senyum-senyum gak jelas. Bodo ah, yang penting gue suka Super Junior aja…#ngeyel ( ˘̶_˘̶ ‘) “. Nah bagian ini yang gak terduga, pas gue bilang gue suka Donghae, si Pewe teriak dari tempatnya, “I like Lee Hyukjae!” dan…brukk…kamera gue lepas dari pegangannya dan jatuh. Oke! Pewe sukses buat gue cengok. Entah dia terlalu semangat atau grogi karena mau foto bareng namja Korea, sampai-sampai kamera gue yang gak bersalah dan gak tahu apa-apa itu mesti terluka. Hiikkss..#lebay (˘•̩̩͡ .̮˘•̩̩͡)

Otomatis dong gue lari buat mungut kamera gue yang tergelak tak berdaya itu, dan dengan wajah bersalah campur nervous Pewe bilang, “Maaf hyung…”

“Ga papa…” kata gue sok tenang.

“Its allright?” tanya si kaos merah. Gilee…peduli banget dia, gue sempet melting, mana dia ngambilin onderdil yang copot dari kamera gue lagi, err…sebenernya itu cuma benda super kecil warna orange yang gue yakin gak ngaruh sama kinerja kamera gue.

“Its oke…” jawab gue dilirih-lirihin. Ampuuunn…kenapa bukan gue aja yang jatuh sampai berdarah-darah, mungkin tuh cowok bakal gendong gue ke rumah sakit..wkwkwkk.

Setelah gue cek dan kamera gue ga kenapa-napa, kita ambil posisi lagi dan berfoto…. Ketahuan de siapa yang paling bahagia pas foto bareng, ya gue sama Pewe lah…hehehee. Oh iya pas mau foto gitu, si kaos hitam kayak mau peluk gue dari belakang. Oumaigat apa-apaan nih, bilang-bilang dulu dong jadi gue kan bisa ambil posisi yang bagusan dikit kkk~, tapi gak jadi dia cuma megang backpack gue, sementara gue curi-curi kesempatan buat nempel sama si kaos merah…(ketahuan kan gue sukanya sama yang kaos apa? XD). Terus pas giliran Pewe foto bareng mereka, kata Pewe dia bener-bener dirangkul pinggangnya sama si kaos hitam, wuuu (っ˘з˘)っ asyik tuh Pewe.

Sesi foto-fotonya selesai, sebagai warga negara yang baik gue gak lupa ngicapin terima kasih dong.

“Oke thank you…” kata gue sok akrab setelah foto-foto bareng mereka.

“Gomawo~” lanjut gue lagi. Ehh? Dua cowok itu senyum-senyum gitu ke kita, heran kali ya kenapa kita bisa sedikit-sedikit bahasa Korea. Ya iyalah…gue kan yeojanya Donghae (Catet! Penting! XD)

“Jeongmal gomawoyo~” timpal Pewe. Alih-alih pergi mereka malah deketin kita buat ngajak high five. Dasar gue sama Pewe orang Indonesia tulen, kita kira mau ngajak salaman, jadi pas tangan kita pada mau salaman mereka ngajak tos, pas kita mau tos, mereka bingung, hahaha ini adegan konyol-konyol kikuk jadinya. Akhirnya kita kenalan.

“What’s your name?” tanya gue ke cowok berkaos hitam, yang…iya kan Pewe wajahnya mirip Lee Seunggi.. ><

“Yun Jun Woo.” jawabnya. Beneran congek ya nih telingan gue, yang gue dengar cuma Yun Jun U

“Hah?” tanya gue lagi.

“Yun Jun Woo.” ulangnya pelan-pelan, kali ini gue iya-iyain aja de, pura-pura ngerti nama dia, abis gue udah terpesona lihat bibirnya monyong-monyong gitu waktu nyebut namanya sendiri.

Terus gue ngelirik si kaos merah berkacamata hitam yang cool itu, dan dia bilang namanya Han Seung Woo. Oh God! Ini cowok bisa dipaketin ke Indonesia gak sih, biar gue pelihara (?) >,<

Feedbacknya si Pewe dengan cerianya memperkenalkan diri, “Pewe imnida…” jreng…jreng…gila ya, gue sempet melongo sebentar. Jadi mau gak mau gue harus mau kasih tahu nama gue ke mereka. Padahal gue mau banget ><”

“Pi..wi..” ulang si kaos hitam.

“Pe..we..” jelas Pewe.

Giliran gue, “Anjani…” kata gue. Kalau gue sebut nama gue Rizky Anjani Prawiro Oetomo, gue kasihan sama merekanya, lidahnya bisa keseleo.

“An..ja..li..” ulang si kaos merah dedemenan gue.

“An..ja..ni.” ulang gue. Tuh kan anjani aja mereka susah nyebutnya, ><”

Terus Pewe nanya, “ Where do you live in Seoul?” Ehh? Yakin banget si Pewe kalau mereka tinggal di Seoul. Sejak saat itu, percakapan diambil alih Pewe. Sebelumnya gue ralat pertanyaannya.

“Where do you live in Korea?” ulang gue.

“Busan.” jawab Han Seung Woo…eh Yun Jun Woo…eh siapa yang jawab Pewe? Gue lupa XD

Terus Pewe tanya-tanya tentang Pulau Jeju yang indah. Dan gue timpalin dengan promosiin Pulau Bali yang gak kalah cantik. Han Seung Woo bilang dia pernah dengar tentang Bali. Oh…Seung Woo, kamu kalau mau ke Bali bareng gue aja. Kita ke sana buat honeymoon tapi ya…wkwkwkk. Seung Woo…Seung Woo…bibir mungilmu begitu menggoda (?) #Hyukeffect. Terus kita nanya, sudah berapa lama mereka di Singapore. Mereka bilang sudah dua hari.

Dari style mereka, ini yang paling bikin gue ngakak. Gayanya santai banget, kayak mau ke pasar tradisional kalau di negara kita mah. Modal mereka cuma tas selempang, payung, peta, sama sandal jepitnya Yun Jun Woo itu loh yang kagak nahan lebih gak nahan lagi lihat bulu kakinya Han Seung Woo XD

“Do you have twitter account” tanya Pewe ke cowok-cowok Korea itu. Heh?? Si Pewe berhasil berkali-kali buat gue melongo. Kenapa nih anak pakai tanya twitter mereka segala, udah…maksud gue foto-foto aja, kenalan-kenalan aja, habis itu say good bye. Eh, malah keterusan. Gokil de si Pewe.

Mereka pun geleng-geleng.

“Ehm..me2day?” tanya Pewe lagi.

Tettoott! Mereka geleng-geleng lagi dan bilang gak punya. Heh?? Ini cowok-cowok gak gaul apa ya? Kita aja yang orang Indonesia bela-belain buat akun me2day biar bisa ngikutin update-an artis-artis Korea. Tapi dari yang gue denger, dan kalau gak salah denger mereka punya akun Facebook. Jadilah gue sama Pewe nanya apa akun Facebook mereka. Mereka ngeluarin pena dan nanya apa kita punya kertas, Pewe bilang gak punya. Ehmm…maksud gue, ini maksud gue loh ya, kenapa gak dicatat aja di ponsel, jadi kan bisa sekalian minta nomor ponsel mereka..wkwkwk. Memang mereka cowok gentle sih, tahu-tahu si Han Seung Woo ngeluarin notenya dan ngerobek kertas. Terus dia nulis namanya dan gue pikir bakal nulis nama akun facebooknya. Ternyata, dari percakapan yang ditangkap Pewe – maksud gue yang ditangkap Pewe cuma kata “molla”, yang artinya, udah bisa dipastiin mereka gak ngerti kita maunya apa. Kita cuma mau tahu apa akun facebook lo… (˘̩̩̩_˘̩ƪ). Alih-alih nulis yang kita minta, mereka malah nulis alamat e-mailnya. Yeah…dari pada engga sama sekali tho? Eh lucu de, tulisan tangan mereka gak bisa dibilang bagus, tapi gak jelek-jelek amat. Anehnya itu tulisan tangan kenapa bisa mirip ya. Dasar Woo brothers -__-“

Sukses dapetin alamat e-mail mereka. Saatnya say good bye. Tapi tiba-tiba Ocha nongol, yeah gue kenalin aja ke mereka kalau ini Ocha temen gue juga, dia suka Kyuhyun, Super Junior. Gue super ngeyel apa ya? Udah jelas mereka gak tahu sama Super Junior, masih aja gue jelas-jelasin Cho Kyuhyun, Lee Donghae, bla..bla..hahaa. Terus gak tahu kenapa si Pewe malah cerita kalau kita tuh habis nonton Super Show 4. Engg.. Yun Jun Woo, Han Seung Woo..maaf ya, maaf banget, kalau kita tuh terlalu ngebet sama Super Junior. Maaf de, gue tahu muka-muka lo pada, udah bingung stadium 4, tapi lo tetep mau ngeladenin kita >,<

“Thank you…” seru gue pas mereka akhirnya pamit mau lanjut travelling.

“Annyeong…” kata gue lagi.

“Annyeong haseyo~” kata Pewe, ehh…jelas salah dong, makanya mereka sempet bingung.

“Annyeong higaseyo~” ralat Ocha.

Hehehe maaf de, begini nih kalau pertama kali ngomong sama orang Korea langsung, mana mereka unyu-unyu gichyu.. ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ  wkwkwk…gue juga baru sadar kalau gue udah gak sopan banget waktu bilang “gomawo~” padahal kita baru pertama kenal. Dasar nih gue, bahasa prokem gue udah gak bisa ditatar. Untung si Pewe nambahin “jeongmal gomawoyo~”

Well, ini cerita seru-seruan gue sama Pewe di Marlion yang udah bikin Pewe salting abis sampai kamera gue jatuh ><, hari yang menyenangkan de. Marlion in Love gitu kata Pewe…oh Marlion, thank you so much for the sweet memories.

Korea…i’m coming! Busan…i’m coming! Han Seung Woo, Yun Jun Woo…i’m coming!!! Kkk~

Nb: maaf banget nih narasi kayaknya acak adul, sorry Pewe, kira-kira begini de urutan pembicaraan kita yang gue inget XD kepada Allah gue mohon ampun -,-”

Main casts                                          :

(Elf)

  • Orion Frâel (Cho Kyuhyun)
  • Jane Svit-kona (Han Taera)
  • Cedric Caladriel (Lee Donghae)

Supported casts                               :

(Elf)

  • Eleanord (Kim Jongwoon)
  • Thróv (Choi Siwon)
  • Serandor (Lee Hyukjae)
  • Maurel (Kim Heechul)
  • Abadel (Park Jungsoo)
  • Hretgán (Lee Sungmin)
  • Oberon (Han Geng)
  • Lynnëa (Cho Eunjae)
  • Arwen (Kwon Jiah)
  • Aurielle (Song Pipot)
  • Nāeri (Tara Andhari)

(Valar)

  • Lynx (Jung Yunho)
  • Pavo (Kim Jaejoong)
  • Avus (Kim Junsu)
  • Volans (Park Yoochun)
  • Cygnus (Shim Changmin)

 

Author Notes

-          Calaquendi (elf cahaya)

-          Moriquendi (elf kegelapan)

-          Valar (malaikat)

-          Avanguard (pengawal Valar)

-          Vanyar (kaum Ingwe yang tinggal di tanah para Valar (Valinor) dan menjadi kaum elf yang paling mulia dan terhormat, layaknya para bangsawan yang terhormat. Mereka disebut Elf Rupawan)

-          Noldor (kaum Finwe yang tinggal di antara keluarga Falmari (elf yang tinggal di tepi pantai) dan Vanyar (elf yang tinggal di dekat kediaman para Valar). Mereka disebut Elf Dalam)

-          Falmari (kaum Olwe yang memilih untuk tinggal di tepi pantai agar dapat memandangi Middle-Earth  dari jauh. Disebut juga Kaum Penunggang Ombak)

-          Avari (kaum elf yang menolak ikut ke Valinor dan tetap tinggal di Middle-Earth)

-          Nandor (kaum elf yang memilih untuk tidak meneruskan perjalanan ke Valinor dan menetap di tanah yang mereka sedang lalui)

-          Verden (penjaga, Varden (jamak) para penjaga)

-          Xelomor (pegunungan terkutuk, kediaman Morgoth)

-          Fuin-gûl (kaum terkutuk, elf pemberontak yang mendukung kekuasaan Morgoth)

-          Elvish (bahasa yang dipakai para Elf untuk berkomunikasi)

Im gelir ceni ad lín… – Senang melihat kalian lagi… ^^

Part 3 sub 1 rilis readers!!!! Ҩ( > ̯ < )Ҩ setelah kemarin sempat diancam oleh salah satu cast untuk segera menyelesaikannya dalam waktu 1 × 24 jam, hahaha…meleset -__- [yakinlah bukan Lee Hyukjae yang mengancamku]. Akhirnya saya bisa merampungkan cerita yang semakin tidak jelas ini. Fantasy saya berputar-putar di langit Middle-Earth, memacu kerja otak saya yang cuma separo ini lebih keras. Ini part paling sulit yang saya buat karena harus bermain dengan seluruh karakter. #muntah -___-“

Well, saat beberapa teman terus menanyakan kapan On Angels Wings selanjutnya akan dipublish, jujur saya terharu kkk~ #nyedotingus. Meski alasan mereka bertanya seperti itu karena menunggu aksi Serandor alih-alih saya  (̾˘̶̀̾̾ ̯˘̶́̾ ̾̾̾’̾̾ ) hahaha… Damn! Serandor lebih populer daripada saya atau Orion (>̯┌┐<)•°

Fanfic ini terus saya persembahkan kepada teman-teman 889 line, juga kepada penggemar saya yang luar biasa ~ (づ ̄ ³ ̄)づ~~~♡ Lol XD #disepakNarhen. Tanpa kalian saya tidak mungkin bisa berimajinasi se-gaje ini, rasanya seperti saya kembali mengayunkan tongkat sihir ^.^

Tanpa berbasa-basi lagi… Finnaly, I give you five Supermen! Here they are… ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

______________________________________________________________________

“Malam ini adalah akhir dari takdir kita.”

“Lepaskan aku…!! Lepas!!” Seorang wanita muda menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kawalan beberapa prajurit kerajaan.

“Anda tidak diizinkan ke sini Tuan Putri…”

“Kubilang lepaskan aku!!” Berontak gadis itu.

“Jaga tingkahmu Arwen…” Suara tajam dan berwibawa itu berhasil menghentikan aksi berontak sang  putri.

“Ayah!” Gadis bernama Arwen itu terkejut dengan kedatangan ayahnya di arena latih tanding.

“Yang Mulia…!” sahut para prajurit. Mereka tak kalah terkejut atas kedatangan Raja Avari dan Nandor tersebut. Raja Abadel.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Raja Abadel kepada putri satu-satunya itu.

“A…aku, aku hanya ingin berlatih ayah.” Arwen berkata pelan. Ia tahu ia dilarang menginjakkan kaki di arena latih tanding. Sebagai seorang putri Avari ia tidak diperkenankan berhubungan dengan senjata.

“Sudah berapa kali kukatakan, di sini bukan tempatmu nak!” Abadel menekankan suaranya. “Ikut aku!” lanjutnya.

“Maafkan aku ayah.” Arwen membuka pembicaraan saat keduanya tinggal berdua, berdiri di depan sebuah makam marmer putih yang indah berhias lili cala di tepi tebing.

“Di sini…ibumu telah berbaring dengan damai. Demi cintanya pada kita, ia rela berkorban. Kuharap kau mengerti bahwa proteksi yang selama ini kuberikan padamu adalah caraku untuk membalas cinta ibumu. Jadi putriku, berhentilah memegang senjata dan jangan pernah pergi ke tempat itu lagi!”

“Aku mengerti ayah,” jawab Arwen pelan. “Tapi, tidak bisakah aku ikut membela rakyatku? Berdiam diri di istana hanya akan membuatku tidak berguna.”

“Itu tugasku sebagai raja. Tanggung jawabkulah melindungi rakyatku…dan melindungimu.”

“Ayah…”

“Aku tidak terima pembantahan Arwen.” kata Abadel tegas.

“Tidak bisakah kau memperlakukanku seperti Orion?! Aku tidak selemah itu ayah! Aku…hidup dan dibesarkan dengan melihatmu berperang dan bertahan. Hanya karena aku seorang wanita bukan berarti aku tidak bisa melindungi diri. Aku putrimu ayah…”

“Justru karena kau putriku! Kau berbeda dengan Orion.”

“Lalu apa bedaku dengan putri Vanyar itu?! Mengapa justru dia yang melakukan misi itu bersama Orion?!”

“Itu keputusan Vanyar, bukan urusan kita.”

“Bahkan Calaquendi yang tidak pernah merasakan penderitaan kita, mengutus putrinya untuk bertempur. Mengapa aku…yang jelas-jelas menyaksikan penderitaan rakyatku sejak kecil, dilarang mengangkat senjata untuk membela mereka?! Mengapa ayah?!”

Abadel memejamkan matanya, tampak jelas gurat-gurat halus di dahinya yang memetakan beban dan tanggungjawab. “Keputusanku tetap sama. Kumohon berhenti menentangku nak!”

“Aku akan ikut berperang, dengan atau tanpa persetujuanmu ayah…” Arwen pergi sambil menahan jatuh airmatanya, meninggalkan ayahnya yang tertegun.

***

“Kau elf yang menarik.” Wanita dwarf tua yang rambut putihnya nyaris menyentuh lantai memberi Jane ramuan obat untuk menyembuhkan rasa sakit di punggungnya.

“Minumlah!” perintahnya.

Jane menerima gelasnya sementara wanita dwarf itu membantu membenarkan pakaian Jane yang terbuka saat ia memeriksa keadaannya.

“Terima kasih Felda,” ucap Jane lembut, “Tapi aku hanyalah seorang elf yang rapuh.” Suaranya nyaris berbisik. Jane terlihat malu dengan kondisinya. Ia bahkan tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri, tidak tahu bagaimana mengatasi rasa sakitnya.

“Kerapuhan dan kelemahanmu akan menjadi kekuatanmu.” Felda membelai rambut Jane perlahan, tampak keprihatinan yang terpancar dari mata kecilnya.

“Apa kerusakanku parah?”

“Tulangmu yang patah akan segera kembali. Itu tidak akan membunuhmu. Bukankah kalian, elf, adalah makhluk dengan roh yang abadi?”

“Tapi bukan berarti tubuh kami tidak akan mati. Jika kerusakan fisikku parah, mungkin tubuhku akan hancur.” kata Jane pelan.

“Ini bukan jenis kerusakan seperti itu, ada sesuatu yang tampaknya mulai tumbuh di antara tulang-tulang punggungmu. Aku tidak tahu apa. Hanya saja ini menarik.” jelas Felda. Jane bergidik saat membayangkan sesuatu yang tidak ia ketahui tumbuh dari dalam tubuhnya.

.

.

.

“Jadi, kau benar-benar Serandor yang ‘itu’?” tanya seorang dwarf berjanggut merah dengan mata yang selalu berair. Ia dan Serandor sedang duduk di tepi tebing, tidak jauh dari mulut gua Fangorn.

“Ya… ‘itu’ aku.” Serandor tersenyum lebar, bangga dengan status buronannya.

“Jadi, kau benar-benar punya ‘itu’?” Mata dwarf itu mengerling melihat tangan kanan Serandor yang terbebat perban.

“Maksudmu ini?” Serandor secara tiba-tiba menunjukkan telapak tangan kanannya tepat di depan hidung dwarf itu, membuatnya kaget dan jatuh terjengkang.

“Hahahaa…maaf, maafkan aku Omar.” Serandor tak mau susah payah menahan tawanya, namun ia mengulurkan tangannya, membantu dwarf bernama Omar itu untuk bangkit.

Omar mendengus dan mengumpat dalam bahasa dwarf yang tidak Serandor ketahui. Ia memandang jengkel pada Serandor dan berkata, “Kau memang seperti yang banyak diceritakan, brengsek dan serampangan. Huhh!”

“Begitukah? Aku benar-benar tersanjung,” Serandor meninju keras lengan Omar dan tertawa terbahak-bahak mengabaikan wajah Omar yang semakin kesal.

“Jadi, kekuatan seperti apa yang ada di balik ‘itu’?” Omar memotong tawa Serandor dan bertanya serius. Ia kembali memandangi tangan kanan elf eksentrik itu dengan mata yang semakin berair.

“Kau mau tahu?” tanya Serandor dengan nada sok misterius.

“Aye!” seru Omar bersemangat.

“Tanganku ini…”

“Hei Falmari! Man sad Jane? – Dimana Jane?” Eleanord mendekati mereka, membuat Serandor menghentikan pembicaraannya.

Aku bukan pengasuhnya, jadi mana kutahu.” Serandor menjawab enteng.

“Jangan berbicara elvish! Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!” Omar langsung bersikap waspada. Elvish memang tidak diperkenankan saat berada bersama para dwarf. Satu-satunya bahasa yang tidak dikuasai dwarf adalah bahasa para elf. Mereka berpendapat bahwa elvish adalah bahasa terlarang karena dipenuhi daya magis yang dapat membuat pendengarnya hilang akal. Hal tersebut banyak tertulis dalam kisah-kisah ras mereka. Yang paling terkenal adalah kisah Gamboth yang Terpedaya, mengisahkan tentang seorang pria dwarf yang rela memberikan seluruh emasnya setelah mendengar seorang elf wanita yang sangat cantik bernyanyi untuknya dalam bahasa elvish.

“Maaf,” sergah Eleanord. “Aku hanya bertanya dimana Jane?”

“Dan aku hanya menjawab, aku tidak tahu.” lanjut Serandor.

“Aa..kupikir. Kau mencari nona muda yang cantik itu?” Omar mendadak senang. “Pagi-pagi sekali aku melihatnya berjalan ke tempat Felda. Apa dia sakit?” Kali ini wajahnya berubah sedikit cemas.

“Ya, tapi kami tidak tahu apa penyakitnya. Untunglah, kupikir ia melarikan diri lagi.” jawab Eleanord lega.

“Jika ia kabur lagi, scry-mu kan masih bisa melacaknya. Apa yang kau khawatirkan Nandor?”

“Tidak segampang itu bodoh!” Eleanord sudah terpancing, ia memukul atas kepala Serandor dengan buku-buku jarinya yang terkepal.

“Sakit tahu!!” Serandor menggosok kepalanya dan hendak membalas Eleanord kalau saja Orion tidak datang dan menghentikan mereka.

“Hentikan, jaga sikap kalian!” kata-katanya terdengar dingin. “Aku mencari Jane, apa kalian melihatnya?” Orion bertanya dengan tidak sabar.

“Dia ke rumah Felda.” ucap mereka bertiga, nyaris serempak.

Orion langsung pergi, masuk ke gua tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada mereka, bahkan untuk sekadar berterimakasih. Orion terlihat aneh dua hari terakhir.

“Ada apa dengan sahabatmu?” tanya Serandor yang menatap kepergian Orion dengan bingung.

“Entahlah, ia tidak seperti biasanya. Mungkin sedikit tertekan karena misi ini.” Eleanord bersedekap, memandang Orion dengan gundah.

“Apa ia kekasih nona Jane?” seloroh Omar, ia pun melihat Orion, namun dengan pandangan sedikit cemburu.

“Tentu saja…” Serandor menahan jawabannya sebentar, lalu melanjutkan, “iya, kalau si tukang marah ini tidak mengekori mereka kemana-mana.” Serandor tersenyum lebar ke arah Eleanord. Ia tampak senang saat berhasil memprovokasi Eleanord.

“Apa kau bilang?!!” Eleanord sudah siap melayangkan tinjunya ke wajah Serandor jika Omar tidak menginterupsi.

“Tidak! Bagaimana mungkin putra Fuin-…” Serandor mendadak membekap mulut Omar.

“Hahaha…Omar! Apa kau ingin mendengar tentang ‘itu’ lagi?” Tangan Serandor yang bebas menepuk punggung Omar sambil tertawa keras, mencoba mengalihkan perhatian Eleanord. “Ayo, ikut aku, akan kuceritakan semuanya.” Serandor yang gugup menarik kerah baju Omar dengan paksa, menyeretnya meninggalkan Eleanord yang kebingungan.

“Lepaskan aku!” seru Omar.

“Hei, apa yang ka… Mau kemana kalian?” teriak Eleanord.

.

.

.

“Bagaimana keadaanmu?” Orion segera menghampiri Jane begitu ia keluar dari kediaman Felda.

“Ba…baik, aku baik. Apa yang kau lakukan di sini?” Jane sedikit gugup dan kaget.

“Aku ingin memberitahumu, kalau kita harus sesegera mungkin menuju Vraëstone. Tapi sebelumnya aku harus memastikan kondisimu dulu.”

“Aku siap, kapan kita berangkat?” tanya Jane, bersikap seolah ia menunjukkan antusias selayaknya.

“Besok kurasa, tapi…apa kau yakin cukup kuat untuk melakukan perjalanan?” Orion memandang Jane seksama, meneliti ekspresi gadis itu yang mungkin menyiratkan rasa sakit yang sengaja disembunyikannya.

“Ya, lebih kuat dari yang kau bayangkan.” Jane memaksa senyumnya.

Orion menatapnya cukup lama lalu mendesah pelan, “Aku harap aku bisa sekuat dirimu.” gumamnya.

“Bagaimana perasaanmu?” Jane tahu apa yang tersirat dari perkataan Orion. Ia ingin tahu perasaan Orion setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan sekelompok dwarf yang membicarakan ayahnya.

“Aku…yeah, baik, lebih baik dari yang kau bayangkan.” Ia mengulang kata-kata Jane.

“Orion…kami bersamamu.” Jane tersenyum, mencoba memberi dukungan pada Orion.

Orion menarik sudut bibirnya, membuat senyum penuh arti.

***

“Itu gerbang depan Vraëstone. Aku hanya bisa mengantar kalian sampai di sini.” Omar menunduk, tersenyum pada Jane dan segera pergi meninggalkan mereka. Sebelumnya ia sempat mengedipkan mata pada Serandor.

Sewaktu Orion dan teman-temannya mendekati gerbang Vraëstone, lima dwarf yang berjaga langsung bersikap waspada. Kapak mereka siap di tangan.

“Apa yang membawa elf memasuki wilayah Vraëstone?” Seorang dwarf berjanggut perunggu dan berhidung bengkok maju dan menanyai mereka.

“Kami utusan Raja Abadel dari Arnor. Aku adalah Orion Frâel dan mereka adalah Eleanord dan Serandor, sementara ini adalah putri Vanyar dari Valinor, Jane Svitkona.” kata Orion. “Kami bermaksud menemui Raja kalian untuk urusan yang sangat penting.” Orion maju dan menyerahkan gulungan perkamen – pesan Raja Abadel untuk Raja dwarf Vraëstone –  pada dwarf berjanggut perunggu tersebut.

Setelah membacanya, ia memberi isyarat pada keempat dwarf penjaga lainnya. Empat dwarf itu mendorong balok kayu besar ke samping, lalu mengelilingi mereka. Kapak dan pedang pada masing-masing tangan. Dwarf berjanggut perunggu itu berjalan memimpin, sementara Orion, Jane, Eleanord dan Serandor mengikutinya menapaki terowongan ke kegelapan Vraëstone.

Setahu Orion hanya sedikit bangsa elf yang pernah menginjakkan kaki di Vraëstone, perang dan teror Morgoth telah memutuskan hubungan diplomatik elf dan dwarf. Para dwarf memilih untuk tidak ikut terlibat pada peperangan yang terjadi di Middle-Earth. Mereka lebih memilih bersembunyi dan berusaha hidup tenang dalam kegelapan gua-gua di sepanjang Pegunungan Hithaeglir.

Setelah berjalan tiga puluh mil, mereka sampai di ujung terowongan. Tanpa peringatan, pintu-pintu membuka keluar pada engsel-engsel yang tersembunyi. Saat celah di antaranya melebar, berkas cahaya matahari menghambur masuk ke terowongan. Buta sementara, Orion mengerjap dan menyipitkan mata. Sewaktu matanya telah menyesuaikan diri dengan cahaya, ia tersentak. Mereka berada di dalam kawah vulkanik raksasa.

Ini sebuah kota! Vraëstone bukanlah sembarang gua, ini adalah kota di dalam gunung.

Lalu Orion melihat kerumunan, ia begitu terpesona dengan pemandangan Vraëstone hingga tidak menyadari lautan dwarf yang berkerumun di depan pintu masuk terowongan. Mereka berjajar di sepanjang jalan setapak, berjejalan. Ada ratusan…mungkin ribuan jumlahnya. Setiap mata, setiap wajah terfokus pada Orion dan teman-temannya, dan mereka semua membisu.

“Mereka benar-benar banyak.” bisik Eleanord yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Dan norak,” timpal Serandor. Jane dan Eleanord memandang Serandor dengan tatapan memperingatkan.

“Kedatangan kalian telah sampai ke telinga raja dan penduduk Vraëstone. Kami mempunyai jaringan khusus untuk menyampaikan pesan lebih cepat daripada sebuah perjalanan. Dan mereka,” Mata dwarf berjanggut perunggu itu menunjuk pada lautan penuh dwarf Vraëstone, “tampaknya tertarik untuk melihat tamu dadakan kami.”

“Apa mereka tidak pernah melihat elf?” ceplos Serandor yang langsung mendapat cubitan di lengan oleh Jane. Serandor mendelik protes pada Jane.

“Tidak, sejak Pertempuran Petróvya.”

“Selama itukah? Pantas saja,” kata Serandor.

“Jadi kalian lebih memilih untuk berlindung di bawah Vraëstone? Dan tidak berusaha menghentikan Morgoth?” Orion bertanya ingin tahu.

“Morgoth tidak tertarik mengincar tanah kami. Ia mempunyai Xelomor yang lebih tinggi dan gelap ketimbang Hithaeglir dan Vraëstone.”

“Tidakkah kalian berpikir hanya menunggu waktu bagi Morgoth untuk menjatuhkan Vraëstone.” tanya Orion.

“Kalian pikir kami akan diam saja?” Dwarf itu menatap tajam Orion dan melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Mereka melewati jalan setapak diiringi ribuan pasang mata yang menatap dalam diam, suasana yang benar-benar menegangkan. Sampai akhirnya Orion melihat dua gargoyle bertanduk emas, setinggi tiga puluh kaki, menjaga pintu besi raksasa yang memasuki dasar Vraëstone.

Sewaktu mereka tiba di dasar Vraëstone, Orion semakin terpesona. Dinding-dindingnya dibatasi pilar-pilar berwarna merah darah, di antara pilar-pilar itu terdapat beberapa patung makhluk yang aneh, abadi selamanya oleh pahat si pematung. Mereka harus berjalan sejauh satu mil untuk berakhir di depan sebuah pintu melengkung yang diapit pilar dari onyx hitam. Di baliknya adalah pusat Vraëstone, kediaman Raja para dwarf, Raja Hugin.

Mereka berada di ruangan bundar, mungkin hampir seribu kaki diameternya, yang menjulang hingga puncak Vraëstone. Di kiri dan kanan aula itu terdapat ambang pintu melengkung yang tinggi dan terbuka ke tangga turun, yang mirip satu sama lain semakin turun ke bawah tanah.

Di puncak langit-langitnya terdapat batu zircon merah berukuran raksasa. Perhiasan itu berdiameter dua puluh meter dengan tebal separuhnya. Diukir menyerupai kelopak mawar, pengukirnya begitu ahli hingga mawar itu terlihat nyaris nyata.

***

Orion dan teman-temannya dibawa masuk ke sebuah aula yang sangat panjang. Dinding aula itu dihiasi lentera-lentera kristal dan panji-panji Vraëstone. Di tengah ruangan, terdapat meja panjang berlapis emas. Di depan meja itu berdiri sekelompok dwarf, yang paling depan adalah seorang dwarf berjanggut ubanan yang mengenakan kulit serigala. Ia membentangkan lengan, berkata, “Selamat datang di Vraëstone, kawan lama…”

Ia melangkah maju. Bahu dan dadanya menunjukkan ia pejuang dengan mata hitam dalam yang tidak pernah meninggalkan wajah Orion. “Aku, Hugin, putra Môrn si Kapak-Darah dan Raja Vraëstone.”

“Kami adalah utusan Raja Abadel dan Ratu Nāeri. Kehormatan bagi kami bisa bertemu dengan Anda, Yang Mulia.” balas Orion yang menundukkan kepalanya.

“Nāeri? Maksudmu Valinor? Ahh…kalian kembali bersekutu rupanya.” Mata Hugin beralih pada Jane, “Kau pasti putri Hretgán. Ayahmu seorang yang pemberani, aku kagum padanya.” Ia mendongak, mata hitamnya beradu dengan mata biru Jane.

“Kehormatan bagi Vanyar yang telah disambut baik oleh Anda, kehormatan bagiku karena kepedulian Anda pada Raja Hretgán.” Jane tersenyum tipis, membungkukkan badannya hingga sejajar dengan kepala Hugin.

“Ini pertama kali sejak aku menjamu Hretgán berpuluh-puluh tahun lalu, sekelompok elf mendatangi Vraëstone. Apa yang Abadel dan Nāeri inginkan dariku, sehingga mengutus kalian?”

“Tujuan kami ke sini adalah untuk meminta Sapphire Blue yang tersimpan aman di kedalaman Vraëstone.” Orion berkata dengan hati-hati.

Hugin menegang, “Kau menginginkan benda paling berharga bagi ras kami?!” Suara Hugin sedikit mengeras. “Tekad apa yang kau punyai hingga bisa memintanya segamblang ini?” Tatapannya tajam menusuk Orion. Para dwarf yang duduk tampak sama terkejutnya, mereka berbisik-bisik tak setuju.

“Aku mewakili tekad seluruh Middle-Earth,” jawab Orion tenang, “untuk mengakhiri kelaliman Morgoth.”

Hugin terkejut mendengar keberanian Orion, “Kau tahu konsekuensi apa yang harus kau tanggung jika menggunakan benda itu?”

Baik Orion maupun yang lain diam.

“Nyawamu anak muda.” geram Hugin.

“Itu sebabnya kalian diam saja, padahal kalian mampu mengalahkan Morgoth dengan batu itu? Karena…dengan menggunakannya sama saja kalian menjemput kematian.” Eleanord bertanya dengan ekspresi tegang.

Jane tersentak, menyadari hal tersebut. Tidak hanya dirinya, Orion pun sadar, bahwa untuk membunuh Morgoth berarti orang itu pun harus mati.

“Apa kalian benar-benar berpikir Sapphire Blue adalah milik bangsa dwarf?” Tiba-tiba Serandor angkat bicara, “Tidak! Mereka mencurinya dari Falmari, kami – para penunggang ombaklah yang menemukan batu itu di dasar Laut Belegaer. Sapphire Blue sejatinya adalah harta kaum Falmari. Dwarf-dwarf berhati dangkal ini telah mencurinya saat kami lengah.”

Semua di dalam ruangan itu terhenyak mendengar pernyataan Serandor. Wajah Hugin mengeras, tampak marah karena penghinaan atas tuduhan pencuri yang dialamatkan Serandor. Ia berjalan kaku mendekati Serandor – yang sebelumnya tidak ia perhatikan. Orion dan Eleanord tampak waspada dan perlahan membentengi Jane, tangan mereka siap pada gagang pedang masing-masing. Sementara Serandor melayangkan senyum miringnya ke arah Hugin, bermaksud menantangnya.

“Sia..pa.. Kau!” Hugin menatap Serandor dengan ekspresi kaget bercampur ngeri. “Ta..ta..tangan…” Hugin tidak mampu meneruskan kata-katanya.

“Ya, Aku Serandor Putra Romanön, si Tangan Perak.” Ia mengangkat tangan kanannya dan melambai singkat, seolah menghalau ngengat yang mengganggu.

Hugin mengumpat marah dalam bahasa dwarf yang menyebabkan semua dwarf di ruangan itu berdiri, mengangkat kapak dan pedang mereka. Semua pengawal Hugin langsung bersiaga di sekeliling mereka.

“Kalian berkonspirasi untuk menyerangku alih-alih meminta dukunganku bukan?!” serunya marah.

“Kami hanya meminta apa yang Middle-Earth butuhkan.” kata Orion tajam.

“Menimbun emas dan membangun istana tersembunyi semegah ini, kuharap para dwarf masih punya kepedulian pada Middle-Earth.” sindir Serandor.

“Serandor, jangan memancing mereka. Kita akan meminta dengan baik-baik.” bisik Jane.

“Kau bisa menggagalkan misi kami, bodoh!” geram Eleanord.

“Izinkan kami menggunakan batu itu untuk menjatuhkan Morgoth.” pinta Orion.

“Apa yang kudapat dengan memberikan harta berharga kami?” tuntut Hugin.

Sapphire Blue bukan milik kalian!!” teriak Serandor. Eleanord menggenggam kencang lengan Serandor, mencegahnya membuat keributan lebih parah. Hugin terlihat gelisah saat merasakan kemarahan Serandor.

“Nama Anda,” sahut Orion mengabaikan kemarahan Serandor, “ akan dikenang sebagai raja dwarf yang turut andil dalam kejatuhan Morgoth. Pikirkan bahwa, kebesaran hati Hugin akan menyelamatkan seluruh Middle-Earth, bukankah itu cukup setimpal?”

“Hahahahaa….!!” Hugin tertawa keras. Ia maju mendekati Orion yang tetap waspada. Memberi isyarat padanya untuk menunduk. Orion menunduk hingga hanya dirinya yang bisa mendengar bisikan Hugin. “Hancurkan Morgoth, meski kau harus mati bersamanya.” Orion menegang, namun ia tersenyum tipis menatap jauh ke dalam mata hitam Hugin dan mengangguk.

“Bawakan batu itu kemari!” seru Hugin pada pelayannya.

***

Orion dan teman-temannya tiba di Rhovanion tepat saat matahari tenggelam. Benteng Rhovanion tampak waspada. Puluhan penjaga berpatroli dengan seksama. Kabar kedatangan mereka telah sampai di telinga Duke Rhovanion. Pintu baja raksasanya yang berlapis ganda terbuka, mereka memasuki daerah persemakmuran Arnor itu diiringi tatapan takut dan nelangsa dari para penduduknya.

“Abadel telah tiba,” Orion melihat beberapa kelompok besar batalion dan tenda-tendanya di timur kastil.

“Ibuku juga, Noldor dan Falmari bersamanya,” Jane melihat sisi lain kastil yang dipenuhi Calaquendi yang sedang berlatih tanding.

“Kita semua berkumpul.” Orion menoleh memandang Jane yang duduk di belakangnya. Jane mengangguk sekali. Narhen melangkah mantap menuju kastil Rhovanion.

Jane maju menghadap Abadel dan Nāeri yang duduk bersisian. Di samping kanan dan kiri mereka duduk Cirdan – Raja Falmari, Celeborn – Raja Noldor, ayah Cedric Caladriel, dan Finrod – Duke Rhovanion.

Semua mata tertuju pada Jane. Orion dan Eleanord mengawal di belakangnya. Aula besar Rhovanion seketika sunyi. Beberapa meja panjang tersusun sejajar menemani seluruh bangsawan Avari, Nandor, Vanyar, Noldor dan Falmari yang akan turun dalam pertempuran, tampak Maurel di antara bangsawan-bangsawan berwajah rupawan tersebut; puluhan panglima perang; varden; perapal mantra pilihan dan tabib-tabib terbaik duduk berdampingan. Calaquendi dan Moriquendi semuanya memperhatikan Jane dalam diam. Di sudut ruangan, Serandor berdiri diam memperhatikan semua itu.

“Kami membawakan Sapphire Blue ke hadapan Yang Mulia.” Jane mengulurkan kotak hitam mengilap yang segera diambil oleh Abadel.

Semua menahan napas saat Abadel hendak membuka penutup kotak tersebut. Sebuah cahaya biru cemerlang berpendar terang saat celah penutupnya terbuka, memperlihatkan sebongkah batu seperti berlian, tajam tidak lebih besar daripada genggaman tangan. Abadel menunjukkannya pada Cirdan yang mengamati batu itu dengan seksama. Cirdan mengangguk pasti lalu beralih menatap Jane, Orion dan Eleanord, menyentuhkan jarinya ke bibir dan menunduk sekilas.

“Senjata untuk menghancurkan Morgoth ada di tangan kita.” seru Abadel pada seluruh yang hadir di aula. “Aku mewakili seluruh Avari dan Nandor berterimakasih pada Putri Jane Svitkona, yang mewarisi keberanian Raja Hretgán, karena telah berhasil menjalankan misinya. Dan kepada dua varden terbaik kita Orion Frâel dan Eleanord yang menjalankan kewajibannya sebaik yang bisa kita harapkan.”

Rahang Orion berkedut, sekuat tenaga ia menutupi kemarahannya pada Abadel karena telah merahasiakan identitas ayahnya selama ini.

***

Selama beberapa saat, suara yang terdengar hanya berasal dari deguk Sungai Anduin di kejauhan dan cericip beberapa tupai yang melompat di antara pepohonan di tenggara.

“Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan,” kata Abadel, “katakanlah dan jangan biarkan kemarahan menggerogotimu.”

Orion menghembuskan napas sesaat, berjuang mengendalikan emosi yang mengalir deras dalam dirinya, ia bertanya, “Apakah Anda tahu siapa ayahku sebenarnya?”

Abadel sepertinya sudah mengantisipasi pertanyaan tersebut, ia mengangguk sekali, “Aku tahu.”

“Dan apakah yang Anda maksud Anda tahu itu, bahwa…ayahku seorang Fuin-gûl?” Orion berusaha menahan getaran dalam suaranya.

Abadel mengangguk lagi, “Ya, aku tahu, tapi…”

“Kalau begitu mengapa Anda tidak memberitahuku?!” seru Orion. Ia memukulkan tinju pada telapak tangannya, menjauh beberapa langkah, dan melihat marah pada bayang-bayang di dalam pepohonan yang rapat. Saat ia memutar tubuh, kemarahannya semakin membuncah ketika ia melihat Abadel tetap tenang. “Kapan Anda akan memberitahuku? Apakah Anda merahasiakan kenyataan tentang ayahku karena takut akan reputasi Anda sebagai seorang raja? Atau apakah Anda takut aku akan seperti ayahku?” Hal yang lebih buruk terpikirkan oleh Orion. “Atau mungkin Anda menganggap informasi ini tidak penting untuk disebutkan?”

“Yang terakhir, kurasa bisa menjadi pembenaran akan sikapku selama ini.” Abadel menegaskan.

Orion mencengkeram gagang Sûlglor, setiap otot di tubuhnya berkedut dan menjadi sekeras baja. “Itukah alasan mengapa Anda membesarkan dan melatihku, sekadar menjadikanku senjata untuk melawan Morgoth sehingga aku bisa membayar kejahatan yang dilakukan ayahku?”

Dalam hati Orion bertanya-tanya apakah lelucon atau tragedi bahwa putra Oberon harus menjadi verden untuk melawan Morgoth, tuan dari semua Fuin-gûl dan kegelapan yang menguasai Middle-Earth.

Sebelum Abadel sempat menjawab, Orion menyumpah dan berseru, “Seluruh kehidupanku ternyata berisi kebohongan! Darah yang mengalir dalam tubuhku adalah kutukan, dan aku adalah beban kaum Avari. Tapi apapun pendapat Anda mengenai diriku, aku bukan ayahku! Dan aku menolak mengikuti jejaknya!” Orion mendekati Abadel dan menatapnya penuh kebencian. Kebencian karena orang yang telah dianggap seperti ayahnya sendiri, mampu menutupi kenyataan seperti itu dan bersikap seolah itu bukan hal yang berarti, setidaknya bagi Orion.

“Ayahmu akan selalu menjadi sahabat paling setia dan pejuang Avari yang tangguh dalam ingatanku. Karena seperti itulah ia di mataku. Dan itu tidak akan pernah berubah.”

“Anda hanya semakin membuatku merasa muak padanya dengan mengatakan hal itu!”

“Sebelum kau membencinya lebih jauh,” kata Abadel, “aku sangat beruntung karena kau mirip ayahmu, dan itu memang benar. Kau dan dia adalah putra Avari paling tangguh yang pernah kami miliki.”

“Aku tidak ingin seperti ayahku!” teriak Orion.

“Kau berhak membenci keadaan dan takdir ini, tapi kau tidak seharusnya membenci ayahmu sendiri nak.”

“Aku benci terlahir sebagai putranya! Aku benci menyandang namanya di belakang namaku! Tidak bisakah kau pahami itu?!” pekik Orion, kemarahan telah menguasai dirinya. “Tidak…tentu saja kau tidak paham, karena kau memilih merahasiakan kebenaran ini dariku.”

“Aku tidak ingin merahasiakan ini darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Sayangnya, aku telah mengikat sumpah pada ayahmu untuk tidak memberitahu siapa dirinya sebenarnya, sampai kau menemukan kebenarannya sendiri. Karena kami sepakat hal itu akan menimbulkan bahaya bagi dirimu.”

“Aku telah menemukan kebenaran bahwa ayahku seorang pemberontak terkutuk. Musuh Middle-Earth. Dan bahaya yang mungkin akan menimpaku adalah keinginan Morgoth untuk merekrutku begitu ia tahu siapa aku!” Orion tertawa seperti orang sinting mendapati pemikirannya sendiri.

“Kebencian hanya akan mengaburkan kebenaran.” kata Abadel.

“Kebenaran yang kudapati menimbulkan penderitaan.” balas Orion sarkastis.

.

.

.

“Boleh aku bertanya sesuatu ibu?” Jane memutuskan menemui ibunya setelah pertemuan. “Siapa sebenarnya Oberon? Mengapa namanya seperti tidak asing bagiku?” Jane merasa benar-benar familiar dengan nama Oberon, tapi ia tidak tahu, tidak ingat.

Nāeri terdiam sesaat, “Mengapa kau menanyakan hal itu putriku?”

“Namanya telah mengusik pikiranku ibu. Ia ayah Orion Frâel dan seorang Fuin-gûl, tapi bukan itu yang menggangguku, aku seperti…”

Nāeri terkejut karena putrinya tahu Oberon seorang Fuin-gûl.

“Maaf Yang Mulia, Raja Abadel meminta bertemu dengan Anda.” Tiba-tiba Maurel masuk. Ia menoleh pada Jane sesaat dan tersenyum, lalu menatap Ratu Nāeri meminta persetujuannya.

“Aku akan menemuinya,” jawab Nāeri, “jangan pikirkan hal tersebut putriku. Pikirkan saja pertempuran yang sudah di depan mata.” lanjutnya diplomatis.

Ratu Nāeri pergi diikuti Maurel, meninggalkan Jane yang masih diliputi rasa penasaran.

***

“Kakak! Kakak…!!” Seorang gadis berlari melewati prajurit-prajurit yang lalu lalang di lapangan, roknya diangkat hampir setinggi lutut untuk memudahkannya berlari.

“Aurielle…!” Eleanord kaget saat menoleh dan melihat adik perempuannya menghambur memeluknya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku bersama para perapal mantra. Aku akan melindungi raja.” ucap Aurielle bangga.

“He..bat..”ujar Eleanord kagum. “Sejak kapan kau di sini?”

“Tiga hari yang lalu. Kakak, apa misimu sukses?” Aurielle menjinjit menatap lebih dekat pada wajah kakak yang telah lama tak ia jumpai.

“Yeah…seperti biasa misi yang kujalankan selalu berhasil.” nada Eleanord terdengar sangat bangga.

“Itu karena kau bersama Orion.” ledek adiknya.

“Itu karena Orion yang bersamaku!” seru Eleanord tak mau kalah. Mereka tertawa bersama dan kembali berpelukan melepas rindu.

Mára aurë… – Hello…” Tiba-tiba seorang gadis bergaun biru muda datang memberi salam.  “Manen nalyë? – Bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan nada semanis mungkin, matanya berbinar melihat Eleanord.

“O, hai… Aku baik.” jawab Eleanord kaget sekaligus bingung.

“Senang berjumpa denganmu lagi Tuan Eleanord.” Ia menunduk dan menyentuhkan jari ke bibir mungilnya. Senyum gadis itu semakin lebar dan manis.

“Ehemm…” Suara elf pria super tampan merusak suasana, setidaknya bagi gadis itu.

“Thróv?” Eleanord terbelalak melihat Thróv, ia menghampirinya dan memeluknya layaknya sahabat yang lama tidak bertemu. “Senang berjumpa denganmu.” serunya.

“Ya…” Thróv tampak kikuk. Matanya tak beralih sedikit pun dari gadis itu, menatapnya tajam.

“Siapa gadis ini?” tanya gadis riang itu pada Aurielle, ia mencoba mengabaikan tatapan Thróv dan berusaha mengalihkan perhatian. Matanya menyipit memandang Aurielle dari atas ke bawah.

“Aku Aurielle…” sapa Aurielle yang tersenyum lebar sambil mengalungkan tangannya di lengan Eleanord, dan menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu kakaknya. Tentu saja hal itu membuat si gadis jengkel.

“Maaf, sepertinya kami mengganggu kalian, ayo pergi Thróv!” nadanya mendadak geram, ia menarik tangan Thróv begitu saja dan menyeretnya menjauhi Eleanord dan adiknya.

“Siapa dia kak?” tanya Aurielle bingung.

“Thróv,” jawab Eleanord yang sama bingungnya.

“Tampannya…” Aurielle begitu terpesona saat memandang punggung tegap Thróv yang semakin menjauh. “Bukan! Maksudku gadis sok akrab itu?” Ia menggelengkan kepala dan menatap Eleanord serius.

“Ehmm…kurasa namanya Lynnëa.” Mata Eleanord mengikuti kepergian Lynnëa, yang berjalan cepat, meninggalkan keanggunan yang ditampilkannya tadi saat di depan Eleanord.

“Kenapa sih kau mendatanginya?”seru Thróv yang masih ditarik Lynnëa.

“Hanya ramah tamah.” jawab Lynnëa kesal.

“Apa kau menyukainya?” desak Thróv, ia berusaha menutupi kecemburuannya namun gagal.

Lynnëa berhenti berjalan, berbalik menatap Thróv dan menghempaskan tangannya yang sedari tadi digenggam Lynnëa. “Bukan urusanmu!”

“Tidak bisakah, kau hanya melihat kepadaku?” seru Thróv saat Lynnëa berjalan meninggalkannya sendiri.

***

Dengan impulsif Orion memegang tangan Jane. Ia belum pernah tergoda untuk mendekati wanita seperti ini, tapi naluri mendorongnya, menantangnya meraih kesempatan. Rasanya menakutkan sekaligus menggairahkan.

Tubuh Jane menegang, ia tidak bereaksi atas tindakan Orion, hanya diam. Untuk beberapa saat mereka saling membisu. Sampai pada saat Jane menatapnya tajam, mengamatinya hingga Orion terpaksa membuang muka. Sewaktu berani memandang Jane lagi, ia tertegun melihat Jane tersenyum tipis, seakan geli melihat reaksinya.

“Kau verden yang baik Orion Frâel.” Perlahan Jane menarik tangannya dari pegangan Orion.

“Maaf atas sikapku.” gumam Orion, ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

“Tidak apa, hanya saja…ini bukan hal yang tepat. Kau adalah verdenku dan kita harus menjaga sikap.”

“Aku hanya ingin berbagi denganmu,” kata Orion jujur, “menjadi pelindungmu telah mengajarkanku banyak hal. Awalnya aku membenci sikapmu. Kau terlihat angkuh dan tanpa kepedulian.”

“Kalau begitu tetaplah membenciku.” potong Jane.

“Hatiku sudah lelah membencimu, yang kuinginkan sekarang adalah menjagamu…selamanya.”

Jane tertawa kecil, tawanya terdengar gugup. “Aku bukan anak kecil Orion, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula tugasmu sebagai verden akan berakhir setelah pertempuran.”

“Bukan itu maksudku, tidak pernahkah…kau berpikir untuk memulai masa depan yang baru bersama pria lain?” Orion berusaha agar suaranya tidak bergetar meski dadanya bergemuruh karena kenekadannya.

Jane tertegun mendengar pertanyaan Orion, hatinya mulai goyah. Ada Cedric yang sudah menempati relung-relung hatinya, namun tak bisa dipungkiri keberadaan Orion selama ini di sisinya, perlahan telah membuka pintu lain di hati Jane. Tapi ia enggan mengakuinya. Ia tidak mau mengkhianati cintanya pada Cedric.

“Tidak mudah mengubah hati seseorang saat ia sudah memutuskan…” kata Jane pelan. Kata-kata itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri, ia tidak ingin goyah.

“Tidak bisakah? Mengapa? Apa karena aku Moriquendi dan kau Calaquendi? Apa karena kau putri lalu aku rakyat biasa? Apa…karena kau langit yang tinggi sementara aku adalah bumi yang begitu rendah?”

Jane menutup matanya, menggeleng, “Bahkan jika kau Moriquendi paling gelap sekalipun, itu tidak akan menjadikanmu makhluk yang paling rendah. Dan yang kutahu…langit dan bumi haruslah terpisah agar dapat menciptakan kedamaian.”

 

Pipi Orion terasa bagai tersengat karena malu sementara ia berusaha keras agar wajahnya tidak menampilkan ekspresi apa pun. Ia pikir ia telah mengalami sebuah penolakan. Jane tidak menganggapnya lebih selain sebagai verdennya. Kenyataan itu seolah mengoyak hati Orion, ia begitu bodoh jika berpikir bisa menggantikan posisi Cedric di hati Jane.

Ia berjalan gundah menuju tendanya, tidak menghiraukan tatapan-tatapan aneh para prajurit yang berpapasan dengannya di lapangan.

“Kau kenapa Frâel?” tanya Eleanord. Ia dan Serandor sedang membahas strategi untuk melawan orc.

“Aku ditolak…” bisik Orion lirih. Ia memejamkan matanya berusaha mencegah airmatanya keluar.

“Ditolak apa? Siapa?” tanya Eleanord bingung.

“Apa putri Vanyar itu yang menolakmu?” sambung Serandor.

Orion mengangguk lemah. Ia begitu malu, malu kepada dirinya sendiri karena gegabah mengambil sikap.

“Kau menyukai Jane?” Eleanord terdengar tak percaya.

Orion duduk di tepi ranjangnya, menutupi wajahnya yang frustasi dengan kedua tangannya. Eleanord duduk di sampingnya dan menepuk pundak sahabatnya. “Sejak kapan Frâel?”

Orion mengangkat bahunya, lalu menatap wajah sahabatnya. “Apa aku terlihat bodoh El?”

“Tidak, tapi kau sedikit dungu.” jawab Serandor kalem.

“Diam kau Falmari! Itu wajar Frâel, aku hanya tidak menyangka. Kupikir kalian saling membenci.”

“Awalnya, namun berada di sisinya untuk waktu lama membuatku sulit menghilangkan bayangannya dari kepalaku.” Orion mengakui perasaannya.

“Yeah, itu tidak salah. Hanya saja…harus kukatakan, dan aku yakin Eleanord setuju dengan pendapatku, kau sebaiknya menjaga hatimu Frâel. Sekarang bukan waktu untuk kehilangan kendali, atau untuk diungkapkan.” Serandor memandang serius pada Orion.

“Ya,” kata Eleanord.

Orion merasa wajahnya panas saat darah mengalir deras ke sana, seolah ada cairan panas menjalari tubuhnya. Sebelum ia sempat menukas, Eleanord berkata lagi, “Kita harus fokus pada tugas dan tujuan kita Frâel, melindunginya dan mengalahkan Morgoth.”

***

“Pencuri!” Serandor berteriak pada seseorang yang terlihat mencurigakan, ia tengah menarik tali kekang seekor roch dari istal prajurit diam-diam. Orang yang berdiri membelakangi Serandor tersebut berhenti sesaat tanpa menoleh. Lalu mempercepat langkahnya menjauhi Serandor.

“Berhenti kau!” Serandor berlari cepat dan hampir menyentuh bahu orang itu, jika saja ia tidak mengelak dan menunduk menghindari tangan Serandor.

“Mencoba menghindar hah?!” Serandor seperti tertantang. “Mencuri di siang bolong, besar juga nyalimu!”

Si pencuri tak punya pilihan selain menghadapi Serandor untuk meloloskan diri dari istal itu. Perkelahian pun terjadi. Untuk ukuran pencuri, ia terbilang kecil, tapi reaksinya saat menghindar dan insting menyerangnya membuat Serandor bergerak lebih sering.

“Boleh juga kau pencuri! Aku jadi ingin tahu wajah dibalik penutup kepalamu.” seru Serandor.

Saat Serandor berhasil membuka penutup kepala pencuri itu, mata Serandor terpaku, mulutnya terbuka. Serandor yakin ia mengetahui perasaan Gamboth saat diperdaya wanita cantik, karena seperti itulah dirinya sekarang. Orang itu – wanita, mengibaskan rambut panjang pirangnya yang melambai menyapu wajah cantiknya, mata abu-abunya menatap marah pada Serandor.

“Minggir!” katanya angkuh.

Serandor terbuai mendengar suara merdu wanita itu, sesaat ia seperti hilang akal, namun kesadarannya segera kembali, “Aku suka pencuri yang cantik, tapi bukan berarti kau bisa lolos begitu saja nona…” Senyum lebar menggoda tersungging di wajah kecil Serandor.

“Aku bukan pencuri!” gertak wanita itu.

“Mana ada pencuri yang mengaku.”

“Kau akan menyesal brengsek!” kejengkelan mewarnai wajah halus wanita itu.

“Kalau begitu beritahu namamu agar aku tidak menyesal, atau…aku akan berteriak bahwa kau pencuri.” ancam Serandor. Itu hanya akal-akalannya agar bisa berkenalan dengan wanita itu.

Si wanita menatap marah, tangannya yang terkepal ditahan agar tidak mendarat di wajah Serandor. Sesaat ia ragu dan memilih untuk kabur, tapi, “Aku…Arwen Putri Abadel, Putri Avari.” Ia mengangkat dagunya dengan elegan, membuang muka dari tatapan terpesona Serandor.

***

Malam itu, Orion dan Jane duduk memandangi api unggun mereka, mengunyah raspberry dalam diam. Kemarahan Orion pada Abadel belum reda ditambah kepedihan hatinya akibat ditolak Jane. Orion menahan diri untuk mencuri pandang ke arah Jane sesering mungkin. Malam sudah larut dan mereka harus bersiap pagi-pagi sekali besok, tapi Orion tidak bersiap untuk tidur, begitu pula Jane. Ia duduk dalam jarak pandang Orion, kedua kakinya ditekuk, dengan tangan dilingkarkan pada tungkainya dan dagu diletakkan di lutut. Roknya mengembang di sekelilingnya, seperti kelopak bunga yang tersapu angin. Orion masih merasa canggung berada di dekat Jane setelah penolakan yang dilakukannya.

“Kau dengar itu?” Ekspresi Jane mendadak pucat, ia mendengar suara Morckingbird yang menyayat hati.

“Dengar apa?” Orion bingung dengan air muka Jane. Ia berusaha menajamkan pendengarannya.

“Kau tidak mendengar suara burung?”

“Tak ada burung yang terbang atau bersarang di dekat sini Jane.”

“Benarkah, atau hanya delusiku?” bisik Jane, ia masih shock dengan suara burung yang didengarnya.

Di Valinor, Morckingbird adalah burung yang menyampaikan pesan kematian, suaranya yang nyaring seperti jerit kematian sesungguhnya adalah suara Mandos – Valar Kematian yang akan mencabut nyawa makhluk fana.

Pertanda ini, tidak mungkin dia…Jane menatap sedih pada Orion.

“Apa kau teringat dirinya? Cedric?” tanya Orion ragu begitu melihat Jane yang menatapnya.

“Ya,” jawab Jane pelan. Dan dirimu Orion, lanjutnya dalam hati.

“Apakah kau sangat mencintainya?” Tenggorakan Orion seperti tercekat saat ia mengucapkan kata terakhir.

Memalingkan pandangannya, Jane menatap langit yang gemerlap, lehernya yang jenjang tampak keemasan oleh cahaya api unggun. “Apakah kau bertanya sebagai teman atau untuk kepentinganmu sendiri?”

“Sebagai seorang pria yang mencintaimu.” Orion yakin dirinya sudah tidak waras dengan mengatakan hal tersebut.

Jane mengeluarkan tawa singkat mendadak, “Kau mencintaiku? Bagaimana kau mendefinisikan cinta?”

Orion terdiam, ia bahkan tidak pernah memikirkan alasan mengapa ia bisa mencintai Jane. Aku hanya takut kalau aku menemukan alasan untuk tidak mencintaimu.

“Lebih dari sekadar mencintainya,” ungkap Jane, “aku nyaris memujanya. Cedric sudah menjadi separuh napasku. Selama hampir dua belas tahun kami menghabiskan waktu bersama.”

Rasa cemburu menusuk dada Orion. Ia berjuang untuk mengabaikannya, meredakannya, dan melenyapkannya tapi tidak benar-benar berhasil. Sisa-sisa perasaan itu terus mengganggunya, seperti serpihan kayu menancap di dalam kulit.

“Hampir dua belas tahun,” ulang Jane. Sambil terus menatap bintang-bintang, ia mengayunkan tubuh ke depan dan ke belakang, seperti tidak menyadari keberadaan Orion. “Kemudian ia mengatakan padaku akan pergi ke Middle-Earth dan berperang. Meski aku mencegahnya sekuat tenaga, tekadnya tetap bulat. Ia akhirnya pergi, dan tidak pernah kembali. Ia bahkan mengingkari janjinya untuk meminta kembali cintaku. Ketika kulihat Cedric terbaring tenang dalam petinya, saat itu aku mengerti bahwa kepedihan sejati adalah tidak terluka sendiri, tapi melihat seseorang yang kau cintai terluka…mati…”

Orion tersadar Jane tengah menangis, air mata mengalir deras dari sudut luar matanya, mengalir ke pelipisnya kemudian ke rambutnya. Dalam cahaya bintang, air matanya tampak seperti sungai perak yang berkilauan. Kepedihannya yang teramat sangat membuat Orion terkejut. Ini bukan pertama kali Orion membuat Jane menangis, dulu saat-saat dimana mereka melakukan perjalanan, Orion bahkan sering dengan sengaja membuat Jane kesal dan menangis. Tapi sekarang, Orion tidak mengira ia mampu menyebabkan Jane mengeluarkan emosi sejelas itu di saat ia tidak dalam keadaan marah.

“Ditinggal mati tunangan dan ayahku, aku melanjutkan hidup yang lebih menyedihkan daripada kematian. Aku mengabaikan keluargaku, teman-temanku dan diriku sendiri. Aku bahkan tidak memedulikan perasaan ibuku yang pasti sama sedihnya denganku. Atau perasaan Celeborn… Aku selalu datang ke sana, ke tempat dimana kami pertama kali bertemu, berharap Cedric datang dan mebawaku bersamanya.”

Jane tersenyum sedih, “Kemudian kau datang Orion. Kau dan Eleanord. Setelah harapan meninggalkanku, ibu memberiku sebuah tanggung jawab yang tidak pernah kusukai. Mengapa aku harus berurusan dengan Middle-Earth, tanah yang telah merenggut kekasihku? Mengapa aku harus peduli pada Moriquendi? Karena itulah aku memutuskan membencimu.” Dengan manset lengan kanannya, Jane menyeka air matanya, mengeringkannya.

Meraih, Orion memegang tangan kanannya pada tangan kiri Jane, “Maaf, karena sikapku selama ini. Aku terlalu angkuh untuk mau merasakan kepedihanmu.”

Jane membiarkan mereka bersentuhan selama hampir semenit, membiarkan dirinya hanyut dalam perasaan dan gairah yang selalu disembunyikannya saat berada di dekat Orion. Cedric selamanya aku adalah milikmu, tapi tidak akan kubiarkan ia pergi seperti kau pergi meninggalkanku. Jika harus ada yang berkorban sampai akhir, akulah orangnya. Jane mengangkat lengannya sedikit, menunjukkan bahwa momen itu telah berlalu., dan Orion melepaskan sentuhannya tanpa mengeluh.

***

“Apa kau takut?” Aurielle bersandar di bahu Eleanord sambil menautkan jari-jarinya pada jari-jari kakaknya.

“Maksudmu dengan pertempuran ini?” Eleanord mendesah lalu menoleh ke adiknya, “Tidak, aku hanya takut jika kita selamanya berada dalam bayang-bayang kegelapan Morgoth.”

“Kau tumbuh dengan keren kak, aku bangga padamu.” Aurielle mendongak dan tersenyum manis pada Eleanord.

“Kau juga, kemampuan sihirmu pasti yang terbaik dalam keluarga.” Eleanord mengacak rambut adiknya yang ikal.

“Ayah dan ibu pasti bangga pada kita kan? Di sana mereka akan mendukung dan melindungi kita…iya kan kak?” Aurielle memandang pada dua bintang yang bersinar terang di langit.

“Hemm…mereka pasti menyertai langkah kita, mengawasi dan…” Belum lagi Eleanord menyelesaikan kata-katanya, ia dikagetkan oleh sikap adiknya. Tiba-tiba tubuh Aurielle mengejang, matanya berkilat dan dahinya seketika dipenuhi peluh.

“Apa yang terjadi? Apa kau…” Eleanord seperti tahu jika adiknya tengah dalam kendali sihir.

“Sebuah visi,” bisik Aurielle, “aku…melihat kegelapan dalam pelukan sayap malaikat…”

“Malaikat? Apa maksudmu?”

“Kurasa…kematian.” lanjutnya dramatis.

***

Cahaya pertama subuh telah menerangi tanah sewaktu Eleanord berbisik kepada Orion, “Sudah waktunya.” Gelombang energi menggusur kantuk Orion. Setelah melompat bangkit, ia menyebarkan berita itu pada semua orang di sekitarnya. Ia segera menuju pagar kastil bergabung dengan Eleanord dan Serandor.

Bloody hell!!” maki Serandor, “Apa seluruh iblis Middle-Earth dikerahkan kemari?”Matanya memandang jauh ke depan, kepada populasi musuh yang tak terkira jumlahnya.

“Troll?!” Eleanord berteriak tak percaya, “kukira hanya si jelek berlendir orc.”

Annabon,” Orion menunjuk kelompok besar gajah bergading tajam yang sangat besar. “Morgoth benar-benar memobilisasi seluruh pasukannya.”

“Para Fuin-gûl dan tunggangan mereka – Lhûg. Hanya empat?” Serandor menghitung makhluk bertudung yang menunggangi naga-naga hitam bersisik besi, jauh di langit utara.

“Memang berapa seharusnya jumlah mereka?” Eleanord bertanya ngeri.

“Enam.” sahut Serandor. Rahang Orion menegang, mencoba menghilangkan bayangan jika ayahnya yang terbang di sana.

.

.

.

Saat terompet-terompet tanda bahaya dari tanduk berbunyi di depan mereka, Abadel berteriak, “Sekarang Orion! Beritahu Nāeri untuk menyerang. Ikuti aku kaum Avari, Nandor! Bertempurlah untuk merebut kembali tanah kalian! Bertempurlah untuk menjaga istri dan anak-anak kalian! Bertempurlah untuk menjatuhkan Morgoth! Serang dan mandikan pedang kalian dengan darah musuh kita!” ia menjejakkan rochnya agar maju. Di belakangnya, dengan lolongan yang hebat para prajurit dan sebagian besar kaum Avari dan Nandor mengikuti, mengayun-ayunkan senjata di atas kepala.

Orion menyampaikan perintah Abadel pada Thróv, ia yang mendampingi Ratu Nāeri. Orion menyentuh benak Thróv dan memintanya untuk mulai menyerang. Sesaat kemudian, ia mendengar gemuruh ladam roch saat Nāeri dan kavalerinya –  bersama prajurit Noldor dan Falmari yang mampu berlari secepat kuda, menghambur keluar dari barat. Hampir seluruh Valinor kembali ke Middle-Earth.

Jantung Orion bagai melompat dalam dadanya. Sekarang aku harus membunuh atau dibunuh. Ia mengangkat Sûlglor di tangan kanan. Di punggungnya, ia menyandang tabung anak panah berbulu angsa pemberian Nāeri. Narhen berlari secepat kilat, tiga kali mereka maju dan tiga kali Orion membantai setiap orc dalam jajaran pertama pasukannya. Sebelum mundur kembali ke induk pasukan elf agar tidak terkepung, pada akhir serangan ketiga Orion mendengar seruan Eleanord.

“Kita pergi Frâel!!”

“Apa maksudmu El?!” Orion yang telah sejajar dengan roch Eleanord bertanya tak mengerti.

“Dia pergi…” Eleanord menyerahkan sepucuk surat padanya.

Ekspresi Orion bercampur antara marah dan takut. “Sekarang!” Orion memacu Narhen meninggalkan pertempuran.

***

Kedua pasukan bertabrakan diiringi raungan yang memekakkan telinga. Tombak beradu dengan tombak, kapak menghantam perisai, pedang mengenai helm, dan di atas semua itu gagak-gagak kelaparan terbang berputar-putar sambil berkaok serak, menggila karena bau daging segar di bawah.

Awan anak panah mendesing ke arah Thróv, secepat kilat ia menghindarinya, menangkap sebelas di antaranya dengan perisai. Sedikit menunduk saat sebuah anak panah hampir menyambar bahu kirinya. Tidak sebatang pun mampu menembus baju besinya. Thróv terus maju membantai antek-antek Morgoth itu dengan tekad membara.

Saat ia berpapasan dengan Serandor, Thróv tersenyum miring dan berteriak, “Sudah berapa buruanmu!”

Serandor yang seperti menari saat menghindar dan menyerang orc-orc penggemarnya berkilat memandang Thróv, “Hampir lima puluh, dear! Yeah…ini baru permainan!” Ia bersorak girang.

Sen tîr? – Benarkah itu?” Thróv sempat terkejut karena ia baru, setidaknya membunuh tiga puluhan orc dan menumbangkan satu troll. “Boleh juga kau Serandor!” Thróv nyaris dihantam kapak jika ia tidak tepat menghindar saat seorang orc mengayunkan kapaknya dengan brutal. Thróv menebas lehernya, darah segar orc itu menciprati wajah tampannya.

“Hati-hati pangeran!” ejek Serandor.

Di tempat lain, Arwen yang dilindungi baju besinya melawan orc dan troll dengan berani. Bersama ratusan prajurit Avari dan Nandor ia menjatuhkan puluhan orc yang menghalangi jalan, semakin maju  dan menyerang, memenuhi Rhovanion dengan tumpukan menggunung musuh mereka. Untuk setiap orc yang ia bunuh, orc lain maju menggantikannya.

Seiring pertempuran, tubuh Arwen semakin kaku dan kelelahan, ia mengalami luka-luka kecil yang semakin banyak. Lengan kirinya menjadi kebas akibat puluhan serangan yang menghujani perisainya yang ringsek. Namun ia enggan untuk mundur, Arwen telah bersumpah pada ayahnya untuk bertempur membela rakyatnya.

Dari timur, sekumpulan besar prajurit berbaris bergabung dengan Arwen dan puluhan prajurit lainnya. Mereka dipimpin Raja Abadel, yang terbungkus jala baja emas dengan lambang Draug, serigala putih – lambang Avari, dan helm beperhiasan menutupi kepalanya. Abadel tampak gagah saat berteriak dan mengangkat pedangnya, menyerukan semangat dan tekadnya pada seluruh prajurit.

.

.

.

Seekor Lhûg melayang-layang di atas Thróv, hitam berpendar dan berkilauan ditimpa cahaya matahari. Membran sayapnya seperti jelaga yang diacungkan di depan lentera. Cakar, gigi dan duri-duri di sepanjang tulang punggungnya seputih salju. Di punggungnya duduk seorang Fuin-gûl, memakai jubah bertudung yang nyaris menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya tertutup topeng dan ia bersenjatakan pedang dua hasta.

Ketika mereka bertemu di tengah dataran, si Fuin-gûl mencengkeram erat pedang dengan dua tangan dan mengayunkannya dari atas kepala ke Thróv, yang mengangkat pedangnya untuk mempertahankan diri. Pedang mereka beradu, menghamburkan bunga api kemerahan. Lalu Thróv mendorong lawannya dan menghujaninya dengan serangkaian serangan yang rumit. Ia menusuk dan menangkis, menari-nari dengan kaki yang ringan. Fuin-gûl itu bertahan, menangkis serangan-serangan Thróv. Keahlian teknis mereka seimbang.

Setelah sekian lama melawan dan menghindar, Thróv merasa panik sewaktu energinya mulai menyurut, responnya jadi melambat. Lalu Fuin-gûl itu maju mendekatinya dan menyerang. Akhirnya Thróv terpeleset dan jatuh. Bertekad bulat tidak ingin terbunuh dalam keadaan tergeletak, ia berguling bangkit kembali dan menusuk si Fuin-gûl, yang menangkis pedangnya dengan sentakan malas. Enggan meladeni Thróv yang mulai kehabisan energi, si Fuin-gûl membuka tudung jubahnya dan melepas topengnya, ia menyeringai keji pada Thróv, mata merahnya menatap lekat pada mata coklat Thróv. Sambil berbisik ia berkata, “Ini berakhir,” Dan dalam mantra sihir hitam ia berseru, “Gurth!

Tubuh Thróv jatuh berdebam ke tanah, ia mati.

Serandor yang dalam pertempurannya melihat Thróv tergeletak, berlari marah mencapai tubuh Thróv yang terbujur kaku, ia memandang pada jasad temannya. Thróv, yang ketampanannya tersia-sia, memandang kosong padanya.

“Tidaaakkk!!!!” jerit Serandor di sela-sela tangisnya. Serandor melotot benci ke arah Fuin-gûl. “Akan kubunuh kau karena perbuatanmu ini!”

Giliran Serandor menghadapi si Fuin-gûl, Serandor melontarkan mantra penangkal saat Fuin-gûl menyerangnya dengan sihir, sekaligus melontarkan mantra serangan dengan marah. Dibukanya perban yang selama ini menutupi telapak tangan kanannya. Lalu Serandor mengangkat tangan kanannya dan seberkas energi keperakan yang berderak-derak keluar dari telapak tangannya dan menghantam tepat di dada Fuin-gûl itu. Lalu si Fuin-gûl mencengkeram dadanya, jatuh ke tanah dan mati. Hal sama dilakukan Serandor pada Lhûg si Fuin-gûl yang terbang menukik hendak menyerangnya begitu tahu tuannya mati. Lhûg Itu pun mati.

Jauh di balik dinding kastil, Lynnëa dan para elf penyembuh menunggu dengan wajah tegang, menanti para elf yang terluka atau hampir sekarat. Mendengar bunyi logam beradu, raungan, lolongan dan jeritan dengan napas tertahan.

Tidak bisakah, kau hanya melihat kepadaku? Lynnëa teringat kata-kata terakhir Thróv sebelum ia berperang. Mendadak Lynnëa memegang dadanya, air mata turun begitu saja dari sudut-sudut matanya. Thróv!! Lynnëa seperti merasakan kehampaan yang luar biasa.

***

Jane tiba di Pegunungan Xelomor setelah tiga hari melakukan perjalanan penuh tanpa istirahat. Aku akan mengakhiri semuanya. Jika ini takdirku, maka salah satu di antara kami harus mati, atau kami berdua seharusnya mati.

Sengaja membuat keributan, Jane dibawa paksa sekelompok orc menuju puncak kegelapan Xelomor. Tiga sosok berjalan keluar dari kegelapan. Dua pria yang paling depan memakai jubah bertudung, dan wajah yang ditutupi topeng. Jubahnya melambai kasar seiring langkah mantap mereka mendekati Jane. Sementara pria yang paling belakang berjalan penuh kuasa, ia mengenakan jubah panjang yang warnanya hitam pekat, menyapu lantai. Jane sempat mengira rambut hitam kelamnya adalah tudung jubahnya.

Jane terperangah saat pria itu melenggang lebih dekat sehingga dia bisa melihat wajahnya. Tidak seperti wajah-wajah menarik dan luar biasa rupawan yang dimiliki oleh para Valar. Jane tidak bisa menentukan apakah wajah Morgoth tampan atau tidak. Garis-garis wajahnya memang sempurna. Tapi ia berbeda dari para Valar di Valinor. Kulitnya putih transparan dan tampak rapuh – begitu kontras dengan rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya, dan sayap hitam pekat yang setengah terbuka dari belakang punggungnya. Matanya merah berselaput, keruh seperti susu. Pupilnya mengingatkan Jane pada Lyg yang ditemuinya di Hutan Doriath.

Valar itu menghampiri Jane, “Lihat…siapa yang datang?” kata Morgoth angkuh, suaranya tidak merdu, hanya, setiap kata yang keeluar dari mulutnya penuh dengan intimidasi. Ia merengkuh wajah Jane dengan tangan dinginnya yang berlapis kulit setipis kertas dan mendekatkan wajah pucatnya, menatap mata biru Jane dengan hina lalu menyeringai keji.

“Abadel dan sekutunya hanya mengirim seorang gadis muda untuk melawanku, sementara dirinya sibuk di Rhovanion? Haah! Lelucon apa yang sedang mereka lakukan?” Ia masih mengarahkan matanya yang berkabut ke arah Jane, dan senyumnya semakin keji. “Apa ibumu yang memintamu menjadi sebuah lelucon, Jane?”

Jane memandangi Valar itu, shock mendengarnya mengetahui namanya, seolah-olah mereka memiliki hubungan tak terduga. Dia mengenal siapa aku?

Morgoth berpaling pada para pengawal setianya. “Ged, Bardrick…apa tidak ada yang bisa kita jamu untuk tamu cantik kita?”

Kedua Fuin-gûl itu hanya bergerak gelisah, “Maaf Tuan…”

“Aku kemari tidak untuk melakukan jamuan denganmu.” kata Jane berusaha terdengar menantang. “Aku datang…untuk membunuhmu!” suaranya bergetar.

Terdengar tawa mengerikan dari mulut Morgoth, “Kau tahu Jane? Finwe, Raja para Noldor, adalah elf pertama yang kubunuh. Saat itu, ia kembali ke Middle Earth dan menentangku. Tiga puluh tahun lalu, keturunan Finarfin – putra pertama Finwe…seorang pria bernama Cedric Caladriel juga datang menentangku. Ia melawanku dengan penuh keberanian, tapi walau bagaimanapun, aku terlalu tangguh untuk ras seperti kalian.” Morgoth lagi-lagi tertawa nyaring diikuti tawa kedua Fuin-gûl. “Ia mati sia-sia seperti leluhurnya.”

Jane gemetar menahan tangisnya.

“Kebodohan telah mengantarkan nyawanya pada kematian. Sayang sekali, jika ada sekutu yang paling ingin kudekati pastilah para Noldor. Tapi mereka terus-menerus menentangku.” Morgoth menatap Jane dengan ekspresi nyaris kasihan. “Dan sekarang seorang gadis sepertimu ingin membunuhku? Keberanianmu layak kuhargai Jane, tapi aku tidak mau melihat Hretgán mati sekali lagi atau membiarkan ibumu hidup dalam kehampaan.”

“Jika aku harus mati tanpa bisa membunuhmu, masih akan ada orang yang menggantikan posisiku, sampai kau dan kejahatan yang kau bawa musnah dari Middle-Earth.”

“Kejahatan adalah sesuatu yang menarik. Kau tahu kenapa Jane?”tanyanya malas, “Karena kami orang-orang jahat memiliki kekuatan. Itu sebabnya aku tidak terkalahkan, sekuat apapun kalian mencoba membunuhku.”

“Tapi kekuatanmu tidak akan bertahan lama, karena,” kata-kata Jane terpotong oleh kegaduhan yang tiba-tiba terjadi.

Seorang orc tersungkur di bawah kaki Morgoth, tergeletak tak berdaya. Detik berikutnya Orion dan Eleanord masuk dengan emosi yang tersirat dan sikap waspada.

Pandangan Orion bertemu dengan Jane, mereka bertukar pandang cukup lama. Orion berharap dapat mendengar apa yang dipikirkan Jane saat ini. Jane mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Morgoth, ia melanjutkan kata-katanya dengan yakin, “Malam ini adalah akhir dari takdir kita.”

***

Fuin-gûl bernama Ged maju dan membisikkan sesuatu di telinga Tuannya. Morgoth terkejut dan melirik pedang yang tersampir di pinggang Orion. Maju mendekati Orion dan memperhatikannya dengan seksama. “Kau berdiri di pihak yang salah nak, seharusnya kau berada di sisiku sebagaimana yang ayahmu lakukan.” Morgoth menatap Orion penuh pemujaan. Keterkejutannya begitu tahu Orion adalah putra Oberon diganti oleh keinginannya untuk memiliki Orion.

Eleanord terkejut saat mengetahui ayah sahabatnya adalah kaum terkutuk. Ia memandang aneh pada Orion, masih belum bisa menerima informasi ini.

“Aku bukan ayahku.” geram Orion. Sûlglor berderak pelan saat tangan Orion menggenggamnya terlalu kencang.

“Kita lihat, apakah setelah ini kau akan menjadi seperti ayahmu atau tidak. Pilihannya hanya dua, kau menjadi pelayanku atau kau mati di tanganku.” Morgoth tersenyum sadis.

Tiba-tiba Jane menggigil dan mengeluarkan banyak keringat, penyakitnya kambuh. Ia memegangi punggungnya, menggigit bibirnya keras-keras. Air mata langsung membasahi wajah pucatnya. Ia hampir terjatuh saat tangan Eleanord dengan sigap menahannya. “Frâel!!” seru Eleanord.

Perhatian Orion dan Morgoth teralihkan, Orion mendekati mereka dan memeriksa keadaan Jane, kekahawatiran menyelimuti wajahnya.

“Kau sakit Jane?” tanya Morgoth dengan nada iba yang menghina. “Kalau begitu kau tidak bisa membunuhku sekarang, mungkin lain waktu.” Morgoth tertawa nyaring sambil berjalan mondar-mandir memperhatikan mereka.

Jane menjauh dari dekapan Orion mencoba duduk dan mengais sisa-sisa kesadarannya, mengumpulkan kekuatannya. Ia mengeluarkan kantung merah berbordir emas – pemberian ibunya dulu, dari balik tuniknya. Mengeluarkan isinya, sebuah pil sebesar mutiara, berkilau dan tampak keras, lalu menelannya. “Ibu menyuruhku memakannya saat aku merasa lemah dan sakit yang teramat sangat, kurasa tadi waktunya. Kuharap aku mengambil keputusan tepat.” Jane memandang penuh arti pada Orion dan Eleanord. Mereka menggangguk mengerti. Beberapa detik kemudian, pungung baju Jane sobek saat sesuatu yang menonjol seperti dua tulang tumbuh keluar, ikut merobek kulit putih mulus Jane. Tidak ada darah, tapi kali ini Jane menjerit kesakitan. Orion seperti mendengar bisikan kematian melalui jeritannya. Hatinya kembali teriris.

Jeritan Jane mengundang pihak yang hanya merugikan posisi mereka. Dengan derap bergemuruh, ratusan orc naik ke puncak Xelomor dan segera mengepung Orion, Jane dan Eleanord. Jumlah mereka ditambah kekuatan Tuannya hanya akan membuat Orion dan teman-temannya mati konyol.

“Sesakit itukah? Apa aku harus membunuhmu sekarang untuk menyudahi rasa sakitnya Jane?” tanya Morgoth senang.

Tak seorangpun di antara mereka tahu sesuatu telah tumbuh dari balik punggung Jane. Jubah tebalnya masih menutupi sesuatu itu. Dengan meringis Jane berusaha berdiri dan berkata, “Akulah yang akan membunuhmu.” Mata biru Jane berkilat penuh tekad.

Harapan muncul saat puluhan cahaya mendekati mereka dari langit timur. Menyinari kegelapan Xelomor, sangat menyilaukan. Pavo dan keempat saudaranya serta puluhan Avanguard mendarat dengan anggun dan berjalan luwes ke arah mereka.

Wajah Morgoth sekali lagi terkejut, senyum ganjil tertera di sana. “Apa kabar…saudara-saudaraku?” sapanya.

“Jangan panggil kami saudara, kami terlalu malu menganggapmu sebagai saudara.” balas Lynx.

“Pertama kalinya kita bertemu sejak aku meninggalkan Véongrad, apa kalian tidak merindukanku?” serunya diiringi tawa kering. “Bagaimanapun kita pernah bersama dan aku masih seorang Valar.”

“Tak seorang Valar pun mengakuimu, tidak sejak kau memberontak dan menghancurkan Middle-Earth dengan kejahatanmu.”ujar Volans.

“Kami datang, untuk menghentikanmu Morgoth…” suara halus Pavo menghapus senyum di wajah Morgoth.

“Setelah sekian lama, kalian baru akan menghentikanku sekarang? Cih! Terlambat…karena aku telah menjadi sangat kuat melebihi siapa pun, bahkan dirimu Lynx.” Morgoth memandang Lynx dengan benci. “Kalian hanya akan menjemput kematian dengan datang ke kediamanku.”

Cygnus maju dan mengangkat tangan kirinya, menarik seorang orc dengan kekuatannya, seolah ada benang tak kasat mata yang menyebabkan orc itu berjalan pasrah ke arah Cygnus. Saat orc tersebut berada dalam jangkauan tangannya, Cygnus mencekiknya dan membunuhnya. Ini pertama kalinya Jane melihat seorang Valar membunuh.

“Seharusnya kami tidak melakukan ini, tapi sekarang, saatnya kita mengakhiri semua hal yang memuakkan ini saudara-saudaraku!” pekik Cygnus yang langsung dijawab dengan denting pedang beradu kapak, tombak beradu perisai. Avanguard maju melawan orc. Pertempuran sesungguhnya dimulai.

Orion dan Eleanord terlibat dalam duel sengit dengan kedua Fuin-gûl. Pedang mereka beradu, menghamburkan bunga api merah dan biru. Orion menyerang lawannya dan menghujaninya dengan beberapa serangan dan gerakan yang rumit. Ia melompat jungkir balik di udara, Sûlglor menusuk dan menangkis, menari-nari kesana kemari. Fuin-gûl itu melawan, menangkis serangan-serangan Orion. Avus, Cygnus, Volans dan Jane menghadapi orc-orc yang brutal. Sementara Pavo dan Lynx melawan teman lama mereka, Morgoth. Cahaya melawan kegelapan.

Dalam waktu singkat, dataran telah dipenuhi tumpukan mayat orc dan beberapa Avanguard.

Dalam sekali kesempatan saat Pavo dan Lynx kehilangan kendali atas Morgoth. Valar pemberontak itu hendak menghujamkan pedangnya ke arah Jane. Hanya dua kaki lagi saat Orion tiba-tiba menghadangnya, membentangkan lengannya dan membentengi tubuh Jane dengan tubuhnya. Pedang itu tepat menusuk dada kirinya, menghujam dalam ke jantungnya. Morgoth menarik cepat pedangnya, menyebabkan muntahan darah dari dada Orion yang merembes membasahi  baju perangnya. Mata Orion melebar, rasanya perlu waktu lama sekali bagi Orion untuk jatuh. Tubuhnya melengkung anggun ketika dia terhempas ke belakang. Jane memekik, ia melihat ekspresi ketakutan dan terkejut di wajah Orion. Setangkas kucing, ia menahan tubuh Orion yang jatuh. Dipeluknya Orion yang tak berdaya dalam pangkuannya.

“Tidaaakkk!!!” Jane menangis histeris melihat pria dalam pelukannya sekarat. Eleanord terpaku, mendadak ia seperti tak bertenaga.

“Orion…bertahanlah! Kumohon bertahanlah! Oriooonnn….!!!” Sesuatu dalam punggung Jane bergerak merangsek keluar, menembus jubahnya yang langsung sobek. Teriakan Jane bercampur dengan kesakitan teramat sangat yang dirasakannya. Perlahan, sepasang sayap terkembang, putih dan lebar, terang bercahaya. Kesakitan Jane diganti dengan kekuatan luar biasa dari dalam dirinya. Mengikuti instingnya, Jane melebarkan sayapnya dan menutupi tubuhnya dan tubuh Orion yang dipeluknya.

Avus dan keempat Valar terkejut demikian juga Morgoth. Ekspresi Avus yang paling terpukul, kepedihan menampar batinnya.

Orion mengalami guncangan dahsyat saat napas-napas terakhirnya mengizinkannya melihat semua itu. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sepasang sayap melindunginya, Jane Svitkona adalah setengah Valar. Saat air mata mengaburkan pandangannya dan jantungnya berhenti memompa, mata Orion terpejam, tak bernyawa.

Terdengar jeritan Jane lagi, “Tidaaakkk!! Orioonn…jangan mati! Bangun Orion, banguuunn!” Air matanya jatuh membahasi pipi dan menetes ke dagunya kemudian jatuh membahasi wajah Orion yang telah tak bernyawa.

Eleanord mendekati Jane dan tubuh kaku Orion, air matanya mengalir deras. Tubuhnya berguncang, kesedihan dan kepedihan menjadi satu dalam hatinya. Kegelapan dalam pelukan sayap malaikat… Kematian. Eleanord teringat perkataan Aurielle. Inikah maksud dari visi adiknya, bahwa Orion – Moriquendi (elf kegelapan) mati dalam pelukan Jane yang ternyata seorang Valar?

-TO BE CONTINUED-

Reader I  :“Hosh…hosh…hosh…!”

Author     :“Kenapa? Panjang banget-banget ya?” #agakwooyoung -__-

Reader II :“Sial lo thor! Mau sengaja bikin gue nangis bombay? (˘•̩̩͡ .̮˘•̩̩͡) Itu kenapa tokoh utamanya lo matiin?!” #agakkhun

Author     :“Yang mana? Siapa?” #agakchansung

Reader III:“Gembel lo thor, udah baca panjang-panjang, masih to be continued. Nyesek gue, mana gak ada part Cedricnya.” #timpukauthor

Author     :“Ehh? Hehehe…” #nyengirserandor

Part 3-2 akan menjadi akhir dari perjalanan Jane-Svitkona. Curhat ya…part ini benar-benar bikin kepala saya hampir pecah!! ><” Emosi, darah tinggi, mudah mules, hidung kembang kempis, wajah mendadak bego. Aarrrggghhhhhh!!!! Ampun de, kapok saya buat cerita fantasy lagi (-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ ) Mana scene saya sama Donghae sedikit >,< (Lha??) orang sendirinya yang buat cerita.

Err…gimana yang bersangkutan? Si Wonwon sudah saya bunuh lho, tapi sebenarnya ga tega, seharusnya dia jadi pangeran dan hidup bahagia..kkk~ XD

Bonus picture ^____^

Nai haryuvalyë melwa rë – May you have a lovely day~~ ^^

^^ Aku mau sharing foto-foto oppadeul saat SuperShow 4 Taiwan nih…happy melting chinguya~~

Image

Image

Image

Image

Image

Image

 

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

credit: http://blog.yam.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.